
"Yaelah bos teganya dirimu.....aku lagi puasa, malah pamer mesra mesraan didepan mataku?" Protes Sandi.
"Memang sengaja aku lakukan, biar nanti anak mu ileran ha ha ha" ledek Ken sambil tersenyum menggandeng tangan Imma masuk ke kantor nya.
Saat di pintu Ken menghentikan langkahnya, mengeluarkan kepalanya saja dan meledek Sandi lagi.
"San....awas jangan sampai ngintip nanti tambah ngiler".
Karena sangat kesal dengan ledekan bosnya itu melempar bolpoin kepada bosnya tetapi sayangnya hanya terkena pintu saja, Ken terkekeh dan masuk kembali ke kantor.
Ken duduk disamping Imma yang sedari tadi duduk sofa, dan memeluknya dengan erat.
"Sayang...sana ganti baju, cepat kerja jangan di tunda lagi, mengapa malah peluk-peluk begini?".
"Karena melihat Sandi pikirannya ngeres Abi jadi pingin lagi" kata Ken sambil mulai bergerilya di sofa itu.
Bi....mau berapa sesi lagi kemarin katanya tiga menjadi empat sesi, kenapa sekarang pingin lagi".
"Pagi ini satu aja honey please...coba kalau tidak percaya sudah bangun duluan dianya" kata Ken dengan tetap bergerilya dan menarik tangan Imma ke tempat junior nya Ken.
"Iiiihh Abi ini memang genit" jawab Imma tetapi tetap aja mengimbangi permainan Ken, setelah setengah permainan Ken menggendong Imma di kamar yang ada di kantor itu menyelesaikan sampai ke puncak kenikmatan surgawi berdua.
Baru Ken mandi berganti baju dan mulai melakukan pekerjaan yang menumpuk di meja kerjanya, sementara Imma tertidur pulas di kamar itu tanpa sehelai benang pun hanya selimut tebal yang menutupi tubuhnya.
Saat Fia datang menerobos masuk tanpa mengetuk pintu Ken tersentak "waduh umi belum sempat memakai baju, Fia sudah datang" gumamnya dalam hati.
"Abi, umi na mana?" tanya Fia.
"Sebentar sayang... umi ada di kamar mandi, Abi panggil dulu, duduk disini sebentar" perintah Ken sambil mendudukkan tubuh kecil Fia di kursi, dan bergegas memanggil istri tercinta itu dan menyuruh nya cepat mengenakan baju dengan cepat.
Imma dan Ken keluar kamar bersamaan dan juga bersamaan pula Papi Bastian dari luar.
__ADS_1
"Apa yang kalian lakukan.. apa dari kemarin masih kurang, kalian ini?".
Ken dan Imma saling pandang dengan tatapan yang tidak bisa di artikan, kemudian baru berjalan didekat Fia.
"Papi.... tau aja sih, kalau masalah itu, jangan salahkan aku aja, gara-gara istri tercintaku itu aku tidak bisa menahannya jika berdua" jawab Ken sekenanya saja.
"Kamu itu malah menyalahkan istrimu, pikiran kamu itu yang tidak jelas, Fia sudah disini kan, ya sudah Papi kembali ke kantor".
Papi Bastian keluar dari kantor Ken menuju kantor nya karena sudah di tunggu oleh asistennya Anton untuk meeting.
_____________
Di rumah sakit hari ini Mama Nadia mulai bisa melakukan kegiatannya sendiri tanpa di bantu oleh Dini ataupun Tomy Sanjaya suaminya, infusnya juga hari ini sudah dilepas, kata dokter tunggu satu malam lagi jika semakin membaik perkembangan kesehatan nya akan di perbolehkan pulang.
Dini dan papanya sangat bahagia mendengar kabar yang di sampaikan oleh dokter itu, semoga semakin sehat dan bisa kembali pulang ke rumah, karena walau bagaimanapun juga rumah adalah yang akan selalu di rindukan saat kita jauh dari tempat tinggal kita.
Keesokan harinya Mama Nadia sudah diijinkan pulang, keluar dari rumah sakit di jemput oleh Hendra, di antar ke apartemen mereka dengan bahagia, sedangkan Papa Tomy hari ini tidak bisa menjemput istrinya pulang, ada sesuatu yang tidak bisa di tinggalkan katanya, tetapi Dini dan Mama Nadia tidak tahu kenapa Papa Tomy pergi.
Sesampainya di apartemen Dini dan Mama Nadia istirahat sebentar sedangkan Hendra menjemput bos nya yang berada di daerah pasar induk Kramat jati, disana Tomy Sanjaya sengaja mencari anak buah Leo Bardan yang sering nongkrong di daerah itu.
Sudah hampir tiga jam menunggu tetapi tidak ada yang menghampirinya, mereka hanya mengawasi Tomy Sanjaya dari kejauhan seperti yang di perintahkan oleh Leo Bardan, tidak ada yang berani melanggar peraturan itu sama sekali.
"Bos.... bagaimana bisa bertemu dengan mereka?" tanya Hendra setelah duduk di samping bosnya.
"Tidak kita pulang saja, aku akan mendekati Baron Pranoto dengan cara lain saja" gerutu Tomy Sanjaya.
Asisten Hendra hanya mendengarkan Tomy Sanjaya yang mulai marah dengan sepak terjang teman lamanya yang sekarang menjadi musuh bebuyutan itu.
"Maksudnya bos?" tanya Hendra penasaran.
"Ku tahu ada kelemahan Baron Pranoto yang masih aku selidiki dua tahun terakhir ini, ini informasi baru aku dapatkan dari dia detektif swasta yang sering kerja sama dengan kita".
__ADS_1
Kemudian Tomy Sanjaya bercerita tentang kelemahan yang di maksud itu.
Baron Pranoto mempunyai dua istri, yang pertama sekarang ada di Singapura, tetapi yang kedua tinggal di Indonesia tepatnya di daerah Bekasi bernama Sarah, dengan di karuniai seorang putri yang bernama Indri dan seorang cucu laki-laki bernama Heri Pranoto.
Karena kehidupan yang tidak sesuai dengan harapan Sarah, pada waktu Sarah mengandung Indri lebih memilih pergi dari suaminya, Sarah adalah wanita yang sangat taat agama, saat menikah dengan Baron tidak mengetahui latar belakang kehidupan Baron, setelah mengetahui nya, Sarah tidak mau putrinya makan dari uang yang kurang jelas darimana asalnya.
Sarah tetap dalam pendiriannya, memilih hidup sederhana dengan cara halal, dan membesarkan putrinya sampai Indri menikah dan mempunyai satu putra bernama Heri dan ayah Heri meninggal beberapa tahun yang lalu karena sakit kanker.
Keluarga istri kedua Baron Pranoto sangat sederhana, sekarang ini mereka memiliki toko kelontong kecil di sebuah pasar di daerah Bekasi yang dikelola oleh cucunya Heri, bersama ibunya Indri, Heri kuliah di fakultas di Bogor jurusan akutansi komputer dengan mendapatkan bea siswa.
Sekarang Heri sedang menyelesaikan skripsi akhir sambil mengelola warung kelontong, pribadi Heri sangat sederhana dan taat dalam agama karena didikan nenek dan Ibu kandungnya.
Penampilan Heri juga sangat sederhana dan kalem serta anak yang penurut, hormat kepada ibu dan neneknya.
Heri juga mengetahui siapa kakeknya sebenarnya, karena dari awal keluarga itu saling terbuka, tetapi Heri juga tidak berniat menemui keluarga yang ada di Singapura.
Pernah beberapa kali utusan Baron Pranoto mendatangi keluarga kecil itu, memberikan bantuan finansial tetapi mereka tetap menolak nya.
Akhirnya Baron Pranoto menyerah dan tidak pernah menghubungi Meraka kembali, hanya mengawasi nya saja seperti yang di lakukan kepada Tomy Sanjaya.
Kehidupan antara keluarga Sarah dan Baron Pranoto seperti bumi dan langit, Baron bergelimang harta sedangkan Sarah sangat sederhana dan bersahaja.
_____________________
Mulai terkuak kehidupan pribadi Baron ya..
Tetapi untuk sementara istri keduanya..
Kedepannya akan lebih jelas lagi
Sabar ya........
__ADS_1
Terima kasih... jangan lupa like vote
dan komentar nya agar lebih semangat.