
Ratih Prameswari membuka mata dan dia sudah kembali pada jaman abad 8 sebagai seorang putri mahkota dinasti Syailendra.
Hari ini adalah kunjungan rutin Kanjeng gusti Samaratungga beserta beberapa adipati dan patih ke area persawahan yang dikelola penduduk pribumi.
Putri mahkota sengaja menawarkan diri untuk ikut mengunjungi rakyatnya, dengan alasan dia harus belajar menjadi seperti ayahandanya supaya bisa melanjutkan kebijakan.
Rakyat kecil yang tidak mampu membayar upeti / pajak kepada istana akan dipekerjakan mengelola tanah milih istana, jika masa panen tiba maka keuntungan panen akan dibagi 70 bagian diserahkan ke lumbung istana, sisanya 30 bagian adalah milik rakyat pengelola.
Tatanan kehidupan yang tentram damai, hampir tidak pernah terjadi pemberontakan karena kanjeng gusti Raja Samaratungga selalu dikelilingi pagar gaib yang menjaga dirinya dimanapun berada. Beliau juga bisa melihat siapa saja yang hendak memberontak dan para patih akan membereskan pemberontak itu sebelum menyerang.
***
Kanjeng gusti Raja Samaratungga adalah penganut murni bodhisatva, (perwujudan roh roh suci dalam bentuk arca budha). itu juga sebabnya beliau ingin membangun sebuah bangunan besar supaya dapat lebih kusyuk ketika beribadah.
Dan kini bangunan itu telah berdiri dengan sangat megah, satu satunya bangunan megah di tanah jawa. Bumishambara menjadi pusat kegiatan para biksu dan orang orang suci serta seluruh rakyat yang ingin melantunkan doa dan pujian pada para bodhisatva.
Kanjeng putri mahkota Dyah Pramodhawardani sendiri penganut setia Avalokitesvara (seorang dewi welas asih) Dewi jelmaan bodhisatva yang juga dikenal dengan sebutan dewi kwan im.
Beliau satu satunya dewi yang menguasai alam bodhisatva setelah maha adhibudha. Dewa dewi dalam agama budha adalah jelmaan dari manusia sebelum nya yang berhasil membebaskan diri dari kesengsaraan dunia.
Setiap dewa dan dewi mempunyai latar belakang kisah hidupnya sendiri,
Kanjeng putri mahkota sering bertemu langsung dengan Avalokitesvara / dewi kwan in di taman bambu dekat hutan istana. Area itu seperti menjadi titik pertemuan umat dan junjungannya.
__ADS_1
Ketika sang dewi menampakkan diri, maka semua umat akan bisa melihatnya secara langsung. Dan sang Dewi akan selalu hadir jika kanjeng putri mahkota memanggil.
Dalam setiap pertemuan, kanjeng putri mahkota selalu meminta wejangan, tentang apa yang harus dia lakukan untuk dinasti Syailendra, tentang bagaimana mengalahkan rasa ego diri sendiri ketika menghadapi situasi yang tidak bagus.
"Semua kunci berasal dari rasa welas asih anakku..." ucap sang dewi
"Apakah hamba akan bisa menemukan kebahagiaan setelah pernikahan ini terjadi ibu ?" tanya kanjeng putri mahkota
"Anakku... jalanilah semua yang dirancang untuk mu dengan hati ikhlas dan lapang dada.. semuanya akan baik baik saja, ada aku disisimu ingat ?" Wejangan sang dewi..
"bahkan setiap malam hamba masih sering menangis ibu dewi... hati kecil hamba masih belum bisa menerima..hiks.." air mata kanjeng putri mahkota menetes
Bahkan dia belum resmi menggantikan sang ayahanda,namun bayangan beban kehidupan sudah menari nari dikepalanya..
"Anakku.. ada aku.. kamu akan selalu bisa menemuiku disini kan ? jangan menangis.. seorang ibu tidak akan sanggup melihat putri kesayangannya menangis.." sang dewi mengusap air mata kanjeng putri mahkota yang membasahi pipi tanpa permisi...
Dewi Avalokitesvara selalu duduk beralaskan bunga teratai, bunga teratai adalah kendaraan sang Dewi dari alam bodhisatva.
ditangan kiri selalu memegang sebuah vas kecil mirip cupu manik berisi air suci dan beruntung lah mahkluk yang bisa mendapatkan air suci itu, terberkatilah sepanjang hidupnya..
***
Ratih Prameswari ikut merasakan kesedihan sang mbakyu, tapi dia bisa apa ? tidak mungkin juga kan merubah tatanan sejarah ? apa jadinya jika sang putri mahkota tidak jadi menikahi pria yang akan menjadi raja Agung tanah jawa, dan bagaimana kehidupan masa depan jika candi Prambanan tidak pernah ada ??
__ADS_1
Ratih Prameswari hanya bisa ikut merinding, tidak berani membayangkan.
Apalagi ketika mbakyu nya berbicara empat mata dengan sang ibu dewi, sungguh pengalaman paling mengesankan.
ibu dewi Avalokitesvara memiliki aura berkilau seperti berlian terkena sinar matahari, berkilauan dengan berbagai warna yang sangat indah, sunggu menyilaukan mata sekaligus menentramkan jiwa.
Bahkan ketika pembicaraan mbak yu dan junjungannya selesai, ibu dewi Avalokitesvara memberkati sepercik air suci kepada sang mbakyu dyah Pramodhawardani dan Ratih Prameswari juga ikut merasakan air suci itu merasuk lewat keningnya.
Tiba tiba jiwa merasa sangat tentram dan damai.
mbakyu... kamu manusia yang sangat beruntung...
Aku diberkati sepanjang hidupku tih, begitupun dirimu
Aku ikut sedih mendengar cerita mu mbakyu... aku hampir ikut nangis
tidak seorangpun tahu apa yang aku rasakan tih, cuma aku, kamu, dan ibu dewi..
Aku akan membantu mu sampai akhir mbakyu.. SEMANGAT !!
***
Like, komen, hadiah ..
__ADS_1
Vote dan favoritkan untuk update selanjutnya
Sugeng Rahayu 🙏