Diam Cupu, Ternyata Ratu

Diam Cupu, Ternyata Ratu
Bab 30 Tamu dari negeri seberang


__ADS_3

Sesi pertama dalam ritual sakral pernikahan Rakai Pikatan dengan Dyah Pramodhawardani dengan tata cara adat Aliran dinasty Syailendra telah selesai..


Acara berlangsung dengan sangat lancar dari pagi sampai menjelang sore hari, kedua mempelai meninggalkan aula acara dan kembali ke dalam bilik masing masing untuk beristirahat, karena esok hari akan diadakan sesi kedua ritual pernikahan dengan adat Sanjaya.


Karena adat pernikahan kaum bangsawan dalam hal ini adalah putri mahkota dinasty Syailendra tidak seperti adat pernikahan rakyat pada umumnya yang akan berpesta atau membaur dengan para tamu setelah ritual suci selesai digelar.


Para tamu yang hadir tetap diijinkan untuk bersenang senang merayakan pernikahan junjungannya, Pesta diadakan di Sepanjang gerbang kota hingga alun alun istana.


Berbagai makanan dihidangkan, tidak boleh ada nampan yang kosong, semua tamu yang datang harus dilayani dengan baik jangan sampai ada yang merasa kurang satu apapun.


Seluruh rakyat yang bergantian hadir mendapatkan pelayanan yang sama dengan para pejabat , para ksatria dan bangsawan. Tidak ada perbedaan dalam memperlakukan tamu yang datang, semua membawa doa dan harapan baik untuk sang putri mahkota Dyah Pramodhawardani beserta suaminya Rakai Pikatan, hadiah terbaik dalam upacara sakral adalah doa doa yang tulus bukan ?


Karena keluarga Syailendra sudah memiliki kekayaan yang tidak akan pernah habis maka kesejahteraan dan kemakmuran seluruh anggota dinasty diberbagai penjuru marcapada adalah tugas utama para petinggi negeri.


***


Sedangkan aula tempat berlangsungnya ritual sakral pernikahan tidak boleh dihadiri sembarangan tamu karena upacara yang dipimpin para tetua adat berkaitan langsung dengan roh roh suci para leluhur tanah jawa pada khususnya.


Dan setiap roh leluhur memiliki aura kekuatan masing-masing, yang jika seseorang itu tidak mumpuni lahir dan batinnya, maka bisa saja pingsan atau bisa jadi kesurupan dan itu akan sangat merepotkan para tetua pastinya.


Ibarat sinar suci dari langit, akan sangat menyilaukan bagi siapa saja yang melihatnya. Oleh karena itu acara ritual sakral diselenggarakan secara tertutup, meskipun tertutup namun para leluhur yang hadir bukan main jumlahnya, tidak hanya para roh suci bodhisatva namun juga roh leluhur tanah jawa.


***


Aula yang telah selesai digunakan dalam prosesi sakral sesi pertama akan dibersihkan oleh para biksu biksu suci, semua ubo rampe dan sesembahan di bagikan kepada seluruh biksu yang hadir melantunkan puji pujian dan doa leluhur selama ritual sakral berlangsung.


Setelah aula pernikahan bersih, selanjutnya gantian para tetua adat dinasty Sanjaya menyiapkan keperluan untuk upacara sakral esok hari.


***


Tetua adat dinasty Sanjaya identik dengan pakaian serba oranye kecoklatan, melambangkan umat mahadewa yang sangat takwa dan menjunjung tinggi ketetapan dewa mereka.


Pakaian khas yang sebenarnya berwarna putih namun di beri pewarna alami dari bata merah Dan tanah liat ,sedemikian rupa hingga kain yang awalnya putih tadi berubah menjadi kain seperti yang dipakai saat ini .

__ADS_1



***


Berita pernikahan dinasty Sanjaya menyebar hingga ke pelosok negeri seberang, para penganut agama hindu syiwa ramai berbondong bondong mendatang i istana, kehadiran rombongan tersebut sangat mencuri perhatian, karena penampilan mereka sangat tidak layak seperti masyarakat normal diibu kota Syailendra,


Namun para prajurit utusan Maharaja Gusti samaratungga sudah menyebarkan pengumuman untuk seluruh rakyat ibu kota khususnya supaya tetap menghormati dan menjaga kesopanan dalam menyambut kedatangan tamu dari dinasty mempelai pria, yaitu dinasty Sanjaya hindu syiwa.


Sebenarnya tamu dari negeri seberang adalah umat yang sangat taat terhadap junjungannya, dewa syiwa. Dewa Syiwa sangat identik elemen utama dalam kehidupan yaitu kotoran atau debu dan abu, itulah sebabnya pemeluk keyakinan Hindu Syiwa akan berpenampilan lusuh, tetapi tidak sedikit pun mengurangi tata krama kesopanan yang mereka ciptakan ketika datang ke negeri orang.


***


ubo rampe yang mewakili simbol simbol aliran keyakinan dinasty Sanjaya di tata dengan epik dan rapih, diantaranya ada berbagai manisan, ada sesensi susu murni, halwa, dan sebagainya.


***


Sebuah lingga yoni yang berukuran cukup besar menjadi sentral upacara sakral. Disekelilingnya akan dihiasi oleh bunga bunga kesukaan dewa Trimurti diantara nya adalah bunga teratai / lotus merah muda dan lotus / teratai putih, bunga cempaka kuning, bunga tulsi, cempaka gading. Elemen bunga dari leluhur tanah jawa juga tidak boleh ketinggalan ada bunga Melati, mawar merah, mawar putih, kenanga, kantil,




***


Di dalam bilik masing masing , Rakai Pikatan dan Dyah Pramodhawardani memulai ritual adat dinasty Sanjaya aliran Hindu syiwa.


Pertama tama sepasang suami istri yang hampir sah secara adat dua dinasty tersebut memakai lulur yang dibuat dengan bahan bahan khusus.


Lulur yang terbuat dari bahan Daun merak, bunga kenanga, kunyit, beras yang dihaluskan hingga menjadi bubuk lulur yang dicampur dengan air harus dioleskan secara merata pada tubuh kedua mempelai sebelum melaksanakan ritual mandi suci.


Lulur akan dioleskan saat sore hari sampai keesokan paginya, yang kemudian kedua mempelai akan melakukan mandi suci dibawah pancuran dari sumber mata air yang berasal dari gunung tua di dekat istana. (Gunung Merapi)


Aroma yang dihasilkan dari racikan lulur aliran hindu syiwa sangat kuat menggambarkan karakter Mahadewa itu sendiri yaitu kuat, tajam, dan tegas.

__ADS_1


***


"Baru kali ini aku pakai lulur seperti ini.." kata Dyah Pramodhawardani kepada salah satu dayang.


"Sendiko dawuh kanjeng putri..ini adalah kebiasaan kaum dinasty Sanjaya saat melakukan tata cara menjelang upacara sakral pernikahan" jawab seorang dayang utama.


"Lakukan dengan benar mbok.. jangan sampai ada yang terlupa," kata Dyah Pramodhawardani.


"Nggeh gusti ..." jawab dayang utama.


Setelah satu jam lamanya..


"Apa aku harus tidur dengan tetap memakai lulur unik ini ?" tanya Dyah Pramodhawardani lagi.


"Lulur akan dibilas besok pagi Gusti ayu..." Dayang menjawab dengan sopan.


"Kalau begitu siapkan tempat tidurku mbok, aku sudah sangat capek hari ini..." titah sang putri mahkota Dyah Pramodhawardani kepada dua dayang yang berdiri dibalik pintu kamarnya.


"istirahat terbaik adalah tidur dengan nyenyak ..." batin Sang putri mahkota


Setelah para dayang menyiapkan tempat tidur yang nyaman untuk sang putri mahkota, satu persatu dayang meninggalkan bilik kamar Dyah Pramodhawardani. Hanya menyisakan dua dayang untuk berjaga didepan pintu.


***


Hal serupa juga terjadi di dalam bilik kamar Rakai Pikatan, namun setelah para pengawal atau dayang meninggalkan biliknya, Rakai Pikatan tidak langsung tidur melainkan melakukan semedi terlebih dahulu untuk menyeimbangkan kembali energi positif didalam tubuhnya,


Menjelang tengah malam barulah Rakai Pikatan memposisikan diri untuk istirahat. Malam ini dia tidak melakukan sembahyang karena tubuhnya sedang memakai lulur pernikahan. Namun didalam hatinya Rakai Pikatan tetap menyuarakan puji pujian untuk Mahadewa junjungannya.


***


Cerita ini tidak sepenuhnya nyata ,juga tidak sepenuhnya halu


Like, komen, hadiah ..

__ADS_1


Vote dan favoritkan untuk update selanjutnya


Sugeng Rahayu 🙏


__ADS_2