Dia Adikku Bukan Anakku

Dia Adikku Bukan Anakku
Bab 49 Bulan Madu


__ADS_3

Selesai sarapan berdua Ken dan Imma mulai paking satu Minggu kedepan untuk bulan madu ke Bali.


Sebelum berangkat Ken dan Imma berpamitan terlebih dahulu kepada Faro, karena selama ini Faro tidak pernah di tinggal oleh Imma dalam waktu lama.


Faro sedang asyik bermain mobil Tayo di ruang keluarga rumah Imma Kafe, Ken mendekati nya.


"Ganteng.... nanti malam bobok dimana?"


"Kamal balu tempat Akung Papi"


"Hari ini Abi dan umi cari obat lagi ke rumah sakit kayak kemarin ya, nanti pulang nya agak lama boleh kan?".


Faro menganggukkan kepalanya tanda setuju, dan Imma datang menghampiri mereka berdua duduk di samping Faro sambil memeluknya.


"Umi....umi...tatit yagi kah?".


Faro memegang pipi, dahi, tangan Imma dengan cepat, seolah-olah Faro tidak rela kalau umi kesayangan nya itu sakit seperti dulu lagi.


"Tidak sayang..... umi cuma cari obat untuk jaga jaga saja, boleh ya cari obatnya agak lama sedikit?".


"Tapi nanti kalau udah puyang beli es telim tobeli dan totat banak banak, beli tembak tembakan duga".


"Baiklah.... berapa tembak tembakan nya, nanti Abi belikan yang panjang buat Faro".


"Dua yang tatu pandang yang tatu yagi pendek".


Rupanya akhir akhir ini Faro punya hobi baru menembak, semenjak di belikan tembakan oleh papi Bastian.


Tangan Faro seperti sudah terlatih jika memegang tembakan selalu tepat sasaran jika membidik sasaran nya.


Sudah pukul sepuluh pagi Ken dan Imma berangkat ke bandara Sukarno Hatta untuk menuju bandara Ngurah Rai Bali.


Hati keduanya saling bertautan, Sandi mengantarkan mereka ke bandara, duduk di belakang Ken selalu menggenggam tangan Imma dan memeluknya erat.


"Bi... malu... ih... itu ada yang masih jomblo di depan".


"Biarkan saja dia kan cuma ngontrak, ini dunia milik berdua saja kok".


"Teganya dirimu bos, berapa tahun aku ngontrak nya?".

__ADS_1


Ken dan Imma hanya tersenyum tetapi justru sekarang Ken mencium bibir Imma dengan gairah, Sandi hanya menggeleng kan kepala nya saja sambil melirik spion mobil itu serta menarik nafas panjang.


"Kenapa San, panjang betul nafas nya?"


"Carikan aku jodoh dong bos, jomblo ku sedang meronta ronta nich?"


"Kemana itu si Tania?"


"Sudah terhempas di laut dia bos, hanya uangku saja yang dia suka, aku maunya yang seperti umi"


"Enak aja umi hanya milikku seorang, jangan di taksir juga, awas aja ku buang ke laut kau".


Ken lebih mengeratkan pelukannya pada Imma, positif nya mulai keluar padahal Sandi hanya bercanda.



Tanpa terasa mereka sampai di bandara, Ken dan Imma turun menuju pintu masuk bandara dan melambaikan tangan nya kepada sandi.


Menempuh perjalanan selama dua jam untuk tiba di bandara internasional Ngurah Rai, Imma memanfaatkan waktu di pesawat untuk istirahat dan tidur.


Pesawat di kelas bisnis ternyata lebih nyaman untuk istirahat dibandingkan dengan yang kelas Ekonomi apalagi jika tidur dalam pelukan suami tercinta.


Masuk kamar hotel yang pertama Imma lakukan adalah merapikan bajunya dan memasukkan nya ke dalam lemari yang telah di sediakan.


"Bi... mandi dulu sana, umi mau merapikan pakaian dulu"


"Mandi bareng aja yok"


Ken mulai merayu Imma, tetapi Imma menolak nya, alasannya Imma ingin cepat jalan jalan di sekitar hotel untuk mengenali sekitar hotel bintang lima itu.


Ken mengalah berjalan menuju pintu kamar mandi, tetapi Ken kembali ke arah Imma mencium bibir nya dengan cepat, dan lari kembali ke kamar mandi.


"Abi..... kenapa jadi mesum terus ....?"


Imma hanya tersenyum sambil mencubit lengan Ken.


Sore hari nya Imma yang menggunakan celana tiga perempat dan kaos dan Ken menggunakan celana pendek jeans dan kaos juga, berjalan di sekitar pantai yang berada di depan hotel itu.


Mereka bergandengan tangan dengan mesra menyusuri pasir putih di pantai itu, menunggu sunset tiba, melihat deburan ombak yang bergemuruh indah tiada henti nya.

__ADS_1


Sunset sudah terlewati dengan indah nya, Ken dan Imma kembali ke kamar untuk beristirahat sebentar, duduk di sofa panjang di kamar itu sambil berpelukan dengan mesra.


"Honey ganti baju sana ayo kita makan malam romantis di pinggir pantai"


"Hhmmm......."


Imma langsung berjalan menuju lemari pakaian untuk berganti gaun untuk makan malam berdua.


_______________


Sementara di rumah papa Tomy dan mama Nadia sedang duduk berdua di ruang keluarga melihat infotainment di layar televisi yang sedang menyiarkan ulang acara resepsi dan Konferensi Pers Ken kemarin.


Mereka berdua dengan seksama menyaksikan semua tayangan infotainment itu, rupanya hati keduanya tanpa sadar terpaut dengan keberadaan Faro diantara mereka.


Apalagi saat Ken menyebutkan nama putra mereka "Faro Sanjaya Wiguna", ada nama Sanjaya disana seperti ada getaran aneh di hati terutama hati papa Tomy.


Papa Tomy kembali memegang foto USG yang di bingkai oleh almarhum Dona dengan tulisan "Anak lelakiku" sambil memandangi televisi yang ada tayangan Faro disana.


Pagi harinya papa Tomy mencari koran hari ini, ingin mencari sekitar berita pernikahan Ken dan Imma.


Ternyata betul saja ada foto foto pernikahan Ken dan Imma terpampang jelas di koran nasional dan ada foto Faro ada ditengah mereka.


Papa Tomy memerintahkan kepada asisten nya Hendra untuk membeli beberapa koran baik nasional ataupun daerah yang ada berita nya tentang Faro.


Foto foto Faro di gunting nya dan di bingkai rapi menjadi sebuah album, setelah selesai papa baru menyadari dan bergumam "apa yang aku lakukan mengapa jadi aku terobsesi dengan Faro?".


Setelah menyadari tindakan itu papa Tomy menelpon orang orang yang pernah di hubungi nya untuk mencari dimana keberadaan istri Dona Sanjaya dan cucu laki-laki nya.


Tetapi sejauh ini belum ada titik terang sedikit pun dimana keberadaan istri dan anak Dona Sanjaya itu berada.


Papa Tomy juga belum mendapatkan kabar tentang keberadaan Anton Sahroni yang dicarinya di Jakarta.


Anton di besarkan di panti asuhan mulai dari kecil, sehingga susah juga untuk mencari jejaknya, karena tidak mempunyai saudara kandung ataupun keluarga yang lain.


Pihak panti asuhan pun juga tidak mengetahui dimana Anton kini tinggal, yang mereka tahu bahwa Anton tinggal di Jakarta tetapi tidak pernah memberikan alamat lengkapnya.


Mama Nadia juga tidak kalah penasaran nya dengan papa Tomy tentang Faro, setiap sore atau malam selalu melihat acara infotainment hanya untuk melihat dan mencari tahu informasi tentang Faro, seolah sekarang Mama Nadia mempunyai idola baru yang ingin di ketahui berita nya setiap saat.


Mama Nadia juga minta kepada kedua cucu perempuannya untuk mencari informasi di media sosial tentang Faro atau kedua orangtuanya.

__ADS_1


__ADS_2