
Hari ini hari Minggu, hari dimana di tunggu tunggu masyarakat sekitar perkebunan teh itu, diresmikan nya destinasi pariwisata alam tepat pukul sepuluh pagi oleh Tomy Sanjaya, Bastian Wiguna dan Kenzie Wiguna.
Tamu yang hadir bukan cuma masyarakat sekitar perkebunan teh saja, banyak juga dari luar daerah yang penasaran ingin melihat destinasi pariwisata alam disini.
Tamu undangan juga tidak kalah banyak, dari instansi pemerintah, perwakilan dari dinas pariwisata, perusahaan terkait, hotel, travel wisata, kepolisian, Bank dan masih banyak lagi.
Dari pemerintah ada walikota, camat, lurah dan pihak terkait menghadiri peresmian pembukaan itu bersama keluarga mereka.
Keluarga Tomy Sanjaya hadir lengkap disana termasuk Ameera Safitri, dari keluarga Papi Bastian semua hadir kecuali uthi Sumi karena uthi Sumi tidak kuat jika berdiri lama, sehingga dia lebih memilih untuk berdiam diri di rumah lamanya di temani oleh bu Yati teman waktu masih menjadi karyawan pemetik teh.
Saat pukul sepuluh tepat sirine di bunyikan oleh Papi Bastian dan pita di potong oleh Tomy Sanjaya sedangkan balon warna warni di lepaskan oleh Kenzie Wiguna.
Tanda di bukanya untuk umum destinasi wisata alam itu dengan di gratiskan tanpa di pungut biaya khusus hari ini, baru besok akan membayar karcis masuknya.
Saat pembukaan destinasi pariwisata alam itu dimulai, hanya Mama Nadia yang selalu melirik kearah Faro, hatinya sangat merindukan cucu laki-laki nya itu, tetapi justru Faro selalu melirik ke arah Tomy Sanjaya, ingin sekali dia segera melihat koleksi senjata otomatis yang di miliki oleh Tomy Sanjaya.
Selesai pembukaan itu, semakin banyak pengunjung yang datang, sehingga keluarga Tomy Sanjaya mengajak keluarga Papi Bastian untuk mampir ke rumah, menyarankan jika ingin menikmati daerah wisata besok saja jika sudah sedikit berkurang pengunjung nya.
Faro yang paling bahagia karena Tomy mengajak kerumahnya, Mama Nadia juga tidak kalah bahagianya karena mereka berkunjung ke rumah itu sekarang.
Saat tiba di halaman rumah itu, semua keluarga menyambut kedatangan keluarga Papi Bastian, termasuk Ameera Safitri, saat pertama kali melihat Faro dan menatap mata Faro Ameera tersentak kaget, seperti pernah melihat sorot mata tajam Faro, mendekati Dini dan bertanya dengan berbisik di telinganya.
"Siapa anak laki-laki itu Dini?".
"Kenapa mbak?, dia putra kandungnya Ken namanya Faro".
"Kok seperti tidak asing ya....sorot mata tajam itu?".
__ADS_1
Faro dan Fia mendekati Dini dan seluruh keluarga mereka untuk salim dan mencium punggung tangan mereka bergantian, sampai pada Ameera Faro tersenyum dan dengan ramah menyapanya.
"Faro kenalkan ini namanya mama Mera, itu mbak Nia dan satu lagi mbak Lia" ucap Mama Dini.
"Mama Mera, salam kenal aku Faro dan ini Adikku Fia, mbak Nia, mbak Lia" kata Faro berkenalan.
Semua di persilahkan untuk masuk di ruang tamu, bercengkerama dengan akrabnya, yang sedikit diam hanya Ameera Safitri karena masih belum mengingat mata tajam yang seperti Faro miliki, sesekali melirik mata tajam itu, seakan menghunus ke dalam hatinya yang paling dalam.
Sedangkan Ken dan Tomy Sanjaya masih menyelesaikan pekerjaan mereka yang sedikit tertunda di ruang kerja Tomy Sanjaya, setelah selesai Ken berbincang pribadi berdua.
"Pak bisa minta tolong sedikit?" kata Ken saat masih duduk didepan Tomy saat selesai meminta tanda tangan nya.
"Silahkan saja tidak usah sungkan".
"Bisakah tolong rahasiakan tentang hobi putraku karena dia masih terlalu kecil" pinta Ken.
"Begini pak, putraku masih kecil takutnya ada yang memanfaatkan kemampuan menembak untuk hal yang negatif, jadi selama kami memang merahasiakan nya"
Tomy Sanjaya hanya mengangguk tanda memahami situasi yang ada di sekitar lingkungan yang selalu was-was karena bayang bayang orang yang tidak menyukai keluarga nya.
"Baiklah, aku akan merahasiakan nya, semua aman".
"Terima kasih pak".
Selesai menanda tangani pekerjaan yang tertunda, Ken dan Tomy Sanjaya bergabung dengan semua keluarga yang ada di ruang tamu, dan melanjutkan makan siang bersama di ruang makan.
Baru kenal beberapa jam Faro dan Fia sudah sangat akrab dengan Lia dan Nia, mereka sangat kompak bermain sampai sore, sedangkan para wanita juga tidak kalah bercengkerama dengan penuh ceria.
__ADS_1
Tomy Sanjaya meminta mereka untuk menginap walaupun hanya satu malam, disinilah mereka saat ini, Fia sedang bermain boneka Barbie bersama Lia dan Nia, sedang Faro mulai berbisik kepada abinya merengek, ingin sekali melihat senjata otomatis yang dari awal ingin dia lihat, tetapi sebelum Ken meminta kepada Tomy Sanjaya untuk melihat koleksi senjata otomatis itu, Tomy Sanjaya mendekati mereka.
"Faro ayo ikut, aku akan memenuhi janjiku saat kita pertama kali bertemu" ucap Tomy Sanjaya menggandeng tangan Faro.
Faro memandang wajah Abi dengan sendu, meminta ijin dengan pandangan mata saja, seakan Ken memahami Faro dan menganggukkan kepalanya.
"Betulkah Opa tomy?, ...Abi.. Akung Papi.. ayo temani Abang" pinta Faro.
Akhirnya mereka bertiga mengikuti Tomy Sanjaya berjalan melewati lorong berdinding kayu jati yang kokoh, membuka pintu ruangan itu perlahan.
Saat di buka itulah mata Faro seakan terbelalak tanpa mengedipkan mata sedikitpun, begitu banyak bermacam senjata otomatis berbeda model, bentuk dan ukuran, lengkap tertata rapi di dinding dan etalase kaca, ada juga berbagai macam jenis peluru tertata rapi di etalase kaca.
Satu persatu tidak luput dari pandangan Faro, menyebutkan namanya satu persatu, jika tidak mengetahui namanya Faro akan bertanya kepada Opa tomy dan menghafal dengan cepat.
Tomy Sanjaya sangat kagum dengan kemampuan Faro mengetahui nama nama semua koleksi senjata otomatis yang dia miliki itu, betul betul mengagumkan hingga menggelengkan kepala.
Hampir satu jam Faro memperhatikan senjata otomatis itu, tanpa ada yang terlewat, sedangkan Ken dan Papi Bastian hanya memandangi antusias Faro dengan tatapan mata yang tidak bisa di artikan.
Miris memang antara Opa dan cucu kandungnya itu terhalang oleh keselamatan yang harus di jaga dari orang yang sangat dendam kepada opanya pada masa lalu gumam Ken dalam hati sambil memandang Faro dan Tomy Sanjaya bergantian.
Di pojok ruangan itu ada tempat yang biasa digunakan Tomy Sanjaya berlatih menembak saat senggang, tetapi tidak sebesar ruangan latihan Faro yang ada di Jakarta.
Faro mendekati tempat latihan itu memperhatikan jarak dan tempat sasaran dengan seksama, bahkan peralatan nya lebih komplit dan asli bukan mainan seperti yang Faro miliki di Jakarta.
Dari penutup telinga peredam suara bernama Ear Plug, kacamata pelindung, pisir atau alat bidik, kompensator yaitu alat untuk mengarahkan gas buang dari ledakan peluru, sarung tangan dan tempat sasaran, itu semua betul betul mengagumkan buat Faro yang selama ini hanya dia lihat melalui vedio handphone, sekarang melihatnya secara langsung.
"Bagaimana jika kita tanding ulang Faro?" tantang Tomy Sanjaya.
__ADS_1
"Ayo siapa takut!" jawab Faro mantap.