Dia Adikku Bukan Anakku

Dia Adikku Bukan Anakku
Bab 118 Pulang


__ADS_3

Honey...ayo bangun.... jangan membuat Abi khawatir terus... honey!" ucap Ken sambil menepuk pipi Imma dan menggosok tangan Imma dengan lembut.


Imma mulai mengerjap perlahan, badannya lemas, pikirannya menerawang, kosong dan kepalanya pusing bukan kepalang.


"Bi, mana Faro dan Fia? tolong jangan pergi.... jangan..ibu, Uthi jangan pergi?" Kata Imma dengan suara yang begitu pilu.


Ken memeluk Imma dengan erat, mencium keningnya dengan lembut, datang Faro, Fia dan Kemmy dari kejauhan ikut memeluk uminya yang menangis terisak-isak.


"Honey.... lihatlah semua ada disini, tidak ada yang pergi, semua menyayangi umi, Abi mohon tenanglah" kata Ken lembut.


Akhirnya semua rombongan pelayat pulang ke rumah masing-masing, saat Imma akan di ajak pulang dia menangis lagi dengan tersedu-sedu, Faro dan Fia jadi ikut menangis Karena melihat uminya menangis.


"Abi ayo diajak pulang uthi Sumi nya, jangan di tinggal sendiri, ayo Bi?" ajak Imma sambil meronta ronta.


Honey.... dengar Abi, lihatlah Faro dan Fia menangis melihat uminya seperti ini, ingat umi, Allah lebih sayang kepada uthi Sumi daripada kita, beliau sudah bahagia disana, kita harus ikhlas" nasehat Ken.


Imma menatap sendu Faro dan Fia, dia baru menyadari ada dua anak yang sangat di cintanya ikut menangis tersedu-sedu, merasa sedih melihat uminya yang begitu terpukul dengan kepergian ibu angkat yang disayangi nya itu.


Dipeluknya Faro dan Fia dengan erat dan menciumi pipi mereka dengan gemas, sampai mereka terkekeh dengan ciuman Imma.


"Umi... jangan nangis, Abang dan adik Fia sayang sama umi, jangan nangis lagi, Abang tidak mau umi kayak dulu lagi, umi harus di beri obat dan tidur di rumah sakit, mi.... Faro sayang umi!" celoteh Faro dengan memeluk Imma sambil terisak-isak.


Imma semakin mengeratkan pelukannya pada Faro dan Fia dengan duduk jongkok mensejajarkan tubuhnya.


"Maafkan umi ...sayang maaf, umi sudah tidak nangis kok, umi sayang kalian juga".


"Ayo.. kita pulang honey, besok kita kesini lagi, Abang adik Fia ayo naik!".


Mereka naik mobil perlahan dan pulang ke rumah lama Imma dengan kecepatan sedang, sedangkan Ken terkadang menyetir dengan satu tangan, membelai rambut Imma dengan lembut, mengusap punggungnya, memberikan dukungan kepada Imma yang duduk di sampingnya dengan pandangan mata yang kosong.


Sesampainya di rumah, keluarga Tomy Sanjaya tidak langsung pulang mereka masih duduk di ruang tamu itu memberikan dukungan kepada keluarga Imma dengan sabar.


Ken meminta Kemmy untuk membawa Faro dan Fia ke hotel saja agar bisa beristirahat sejenak dan meminta nanti malam datang untuk menghadiri acara pembacaan surah Yassin bersama sampai tujuh hari kedepan dengan masyarakat sekitar.

__ADS_1


Yang rencana hari Jum'at akan pulang ke Jakarta jadi diundurkan sampai hari Minggu besok untuk rombongan sedangkan Imma dan Ken akan sampai tujuh harinya atas meninggalnya almarhumah uthi Sumi baru pulang ke Jakarta.


Hari ini hari Minggu Faro dan Fia ikut pulang bersama Papi Bastian, Mami Winda dan Kemmy pulang ke Jakarta dengan dengan berat hati.


Imma juga harus berat hati menitipkan Faro dan Fia kepada orang tua yang sangat di sayanginya juga, selalu merepotkan mertuanya itu yang ada di dalam pikiran Imma tetapi apa boleh buat.


Setelah kepulangan anak dan mertuanya, Imma sering di temani oleh Mama Nadia dan Tante Dini setiap malam pembacaan surah Yassin sampai tujuh hari, dan paginya di antar Ken ke makam uthi Sumi.


Hari kedelapan meninggalnya uthi Sumi, Imma dan Ken pulang ke Jakarta dengan pesawat komersil pagi hari, setelah tadi malam berpamitan dengan keluarga besar Tomy Sanjaya.


Siang hari mereka baru sampai di rumah, di jemput oleh Sandi asistennya, sambut oleh Fia dengan riang.


"Umi....umi Fia tangen, peyuk....peyuk...." celoteh Fia dengan riang.


Fia begitu erat memeluk uminya dengan senyum yang mengembang, Ken sangat bahagia melihat istrinya bisa tersenyum setelah bertemu dengan putri kesayangannya.


Obat yang paling manjur untuk mengobati luka hati adalah keluarga yang saling menyayangi dengan tulus, itulah keyakinan Ken, dari kemarin sejak kepergian uthi Sumi Imma jarang tersenyum, dia begitu takut jika depresi yang pernah di alaminya akan kembali lagi setelah kepergian orang yang sangat berjasa dalam hidup istrinya itu.


Ken memandangi dua wanita cantik beda generasi itu yang sangat dicintai saling berpelukan itu sangat menghangat apalagi tambah satu lagi putranya kebahagiaan akan terasa sempurna.


Ken ikut jongkok mensejajarkan tubuhnya ikut memeluk kedua orang yang sangat dicintainya itu.


"Honey.... Abi sangat menyayangi umi dan Fia, tolong jangan sedih lagi jodoh, kehidupan dan maut ada di tangan yang maha kuasa, kita hanya perlu ikhlas menjalani dan menerima semua ketentuannya, yang pasti I love you so much" bisik Ken di telinga Imma.


"I love you to, terima kasih sudah hadir dalam hidup umi" Imma memeluk Ken dengan erat.


"Eeeee aduh gawat nich" kata Ken kaget.


"Kenapa Bi, ada apa?" tanya Imma khawatir.


Ken tersenyum menggendong Fia dan menggandeng tangan Imma melenggang kedalam rumah.


"Bi...gawat kenapa tadi?" tanya Imma masih khawatir.

__ADS_1


Ken hanya berbisik di telinga Imma agar tidak di dengar oleh Fia.


"Dia bangun dengan sendirinya gara gara umi peluk dengan erat karena hampir sepuluh hari tidak ketemu kesayangan nya, tapi tenang dia akan setia menunggu".


Imma hanya mengerucutkan bibirnya dan memukul lengan Ken dengan pelan.


"Dasar mesum, puasa dulu, umi lagi halangan, seminggu lagi baru bisa melihat kesayangan Abi"


"Lebih gawat lagi kalau begini, masih harus menahan satu Minggu lagi, alamat mendapatkan balasan dari Sandi, mati aku" gerutu Ken sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


"Apa yang gawat dan kenapa harus mati?" tanya Papi Bastian yang baru datang dari dalam rumah.


"Eeeeee Papi, itu Pi, anu...anu" jawab Ken gugup.


"Itu Pi, titipan Budi untuk Sandi sepertinya ketinggalan di kamar rumah yang di kampung, tapi aku nanti akan cek lagi di koper" jawab Imma bohong.


Ken terkekeh mengedipkan matanya kepada Imma mendengar jawaban Imma yang masuk akal itu.


Besok paginya Ken sudah mulai melakukan aktivitas ngantor seperti biasa, sudah hampir tiga Minggu di tinggalkan, begitu menumpuk berkas harus dia kerjakan dan harus di tandatangani.


Tetapi antara Sandi dan Ken sama sama tahu bagaimana keadaan hati dan pikiran masing-masing, kebersamaan mereka sudah dari kuliah sampai sekarang menjadi sahabat dan patner kerja, sehingga melihat Ken yang lesu dan kusut membuat Sandi meledak bosnya itu.


"Bos....ha ha ha,sudah berapa hari puasa?, sepertinya aku membaca aroma aroma main sabun di kamar mandi sendiri?"


_________________


Jangan lupa like vote dan komentar nya ya


dan satu lagi baca juga novel ku satu lagi


"IKAT PINGGANG CINTA".


Terima kasih I love you all

__ADS_1


__ADS_2