Diam Cupu, Ternyata Ratu

Diam Cupu, Ternyata Ratu
Bab 37 Kembali ke masa depan


__ADS_3

Mahadewa membawa pulang tubuh dewi Sati ke kaliash..


Setiap langkah Mahadewa meninggalkan jejak kerusakan di bumi , tanah menjadi gersang, tandus, tanaman layu, kekeringan melanda,


Dan ketika menatap jasad dewi Sati Mahadewa kembali menitikkan air mata penuh kesedihan yang secara langsung mempengaruhi cuaca di bumi, yang tadi nya kering gersang seketika berubah menjadi hujan lebat tiada henti, menyebabkan banjir diberbagai pelosok wilayah.


kesedihan Mahadewa adalah bencana bagi alam semesta.


Tiba di kaliash Mahadewa memerintahkan Nandi dan yang yang lainnya untuk menyiapkan upacara pembakaran jenasah untuk dewi Sati.


Seluruh penghuni Kaliash menangis tersedu sedu menyaksikan tubuh sang dewi yang terbujur kaku.


Nandi sangat menyalahkan kelalaiannya dalam menjaga amanah Mahadewa, dia seharusnya mencegah dewi Sati pergi waktu itu, kini penyesalan pun tiada guna, sang Dewi telah pergi untuk selamanya.


Kedukaan menyelimuti Kaliash selama upacara pembakaran jenasah dewi Sati. Langit suram tidak sedikitpun angin berhembus, hanya ada kesunyian.


Mahadewa menyaksikan secara langsung proses pembakaran dewi Sati hingga akhir, Mahadewa sendiri juga yang mengumpulkan abu dewi Sati lalu memasukkan kedalam sebuah kendi yang akan dia lepaskan di samudera.


***


dewi Sati telah pergi untuk selamanya, kepergian dewi Sati adalah senyum yang hilang dari Mahdewa . Mahadewa yang sekarang menjadi sangat pendiam, kehilangan belahan jiwanya membuat Mahadewa tidak ingin lagi mengenal cinta.


Kaliash berubah dari tempat yang bahagia bagaikan surga menjadi dingin sedingin hati Mahadewa. Seluruh Kaliash diselimuti Salju tebal abadi, mengubur segala kenangan dewi Sati yang tertinggal selama tinggal di Kaliash.


seluruh pelosok bumi mengalami musim dingin tiada henti selama ratusan tahun lamanya (jaman es). Rasa duka yang teramat dalam membuat Mahadewa memutuskan untuk bertapa sepanjang hidupnya. Dia tidak ingin lagi peduli bagaimana tentang keseimbangan alam semesta, Mahadewa hanya ingin menyendiri dalam keabadian.


Selama Mahadewa menutup diri dalam pertapaan yang sangat jauuh di dalam sebuah gua yang tidak seorang pun boleh mendekat apalagi membangunkan dirinya. Segala urusan alam semesta ditangani oleh dua dewa lainnya, dewa Wisnu dan dewa Brahma.


***


Kembali pada Dyah Pramodhawardani...


"Dewi.... sungguh sangat mulia dirimu yang bahkan mencintai suamimu melebihi dirimu sendiri" kata Dyah Pramodhawardani.


"Aku tidak pernah menyesal ketika melakukan pengorbanan demi suamiku putri Pramodhawardani.." ucap dewi Sati penuh senyum.


"Kamu lihat kan ? bahkan jiwaku bahagia dialam kelanggengan.. aku masih memiliki tempat di Kaliash, rumah abadiku.." dewi Sati sangat memancarkan aura bahagia saat ini.


"Banyak pelajaran yang telah dewi Sati ajarkan kepadaku, aku sangat berterima kasih.." ucap Dyah Pramodhawardani yang kemudian memeluk dewi Sati penuh haru.


***


Dan ketika membuka mata, Dyah Pramodhawardani telah kembali berada di dalam biliknya, hari menjelang pagi suara ayam jantan berkokok sahut sahutan. Dyah Pramodhawardani akan melanjutkan sesi terakhir upacara pernikahan dengan adat Sanjaya,


Dyah Pramodhawardani seperti sudah menjadi bagian dari ajaran hindu siwa setelah bertemu dewi Sati, banyak sekali ajaran welas asih versi hindu yang tidak kalah baiknya dengan aliran budha Mahayana yang dianutnya.

__ADS_1


***


Matahari mulai naik suasana didalam istana kembali riweuh seperti hari kemarin.


Sang putri Dyah Pramodhawardani sedang berendam didalam sebuah kolam pemandian yang berisi air dari tujuh sumber dan juga bunga tujuh rupa, jika dalam proses i sebelumnya Sang putri Dyah Pramodhawardani hanya melakukan siraman biasa, kali ini adalah pertama kali dia berendam dalam kolam berisi bunga bunga yang sarat makna.


Melihat bunga cempaka seketika Sang putri Dyah Pramodhawardani teringat akan bunga champa dalam kisah dewi Sati, mengambil setangkai lalu memainkan dalam kedua jarinya,


"Bunga yang langka, simbol keabadian.." ucap Dyah Pramodhawardani lirih.


***


Singkat waktu prosesi pernikahan sesi kedua berhasil diselenggarakan dengan lancar tanpa satu kendala apapun..


Putri Dyah Pramodhawardani melakukan seperti yang dia lihat dalam cerita dewi Sati , sementara itu Rakai Pikatan nampak kagum atas kecerdasan putri Dyah Pramodhawardani dalam mengatasi situasi.


Kini keduanya sedang berada dalam satu bilik yang sama, masih sama sama merasa canggung walaupun sudah resmi dan sah menjadi suami istri.


"Kangmas.. apakah malam ini kita akan tidur bersama ?" ucap Dyah Pramodhawardhani lembut.


"Tentu adinda, bukankah kita sudah sah untuk melakukan semua itu.." kata Rakai Pikatan berwibawa.


"Tapi kangmas.. untuk melakukan kewajiban ku sebagai seorang istri apakah bisa ditunda sementara ?" kata putri Dyah Pramodhawardhani lagi


"Aku masih sangat gugup, jujur saja aku Takut hehehe.." kata putri Dyah Pramodhawardhani tersenyum.


"Kita akan melakukan hal itu sesuai naluri kita adinda, tenanglah..." kata Rakai Pikatan sembari menarik putri Dyah Pramodhawardhani kedalam pelukan.


deg... deg... deg... deg...


suara detak jantung keduanya terdengar bertalu-talu seperti genderang perayaan, Putri Dyah Pramodhawardhani menarik diri lalu memberanikan diri menatap kedalam dua bola mata suami nya.


Hal yang sama juga dilakukan oleh Rakai Pikatan, keduanya saling menyelam dalam pandangan dengan perasaan yang sulit diartikan..


***


Suasana bilik pengantin sangat kental dengan aroma dupa dan bunga , para prajurit, dayang, dan pelayan sengaja tidak ada yang boleh berada di sekitar area bilik pengantin.


Suara jangkrik yang nyaring terdengar malam itu menjadi saksi bagaimana dua insan sedang dimabuk asmara setelah pernikahan.


Rasa canggung diantara keduanya masih sangat terasa hingga Rakai Pikatan memberanikan diri untuk mendekatkan wajahnya pada sang putri yang kini adalah istrinya.


Semakin dekat dan dekat ...


hingga keduanya bisa merasakan nafas satu sama lain menyapu kulit wajah. Putri Dyah Pramodhawardhani terbawa suasana hingga dia memejamkan wajah menanti apa yang akan terjadi selanjutnya..

__ADS_1


***


Membuka mata...


Ratih Prameswari terkejut sekaligus sangat senang sekali karena telah kembali dalam raga nya ditahun 2008.


Menghirup dalam dalam udara di tepi pematang sawah tempat dia ketiduran berujung petualangan spiritual. Seperti mengumpulkan kembali energi yang terpakai selama berkelana di abad 8 bersama mbakyu gaib nya..


"Badanku kaku banget rasanya, euungghhh !!" mencoba merenggangkan kedua tangan dan pinggang kekiri lalu kekanan.


Hari sudah senja hampir memasuki waktu menjelang malam, Ratih Prameswari segera pulang kembali kerumahnya.


***


Tiba dirumahnya, Ratih segera membersihkan diri dengan mandi dan mengganti pakaian. Ibuk Astuti sedang menyiapkan makan malam, sementara bapak sedang ada tamu .


"Makan apa kita kali ini buk.." ucap Ratih Prameswari memeluk ibunya dari belakang.


"Gusti.. nduk nduk bikin ibuk kaget aja !" kata ibu Astuti terkejut karena dipeluk tiba tiba oleh anak semata wayangnya.


"Waahh.. aroma ikan asinnya enak buk.." kata Ratih


"Bantu ibuk siapin alat makan di dipan ya nduk !" kata ibu Astuti



(dipan bambu pada daerah pedesaan sering digunakan sebagai tempat makan lesehan keluarga)


Ratih Prameswari membantu ibunya menyiapkan makan malam sederhana khas kampung nya,


Nasi hangat, tahu dan tempe goreng, sambal terasi bakar, ikan asin peda, daun singkong yang direbus.


Makan malam siap, setelah menunggu tamu Bapak pulang, mereka bertiga makan malam dengan suasana kekeluargaan yang sangat sangat sangat berharga.


Momen kebersamaan ini adalah yang selalu dirindukan Ratih Prameswari diperantauan. Makan bersama dua orang yang paling berharga dalam hidupnya, sesekali bercanda ringan, setiap senyum yang terukir dalam kerut wajah bapak dan ibu akan selalu menjadi penyemangat hidup Ratih dalam mengejar cita cita.


***


Cerita ini tidak sepenuhnya nyata ,juga tidak sepenuhnya halu


Like, komen, hadiah ..


vote dan favoritkan untuk update selanjutnya


Sugeng Rahayu 🙏

__ADS_1


__ADS_2