Dia Adikku Bukan Anakku

Dia Adikku Bukan Anakku
Bab 26 Jalan Bareng Mami Mertua


__ADS_3

"Mengapa Mami menangis lagi, nanti hilang lo cantik nya?" ucap papi Bastian sambil mendekati mami Winda.


Mami Winda malah tersenyum karena ucapan papi Bastian teringat akan apa yang di ucapkan Faro tadi siang.


"Nah, gitu dong kalau tersenyum kan cantik kata Faro" goda Papi Bastian sambil tersenyum.


"Mengapa papi tidak cerita tentang Tari?" protes mami Winda.


"Maaf mami cantik, papi masih menyelidiki tentang mereka tapi belum jelas betul" komentar papi Bastian.


"Maksudnya gimana sih Pi?" mami Winda minta penjelasan.


"Begini lo mi, dari kemarin Papi dan Ken curiga kalau sebetulnya Faro itu bukan putra dari Imma Anjani" cerita Papi Bastian.


"Terus putra siapa?" tanya mami Winda penasaran.


"Belum jelas mami, yang jelas ada hubungannya dengan orang yang bernama Dona Sanjaya" penjelasan Papi Bastian lagi.


"Makanya dari kemarin Papi mau cerita sama mami ragu, sampai kemarin sebelum Ken berangkat ke Singapura akan melamar Imma Anjani setelah dari sana" lanjut Papi bercerita.


"Kalau sampai Ken melamar Imma Anjani belum dapat restu dari mami dia akan mundur, mami tau sendiri kan apa kata Imma Anjani?" tanya papi Bastian.


"Iya Pi, sepertinya Imma Anjani sifatnya persis seperti Tari, kukuh dalam pendirian nya, Tari itu selalu banyak pertimbangan kalau mengenai orang di sayangi nya" jawab mami Winda.


"Sudahlah ayo kita pulang nanti kita lanjutkan lagi kalau Ken sudah pulang" ajak papi Bastian.


Mereka pulang kerumahnya dengan perasaan masih ada yang mengganjal di pikiran masing-masing.


Dalam pikiran mami Winda masih terbayang sosok seorang Lestari yang gigih membantu memperjuangkan cinta nya dengan papi Bastian, yang waktu itu tidak dapat restu dari orang tua.


Cinta antara Papi Bastian dan Mami Winda memang tidak mudah, karena waktu itu mami Winda masih sekolah, hanya Lestari lah yang saat itu memberikan dukungan.


Umur antara Ibu Lestari dan Mami Winda beda dua tahun lebih tua mami Winda tetapi sekolah nya sama, karena waktu itu mami Winda telat masuk sekolah.


Setelah sampai rumah Papi Bastian dan mami Winda beristirahat, mandi makan malam bersama.


Pagi harinya Mami Winda minta ijin ke Papi Bastian untuk menemui Imma Anjani dan minta mengantarkan ke pemakaman ibu Lestari.


Sesampainya mami Winda di rumah Imma, disambut uthi Sumi.


Imma sedang menemani Faro mandi dan main air, uthi Sumi datang sambil berlari kecil mendekati Imma.

__ADS_1


"Umi.... umi... ada mami nya Ken datang, sana temui" perintah uthi Sumi.


"Ada tiapa uthi?" tanya Faro kepada Uthi.


"Ada uthi Mami didepan, cepat mandi nya" titah uthi Sumi.


Imma langsung lari ke depan, Faro selesai mandi berganti baju dengan uthi Sumi.


"Selamat pagi mami, ada yang bisa aku bantu?" kata Imma sambil menciumi punggung tangan dan memeluknya.


"Bisakah mami minta antar ke pemakaman Tari?" pinta Mami Winda sendu.


"Dengan senang hati, tetapi maaf aku belum mandi, bisa tunggu sebentar" jawab Imma sambil tersenyum lalu.


Datang Faro dari dalam rumah bersama Uthi Sumi sambil berdiri.


"Uthi.... Uthi... mau te mana, Palo itut ya?" pinta Faro.


"Boleh sayang, Faro sudah mandi?" tanya Mami Winda.


"Tudah Uthi, Palo tudah danteng" jawab Faro dengan PD nya.


Imma sudah rapi dan siap untuk berangkat, Imma hanya menggunakan stelan sederhana berwarna biru maroon, kontras dengan penampilan Mami Winda yang menggunakan pakaian bermerk dan perhiasan permata asli.


Faro selalu senang jika berpergian dengan naik mobil, selama ini Faro sering nya naik angkot atau mobil online.


Faro selalu bernyanyi nyanyi sendiri dengan riang sampai tiba di pemakaman, sesampainya di sana, umi langsung duduk bersimpuh di ikuti oleh Mami Winda dan Faro.


"Ibu ini Imma datang sama Faro Bu, ada juga teman ibu waktu kecil mami Winda, ibu Faro bulan depan sudah umur empat tahun Bu, sudah waktunya sekolah, mohon doanya ya Bu semoga lancar" ucap Imma sambil memegang batu nisan ibu Lestari dan menangis.


Kemudian gantian Mami Winda yang berbicara di depan batu nisan itu.


"Tari maaf, aku baru bisa datang, maaf juga karena mas Wandi kau banyak menderita, kau ingat Tari saat Imma lahir, dan Ken sekolah TK, waktu itu aku ingin kita besanan, ternyata tanpa di paksakan Ken ku sudah mengejar putri mu sekarang, kau tahu Tari, putri mu persis seperti dirimu lebih cantik malahan, pendirian nya yang kuat, pantang menyerah persis seperti dirimu, aku kesini khusus mewakili Ken ku melamar putri mu" cerita Mami Winda sambil menangis tersedu sedu.


"Mohon jangan kau tolak seperti dulu lagi ya Tari, aku tidak memandang derajat atau pun kekayaan seperti yang kau pikirkan, yang aku pikirkan kebahagiaan anak-anak kita" Mami Winda berharap lagi.


Imma hanya terdiam mendengar cerita mami Winda dengan menundukkan kepalanya dan berlinangan air mata.


"Umi puteli mu itu tiapa?" tanya Faro polos.


Mami Winda dan Imma langsung saling memandang dan tersenyum.

__ADS_1


"Maksud nya itu anaknya uthi Mami, sayang namanya Tante...... " ucap Imma tetapi tidak di lanjutkan.


"Namanya Tante Kemmy cantik" jawab mami Winda cepat.


"Oooo Tante Temi tantik" jawab Faro sambil menganggukkan kepalanya.


Setelah selesai dari pemakaman mami Winda mengajak Faro bermain di Time zona di sebuah mall ternama di Jakarta dan Faro bermain mobil mobilan, dan lempar bola ke keranjang.


Setelah puas bermain mereka makan bakso di mall tersebut, mami Winda mengajak umi di sebuah butik, mami memilih kan baju untuk Imma tetapi Imma menolak nya.


Sekeras apapun mami memaksa tetapi Imma tetap tidak mau, sampai Imma berkali kali minta maaf.


"Maaf mami, nanti saja umi belum bisa menerima nya" ucap Imma tegas.


"Umi..., dangan pandil mami... tapi uthi Mami" protes Faro.


"Iya maaf umi lupa, uthi mami nanti lain kali saja ya beli bajunya" jawab Imma sambil tersenyum karena dimarahi Faro.


"Nak, kenapa sih harus menolaknya, sekarang atau nanti sama aja, kau ini persis seperti ibu mu" ucap Mami Winda sambil terheran heran karena protes Faro tadi.


"Ya sudah mami...... nanti di marahi Faro lagi, uthi mami tidak jadi beli bajunya" jawab Mami Winda kecewa.


Sementara Ken yang berada di Singapura sudah gelisah, hati merindu hampir tiga Minggu tidak bertemu Imma dan Faro.


Seharusnya penerbangan pulang di jadwal kan hari Sabtu, tetapi baru Kamis sore semua acara sudah selesai, untuk hari sesudah nya akan dimanfaatkan untuk wisata.


Tetapi Ken langsung membeli tiket pulang ke Indonesia hari Jum'at pagi, dari bandara internasional Soekarno Hatta Ken langsung naik taksi ke rumah Imma.


Tetapi sampai di satu rumah sebelum rumah Ken tidak jadi ke rumah Imma, Ken langsung menelpon.


"Halo...... dengan Selia Branson, bisa bertemu sekarang" tanya Ken.


___________________


Hayo..........


Siapa Selia Branson.....


jawab nya di bab selanjutnya


jangan lupa like vote dan komentar

__ADS_1


terimakasih


__ADS_2