Diam Cupu, Ternyata Ratu

Diam Cupu, Ternyata Ratu
Bab 38 Mamratipura


__ADS_3

Ratih Prameswari menghabiskan masa liburan nya di kampung dengan membaur bersama beberapa teman seumuran nya .


"RATIH !!" seseorang memanggil dari depan rumah ,


"YAA... SEBENTAR !!" jawab Ratih dari dalam rumah.


Keluar rumah ternyata yang memanggil adalah teman masa kecilnya yang bernama Putri.


Putri adalah teman sekolah Ratih SMP , namun karena keterbatasan biaya dan kondisi ekonomi keluarganya Putri tidak mampu melanjutkan sekolah.


Putri bekerja sebagai buruh kontrak di pabrik garmen. Meskipun tidak melanjutkan pendidikan namun Putri mengikuti program kejar paket di kelurahan.


Dua sahabat ini menghabiskan waktu dengan berjalan jalan keliling kampung pada sore hari, masih kebiasaan di kampung setiap sore anak anak kecil hingga remaja banyak menghabiskan waktu di lapangan desa dekat kelurahan setempat.


Ada anak remaja yang bermain voli, ada juga yang bermain badminton, hanya permainan sederhana anak kampung, namun keseruan yang didapat tidak ternilai harganya.


Anak anak kecil ada yang bermain lompat tali, engklek , sungguh masa masa paling bahagia adalah masa kanak kanak. Para ibu yang mengawasi anak mereka juga memastikan tidak ada yang menangis karena bertengkar atau rebutan mainan.


Suasana perkampungan yang teduh rindang karena masih terdapat banyak pohon pada kiri dan kanan jalan, maupun pekarangan rumah yang memiliki halaman luas dan tumbuh beraneka macam Tanaman seperti, pohon pisang, ketela, jagung, labu, dan lain sebagainya.


***


Ratih Prameswari dan Putri memutuskan hanya akan duduk ditepi lapangan melihat teman teman sebayanya bermain. Tidak lupa membeli jajanan dari pedagang keliling yang mangkal di dekat lapangan.


Siomay dan batagor serta 2 bungkus es teh menemani Ratih dan juga Putri menikmati keindahan kampung sore itu.


"Aku dengar kuliah itu menyenangkan ya tih ? " tanya Putri


"Benar put, kita bisa punya pergaulan yang lebih luas dan juga bisa menyerap ilmu pengetahuan sebanyak banyaknya. " jawab Ratih Prameswari.


"Apa aku juga bisa kuliah ya Tih, rasanya ingin sekali melebarkan pencarian ilmu hingga ke kota besar seperti mu." kata Putri lagi.


"Pasti bisa put, jangan menyerah tetaplah berusaha dan berjuang sampai kita berhasil" lugas Ratih memberi semangat pada sahabatnya supaya jangan pernah menyerah,


Jika punya impian maka kejarlah..


"Aku mungkin akan mencoba peruntungan pada tahun depan Tih... doakan ya semoga aku bisa melanjutkan ke universitas lewat jalur beasiswa pemerintah " ucap Putri penuh harap.


"Aamiin... semoga dikabulkan put..." kata Ratih mengaminkan keinginan sahabatnya .


Saat sedang asik ngobrol, tiba tiba..


BUGH !!!

__ADS_1


sebuah bola mendarat tepat di kepala Ratih, seketika merasa terkejut melihat Ratih Prameswari yang tiba tiba pingsan.


Ketika membuka mata, Ratih Prameswari kembali berada pada jaman abad 8 , seperti biasanya dia nyawiji dalam raga mbakyunya.


Aku kesini lagi ? ada apa ya.. ?


Tidak ada apa apa Ratih, aku hanya ingin mengajakmu mengunjungi sesuatu.. kata Dyah Pramodhawardhani


apalagi mbakyu ? kata Ratih yang tidak menyangka akan diajak main pada saat yang tak terduga.


Apa kabar dirinya yang pasti sedang pingsan di tepi lapangan dan dikerumuni banyak orang.


"Mbakyu memanggil disaat yang tidak tepat, aku sedang menikmati waktu sore bersama teman tenan sebayaku.." kata Ratih agak protes


"maaf Ratih tapi aku sangat ingin mengajak dirimu kesuatu tempat yang sangat indah, suamiku baru saja selesai pembangunan tempat itu.." kata putri Dyah Pramodhawardhani bersemangat.


"memangnya suami kemana ? kalau ada kangmas aku bisa mati kutu mbakyu..." lanjut Ratih was was.


Dia sedang tidak ingin dekat dekat dengan suami mbakyu nya atau suami masalalu nya hehe... Karena Jujur saja detak jantung nya tidak aman seperti ada daya magnet yang sangat kuat dari Rakai Pikatan yang menarik dirinya, Ratih Takut terjebak sebuah perasaan yang tidak boleh tumbuh pada waktu yang tidak tepat.


Mungkin di masa depan kita akan bertemu dan bersatu tapi di masa ini kamu bukan hak ku, tidak berani aku ,


Batin Ratih Prameswari,


***


Tempat ini...


"iya Ratih , sudah berubah kan ?" kata Dyah Pramodhawardani


"Terakhir mbakyu ngajak aku kesini , tamannya tidak sebagus ini hehe... sekarang ini nampak seperti danau buatan yang sangat sangat sangaaaattt indah !!" kata Ratih terkejut senang.


"Tapi sayangnya di jamanku danau ini sudah tidak ada mbakyu, " ucap Ratih mulai melow


"Itu karena letusan gunung berapi yang terletak dibelakang dekat istana.." Ucap Dyah Pramodhawardhani ikut sedih.


"Sebaiknya tidak aku tunjukkan bagaimana saat bencana itu datang Ratih, karena aku sendiri tidak sanggup..."


"Sudah mbakyu, tidak apa.. bukankah yang terjadi pasti akan terjadi ?" kata Ratih.


"Tapi sebenarnya... aku sendiri curiga sama kamu loh mbakyu.. bagaimana mungkin kalau kamu Dyah Pramodhawardhani yang aku kenal pada abad 8 sudah bisa melintasi alam dimensi ?" kata Ratih


"Ratih adikku sayang... sebenarnya saat aku melintas ke dimensi waktu mu adalah aku sebagai seorang sanjivani.. Aku sudah melewati semua fase reinkarnasi ,berkali kali " kata Dyah Pramodhawardani mencoba sedikit menjelaskan meskipun akan nampak sangat rumit bagi Ratih.

__ADS_1


***


Jadi...


Sanjivani adalah sebutan untuk Dyah Pramodhawardhani setelah memutuskan mundur dari Tahta kekuasaan dua dinasty dan memilih untuk mengabdikan hidup demi pembersihan jiwa nya.


Karena saat itu Dyah Pramodhawardhani telah menyerahkan pemerintahan kepada anak keduanya dengan Rakai Pikatan.


Kenapa anak kedua ? Karena anak pertama Rakai Pikatan dan Dyah Pramodhawardhani lebih memilih untuk tinggal dan hidup bersama pasangannya untuk memerintah dalam wilayah kekuasaan yang diwariskan sang kakek.


Sedangkan anak kedua , tetap berada di istana.. saat terjadi pemberontakan besar, dialah yang membantu sang ayah Rakai Pikatan membasmi pemberontak hingga akhirnya memenangkan pertempuran.


Ketika pemberontakan besar terjadi, anak pertama sama sekali tidak mau ikut campur karena merasa hidupnya sudah bahagia bersama keluarga pasangannya.


***


Dalam masa pemerintahan Rakai Pikatan mendapatkan nama baru setelah menjadi raja yaitu Rakai Mamrati, sedangkan Dyah Pramodhawardani mendapatkan gelar sri kaluhunan.


di sebuat Rakai Mamrati karena setelah Rakai Pikatan dan Dyah Pramodhawardhani menikah mereka tinggal di wilayah milik mereka sendiri yang dihadiahkan oleh Maharaja Gusti samaratungga,


Daerah mamrati..


Maharaja Gusti samaratungga juga yang meresmikan pengukuhan Raja dan Ratu baru di wilayah tersebut yang kemudian dikenal sebagai Mamratipura.


di Mamratipura Rakai Pikatan dan Dyah Pramodhawardhani mulai menjalankan sendiri roda pemerintahan mereka, kekuasaan mereka berdua tetap dibawah naungan Maharaja Gusti samaratungga namun beliau mengijinkan Anak dan anak mantunya memperluas kekuasaan karena setelah Beliau mundur sebagai Raja nantinya kekuasaan tertinggi tetap akan berpindah ke Mamratipura.


Mamratipura terletak disebuah wilayah yang nantinya akan berdiri candi Prambanan serta candi boko, ya istana Mamratipura berada diantara dua lokasi tersebut.


Sedangkan Istana Medang yang masih diperintah oleh Maharaja gusti samaratungga terletak didekat bangunan suci, Bumishambara..


Letak keduanya memang tidak terlalu jauh, bahkan dapat dibilang sangat dekat.


(Kalau jaman sekarang mungkin seperti Kota dan kabupaten gitu kali yak hehe..)


***


Cerita ini tidak sepenuhnya nyata ,juga tidak sepenuhnya halu


Like, komen, hadiah ..


vote dan favoritkan untuk update selanjutnya


Sugeng Rahayu 🙏

__ADS_1


__ADS_2