
"Gue gak peduli saat ini loe shock atau trauma, tapi yang pasti kita harus ke ruang rektor sekarang !!" ucap Ratih pelan namun tegas dengan sorot mata tajam membuat si wanita hanya menjawab pasrah dengan anggukan
***
Ruangan rektor yang tiba tiba berubah menjadi seperti ruang pengadilan..
Hawa dingin menyelimuti semua orang yang berada didalamnya.
"Jadi, Ratih Prameswari kamu bisa jelaskan bagaimana kamu bisa memergoki kejadian tersebut ?" tanya pak Rektor sembari duduk di kursi kebesaran nya.
"Saya baru keluar dari ruangan perpustakaan pak, kemudian mendengar suara aneh lalu saya mencari sumber suara yang ternyata adalah seorang pria sedang berusaha memaksa seseorang untuk melakukan perbuatan asusila !";Ratih Prameswari menjelaskan.
Kemudian Ratih menjelaskan apa yang selanjutnya terjadi, tanpa dikurangi tanpa dilebih lebihkan.
Pak Rektor menerima kartu identitas pelaku yang berhasil diambil oleh Ratih Prameswari. Seperti terkejut tidak percaya bahwa pelaku adalah seorang mahasiswa jurusan kedokteran semester akhir.
Dan korban adalah seorang calon mahasiswi yang baru pertama kali menginjakkan kaki di kampus guna mempelajari seluk beluk bangunan calon tempat menimba ilmu nya di jurusan arsitektur bangunan.
***
Nampak pak Raymond juga hadir di ruangan rektor, dengan penampilan yang selalu paripurna.
Raymond menatap Ratih Prameswari, dalam hatinya dia merasa terhormat bisa diberikan kesempatan untuk menjaga seorang gadis yang memiliki keistimewaan di balik penampilan konservatif nya.
Ratih yang menyadari kehadiran dosen pengganti nya itu merasa aneh , kok bisa pria itu hadir di mana mana,
Merasa ditelanjangi setiap tatapan pak Raymond mengarah padanya, sorot matanya seperti mengajak bicara, Ratih mengerti namun sengaja pura pura tetap tidak peduli. Apa kata orang jika dirinya dekat dengan om om ? Apalagi Raymond bukan om biasa, dia om om dari keluarga Atmaja,
Yang artinya dia Om nya Kinan musuh Ratih dikampus, dan meskipun Raymond seorang om om tapi tetep saja dia masih lajang dan boleh didekati atau mendekati siapa saja bukan ?
Hak Raymond juga sebenarnya mendekat Ratih, tapi Ratih tidak berani merespon baik karena pasti banyak masalah yang akan bermunculan.
Selesai memberi keterangan, Ratih segera pamit dari ruang Rektor, dia ingin menenangkan diri sejenak di atas gedung, Rooftop adalah tempat favoritnya di kampus selain perpustakaan tentunya.
***
Diatas Roof top..
"Eh cupu... pakai mantra apa sih loe Sampai bikin om gue ikut ikutan naksir loe heh ??" kata Kinan saat sengaja mencekik Ratih.
beberapa saat yang lalu Kinan sengaja mencari Ratih yang nampak berjalan ke arah rooftop gedung.
"Sebuah kesempatan bagus.." kata Kinan mengikuti dari belakang.
***
"Lepasin gue Kinan !! gue gak ada cari perhatian ke siapapun !!" teriak Ratih yang saat ini terpojok pada dinding.
Tepat setelah dirinya berada di Rooftop Kinan menyerang dari belakang, dan kini posisi Kinan berhasil mengunci pergerakan Ratih.
"Kemarin Putra nolak gue, dan itu pasti gara gara loe kan cupu !! SIALAN !!" Kinan makin kuat mencekik tubuh Ratih.
Ratih tidak melawan bukan karena dia tidak bisa, tapi lawannya adalah keluarga Atmaja. Artinya
kelangsungan pendidikan Ratih ada dalam Kendali mereka.
***
"uhuk... Kinan.. pliss... lepas !! sesak !!!" Wajah Ratih sudah semakin memerah kekurangan darah dan oksigen.
Kinan yang melihat hal itu bukannya melepaskan tapi justru semakin bersemangat.
Penderitaan si Cupu adalah kemenangan bagi Queen of bully..
__ADS_1
"Lihat kan loe itu cupu !! hidup mati loe ada ditangan gue ... Sekarang gue pingin loe mati !!!" Teriak Kinan semakin menjadi jadi.
Kali ini Kinan tidak ditemani duo pengikut setianya, hanya ada Kinan dan Ratih diatas rooftop dengan situasi yang tak terkendali.
Semakin sesak Ratih Prameswari rasakan, berteriak meminta tolongpun tak mampu.
Mbakyu Sanjivani... hiks..
***
Tiba tiba kalung kuno di leher Ratih berpendar, seperti mengirimkan sinyal kearah langit, lalu tiba tiba Langit menjadi mendung gelap dan suara petir menggelegar.
Beberapa saat sebelum Ratih pingsan, dia melihat Kinan yang sedang kesetanan dihadapan nya seperti terkejut melihat sesuatu yang datang dari arah pintu Rooftop.
Semua nampak buram, Ratih tidak melihat jelas siapa sosok itu karena detik selanjutnya dia sudah tak sadarkan diri.
***
Beberapa waktu kemudian..
Ratih Prameswari mengerjapkan matanya , menyesuaikan dengan cahaya sekitarnya..
Dimana ini...
Memindai sebuah ruangan serba putih, aroma khas obat obatan, selang infus tertancap pada lengannya,
Rumah sakit ? tapi bagaimana bisa...
Ratih Prameswari masih merasakan pusing di kepala. Mencoba mengingat ulang kejadian sebelumnya..
Siapa yang menolong aku, mbakyu Sanjivani kah ?..
Reflek Ratih menyentuh kalungnya..
Saat Ratih bermain dengan pikiran nya sendiri, tiba tiba ada yang masuk kedalam ruang rawatnya.
Ratih segera memejamkan mata, pura pura belum sadar.
***
"Kondisi pasien sudah stabil pak, kita hanya perlu menunggu dia siuman.." kata seorang yang adalah dokter
"Kalau boleh ijinkan saya menunggu disini dok, dia tanggung jawab saya.." suara yang tidak asing dan Ratih yakin itu adalah si dosen pengganti, Raymond
"Baiklah pak, jika pasien sudah siuman tekan tombol pada samping kiri ranjang dan perawat kami akan segera kemari.." kata pak dokter ketika hendak keluar dari ruangan
***
Didalam ruangan kini hanya ada Ratih dan Raymond..
"Buka matamu gadis kecil, aku tahu kamu sudah siuman dari tadi !" perintah Raymond secara halus.
Masih posisi berdiri didekat pintu, dengan kedua tangan bersedekap dengan aura berwibawa yang selalu melekat pada Raymond.
Ratih tentunya tidak segera bangun, kalau dia bangun artinya ketahuan jika selama tadi hanya pura pura tertidur.
***
"Saya hitung sampai tiga kalau kamu tidak mau bangun, akan saya bangunkan pakai cara saya.."
kata Raymond mendekati ranjang pasien.
"Satu.." melangkahkan kakinya pelan
__ADS_1
"Dua..." semakin dekat
"Tiga..." berdiri tepat di tepi ranjang
"Kamu gadis kecil yang nakal ternyata.." ucap Raymond mendekatkan wajahnya.
Jarak kulit wajah mereka hanya beberapa centi. Hingga deru nafas pun terasa menyapu kulit Ratih.
Mampus, aku harus bagaimana ini ??
***
Dalam diri Ratih panik bahkan ingin berlari sejauh mungkin, tapi apa daya pria dihadapannya ini sangat mendominasi.
Lubang semut mana lubang semut aku mau sembunyi sejauh mungkin..
Karena tidak mungkin kabur jadi Ratih pura pura menggeliat, seperti seorang yang baru bangun tidur..
"eunghh..." menggeliat pelan.
"Eh... bapak Raymond.." seolah olah terkejut.
***
"Bapak jangan deket deket saya.." Ratih mencoba bergeser menghindari tatapan Raymond
"Kamu pandai akting juga ya Ratih.." ucap Raymond sedikit tertawa, lalu semakin mendekatkan wajahnya
"Saya jadi beneran suka sama kamu kalau begini.." mengucapkan terang terangan yang membuat Ratih melotot
***
"AWAS !!" memberanikan diri membentak pria yang sudah menolong nya
Maafkan hambamu ini Gusti, bukan maksud membentak orang yang sudah menolong hamba..
"Bapak lebih cocok jadi om saya !" kata Ratih Prameswari saat Raymond kembali berdiri ditepi ranjang
"Kalau begitu panggil saya om.. " kata Raymond menggoda
"Kamu tahu sebuah ungkapan, witing Tresna jalaran saka kulino ?" Raymond menaikkan satu alisnya sambil tersenyum manis, ganteng tepatnya
"Tau.. tapi itu gak akan pernah berlaku buat saya dan bapak !!" jawab Ratih Prameswari.
"Kamu berhutang nyawa pada saya, dan saya kan menagih imbalan untuk itu.." Raymond mode serius
"Imbalan ?? menolong nyawa seseorang pakai imbalan ?? lebih baik bapak biarkan saya mati tadi !!" kata Ratih Prameswari tegas, seolah-olah mengatakan Jika tidak ikhlas tidak usah menolong.
"Sstt... meskipun kamu ingin mati, tapi saat semesta masih menginginkan kamu hidup, maka kamu akan tetap hidup Ratih !! hati hati dengan ucapan mu.."
Sebuah kalimat panjang sarat akan makna,
Hargailah kehidupan, karena sebuah kehidupan yang akan mengajarkan banyak hal, bahwa hidup mu tidak sekedar untukmu sendiri..
...****************...
Bersambung..
Cerita ini tidak sepenuhnya nyata ,juga tidak sepenuhnya halu
Like, komen, hadiah ..
Vote dan favoritkan untuk update selanjutnya
__ADS_1
Sugeng Rahayu 🙏