
Usai makan malam, ibuk dibantu oleh Ratih membereskan ruang makan, sementara dek gendhis masih bermain dengan Fabiyan.
entah kenapa dek Gendhis sangat lengket terhadap Fabiyan yang notabene adalah pria yang tidak pernah bertemu deh gendhis sebelumnya.
"Bukankah seharusnya kamu merasa heran ?" ucap pak Yitno saat mereka bertiga berada diruang tivi.
"njih pak.. tapi rasanya sudah mengenal lama sekali.. "
"itulah ngger.. sebuah rahasia yang akan kamu temukan sendiri jawabannya.. tidak sekarang tapi nanti mungkin bertahun tahun dari sekarang.. "
yang dimaksud pak Yitno adalah ikatan antara dek gendhis dengan Fabiyan, sebuah benang merah yang masih menjadi rahasia.
Ratih menerima sebuah panggilan telepon, siapa lagi kalau bukan sang suami.
"Sayang... aku pulang seminggu lagi, ternyata ada banyak masalah disini, pihak investor ingin aku menangani langsung.. "
"iya sayang.. selalu jaga diri ya jangan sampai drop, aku sama dek gendhis juga baik baik saja.. "
"aaa jadi kangen dek gendhisku... biasanya kan jam segini dia minta gendong trus bobo sama aku, semoga dek gendhis gak rewel ya.. "
"gak rewel kok sayang, dek gendhis itu lagi main sama mbah kakungnya.. mau ngomong sama dek gendhis ?"
"Lain kali aja sayang.. ini aku harus mulai kerja lagi, lembur sampai malam soalnya semua arsip berantakan dan ada banyak data yang hilang.. love you sayang... "
"love you too ayahnya dek gendhis... sayangku.. hehe.. "
obrolan ringan suami istri yang samar samar terdengar telinga Fabiyan, sebuah perasaan yang tidak boleh meluap, dia sudah jadi milik orang lain, aku harus legowo..
panggilan berakhir..
Ratih prameswari menunggui dek gendhis yang masih belum mau beranjak dari pangkuan Fabiyan padahal jam di dinding sudah menunjukkan pukul sepuluh malam.
"biasanya dek gendhis itu tidur jam delapan, ini tumben masih betah melek aja dek.. " kata ratih prameswari hendak mengangkat putri kecilnya dari Fabiyan.
bukannya mau malah dek gendhis nangis lagi, Akhirnya digendong keluar rumah oleh Fabiyan, dinyanyika kekidungan jawa, kidung sukma ditujukan untuk roh suci pendamping dek Gendhis.
seperti nyanyian pengantar tidur, perlahan dek gendhis terlelap dalam pelukan, hampir setengah jam lamanya..
"dia sudah tidur.. " menyerahkan gadis mungil kepada ibunya, tidak mungkin juga Fabiyan yang membaringkan dek gendhis di kamar.
"makasih biyan, maaf ya merepotkan.. biasanya jug gak begini.. " tersenyum sungkan saat memindahkan dek Gendhis di kamar.
setelah itu..
menjelang tengah malam seperti biasa pak Yitno dan Fabiyan sudah berada dipendopo kecil. Mereka ngobrol sembari menunggu saat nya sembahyang.
__ADS_1
Ibuk yang tumben malam ini belum merasa ngantuk, menghampiri kamar Ratih prameswari tertidur disamping dek Gendhis, Sementara Ratih tidak menyadari ibuk ada dikamar nya.
Tepat saat lewat tengah malam, lamat lamat terdengar suara yang seperti membangunkan Ratih prameswari,
masih setengah sadar saat memastikan suara apa itu dari kebun belakang rumah,
seperti suara bapak deh..
Lalu seperti tidak biasanya Ratih segera membasuh muka dan bergabung duduk dibelakang bapak, Ratih memposisikan duduk disebelah kiri Fabiyan.
Kemudian beberapa detik kemudian, Ratih prameswari ikut mengeluarkan suara sembahyang bahasa roh, entahlah nalurinya ingin melakukan hal itu..
Mereka menyelesaikan sembahyang pada pukul dua dini hari, saat membuka mata Fabiyan terkejut, Begitupun Pak Yitno dan juga Ratih prameswari..
mereka sedang tidak berada dipendopo melainkan sebuah tempat jaman dulu, yang sering digunakan untuk ritual kerajaan.
ketiganya saling menoleh seakan memiliki jawaban yang sama, bukit boko..
Suasana bukit Boko yang masih terlihat mewah dan megah,
disana hanya ada mereka bertiga dengan tiga lainnya adalah sosok leuhur utama serta disaksikan para roh leluhur yang berada dibelakang Fabiyan, Ratih prameswari dan juga Pak Yitno.
"Rahayu para putra wayah.. " sesosok yang utama mengucapkan salam
"Ini adalah malam purnama, dan sudah merupakan tradisi dari kami para leluhur untuk selalu mengadakan ritual sembahyang.. " sosok itu sangat gagah dengan aura kuning yang berkilauan.
"Ngger cah bagus, terima kasih karena ragamu mampu mengemban tugas wigati yang petugas sampaikan waktu itu.. " kalimat tersebut ditujukan untuk Fabiyan.
"Kalian bertiga adalah wadak kasar pinilih yang akan kami berikan tanggung jawab wahyu wigati "
seketika turun sepercik sinar dari langit, perlahan turun ditengah area, lebih tepatnya melayang tepat dihadapan Fabiyan..
klewang klewung sepercik sinar berubah menjadi selembar kertas berwarna putih.
Fabiyan tidak berani melihat dia masig menunduk, begitu juga Ratih prameswari dan pak Yitno.
"Ambil ngger.. itu adalah hak mu !! kamu dan garwo kinasihmu adalah pilar utama ritual malam bulan purnama, sama seperti dikehidupan lampau.. "
"Hamba tidaj berani eyang.. " Fabiyan masih belum paham apa maksud sebenarnya,
sedangkan Ratih prameswari yang sudah pernah berkunjung ke dimensi abad 8 dan 9 sudah paham,
Para leluhur ingin mereka para titisan reinkarnasi tokoh utama ritual rutin malam bulan purnama menjalankan kembali ritual yang sama diwaktu yang sama.
"Maaf kanjeng gusti.. di era kehidupan kami yang sekarang akan dianggap aliran sesat jika melakukan ritual seperti ini.. Mohon maaf tapi kami para putra wayah butuh bukti sengkuyung wujud sih tresna kalian para leluhur.. " Ratih berani mengutarakan apa yang ingin disampaikan Fabiyan
__ADS_1
Fabiyan hanya berani melirik sekila garwo kinasihnya itu,
"Kamu memang titisan putri agung dinasty ngger cah ayu.. Aku bangga karena putriku menitis ditubuhmu.. " sosok itu tersenyum berwibawa,
kemudian secara perlahan menampakkan wujud aslinya yaitu Maharag Gusti Samaratungga..
Ratih sudah tahu sejak awal, aroma khas sang maharaja yang tidak ada satupun bisa menyaingi..
"Sembah sujud kami kanjeng gusti Samaratungga.. " Ratih dan pak Yitno dan juga Fabiyan.
Pak Yitno yang sedari tadi hanya diam, sebenarnya juga sudah memahami situasi namun dirinya tidak diijinkan untuk mengucap sepatah kata pun..
Disini Fabiyan mulai meraba raba kepingan puzle yang harus dia satukan agar menemukan roh suci pendamping gaibnya yang sejati.
apa ini.. siapa sebenarnya aku dalam adegan ini ??
pertanyaan Fabiyan dalam hati,
"Terima ngger.. Kami semua yang hadir disini akan selalu nyengkuyung langkah kalian, tidak perlu takut kekurangan karena setiap saat nya tiba para petugas akan mengantarkan ubo rampe.. "
"Ba.. baiklah eyang... tapi sebelumnya hamba mohon maaf jika dalam pelaksanannya nanti tidak memuaskan seperti yang para leluhur inginkan.. "
Beban berat ? iya.. karena ritual malam bulan purnama sudah identik dengan para leluhur suci tanah jawa, sebuah tradisi yang dilakukan untuk menjaga kemakmuran dan kestabilan tanah jawa yang semakin tua..
Apalagi ritual ini secara resmi dalam adegan gaib sudah diserah terimakan kepada para titisan reinkarnasi terpilih. Bahkan disaksikan secara langsung oleh para danyang penunggu dari berbagai wilayah tanah jawa.
Ritual ini nantinya akan dilakukan turun temurun sampai dek Gendhis dewasa, dan kelak nanti saat bapak Yitno jengkar akan terjadi pergolakan besar antara titisan Rakai pikatan dan Rakai Walaing mpu kumbhayoni.
satu satunya yang akan menjadi penetral kedua pihak yang saling berebut siapa yang paling berhak menjadi pemimpin ritual malam bulan purnama,
Wanita yang harus mampu berdiri tegak ditengah menggantikan bapak Yitno adalah titisan sri pramodhawardani yaitu Ratih prameswari.
tapi itu masih akan terjadi lama sekali bertahun tahun yang akan datang, Rahayu..
...****************...
bersambung..
Cerita ini tidak sepenuhnya nyata ,juga tidak sepenuhnya halu
Like, komen, hadiah ..
vote dan favoritkan untuk update selanjutnya
Sugeng Rahayu 🙏
__ADS_1