
"kemana lagi ??" tatap Ratih prameswari yang kemudian mensejajarkan diri disamping Rakai pikatan.
sorot mata Rakai pikatan menunjukan kesedihan yang mendalam..
sesuatu yang sangat dia pendam dalam kerinduan..
..."Ajak aku bertemu sanjivaniku... "...
Ratih prameswari dan Rakai pikatan saling menatap untuk sesaat seperti mencoba mendalami apa maksud kalimat yang dilontarkan barusan.
"Aku ?? kamu minta tolong ke aku buat cari lokasi sri pramodhawardani ??" tanya Ratih prameswari
"Kali ini kamu yang tahu tempatnya.. tolonglah.. "
terdengar seperti kalimat permohonan..
"kenapa minta tolong ke aku ?bukankah kamu yang punya kekuatan untuk berpindah dimensi kemanapun.. " tanya Ratih lagi..
"Aku sangat merindukan istriku.. sulit sekali menemui dirinya, aku tahu dia mendengar perkataan ku namun sengaja menutup diri agar tak terlihat olehku.. "
kata Rakai pikatan..
"Jadi adinda Ratih prameswari.. kali ini kamu yang harus membantuku ke dimensi tempat terakhir sanjivaniku berada... "
menatap penuh iba..
"Bagaimana bisa kamu menyebut mbakyu sanjivani adalah istrimu Rakai pikatan? "
"istrimu adalah Sri pramodhawardani !! mbakyu Sanjivani adalah perwujudan sri pramodhawardhani setelah bebas dari belenggu keduniawian, mbakyu Sanjivani berada di level yang berbeda asal kamu tahu.. aku sendiri juga tidak bisa seenaknya saja memanggil mbakyu Sanjivani untuk menemui ragaku,"
kata Ratih prameswari..
"Mbakyu Sanjivani selalu berada di istana awang awang bersama ibu dewi Avalokitesvara.. dia tidak akan datang jika bukan karena hal yang sangat penting.. "
"maafkan aku Rakai pikatan.. "
nada ucapan menyesal dari mulut Ratih prameswari.
"Aku mencari diseluruh penjuru java dwipa namun tidak menemukan makam istriku sri pramodhawardhani.. " kata Rakai pikatan..
"Karena memang sri pramodhawardani tidak mati sebagai manusia.. " jawab Ratih
"Sri pramodhawardhani berhasil melakukan pembersihan diri dari belenggu duniawi dan saat gunung berapi suci meletus meluluh lantahkan peradaban dinasty yang berhubungan langsung dengan hidupnya saat itulah sri pramodhawardhani diangkat oleh ibu dewi Avalokitesvara dan menjelma menjadi sosok Sanjivani.. "
"itu terjadi setelah kamu meninggal Rakai pikatan.. peradaban dua dinasty sudah hancur tertelan amukan lava gunung api suci.. "
"Apa kamu tidak bisa melihat ke masa itu hhmm ??"
tanya Ratih
"Selama ini aku tidak pernah mengunjungi bumi java dwipa setelah masa pertapaanku Ratih... terakhir yang aku bisa kunjungi hanya sampai sini.. tempat peristirahatan terakhir ku.. bukit pastika.. "
kembali tertunduk sedih saat mendengar ucapan Ratih prameswari..
Melihat Rakai pikatan bersedih ada sedikit rasa iba dalam diri Ratih prameswari..
__ADS_1
Lalu diam diam menyambung komunikasi dengan mbakyu Sanjivani lewat bahasa batin..
Dalam adegan gaib pribadi Ratih prameswari..
mbakyu sanjivani...
Ada apa memanggilku Ratih.. ada sesuatu yang penting kah ?
Apakah mbakyu Sanjivani bisa membawa aku dan Rakai pikatan ke tempat terakhir mbakyu Sanjivani menghabiskan waktu didunia ?
Sedari tadi sejak kamu berpetualang ke dimensi abad 9 bersama kangmas Rakai pikatan aku sengaja menutup diri.. aku tidak mau berurusan lagi dengan hal hal duniawi Ratih..
Aku mengerti mbakyu sanjivani telah merelakan semuanya Namun apakah mbakyu bisa memberi satu kesempatan untuk Rakai pikatan bertemu Dengan istrinya ? sanjivaninya ?
Hhmm... bukankah saat terakhir kamu pernah kesana Ratih.. kamu masih ingat kan saat kamu nyawiji ke raga tuaku sebagai nini buyut ?
kalau begitu ijinkan aku membawa Rakai pikatan ke era abad 10 ya mbakyu.. katanya setelah ini kami tidak akan bertemu lagi, aku akan menikah dengan yang bukan reinkarnasinya dan ada syarat yang dia ajukan supaya satu belenggu terlepas
apapun keputusan mu Ratih... kamu akan mendapatkan apa yang kamu inginkan sebelum takdir sejati kembali mengikat mu..
Iyaa mbakyu... Setidaknya ijinkan aku mengecap bahagia seperti yang ingin aku rasakan..
Aku selalu merestui kamu Ratih prameswari.. bawalah Kangmas Pikatan ke era abad 10, ajak juga dia bertemu buyutnya, Dyah balitung..
Terima kasih mbakyu sanjivani.. Rahayu..
Rahayu..
membuka mata dan situasi kembali normal, Mendekat i Rakai pikatan yang seperti melamun entah menerawang kemana..
"Eghem.. Rakai pikatan.. apakah jika aku membawa dirimu bertemu mbakyu Sanjivani, kamu akan tepati janjimu untuk melepaskan satu belenggu takdir kita ??"
"Seorang pria yang dipegang adalah janjinya Adinda.. aku janji setelah ini kamu akan mendapatkan apa yang selama ini kamu inginkan.. "
kata Rakai pikatan..
Ratih prameswari lalu menggenggam tangan kanan Rakai pikatan, pikirannya fokus kepada sosok nini buyut Sanjivani pada Abad 10.
Sejenak memejamkan mata dan lalu saat membuka mata...
Rakai pikatan terkejut..
"Kita masih ditempat yang sama Adinda Ratih prameswari.. "
masih di bukit pastika hanya suasananya yang sudah banyak berbeda,
"Kamu pikir kita akan kemana Rakai pikatan.. disinilah mbakyu Sanjivani berada.. "
ucap Ratih yang kemudian berjalan mendahului Rakai pikatan, menuju kesebuah tempat yang terletak tidak jauh dari pondok.
Sebuah makam...
"Ini adalah makam Rakai mamrati... " kata Ratih prameswari..
menunjuk pada gundukan tanah yang dikelilingi bebatuan serta sebuah nisan yang menjelaskan nama serta tahun meninggalnya..
__ADS_1
"saat ruhku keluar dari Raga, adalah saat dalam sebuah pertapaan.. lalu siapa yang menguburkan jasadku.. "
kata Rakai pikatan yang merasa entahlah senang atau apa, melihat makamnya sangat terawat padahal sudah bertahun tahun, puluhan tahun mungkin..
"entahlah siapa yang menguburkan jasadmu namun, yang merawat makammu sampai Sekarang ini adalah mbakyu Sanjivani.. "
Ratih berjalan mendekati area makam..
"Sanjivaniku... dimana dia... " lirih Rakai pikatan.
"Dia akan datang kesini sebentar lagi, tunggu saja.. "
keduanya duduk didekat makam..
beberapa waktu kemudian..
terdengar suara langkah kaki pelan, langkah kaki nini buyut yang sudah renta..
Rakai pikatan mendongak kearah sumber suara, Nampak sosok wanita sepuh yang sudah renta.. menatap haru menahan tangis yang hampir tumpah,
sosok itu tidak berubah masih tetap cantik meskipun rambut tidak hitam lagi, digelung sederhana menggunakan tusuk rambut kenangan, yang semakin membuat air mata Rakai pikatan deras membasahi pipinya..
Kamu menemukan tusuk rambut penuh kenangan itu adinda.. kamu tidak pergi jauh ternyata kamu menjagaku sampai Akhir...
mendekat berdiri tepat di hadapan nini buyut Sanjivani, menyentuh kulit rapuhnya..
pandangan mereka saling beradu..
nini buyut sudah merasakan kehadiran sosok lain di makam suaminya saat dirinya melangkah mendekat ada rasa haru mendalam melihat sosok suami sedang seperti menunggunya, Ratih prameswari yang paham situasi pun memilih menjauh dari dua insan yang pasti akan saling melepaskan kerinduan.
"Kangmas pikatan... " ucap mulut renta nini buyut
"Adinda.. kamu melihatku... " tersenyum terisak.
"Maafkan aku adinda.. maafkan aku... hiks.. " Rakai pikatan berlutut dihadapan nini buyut sanjivani.
saling menggenggam tangan seakan tidak ingin melepaskan..
"Bangunlah kangmas pikatan.. jangan seperti ini.. "
nini buyut menuntun suaminya duduk didekat pusara makam..
"Kangmas.. aku sudah melupakan segalanya, aku sudah merelakan seluruh kehidupan duniawiku bersamaan dengan letusan gunung berapi suci.. "
"Sekarang hanya ada aku yang sudah renta ini, mengabdikan sisa hidupku merawat pusara makam mu.. "
*gak kuat nulisnya author ikut nangis... 😭
...****************...
Bersambung
Cerita ini tidak sepenuhnya nyata ,juga tidak sepenuhnya halu
Like, komen, hadiah ..
__ADS_1
vote dan favoritkan untuk update selanjutnya
Sugeng Rahayu 🙏