Dia Adikku Bukan Anakku

Dia Adikku Bukan Anakku
Bab 77 Pertemuan Anton dan Dini


__ADS_3

"Dini...... Dini Sanjaya....." Ucap Anton sambil memundurkan kakinya dan menutup mulutnya.


Dini menutup wajahnya dengan masker kembali dan meninggalkan rumah Imma dengan cepat dan mencari taksi online.


Anton terduduk di kursi sendirian dengan sedikit melamun membayangkan ada Dini di acara aqiqah hari ini.


Uthi Sumi mendekati asisten Anton yang terlihat melamun sendirian tanpa ada teman.


"Kenapa melamun asisten Anton?".


"Eeee... Tidak apa-apa, Oya tadi siapa tamunya umi yang memakai games dan memakai master?".


"Yang mana.... Aku tidak melihat nya?".


"Itu yang memakai gamis modern warna biru dongker dan menggunakan pasmina"


"Ooooo itu katanya sih temannya dari Jawa timur".


Anton terdiam kembali, dia termenung sejenak, mengapa bisa Imma mengenal dengan adik kandung Dona Sanjaya.


Tamu masih silih berganti datang dari siang dari Banu dan istri nya Yeri serta putra semata wayangnya.


Ada juga tamu dari teman dan relasi bisnis baik dari Ken ataupun Papi Bastian.


Merasa agak pusing karena pertemuan tanpa sengaja dengan Dini, Anton mengajak istri nya Intan Ariyani dan Rama untuk pulang dan beristirahat.


Anton ingin bertanya kepada Ken ataupun Papi Bastian tentang Dini tetapi karena masih ragu apa yang harus di lakukan.


Saat malam hari, adik Fia sudah terlelap dalam tidur nya di box bayi, begitu juga dengan Faro seharian banyak tamu membuatnya masih sore sudah terlelap dalam mimpi indahnya.


Imma meluruskan kakinya di tempat tidur terasa pegal juga karena berjalan kesana-kemari menerima tamu dari pagi sampai sore menjelang.


"Apakah capek..... Kakinya pegal kah?, sini Abi pijitin sebentar".


Ken Memijat kaki Imma dari bawah sampai atas dengan lembut sesekali jahil sambil memegangi bagian sensitif Imma.


"Abi jangan mulai jahil yaaa".


"Sudah berapa lama honey Abi tidak setor kangen juga umi, kapan boleh nya?".


"Maaf .....sabar ya... Biasanya masa nifas itu selama 40 hari Abi".


"Umi.... Mengapa selama itu, tidak ada remisi kah.... Abi tidak tahan?".

__ADS_1


"Remisi .... Memang nya di penjara minta di kurangi segala....sabar abiku sayang..... Jadi gemes" Imma menggoyangkan pipi Ken ke kanan dan kiri.


"Umi..... Umi..... Boleh kah pegang sebentar aja....ya..ya..."


"Katanya mau mijitin malah macam macam boleh pegang, tapi jangan sampai kebablasan ya...."


Ken mencium bibir Imma dengan lembut, memegang bagian sensitif nya dan menciumi juga leher dan tengkuk nya juga karena terlalu bersemangat Ken menekan perut Imma tanpa sengaja.


"Auw....... Auw.... Abi... Sakit ".


"Maaf honey...maaf...., Kenapa sih bibir manis ini menjadi candu buat Abi"


Ken mengusap lembut bibir Imma, membelai rambut dan mengusap punggung nya.


"Tidak cuma bibir aja sih yang buat Abi candu, semua nya.....yang ini, ini dan ini juga".


Ken menunjuk dari bibir, pipi, leher dan juga dua gunung kembarnya, dan mengulangi menciumi seluruh bagian kesukaan Ken, tetapi ada suara adik Fia menangis.


"Oek......oek.. ..oek....".


"Tuuuh..... Putri mu menangis..... Cepat bawa sini Bi, haus dia".


"Baiklah.... Baiklah".


Ken menggendong adik Fia dan di letakkan di pangkuan Imma.


"Abi kok begitu sih sama putri nya sendiri".


"Sebelum ada adik Fia, itu milik Abi, boleh dong gantian umi?".


Adik Fia ***** dengan rakusnya, rupanya harus berat dia, setelah kenyang baru tertidur lagi dengan pulas.


Di letakkan di samping Imma, Imma juga merebahkan tubuhnya, Ken menyusul merebahkan tubuhnya di belakang Imma, miring dan memeluknya tidur dengan pulas sampai menjelang pagi.


Sedangkan Imma terjaga dari pukul tiga pagi sampai menjelang pagi karena menemani adik Fia yang bergadang.


Di rumah Anton sampai menjelang pagi, Anton sama sekali tidak bisa memejamkan mata walaupun hanya sekejap.


Akhirnya memutuskan untuk minta ijin kepada papi Bastian untuk tidak masuk kerja hari ini karena tidak enak badan.


Sedangkan di apartemen Dini mengantarkan suaminya berangkat pukul sembilan pagi, baru bersiap siap untuk keluar.


Awalnya mengenakan pakaian seperti biasa, sengaja seandainya ada yang mengikuti bisa dia ketahui. Dini sengaja membawa baju ganti untuk di pakai bertemu dengan Anton di kafe HK di jalan Rasuna said.

__ADS_1


Dini masuk sebuah salon tempat langganan nya, ijin berganti baju gamis berwarna hitam, pasmina hitam juga masker serta kacamata hitam.


Dini melihat ada dua orang yang mengikuti nya tadi duduk di sebuah warung kopi dekat salon.


"Syukurlah saya bisa mengecoh nya" gumam Dini dalam hati.


Dini memanggil taksi yang lewat di depan salon itu dengan cepat, dan kedua orang yang mengawasi nya itu tidak mencurigai bahwa Dini sudah keluar dari salon itu.


"Pak ke kafe HK di jalan Rasuna said" kata Dini kepada sopir taksi itu.


"Baik Bu" kata sopir taksi online itu.


Taksi online itu melaju membelah jalanan ibukota ke arah jalan Rasuna said dengan kecepatan sedang.


Anton sudah sampai di kafe HK di jalan Rasuna said itu sepuluh menit yang lalu, saat Anton mau berangkat istrinya sudah tidak di rumah, sedang berada di restauran nya, sehingga tidak ada yang mengetahui jika Anton bertemu dengan Dini di sebuah kafe.


Anton memesan kopi pahit sambil menunggu Dini datang, hampir setengah jam dan kopi dalam cangkir nya habis tetapi di tunggu belum juga menunjukkan batang hidungnya.


Anton sudah hampir putus asa menunggu Dini datang, dan berdiri ingin meninggalkan kafe itu, tetapi ada seorang wanita memakai gamis hitam dan memakai masker dengan anggun masuk mendorong pintu kafe pelan pelan.


"Maaf terlambat... Jalanan macet" kata Dini sambil berlari kecil menuju kursi depan Anton.


"Silahkan duduk Dini".


"Terima kasih mas" ucap Dini sambil membuka masker nya.


Mereka berdua membisu seribu bahasa sejenak dan saling memandang dalam pikiran nya masing-masing.


"Darimana kita mulai mas, oooo ini saja, coba mas lihat ini" Dini mengawali pembicaraan dengan menunjukkan foto di handphone nya tentang foto USG Faro yang saat itu baru berumur empat bulan dalam kandungan, dengan tulisan "anak lelakiku" serta Foto pernikahan siri antara Dona Sanjaya dan ibu Lestari.


"Darimana kau dapatkan itu?"


"Di buku harian mas Dona hampir satu tahun yang lalu".


Dini menceritakan awal mula menemukan foto USG yang di temukan oleh Papa Tomy sampai dengan pengawasan Baron Pranoto.


"Apakah Baron sudah tahu tentang informasi putra bos Dona?".


"Seperti nya belum, karena sekitar satu tahun yang lalu papa langsung menghentikan pencarian tentang putra mas Dona karena hampir terendus oleh Baron, tetapi Papa Tomy membuat itu seperti hanya isu saja".


"Apakah bos besar tahu kalau kau disini mencari informasi tentang itu?".


"Tidak......ini hanya penyelidikan ku sendiri".

__ADS_1


"Sekarang ceritakan mengapa kau bisa mengenal Imma Anjani".


Dini menceritakan pertemuannya dengan Imma dan kecurigaan nya jika Faro adalah keponakan nya, tetapi hanya Dini saja yang mencurigai nya sedangkan seluruh keluarga Papa Tomy belum tahu tentang hal itu


__ADS_2