Dia Adikku Bukan Anakku

Dia Adikku Bukan Anakku
Bab 129 Ternyata Belum Ketahuan


__ADS_3

Sudah hampir tiga hari ini Tomy Sanjaya di rawat di rumah sakit, dia lebih banyak diam dan termenung walaupun banyak orang yang membesuknya dan mendoakan agar cepat sehat kembali.


Hanya Anton dan keluarga saja yang tidak berani membesuk Tomy, karena memang Tomy lah yang tidak ingin bertemu dengannya, itu disampaikan Tomy kepada Dini agar jangan menemuinya untuk sementara waktu.


Hari ini juga semua keluarga Tomy Sanjaya pulang kembali ke kampung kecuali Dini dan Mama Nadia, sebenarnya Ameera Safitri ingin menemani Mama mertuanya itu, tetapi dia tidak bisa meninggalkan pekerjaannya terlalu lama.


Setali tiga uang, Ameera juga banyak diam, semenjak dia mengetahui jika almarhum suaminya memiliki keturunan, hatinya begitu terpukul hampir sepuluh tahun ini dia baru tahu jika isu Dona menikah lagi ternyata benar adanya.


Sedangkan dirumah Ken, ada yang lain disana, yang biasanya hanya ada satpam di Imma kafe, sekarang di pintu gerbang rumah Ken juga ada dua satpam yang menjaga, saat Faro sekolah juga ada dua orang yang memakai seragam hitam hitam yang mengawasi Faro dari jauh.


Imma apalagi, begitu khawatir dengan keselamatan Faro, sudah tiga hari juga Imma gelisah, terkadang melamun dan susah memejamkan matanya, hatinya hanya tertuju pada keselamatan Faro saja.


Ken menjadi khawatir dengan keadaan Imma saat ini, karena yang biasa ada yang memberikan pengertian dan semangat selain dirinya sudah pergi di panggil oleh yang maha kuasa yaitu uthi Sumi.


Hari ini Ken bekerja dari rumah, tidak berani meninggalkan Imma sendiri karena melihat istrinya yang selalu gelisah saat Faro berangkat ke sekolah.


"Honey... mengapa duduk disini ayo sarapan dulu?" ajak Ken mendekati Imma saat duduk di balkon samping kamar Faro.


"Tidak lapar Bi, nanti aja, kenapa Abi belum berangkat ke kantor?" kata Imma malas dan bersandar di kursi yang ada di balkon itu.


"Mana bisa Abi ke kantor kalau istri cantik Abi tidak mau makan, melamun, khawatir, dan selalu murung" jawab Ken sambil memeluk Imma dari samping.


"Maaf... maafkan umi".


"Honey dengar, semua akan baik-baik saja, tidak akan Abi biarkan terjadi sesuatu pada putra kita, percayalah sama Abi, bagaimana bisa jadi Kenzo nya kalau umi seperti ini" goda Ken dengan mentowel hidungnya mengalihkan perhatian agar tidak khawatir lagi.


"Abi jadi merana, gara-gara sudah tiga hari ini umi meliburkan usaha kerja keras untuk mendapatkan Kenzo".


"Abi.. maunya itu terus, kenapa tidak ada capeknya sih, umi lagi sedih nich" celoteh Imma dengan mengerucutkan bibirnya manja.


"Kalau bibirnya mengerucut seperti itu umi malah seksi, coba pegang dia sudah terbangun saja tanpa di komando" kata Ken menarik tangan Imma meletakkan di tempat yang sudah menonjol itu.

__ADS_1


"Abi... idih pagi-pagi sudah mesum aja sih" protes Imma menarik tangan dari sana.


Ken mulai bergerilya dengan nakalnya, menyusup di balik baju Imma mencari dimana ada dua gunung kembar yang selalu menjadi favoritnya, tetapi baru sampai puncak dan belum sempat memainkan puncak itu, perut Imma berbunyi minta diisi karena memang sedari kemarin Imma tidak berselera makan sama sekali.


"Katanya tidak lapar, ini sudah keroncongan perutnya, tunggu sini dulu, Abi ambilkan makan sebentar" kata Ken menghentikan kegiatannya bergerilya keluar dari balkon turun ke lantai bawah mengambilkan sarapan untuknya.


Menyuapi Imma dengan begitu telaten, sesuap demi sesuap Ken sampai habis satu piring membuat Ken jadi tersenyum, karena tadinya bilang tidak lapar, tetapi habis juga satu piring gumam Ken dalam hati.


Seharian ini Ken hanya memanjakan Imma tetapi setelah mendapatkan jatah dua ronde pagi itu sampai Faro pulang sekolah.


"Abi, umi.. Abang pulang" kata Faro mendekati kedua orang tuanya saat sedang istirahat di sofa kamar mereka.


"Sudah pulang Bang, bagaimana sekolahnya?, ada PR kah?" tanya Ken singkat.


"Ada Bi, nanti aja Abang kerjakan setelah istirahat, apakah umi sakit Bi, perasaan Abang kok muka umi pucat ya?" tanya Faro sambil memegang kening uminya.


"Tidak sayang, umi cuma capek aja, setelah istirahat paling sembuh nanti" jawab Imma lembut.


Ken dan Imma awalnya saling pandang, minta dukungan, saat Imma menganggukkan kepalanya baru Ken menjawab pertanyaan Faro.


"Boleh aja Bang, asal tidak mengganggu pelajaran ya".


"Tidak kok Bi, ini kegiatan seminggu sekali setiap hari Sabtu aja, terima kasih Abi, umi".


Faro begitu antusias mengulum senyum dibibir samping melompat kegirangan, berlari ke kamar untuk ganti baju dan makan siang.


*****************


Sedangkan di rumah sakit Tomy Sanjaya masih termenung, menatap jendela dengan tatapan mata yang kosong, masih menelaah perkataan Anton saat kemarin waktu mereka bertemu.


Mengingat siapa orang yang dihadapi, bagaimana sepak terjang Baron Pranoto, membuat hatinya menciut hanya untuk sekedar bertemu dengan Anton ataupun cucunya yang selama ini dia cari.

__ADS_1


Dini dan Mama Nadia juga tidak berani mengatakan kepada Tomy Sanjaya jika mereka sudah tahu tentang dimana dan siapa putra dari Dona Sanjaya, ini dikarenakan dokter berpesan bahwa Tomy tidak boleh terlalu tertekan dan berpikir terlalu berat, takut terjadi seperti kejadian kemarin lagi.


"Papa... kenapa dari kemarin melamun terus ada apa? Kok seperti remaja yang lagi jatuh cinta sudah seminggu tidak bertemu, bengong aja kenapa?" goda Dini agar papanya bisa tertawa.


Karena tidak ada jawaban dari papanya itu gantian Dini menggoda Mama Nadia, agar papa merespon candaan dini.


"Mama, papa lagi jatuh cinta, kok mama tidak cemburu sih?" Celoteh Dini dengan sedikit mengerucutkan bibirnya.


"Jangan ngawur Din, mana ada yang mau sama papa yang sudah tua begini?" jawab Papa Tomy tersenyum simpul.


"Naaah, gitu pa tersenyum, walaupun tua, tetap aja papaku masih terlihat tampan, nyatanya mama masih klepek-klepek kan?".


Mama Nadia dan Papa Tomy jadi tertawa lepas dengan kekonyolan Dini yang berusaha menghibur papanya.


"Apakah kamu sudah tahu Dini?" tanya Tomy Sanjaya dengan tiba-tiba.


Dini dan Mama Nadia menganggukkan kepalanya bersamaan tanpa menjawab sepatah katapun.


"Apakah Anton sudah menceritakan semua ini kemarin pada kalian?" tanya Tomy lagi.


"Tidak cerita langsung pa, kami cerita hanya lewat pesan WA saja, hanya demi melindungi keselamatan anak dari mas Dona" cerita Dini dengan hati-hati.


"Apa yang harus kita lakukan Din, takutnya saat kejadian kemarin ada anak buah dari Baron Pranoto melihat saat papa bertemu dengan Anton?".


"Tetapi saat itu, kata mas Anton tidak menyebutkan nama anak dari mas Dona kan papa?" tanya Dini dengan khawatir.


Tomy Sanjaya mengerutkan keningnya, menerawang kejadian saat itu, Anton tidak berani menyebutkan nama anak itu karena sumpah dan janji yang diucapkan sebelum Doni Sanjaya meninggal.


"Sepertinya Anton sendiri begitu melindungi anak itu Din, apakah kamu sudah tahu tentang itu?" tanya Tomy penasaran.


"Iya pa, mas Anton cerita semua padaku, sebaiknya kita berhati-hati, demi keselamatan anak mas Anton dan keluarganya, sementara kita diam aja dulu, pasti Baron Pranoto sudah mengetahui masalah ini cuma mereka belum mengetahui siapa nama dan dimana dia tinggal" jawab dini panjang lebar.

__ADS_1


__ADS_2