Dia Adikku Bukan Anakku

Dia Adikku Bukan Anakku
Bab 92. Hobi yang Sama


__ADS_3

Ken dan Imma keluar dari kantor dengan baju yang berbeda dari awal datang tadi pagi dan rambut yang sedikit basah.


Sandi hanya memandangi wajah mereka berdua sambil menggelengkan kepalanya, pikiran Sandi sudah melayang membayangkan sesuatu entah sampai mana.


"Sampai seperti apa bos permainan nya,...kok bajunya sudah ganti aja?" tanya Sandi.


"Jangan berpikiran macam-macam, nanti kau malah jadi ngiler" jawab Ken sekenanya.


Imma hanya tersenyum dan menunduk sambil tangannya menggelayut manja disamping Ken


"Sudah datang kah paket nya?" tanya Ken.


"Ooooo sudah ini paket nya bos".


Sandi menyerahkan beberapa paper bag yang berisi oleh-oleh yang rencananya untuk Tante Dini dan keluarga nya.


Ken dan Imma kembali ke rumah dengan membawa mobil nya dalam kecepatan sedang, sesekali melirik istrinya yang sedang duduk di sampingnya yang tampak kelelahan karena ulah Ken sendiri.


"Apakah sangat capek... honey?".


"Hhmmmm...."


"I love you honey" ucap Ken sambil mengusap rambutnya dengan lembut.


"I love you to....." jawab Imma sambil menciumi tangan Ken.


Di depan rumah saat mereka tiba, langsung di sambut oleh Faro yang masih menggunakan seragam sekolah nya.


"Umi.... Abi....dari mana? tanya Faro sambil berlari kecil mendekati mereka dan mencium punggung tangan nya dengan bergantian.


"Dari beli ini buat Abang dan adik Fia" jawab Ken sambil memberikan salah satu papar bag kepada Faro.


Imma yang tidak tahu apa isi dari beberapa paper bag itu hanya tersenyum dan melirik Faro saat dia membuka paper bag itu.


"Waaah... bagusnya kaosnya kembaran sama adik Fia, terima kasih Abi....umi..." ucap Faro senang dan berlari mendekati adik Fia yang sedang anteng di gendong oleh uthi Sumi.


"Adik Fia nanti kita jalan jalan pakai kaos kembaran ya" tangan Faro menempelkan kaos nya di badan Fia.


Baru setengah hari pisah dengan putri kecilnya rasanya sangat merindukan nya, diraihnya dari Uthi Sumi dan diciumi pipinya dengan gemas.


Ken naik tangga menuju kamar untuk mempersiapkan keberangkatan nya ke perkebunan teh karena Bayu sudah menunggu nya di Imma Kafe.


Imma menyusul Ken sambil menggendong adik Fia dan diikuti oleh Faro yang baru selesai mengganti baju.

__ADS_1


"Bi ...... oleh-oleh nya di tambah karena kata asisten Anton ada istri nya almarhum ayah Dona" pinta Imma.


"Sudah honey..... Tahu beres pokoknya".


Sekeluarga mengantar keberangkatan Ken Bayu sampai parkiran saja, di antar ke bandara internasional Soekarno Hatta oleh Papi Bastian.


Imma dan Faro meraih tangan Ken mencium punggung tangan nya bergantian, dengan mata Imma yang berkaca-kaca.


Ken tersenyum melihat istrinya yang sendu memandangnya mencium kening nya.


"Tidak lama..... honey, cuma dua malam, nanti jatahnya Abi minta dobel ya" bisik Ken di telinga Imma.


"Idih..... tadi sudah berapa kali, masih kurang kah? jawab Imma sambil memukul lengan Ken.


Mobil berjalan dengan perlahan disertai lambaian tangan Imma dan Faro sampai tidak terlihat dan melaju di jalan raya.


Sementara asisten Anton sudah beberapa Minggu ini menyelidiki orang-orang yang menyerang Edi Darmawan bulan lalu.


Koneksi Anton untuk mencari informasi tentang mereka yaitu dengan menghubungi teman nya yang tinggal di sekitar pasar induk Kramat jati.


Teman Anton adalah mantan preman yang memegang daerah pasar induk Kramat jati itu jaman dulu, sehingga lebih mudah untuk mencari informasi nya.


Informasi yang di dapat dari temannya itu adalah bahwa mereka adalah anak buah dari Leo Bardan, tetapi Anton belum tahu apa hubungannya antara Baron Pranoto dengan Leo Bardan.


"Sebentar....pak.... saya hubungi suami sebentar, paling tidak lama, silahkan duduk dulu, mau minum apa?" tanya Intan.


"Kopi pahit saja, terima kasih".


Menikmati kopi pahit Bastian menunggu Anton tidak lebih dari seperempat jam barulah di datang menghampiri nya.


"Maaf bos, menunggu lama kah?" tanya Anton.


"Belum juga sih.... darimana memangnya?".


"Bertemu teman bos, di samping pasar induk Kramat jati Jakarta timur".


"Apakah sudah di ketahui siapa orang yang menyerang Edi Darmawan?".


"Sudah sih bos, mereka anak buah dari Leo Bardan, tetapi kami belum tahu bos apa hubungan antara Leo dan ketua mafia Baron Pranoto?".


Berbincang selama satu jam lebih baru Bastian berpamitan kepada Anton dan istrinya Intan Ariyani.


Ken dan Bayu di jemput di bandara internasional Juanda Surabaya oleh asisten Budi sesampainya mereka di bandara itu, baru membawa nya ke perkebunan teh untuk memulai pembuatan destinasi pariwisata alam.

__ADS_1


Disambut oleh Edi Darmawan dan Tomy Sanjaya sendiri sesampainya di komplek rumah yang ada di pertengahan perkebunan itu.


Ken dan Bayu akan menginap disana seperti saat Sandi dan Bayu datang pertama kali nya itu, karena hotel sangat jauh dari perkebunan, istirahat sejenak untuk mengurangi lelahnya, setelah habis istirahat mereka baru ke kantor perusahaan teh sampai sore hari.


Pulang dari kantor perusahaan teh, Ken dan Bayu beristirahat di kamarnya masing-masing, sampai menjelang makan malam.


Saat makan malam itu Ken bertemu dengan semua anggota keluarga Tomy Sanjaya termasuk Ameera Safitri istri dari ayah Dona Sanjaya.


Ken membawa beberapa paper bag yang dibelinya melalui online kemarin kepada Tante Dini.


"Tante....ini titipan dari Imma istriku" ucap Ken singkat.


"Ya... terima kasih"


Tante Dini menerima paper bag itu dan meletakkan nya di samping meja makan, karena mereka mau makan dulu.


"Oya Mas Ken ini mbak ku namanya Ameera Safitri, panggil saja Tante Meera"


"Salam kenal Tante Meera, saya Ken dan ini Bayu" kata Ken sambil mengulurkan tangannya mencium punggung tangan nya.


"Selamat datang di keluarga kami" ucap Meera dan mengulurkan tangannya juga.


Kemudian mereka makan malam bersama dengan lahapnya, baru mereka bergabung diruang keluarga untuk bercengkerama dengan akrabnya.


Saat Ken duduk sambil mengamati rumah datang Dini menghampiri Ken dan duduk di samping nya.


"Apa kabarnya Faro ...... Mas Ken?" tanya Dini dengan agak berbisik.


"Panggil Ken saja Tante, Faro sehat, semakin hari bakatnya sangat terlihat seperti kakeknya" jawab Ken juga ikut berbisik.


"Benarkah... berarti bakat Papa Tomy menurun ke Faro sepertinya".


Ken menceritakan tentang Faro yang merengek ingin melihat ruangan yang pernah Sandi ambil saat dia berkunjung dan membuat vedio di ruang senjata otomatis itu.


"Apakah ada vedio Faro yang sedang berlatih menembak?".


"Ada Tante, ..... aku kirim lewat WA ya".


Saat Dini melihat vedio itu tanpa disadari Papa Tomy bergabung dengan mereka dan ikut melihat Faro sedang berlatih.


Ken dan Tante Dini gugup dan kaget dengan kedatangan nya.


"Waaaah... sepertinya aku akan dapat lawan yang seimbang ini, apakah putramu mempunyai hobi seperti ku Mas Ken? tanya Tomy Sanjaya.

__ADS_1


__ADS_2