Diam Cupu, Ternyata Ratu

Diam Cupu, Ternyata Ratu
Bab 60 Menjadi pegawai baru


__ADS_3

Sekali lagi bergumam sendiri dalam hati memikirkan bagaimana rasanya jika dirinya bisa menembus dimensi waktu ke dunia kuno tanpa menunggu ijin atau bantuan dari mbakyu Sanjivani,


untuk mencari tahu fakta kebenaran antara arsip catatan sejarah yang ada di masa sekarang dengan apa yang sebenarnya terjadi di masa lampau..


Lamunan semakin merenggut kesadaran Ratih Prameswari, semakin tenggelam memikirkan berbagai hal ini dan itu..


Malam semakin larut namun Ratih Prameswari masih enggan beranjak dari bangku taman yang sudah nampak sepi pengunjung


***


Dua Minggu berlalu setelah berpikir dengan cermat dan seksama,


Ratih Prameswari memutuskan untuk bekerja di balai observasi cagar budaya provinsi jawa tengah, alasan utama Ratih Prameswari bekerja disini adalah,


Dia ingin menggali lebih banyak tentang informasi sejarah, situs dan kebudayaan khususnya di jawa tengah, dan kini dia berada dipusat seluruh arsip berada.


Sekali dayung banyak pulau terlewati..


Batin Ratih Prameswari pada hari pertama dia bekerja,


***


Banyak posisi yang ditawarkan namun Ratih Prameswari memilih untuk berada di bagian observasi lapangan.


Bekerja dilapangan akan membuat Ratih Prameswari lebih besar kemungkinan mengunjungi berbagai situs situs peninggalan leluhur tanah jawa .


Bukan tidak mungkin juga kan, Siapa tahu Ratih Prameswari bisa mendalami sejarah dibalik catatan sejarah dari situs situs yang akan dia temukan atau observasi..


Kehidupan para leluhur sudah begitu mendarah di nadi dan nafas Ratih Prameswari, kini itu adalah obsesinya.


***


Balai observasi cagar budaya berlokasi di kabupaten K, kecamatan P , jawa tengah


Disini Ratih Prameswari semakin jauh berpisah dari kedua orang tuanya,


mengantongi restu dan berbagai doa sebelum keberangkatan nya ke kabupaten tempat dia bekerja


Sebelumnya, bapak dan Ibu Ratih Prameswari mengadakan doa bersama selametan sekaligus wujud syukur kepada Gusti karena anak semata wayang mereka telah berhasil menyelesaikan pendidikan kuliah dan bahkan langsung diterima bekerja ditempat yang Ratih inginkan.


***


Karena bekerja dibagian observasi lapangan jadi Ratih tidak selalu memakai seragam wajib seperti yang lainnya, Ratih dan tim nya lebih sering berpakaian bebas namun tetap sopan dan beridentitas resmi.


Seragam dinas hanya dipakai saat ada apel pagi atau saat ada kunjungan dari pusat.


Tim observasi lapangan berjumlah 5 orang saja, mereka bertugas meninjau situs situs sejarah yang terletak di lokasi tertentu, kemudian melakukan riset atas situs tidak bergerak maupun situs bergerak yang mereka temukan.


Situs tidak bergerak itu seperti candi, bangunan bangunan permanen dari masa nenek moyang yang tidak dapat dipindahkan.

__ADS_1


Sementara situs bergerak adalah berupa benda benda yang bisa dipindahkan seperti lingga yoni, fosil tembikar, barang barang peninggalan nenek moyang dari bahan Kuningan, emas, tembaga seperti keris, gamelan, gong, mahkota raja dan lain sebagainya.


Benda sejarah kategori situs bergerak akan selalu diamankan di pusat cagar budaya , karena selain tidak ternilai harganya, ini adalah warisan konkrit dari para leluhur untuk para putra wayah keturunan mereka bukan ?


Jadi harus dilindungi oleh negara, tidak boleh berpindah tangan apalagi sampai diperjual belikan dipasar gelap internasional.


***


"Hari ini kita jadi mengunjungi Prambanan gak ?" tanya Ratih Prameswari pada salah satu tim senior nya


"Iya Ratih, untuk pemula kayak kamu memang kudu yang deket deket dulu, itung itung adaptasi lah.." jawab Seruni yang merupakan kaka seniornya.


"Oke kak siap.. aku siapin perlengkapan dulu yak.." respon Ratih nampak antusias tepat di dua minggu pertama bekerja.


beberapa waktu kemudian..


"Kita pakai sepeda aja ya kak.. mumpung masih pagi ini.." kata Ratih Prameswari telah siap dengan pakaian lapangan serta tas berisi alat observasi miliknya.


"Gusti.. kamu niat banget dek , sekalian olah raga pagi boleh deh.." Seruni awalnya tertawa akan ide naik sepeda yang dicetuskan Ratih Prameswari


Namun sejurus kemudian tampak ikut bersemangat menuju Prambanan. Padahal Seruni sudah terlalu sering kesana tapi kali ini terasa berbeda karena dia mendampingi salah satu junior yang sangat terobsesi dengan situs sejarah.


***


Seruni adalah pegawai senior yang selalu mendampingi pegawai junior dalam masa training mereka, terutama yang diposisi lapangan.


Masa training pegawai baru biasanya 3 bulan..


Seruni berasal dari kota M, Seruni memiliki kesamaan dengan Ratih Prameswari yaitu selain sebagai pecinta warisan nenek moyang, mereka juga sama sama perantauan, selisih usia 5 tahun ,


kebetulan mereka juga tinggal di mess yang disediakan departemen, kamar mereka juga bersebelahan.


Seperti mendapat teman sepermainan, sefrekuwensi, sepemikiran..


Kadang Seruni terkagum dengan semesta pemikiran Ratih Prameswari..


Setiap membahas tentang kisah nenek moyang, seruni selalu terpukau dengan penjelasan detail Rayih Prameswari.


Tidak ada di arsip catatan cagar budaya namun bagaimana Ratih Prameswari bisa mengetahui semuanya ??


itu adalah apa yang selalu dipikiran Seruni setiap berbincang dengan Ratih tentang para leluhur..


***


Perjalanan menggunakan sepeda sekitar hampir dua jam,


sebelumnya mampir beli sarapan dulu hehe..


Sarapan adalah kewajiban sebelum bekerja, Seruni mengajak Ratih Prameswari mampir sarapan di pinggir jalan yang selalu ramai akan penjual makanan dipagi hari.

__ADS_1


"Kali ini kita coba sarapan pecel ya Tih ?" Seruni menawarkan opsi makanan yang enak buat mengganjal perut dipagi hari


"Gendar pecel kayaknya enak kak, tapi jangan yang pedes banget, cukupan aja !" jawab Ratih sambil memarkirkan sepeda nya.


Mereka berdua sarapan sederhana dipinggir jalan ditemani pemandangan hamparan persawahan yang hijau dan sejuk, para petani yang turun ke sawah adalah panorama khas tersendiri yang hanya dijumpai di daerah pelosok seperti ini.


***


"Gendar pecel di kota asalku juga ada kak Seruni.." kata Ratih saat menikmati sesuap potongan gendar dengan sayuran kacang panjang, tauge, bayam serta mie kecap dan kering tempe yang sudah dicampur dengan bumbu kacang tidak pedas.


Satu suapan besar memenuhi rongga mulut Ratih Prameswari dan juga Seruni.


"Iya dek, ditempat asalku ini namanya bukan gendar pecel tapi pecel gablok hehe.. inget banget dulu tiap pagi dihari Minggu jalan jalan sama keluarga di alun alun trus jajan kulineran khas warga .." ucap Seruni terkenang masa kecilnya.


"Ditambah gorengan anget atau kerupuk tambah mantap ya kak hehe " kata Ratih lagi dengan suapan kedua


"Betul betul... ini makanan khas yang legend sih menurut aku dek !" Seruni menghabiskan satu porsi miliknya .


"Mbokde.. kulo nyuwun mie dicampur kering tempe sama sambal kacang njih !" Meminta sarapan porsi kedua pada si mbok penjual


"Sarapan secukupnya kak Seruni, jangan sampai kekenyangan nanti malah ngantuk di sana , bukannya observasi malah bisa bisa ketiduran didalam candi hehe.." Ratih yang nampak menyudai sarapan nya.


Lalu menyeruput teh melati hangat..


Sungguh nikmat dunia..


Menikmati secangkir teh Melati hangat sambil menunggu Seruni menyelesaikan sarapan porsi kedua.


Setengah jam kemudian...


"Lain kali kita berangkat lebih pagi yuk Tih !!" kata Seruni saat mereka kembali menggowes sepeda.


"Nah.. bener kan kataku kalau pagi itu seru kalau naik sepeda, oksigen segar belum banyak polusi juga" jawab Ratih menyetujui ide Kakak senior nya


"Bukan itu aja sih dek, tapi aku lebih suka ke kuliner paginya hehe... besok kita coba apa lagi ya ?" nampak berpikir serius akan ide hari esok.


"Yaah... kak Seruni kirain kita sepemikiran hehe.."


Keduanya sesekali tertawa bercanda, hingga perjalanan jauh dari mess ke lokasi observasi terasa singkat,


bahkan sama sekali tidak terasa jika mereka telah mengayuh sepeda 2 jam lebih..


...****************...


Bersambung..


Cerita ini tidak sepenuhnya nyata ,juga tidak sepenuhnya halu


Like, komen, hadiah ..

__ADS_1


vote dan favoritkan untuk update selanjutnya


Sugeng Rahayu 🙏


__ADS_2