
Diamlah anak muda... suaramu mengejutkan seisi hutan !!" ucap seseorang bernada lembut dari arah samping kanan Dyah Balitung
"Ka.. kamu manusia atau hantu ?? apa jangan jangan kamu peri ?" mundur beberapa langkah sambil memindai cepat penampilan seseorang yang serba putih
***
"Jadi , siapa kamu sebenarnya wahai anak muda ?" tanya Sanjivani ketika mereka berdua sarapan didekat perapian.
Hanya makanan hutan seperti singkong rebus dan buah kesemek serta dua batok air kelapa muda
"Saya hanyalah seorang yang sedang mencari makam leluhur.." jawab singkat Dyah Balitung
Makanan ini sering aku jumpai di kota Poh pitu, tapi kenapa rasanya bisa berbeda ? ini sangat enak..
***
Sanjivani yang bisa mendengar suara batin dyah Balitung hanya tersenyum simpul.
"Habiskan dulu makanan mu anak muda.." kata Sanjivani hendak beranjak keluar, karena sudah merasa cukup kenyang.
"Nama saya Dyah Balitung dan kamu adalah ??" tanya Dyah Balitung membuat Sanjivani terdiam sejenak,
"Aku jauh lebih tua dari kakekmu yang bernama Dyah Lokapala anak muda..." Hatinya sedikit haru mengingat kembali putra bungsunya yang kini juga telah tiada..
"Kalau begitu boleh aku panggil nini buyut saja ?" tanya Dyah Balitung setelah menenggak air dalam batok hingga tandas.
"Boleh... itu sebuah panggilan yang tepat, sesuai usiaku." Sanjivani senyum sesaat lalu keluar Hendak membersihkan makam suaminya.
Dyah Balitung menyelesaikan makan dengan cepat lalu bergegas menyusul Sanjivani.
kesempatan emas jangan disia siakan..
***
"Nini buyut.. apakah kamu mengenal pria yang dimakamkan disini ?" tanya Dyah Balitung mensejajari langkah Sanjivani.
"Aku menemukan makam ini tidak terawat dan aku hanya berinisiatif untuk membersihkan saja karena dekat dengan tempat tinggalku" jawab Sanjivani,
Tidak mungkin dia berkata jujur bukan ? kalau ini adalah makam suaminya ?
"Sebenarnya nini buyut , makam ini adalah milik kakek buyutku, beliau seorang legenda ! " kaya Dyah Balitung bangga.
"Siapa nama kakek buyutmu anak muda ?" tanya Sanjivani.
"Setelah menikah dan menjadi maharaja beliau dikenal dengan nama Rakai mamrati, Sesuai nama kota tempat tinggal nya, Mamratipura.." kata Dyah balitung bersemangat menceritakan.
"Kata ayah ibuku, kakek buyut adalah tokoh yag sangat Agung pada masanya.. seorang pria biasa yang berhasil menjadi Maharaja Agung dan memimpin dua dinasty besar ."
***
__ADS_1
Tentu saja, siapa yang tidak mengetahui tentang dinasty Sanjaya dan Syailendra yang melegenda karena pernikahan politik terbesar dan termegah sepanjang dua abad yang lalu .
"Aku sebenarnya masih mencari lokasi makam nenek buyutku, bukankah seharusnya mereka berdua dimakamkan ditempat yang sama ?" kata Dyah Balitung berspekulasi dengan pikiran nya sendiri.
tidak seorang pun yang mengetahui kemana atau dimana nenek buyutnya berada..
"Kalau kamu tidak tahu apalagi saya anak muda ?? hehehe..." jawab Sanjivani
"Setidaknya satu makam leluhur telah berhasil ditemukan, aku bersumpah akan merawat area makam kakek buyutku sepenuh hati hingga keturunan kami kelak akan tetap bisa menemukan beliau.."
Dyah Balitung akan menceritakan semua perjalanan hidupnya kedalam lembaran buku pribadi, sebagai wujud warisan anak keturunannya kelak agar tidak lupa siapa asal usul nenek moyang mereka.
Buku inilah yang berada diruangan Raymond di tahun 2008..
***
"Aku mengijinkanmu mengambil alih tempat ini anak muda, semoga wujud baktimu terhadap leluhur senantiasa di berkahi para dewa.." ucap Sanjivani saat mulai mencabut rumput rumput kecil yang baru tumbuh beberapa centi
Tidak boleh ada sedikitpun rumput tumbuh di makam suamiku..
Dyah Balitung mengamati nini buyut sangat cekatan merawat makam kakek buyutnya.
Hari nurani Dyah Balitung pun bergejolak,
Hanya nenek ini yang sanggup merawat nisan kakek buyut..
"Nini buyut... jika berkenan aku ingin mengajakmu tinggal dirumah singgah ku yang terletak di kaki bukit ini, bagaimana ? apa nini buyut bersedia ?" tanya Dyah Balitung berhati hati.
"Aku adalah seorang raja dan ingin membalas budi kepada orang yang telah merawat petilasan kakek buyut ku selama ini.." Dyah balitung nampak bersedih, mengingat bagaimana jejak kisah kakek buyutnya yang lumayan menyedihkan di akhir hayat.
"Aku melakukan semua ini dengan tulus anak muda, bahkan aku tidak peduli dia adalah seorang maharaja sekalipun.." ucap Sanjivani yang kini telah selesai mencabuti rumput dan hendak menyapu area makam,
"Aku sudah bertahun tahun hidup berdampingan dengan makam ini, bahkan bisa dibilang makam ini adalah satu satunya kesibukan yang mengisi waktu tua ku," imbuhnya..
"Aku merasa nini buyut yang telah banyak berjasa atas kakek buyutku... ijinkan aku menjadi buyutmu nini..?" Dyah Balitung mengatupkan dua tangan memohon.
Tanpa kamu minta pun aku adalah memang nenek buyutmu ngger cah Bagus...
***
"Apakah kamu tidak punya kakek nenek lain di istana mu ?" tanya Sanjivani yang tampak bertanya seadanya tanpa mengalihkan kesibukan nya..
"Aku sudah tidak memiliki nenek kakek apalagi buyut .."
"Aku mohon nini buyut tidak menolak keinginan ku.." sekali lagi mencoba membujuk.
Kini Sanjivani sedang mengumpulkan daun daun kering untuk di bakar, menciptakan api dari percikan dua batu khusus yang didapat nya dari ibu dewi Avalokitesvara.
"nini buyut sangat cekatan disegala hal.." Dyah Balitung terus mengekori aktivitas Sanjivani.
__ADS_1
"Jika nini buyut bersedia ikut denganku maka aku akan menjamin pengamanan khusus untuk nini buyut.."
"nini buyut akan bebas kemana saja dengan pengamanan prajurit istana ku.."
"Aku tidak perlu kemana mana anak muda, aku hanya senang hidup disini.." Hutan yang sudah seperti rumah sendiri..
"Aku mohon nini buyut jangan menolak.." Dyah Balitung nampak berkaca kaca tidak ingin penolakan.
"Astaga kamu cengeng seperti perempuan, " ucap Sanjivani menepuk pundak kanan Dyah balitung.
***
Setelah selesai membakar dan membersihkan sisa abu pembakaran, Sanjivani melakukan aktivitas lain disekitar pondok tinggalnya.
Membiarkan Dyah Balitung membuntuti kemanapun dia bergerak.
Sungguh seperti anak ayam takut kehilangan induknya..
Dyah Balitung pun juga merasa heran, bagaimana dirinya bisa begitu terikat dengan nini buyut.
Padahal Dyah Balitung tidak pernah sembarangan dekat dengan orang asing.
Tapi seorang asing dihadapannya ini bukanlah orang asing biasa
Dia nini buyut yang sangat istimewa, Dyah Balitung cukup cerdas menilai bahwa nini buyut bukanlah wanita sembarangan.
Pakaian serba putih yang membalut tubuh renta Sanjivani tidak mengurangi ketangkasan geraknya,
sangat lincah dan gesit untuk ukuran nenek nenek..
Seperti berasal dari era yang berbeda, Dyah Balitung terus merasa heran sekaligus penasaran dan ingin lebih menggali informasi tentang siapa nini buyut sebenarnya..
***
Dyah Balitung berada di pondok Sanjivani selama beberapa hari, tentu saja tidak mau pulang jika tidak membawa nini buyut ikut serta.
Karena sekali Dyah Balitung menginjakkan kaki keluar dari wilayah milik nini Sanjivani maka dijamin seumur hidup dia tidak akan pernah bisa menemukan tempat ini lagi.
Singkat cerita, Sanjivani bersedia ikut Dyah Balitung ke kediamannya dikaki bukit dengan alasan, kepentingan rakyat tidak boleh terbengkalai hanya karena Raja nya sibuk dengan urusan pribadi.
...****************...
Bersambung..
Cerita ini tidak sepenuhnya nyata ,juga tidak sepenuhnya halu
Like, komen, hadiah ..
Vote dan favoritkan untuk update selanjutnya
__ADS_1
Sugeng Rahayu 🙏