Dia Adikku Bukan Anakku

Dia Adikku Bukan Anakku
Bab 131 Bertemu Mantan Ken


__ADS_3

Dengan berat hati keluarga Tomy Sanjaya pulang ke kampung, tanpa mengunjungi keluarga Ken sekeluarga karena gencarnya anak buah Leo Bardan mengawasi gerak-gerik mereka.


Keluarga Tomy Sanjaya pulang hanya berpamitan kepada mereka melalui vedio call dan berbincang dengan Faro dan Fia dengan ceria.


Tetapi sesekali Tomy Sanjaya mengusap air matanya menatap cucu laki-laki dengan mata yang sendu, sungguh miris ingin bertemu dengan cucunya sendiri saja harus sembunyi-sembunyi gumam Tomy dalam hati.


Satu bulan ke depan rencana pelantikan Ken dan Rama bersamaan dengan ulang tahun perusahaan, dan ingin mengundang keluarga Tomy Sanjaya, karena hanya acara resmi seperti ini saja sementara mereka bisa bertemu dengan Faro tanpa di curigai oleh Baron Pranoto ataupun Leo Bardan.


Sore hari ini Imma dan Mama Nadia bersama Faro dan Fia pergi ke butik memesan baju yang akan di gunakan untuk seragam saat eniversery perusahaan dan pelantikan Ken dan Rama.


"Warna apa Mami, gold atau merah maroon kah ya lebih bagus gaun untuk kita?" tanya Imma saat mereka di butik langganan Mami Winda.


"Bagusnya merah maroon sayang, lebih kalem Mami juga suka" jawab Mami Winda.


Akhir akhir ini Imma sedikit lemah dan mudah walaupun hanya melakukan aktivitas yang tidak begitu berat, baru saja melihat lihat sekitar area butik saja sudah terasa sangat lelah, sehingga duduk di sofa panjang yang ada di pojok butik itu.


"Umi kenapa capek kah apakah perlu Abang dipijitin kakinya?" tanya Faro perhatian.


"Tidak sayang umi hanya capek saja, tidak usah" jawab Imma lembut.


Mami Winda bergegas menuju ke arah Imma sedang duduk di samping Faro dan memukuli kakinya yang pegal dengan menggandeng Fia.


"Kenapa sayang capek kah?" tanya Mami Winda khawatir.


"Tidak Mami, cuma pegal sedikit aja, sudah lama tidak memakai haighhill" jawab Imma bohong.


Waktu sudah menunjukkan jam lima sore, biasanya Ken pulang kerja, sehingga Imma mengirim pesan jika dia masih ada di butik bersama anak-anak dan Mami Winda, Ken menyusul mereka di butik itu, karena mau di jemput oleh Ken kemudian Mami Winda pulang terlebih dahulu.


Memarkirkan mobilnya lalu Ken bergegas menuju butik itu, melihat istrinya yang duduk di sofa panjang terlihat dari kaca depan, tetapi baru sampai pintu butik itu ada seorang wanita yang memeluknya tanpa seijin Ken.


"Ken kamu apa kabar, lama kita tidak bertemu, aku sangat merindukanmu" ucap wanita itu.


"Eeee, kamu....kamu--?" kata Ken kaget melepaskan pelukannya dan sedikit melirik istrinya dengan tatapan yang khawatir.

__ADS_1


"Aku Gina Suryani, masak sih kamu lupa?" jawabannya dengan antusias.


Ken hanya sedikit gugup karena melihat mata Imma sudah seperti ingin mencabik-cabik wanita yang tiba-tiba memeluk suaminya dengan mesra.


"Maaf Gina, permisi ya...aku mau menjemput istriku yang ada di butik ini" jawab Ken berlalu berjalan menuju kearah Imma.


Tetapi Gina mengikuti Ken masuk butik tanpa merasa canggung sama sekali, mengetahui Gina mengikutinya, Ken mempercepat langkah kakinya.


"Honey....maaf ya, Abi terlambat apakah umi menunggu lama?" tanya Ken dengan tersenyum manis.


Melihat abinya datang Faro dan Fia berlari memeluk abinya itu dengan erat, sedangkan Gina membelalakkan matanya ternyata Ken sudah memiliki dua anak serasa tidak percaya.


"Oya honey... kenalkan ini teman kuliah Abi namanya Gina Suryani, Gina kenalkan ini istriku Imma" kata Ken sambil duduk memeluk Imma dengan erat.


Imma hanya menyatukan keduanya tangannya dan sedikit tersenyum yang dipaksakan, kemudian Gina juga menyatukan keduanya tangannya tersenyum dan menundukkan badannya.


"Kenzie bolehkah aku bicara berdua sebentar di luar?" pinta Gina dengan ingin menarik tangan Ken.


"Maaf ya Gin, kalau mau bicara sebaiknya disini saja, saya tidak mau istriku salah paham" kata Ken dengan cepat.


Sedangkan Imma sudah begitu marah dan cemburu yang begitu besar, berdiri meninggalkan suaminya itu, sambil menarik Faro dan Fia keluar butik berjalan keluar butik.


"Sana urusin wanita ganjen itu, umi mau pulang sendiri" bisik Imma di telinga Ken.


Menyadari Imma begitu marah dan emosi Ken mengikuti mereka dengan cepat tanpa memperdulikan Gina.


"Maaf Gina, permisi saya pamit dulu ya".


Ken berlari menuju Imma yang sedang berjalan menuju jalan raya ingin mencari angkutan umum atau taksi.


"Bang..adik Fia mobil Abi ada di sebelah sini" kata Ken sambil membukakan pintu depan dan belakang.


Faro dan Fia menarik uminya untuk masuk ke mobil, Imma hanya terpaksa mengikuti langkah kedua anaknya dengan gontai dan malas.

__ADS_1


"Honey... jangan marah didepan anak-anak, please".


Imma masuk mobil tanpa menjawab permintaan Ken ataupun mengucapkan sepatah katapun, inilah Imma yang dari dulu selalu menghadapi masalah sendiri tanpa di dampingi oleh kedua orangtuanya hanya di dampingi oleh almarhumah uthi Sumi, jika dia sedang marah atau menghadapi masalah hanya diam, semua hanya di pendam sendiri didalam hatinya.


Dengan diamnya Imma ini membuat Ken selalu was-was dan khawatir jika depresi yang pernah di alaminya akan kembali lagi.


Faro dan Fia berceloteh dengan riang dalam perjalanan pulang, sesekali Ken juga ikut berinteraksi dengan keduanya dan mengajak Imma jika, tetapi Imma hanya diam seribu bahasa dan memalingkan wajahnya ke jalanan tanpa memperdulikan Ken yang mengajaknya berbicara.


Ken menggenggam tangan Imma dengan erat, Imma berusaha menarik tangannya dari genggaman tangan Ken, memandangi wajah Imma dengan sendu.


"Honey... please, jangan marah, I love you so much" kata Ken lirih.


Sampai di depan rumah, dan kemasukan mobilnya di garasi, Faro dan Fia berlari menuju ke dalam rumah dengan riang dan sambil berlomba.


Imma tanpa memperdulikan Ken yang membukakan pintu mobil, dia berlalu meninggalkan Ken dengan berjalan cepat menuju lantai atas, Ken mengikuti Imma dari belakang, saat sampai di kamar Imma menutup pintu kamar dengan kencang.


"Bruuaaak...".


Ken hanya memegang dadanya kaget dengan suara pintu itu, dan membuka pintu kamar dengan perlahan, mencari Imma di dalam kamar itu tetapi ternyata Imma sudah berada di kamar mandi, Ken hanya mengambil nafas dalam-dalam, duduk di pinggir tempat tidur, membuka dasi, jas dan sepatunya sendiri yang biasanya dilakukan oleh Imma.


Menunggu sudah setengah jam, tidak ada tanda tanda Imma akan keluar kamar mandi, Ken mendekati pintu kamar mandi, meletakkan telinganya di daun pintu itu, tidak ada suara apapun disana, Ken membuka perlahan pintu kamar mandi yang tidak di kunci, melihat istrinya sedang berendam di bathtub hanya terlihat kepalanya saja dengan pandangan mata ke atas langit-langit kamar mandi.


Ken membuka bajunya, perlahan masuk di bathtub disamping Imma, sontak saja Imma kaget.


"Ngapain Abi, sana pergi jangan pedulikan umi" kata Imma ketus.


"Honey... please, maafkan Abi, dia yang memeluk Abi dengan cepat, Abi tidak bisa menghindar" rayu Ken sambil memeluk Imma dengan erat.


"Jangan peluk peluk umi, sana jauh" jawab Imma masih kesal.


"Please umi....dia itu cuma mantan abi waktu kuliah, tapi sekarang kan cinta Abi hanya untuk umi saja" rayu Ken lagi.


"Apa.... mantan pacar?" tanya Imma dengan tatapan mata yang tajam dan marah.

__ADS_1


__ADS_2