Diam Cupu, Ternyata Ratu

Diam Cupu, Ternyata Ratu
Bab 130 Doa pembuka ritual malam bulan purnama


__ADS_3

Acara dimulai tepat pada pukul sepuluh malam hari, Tuan rumah Yaitu bapak Yitno adalah yang memimpin doa dengan sembahyang bahasa roh yang tidak bisa diterjemahkan..


sineksen bumi kelawan langit jagad seisine..


Sebuah kalimat yang memiliki sasmito, pengertian tersendiri bagi para kadang kenal gesang, Bumi dan langit menjadi saksi, dan kami sebagai umat semata hanyalah wadak kasar yang menjadi perantara wahyu tuk sulihe Gusti ingkang akaryo jagad sak isine..


Lalu suara sembahyang dari setiap yang hadir mengalun harmonis meskipun satu sama lain tidak sama, tapi energi yang dihasilkan sangat kuat.


ibarat sinar suci yang menembus keatas langit, alunan bahasa roh mampu menarik para leluhur terkait untuk turut hadir dalam arena secara gaib..


setiap orang memiliki kode etik pribadi tentang leluhur mana dan leluhur siapa yang hadir, semakin tinggi derajat roh para leluhur akan semakin berat auranya..


sepercik sinar putih yang sangat menyilaukan menyapa Ratih prameswari dan Fabiyan, Ratih prameswari duduk disebelah kiri bapak Yitno dengan ibu dan tamu wanita lain.


sedangkan disebelah kanan pak Yitno ada Raymond, Fabiyan dan tamu pria lainnya.


Ratih prameswari dan Fabiyan saling menoleh, saat ini mereka seperti berada di dunia lain, sinar putih tadi adalah percikan daya energi roh suci yang membawa keduanya kesuatu tempat.


Tidak ada pembicaraan saat ini Ratih prameswari dan Fabiyan berjalan beriringan mengikuti sinar putih yang menyerupai komet,


Sebuah tempat yang sangat indah dan belum pernah Ratih prameswari kunjungi sebelumnya..


Fabiyan yang juga merasa heran menatap Ratih prameswari seolah bertanya, Kita ada dimana ??


Slasshhh...


sinar menyerupai ekor komet itu menghilang dan berganti wujud dengan seseorang yang samar samar mempersilakan Ratih prameswari dan Fabiyan untuk duduk diatas singgasana Raja dan Ratu.


singgasana berukir lapis emas berwarna kuning megah.. elemen ukiran seperti bukan berasal dari abad 8 ataupun 9.

__ADS_1


Jaman apa ini, wahai pukulun... Batin Ratih prameswari bertanya.


sosok itu tersenyum ramah lalu seperti kekuatan gaib dia menunjukan sebuah lokasi yang saat ini nampak Seperti masa depan..


Atau apakah ini adalah sebuah petunjuk tentang apa yang akan terjadi ?


Saat Fabiyan dan Ratih prameswari duduk disinggasana dengan berjuta kebingungan, datanglah dua sosok yang paling dituakan ditanah jawa,


glenik glenik langkah kaki eyang ismaya dan betari kanestren mendekati pendopo.


Tangan Eyang ismaya terangkat seolah berkata, tidak perlu turun dari singgasana, duduklah..


"Rahayu eyang.. " ucap Ratih prameswari dan Fabiyan bersamaan.


"Rahayu putra wayahku.. "


Sosok eyang ismaya sangat memiliki aura kuat, aroma khas yang menggambar kan seperti apa dirinya, sang pamomong sejati


Tidak banyak yang mereka sampaikan dalam adegan gaib itu yang pasti hanya memberikan beberapa wejangan pokok tentang apa yang harus Ratih prameswari dan Fabiyan Atmaja hadapi kedepannya.


"kelak.. kalian lah yang akan menjadi penyeimbang warisan dari para leluhur yang semakin pudar seiring kemajuan jaman, ngger... nduk... tetaplah nguri uri budaya leluhur jawa, akan tiba saatnya gonjang ganjing e kahanan akan merusak tatanan yang benar.. "


"Takdir kalian berdua bukan hanya sekedar menjadi suami istri.. ada lebih banyak tanggung jawab yang harus kalian hadapi sebagai wujud memperbaiki karma di kehidupan sebelumnya.. "


"Jangan pernah tinggalkan bahasa roh suci kalian.. amalkan dan asah setiap hari supaya hati kalian selalu ayem tentrem netral bijaksana.. "


"Musuh musuh besar tidak jauh dari pelupuk mata kalian, mereka nitis kedalam raga orang orang terdekat kalian.. "


"para iblis akan mengadu domba sesama Kalian, ketahuilah meskipun didalamnya adalah musuh tapi raga itu tetap saudara seibu hawa dan bapak Adam.. "

__ADS_1


"kelak.. yang benar akan tersisihkan , tetaplah kuat dan tetaplah tegar.. takdir kalian sudah tertulis sejak awal kehidupan dahulu.. "


"Salinglah menguatkan, meskipun raga kalian sulit bersatu tapi roh pendamping gaib kalian tetaplah pasangan Raja dan Ratu tanah jawa.. Cobalah meleburkan ego masing masing.. "


"waktu terus berputar ngger.. nduk.. semua ada masa perputaran hidup, dan semua yang bernyawa pasti akan mati.. perbaikilah semuanya sebelum keduluan pati "


Kalimat kalimat yang terlontar dari eyang Ismaya mengiri kepergian beliau, seiring kata Aamiin.. yang diucapkan bapak Yitno mengakhiri doa pembuka di malam ritual bulan purnama.


Rahayu.. para tamu mengucapkan serentak.


Sedangkan Ratih prameswari dan Fabiyan tampak saling menoleh, hanya diam dengan pikiran masing masing.


Tentu saja raga keduanya masih berpikir rasional, apa benar tadi dia juga mengalami hal yang sama dengan yang aku alami..


doa pembuka selama setengah jam, lebih dari cukup untuk setiap yang datang mengasah harta paling berharga dalam diri masing masing yaitu roh suci.


sejatining ingsun sakjeroning ingsun..


Selanjutnya waktu akan diisi dengan beramah tamah, saling bertukar wacana apa saja mengenai pengalaman pribadi selama meyakini penghayatan terhadap Tuhan yang maha esa dengan jalur bahasa roh suci yang tidak dapat diterjemahkan..


...****************...


Bersambung..


Cerita ini tidak sepenuhnya nyata ,juga tidak halu semata..


Like, komen, hadiah ..


vote dan favoritkan untuk update selanjutnya

__ADS_1


Sugeng Rahayu 🙏


__ADS_2