Dia Adikku Bukan Anakku

Dia Adikku Bukan Anakku
Bab 107 Ditabrak dari Belakang


__ADS_3

Sudah hampir empat hari ini Ken masih banyak diam nya jika siang, tetapi kalau malam istirahat marahnya esoknya bersambung kembali katanya.


Di kantor karena muka Ken yang sedikit di tekuk dalam beberapa hari ini di manfaatkan Sandi untuk membalas ledekan yang selalu membuat Sandi baper.


"Sudah berapa hari bos tidak dapat jatah, aku lihat beberapa hari ini mukamu kusut kayak kertas yang di remas?" tanya Sandi.


"Enak aja setiap hari aku buat target terus, memang kamu puasa selama tiga bulan?" jawab Ken.


"Tidak bos, sesekali aku nengokin bayiku kok walaupun hanya perlahan saja, dapat jatah kok masih di tekuk tuuuh muka?" Sandi ngeles.


"Ya kalau malam tidak marah buat target tetapi kalau siang bersambung lagi, aku lagi kesel gara-gara Imma ngobrol sama teman teman SMU dan pacar barunya Marisa sampai lupa aku pulang tidak di sambutnya"


"Yaelah bos ... Bos...begitu aja cemburu, sesekali tidak apa kali berbincang dengan teman lama!".


"Tapi tidak harus sampai lupa kewajiban juga kali, sudah lah aku masih kesel"


"Dasar bucin.... seenaknya sendiri, malam dikerjain eee siangnya di diamin".


Hari kelima Ken masih mendiamkan Imma, rencananya Imma akan menjemput Faro pulang sekolah dan akan bertemu Tante Dini dan Mama Nadia di restauran samping sekolah nya Faro, bersama Fia di antar oleh sopir pak Sardi.


Faro keluar dari sekolah melihat uminya dari kejauhan langsung berlari mendekatinya dan mencium punggung tangan Imma dan mencium pipi adiknya pula.


Imma mengajak mereka berdua ke restauran dekat SD nya Faro sehingga mereka berjalan kaki saja sedangkan pak Sardi di suruhnya parkir di restauran.


Bertemu Tante Dini dan mamanya di restauran itu mereka makan bersama dengan gembira, apalagi hati Mama Nadia sangat bahagia bisa bertemu dengan cucu laki-laki kandungnya itu.


Walaupun ada dua orang laki-laki yang mengawasi mereka seperti biasa tetapi Tante Dini tidak begitu khawatir karena ini hanya makan siang bersama teman dan tidak melakukan yang yang di luar kewajaran agar tidak terlalu di curigai.


Satu jam mereka menghabiskan waktu bersama, kemudian pamit pulang karena nanti sore mereka akan kembali ke kampung halaman, Imma dan kedua putra dan putrinya menghampiri pak Sardi untuk mengajaknya pulang, tetapi di perjalanan ada mobil yang di Kendarai pemuda yang sedang mabuk menubruk mobil Imma dari belakang dengan keras.


"Bruak.......daaaaar"

__ADS_1


Suara itu terdengar kencang, Imma memeluk Fia dan Faro dengan erat, sehingga mereka berdua tidak terjadi apa-apa, tetapi Imma yang memar di keningnya, sedangkan pak Sardi yang sedikit parah kepalanya terbentuk setir dan mengeluarkan darah yang lumayan banyak, di bantu oleh masyarakat sekitar diantar ke klinik terdekat.


Faro yang menghubungi abinya dengan cepat menggunakan handphone Imma.


"Ada apa mengubungi Abi?" tanya Ken dengan ketus.


"Abi ini Abang, kenapa Abi suaranya seperti sedang marah?" tanya Faro heran.


"Eeeeee Abang, maaf ini Abi lagi kesal sama om Sandi, kenapa telepon Abi, umi kemana?".


"Ini ada di klinik tadi ada orang mabuk nabrak mobil kita dari belakang" cerita Faro cemas.


"Sayang... Abi kesana tunggu ya".


Ken bergegas memanggil Sandi dan Papi Bastian untuk pergi ke klinik yang di ceritakan oleh Faro tadi, ada trauma tersendiri oleh Ken saat Imma melahirkan dulu membuat hati Ken merasa bersalah karena sudah beberapa hari ini masih mendiamkan Imma karena cemburu yang tak berdasar.


Seperti biasa Ken akan beraksi berlebihan jika menyangkut pada istri yang sangat dicintainya itu, menyuruh Sandi melajukan mobilnya dalam kecepatan tinggi dan berlari cepat sesampainya di klinik yang ada di pinggir jalan itu, Ken langsung melesat lari tanpa memperdulikan dirinya sendiri.


Tetap saja Ken tidak perduli dengan omelan Papi Bastian, berlari di UGD klinik dengan tergesa-gesa, melihat Fia yang dipeluk abangnya Faro, Imma yang di perban di keningnya, duduk di sebelah pak Sardi terbaring di brankar tempat tidur.


Ken merasa sedikit lega melihat Imma dan kedua anak kesayangannya baik baik saja hanya pak Sadi yang sedikit parah.


"Honey.... semua baik-baik saja kan?" tanya Ken khawatir sambil memeluk mereka bertiga.


Imma hanya menganggukkan kepalanya tidak menjawab sepatah katapun dari mulutnya.


"Abi....Abi Fia atut, ada dalah banak di tepala pak Saldi" cerita Fia sambil menangis minta si gendong Ken.


"Iya sayang sekarang sudah aman, Abang ada yang luka kah?" tanya Ken kepada Faro.


"Tidak Abi, Abang tidak terluka karena di peluk oleh umi tadi saat terjadi tabrakan itu" cerita Faro.

__ADS_1


Saat Sandi dan Papi Bastian tiba di UGD klinik itu, Ken meminta membawa pulang Faro dan Fia, sedangkan Ken masih menemani Imma menunggu hasil rongsen yang di lakukan oleh Imma dan pak Sardi tadi sebelum mereka tiba di klinik.


"Honey.... maafkan Abi, sudah marah beberapa hari ini, janji deh tidak marah lagi" rayu Ken karena dari tadi Imma tidak berbicara sepatah katapun kepada nya.


"Janji ya...marah juga cuma siang aja malamnya libur, dasar aneh!" gerutu Imma sambil meringis menahan sakit di dahinya.


"Iya....iya tidak marah lagi janji".


Dokter datang menghampiri Ken menceritakan karena tadi Imma mengalami mual sehingga takut terjadi apa-apa dengan kepalanya sehingga di minta menginap satu hari untuk di observasi. Demikian juga pak Sardi juga harus menginap sementara di klinik itu.


Malam harinya akhirnya Imma dan Ken tidur di klinik itu berdua, sedangkan anak-anak si rumah bersama Uthi Sumi dan uthi mami.


"Anggap aja kita tinggal di hotel ya honey?" celoteh Ken.


"Enak aja....maunya seperti di hotel ini lagi di klinik tidak boleh macam-macam, nanti di tangkap sekuriti" jawab Imma sekenanya.


"Iya ....iya paling cuma peluk aja kok".


Karena tidak terjadi apa-apa, dan hasil rongsen bagus keesokan harinya Imma diperbolehkan untuk pulang, sedangkan pak Sardi belum di perbolehkan pulang tunggu dua sampai tiga hari lagi.


Di rumah Imma hanya tiduran beristirahat, agar tidak pusing lagi ada pesan dari Marisa bahwa baru kenal setengah bulan ini Heri sudah mengajak nya menikah, dia minta pertimbangan apa yang harus di lakukan.


"Kalau kamu sudah yakin buat apa di tunda-tunda, jodoh memang tidak bisa di prediksi, Mar" tulis pesan Imma.


"Ini rencananya Minggu besok ibu dan neneknya akan melamar ke rumah, aku harus bagaimana?" tanya Marisa lagi.


"Besok kesini saja kita panggil Mely juga, kita minta Pendapat Mely juga" kata Imma kembali.


"Baiklah aku hubungi Mely terlebih dahulu" jawab Marisa.


Ken datang saat selesai kirim pesan WA dengan Marisa, kemudian Imma menceritakan semua tentang Marisa takutnya nanti salah faham dan Ken cemburu lagi.

__ADS_1


"Iya boleh bertemu saja, asal jangan lupakan Abi lagi" kata Ken sambil memeluk Imma dari belakang.


__ADS_2