Diam Cupu, Ternyata Ratu

Diam Cupu, Ternyata Ratu
Bab 108 Bertemu buyut


__ADS_3

Nini buyut menuntun suaminya duduk didekat pusara makam..


"Kangmas.. aku sudah melupakan segalanya, aku sudah merelakan seluruh kehidupan duniawiku bersamaan dengan letusan gunung berapi suci.. "


"Sekarang hanya ada aku yang sudah renta ini, mengabdikan sisa hidupku merawat pusara makam mu.. "


"Apa selama ini kamu hidup dengan baik adinda.. kamu tidak berubah, tetap cantik dan bersinar.. "


genggaman tangan yang tidak saling melepaskan..


"Aku hidup dengan sangat baik kangmas.. aku menikmati setiap proses kehidupan.. "


sorot mata Nini buyut yang nampak rapuh namun teduh, hanya pakaian biasa selalu memakai kain polos berwarna putih.


"Tusuk rambut ini... " Rakai pikatan menyentuh rambut berwarna putih nini buyut yang digelung dengan tusuk rambut bunga lotus buatan tangan suaminya dahulu sekali..


"Aku menemukan ini saat tiba di pondok kecil yang sepertinya adalah tempat kangmas mengasingkan diri.. "


tersenyum lagi..


"Saat aku tiba disini.. semua di penuhi semak belukar"


"Aku menemukan makam ini dan aku tahu jika ini adalah makam kangmas pikatan.."


"Maka aku berinisiatif untuk membersihkan area disekitar makam hingga sampai di pondok kecil itu, "


kala itu..


pondok yang sudah roboh tertimbun tumpukan rumput ilalang sekitarnya, Nini buyut membersihkan rumput dengan telaten, menggunakan sebuah alat bernama Kudi.


pemberian ibu dewi Avalokitesvara yang sangat serba guna, konon Kudi terbuat dari batuan dari langit, ketajamannya tidak diragukan,


Kudi bisa digunakan untuk membabat rumput, memotong kayu, dan lain sebagainya..


Secara perlahan nini buyut sanjivani kala itu kembali membangun pondok kecil sebagai tempat tinggal nya,



tangan halus yang kini harus melakukan semuanya sendiri..


Tangan halus yang dahulunya seorang tuan putri tunggal kebanggaan dinasty Syailendra , yang berhasil melewati tahap pembebasan belenggu duniawi dan kini dalam tahap mengabdikan diri menunggu giliran hidup dikeabadian.



Ilustrasi penokohan Dyah pramodhawardani saat masih muda dahulu.. putri kebanggan dinasty yang di tresnani para roh roh suci bodhisatva,


Dyah pramodhawardani yang masa mudanya tidak seperti anak gadis lain, seorang penganut ibu dewi avalokitesvara yang sangat taat.

__ADS_1


Dyah pramodhwardani yang sepanjang hidupnya tidak pernah kekurangan satu apapun, apa yang dia inginkan akan dia dapatkan.


seorang putri yang mengorbankan masa mudanya untuk mempersiapkan diri sebagai maharatu pemimpin dinasty.


Seorang putri dinasty Syailendra yang melewati begitu banyak ujian hidup..


Usia nini buyut saat ini sudah lebih dari seratus tahun, beberapa babak kehidupan pun telah dilewati.


putri dinasty yang kini bergelar sri Sanjivani, penampilan sederhana jauuhhh dari kemewahan duniawi.


sri Sanjivani yang bisa saja hidup abadi bersama ibu dewi Avalokitesvara namun memilih untuk mengabdikan sisa usianya menjaga dan merawat makam suami.


(berkaitan dengan cerita dari bab 55 asal mula nama sanjivani ya reader



Sri sanjivani seorang umat yang taat, auranya bersinar putih kekuningan, memberi pengayoman siapapun didekatnya.


penampilan yang sangat jauh berbeda dari saat masa mudanya dulu.


sri sanjivani kini sangat sederhana, andhap asor, tidak sedikit pun silau akan gemerlap duniawi.


Sri Sanjivani yang memiliki kekuatan kanuragan yang tidak bisa diremehkan, dia membuat benteng gaib pada area sekeliling pondok dan pusara makam suaminya hingga tidak seorangpun menemukan keberadaannya.


hingga berpuluh tahun kemudian seorang darah murni dinasty Syailendra bersikukuh harus bisa menemukan makam kakek buyutnya,


sebuah kegigihan yang membuahkan hasil..


Saat Rakai dyah Balitung berhasil menembus pagar gaib yang dibuat Sanjivani, dengan usaha keras dan keteguhan hati membujuk seorang sri Sanjivani untuk menjadi nini buyutnya sebagai penghargaan tertinggi karena sudah menjaga dan merawat makam rakai pikatan sang kakek buyut.


(berkaitan dengan cerita di bab 57 ijinkan aku menjadi buyutmu)


...----------------...


Saat ini nini buyut Sanjivani masih bersama roh perwujudan Rakai pikatan di dekat pusara makam, mereka masih saling melepas kerinduan menceritakan kisah hidup satu sama lain saat berpisah.


"Adinda.. kamu benar benar setia sampai akhir, sedangkan aku.. sungguh sangat menyesal telah menyakiti perasaanmu.. "


Rakai pikatan benar benar menyesal..


apalagi saat menatap raga renta nini buyut Sanjivani yang dia yakin telah hidup sangat lama..


Sisa hari itu mereka habiskan dengan bercengkerama, Rakai pikatan mengekori kemanapun aktivitas nini buyut sanjivani yang tidak lelah membersihkan setiap daun kering yang berjatuhan di area pusara suami.


saat tiba tiba seorang pria menghampiri nini buyut Sanjivani, pria yang memiliki kemiripan seperti kakek buyutnya yang kini berdiri tak nampak didekat pusara.


Tampak pria itu yang tidak lain adalah maharaja Dyah Balitung yang megenakan pakaian samaran seperti rakyat biasa, menyalami tangan tenta nini buyut Sanjivani, lalu menuntun beliau untuk beristirahat,

__ADS_1


"Hari sudah semakin sore nini buyut, sebaiknya kita segera pulang ya.. " ajak Dyah Balitung


"Ngger... apa kamu ingin bertemu kakek buyutmu ?" pertanyaan tiba tiba yang cukup mengejutkan.


"Apa nini buyut sedang menggodaku ?aku bukan anak kecil lagi yang bisa di goda dengan hal hal semacam itu, hehe.. " menjawab dengan senyum ramahnya.


"Kakek buyutmu ada disini ngger.. dia sedang melihat kita.. disitu.. " menunjuk letak pusara makam dimana Rakai pikatan sedang berdiri menatap keturunannya yang masih eksis.


Dyah balitung menganggap nini buyut hanya sedang bicara asal, tapi tetap menghormati sehingga Dyah Balitung pun akhirnya menganggukkan kepala.


"Baiklah nini buyut.. ayo pertemukan aku dengan kakek buyutku.. aku tidak sabar aku akan memeluk nya erat hehe.. "


"Ngger cah bagus, meskipun nini buyutmu ini semakin renta namun tidak pernah berkata omong kosong hhmmm.. "


Kemudian sri Sanjivani nampak fokus mengatupkan kedua tangannya, beliau berdoa memohon ijin dan kuasa untuk Mempertemukan Dyah Balitung dengan kakek buyutnya yaitu Rakai pikatan.


Hening...


angin lembut berhembus disekitar pusara makam,


hawa sejuk menyelimuti insan yang ada disitu, dan tiba tiba..


Dyah Balitung benar benar terpana akan sosok pria tampan gagah berwibawa di hadapannya..


"Nini buyut.. i.. itu.. itu... " bahkan sampai tergagap sulit berucap.


"Nini buyutmu ini tidak pernah berbohong ngger.. atas ijin sang adhi shakti temuilah kakek buyutmu.. "


Mulut renta nini sanjivani meminta Kedua nya saling mendekat.


"Kakek buyut... "


"ngger buyutku Dyah Balitung.." suara jelas berwibawa Rakai pikatan menuntun Dyah Balitung masuk dalam pelukannya.


air mata haru menetes dari keduanya...


...****************...


Bersambung


Cerita ini tidak sepenuhnya nyata ,juga tidak sepenuhnya halu


Like, komen, hadiah ..


vote dan favoritkan untuk update selanjutnya


Sugeng Rahayu 🙏

__ADS_1


__ADS_2