
"Aku bukan Tuhan Ratih, tapi aku bisa membantu dirimu.. aku akan menarik kalung itu dari dirimu dengan syarat.. "
menatap tajam tapi teduh jauuh kedalam netra Ratih prameswari,
"Syarat apa.. "
Rakai pikatan membisikkan sesuatu ditelinga Ratih, Aroma khas cendana dan bunga mawar menyeruak indera penciuman Ratih prameswari.
Hati keduanya berdebar debar tidak bisa dipungkiri ada rasa yang berbeda bergetar, sesuatu yang pernah menjerat keduanya di masa lalu.
Hembusan nafas Rakai pikatan terasa hangat menyapu kulit Ratih prameswari, untuk sejenak Ratih prameswari terbuai, tentu saja siapa yang tidak akan terbuai dengan sentuhan hangat raja agung yang terlupakan..
Ratih prameswari membulatkan dua bola matanya hampir tidak percaya dengan kalimat yang tidak pernah terpikirkan akal sehatnya.
Setelah membisikkan kalimat itu..
...omong kosong apa ini hah... ...
Kemudian Rakai pikatan mengajak Ratih prameswari kesuatu tempat, sebuah tempat yang sangat indah dan mungkin itu adalah hal terindah dalam perjalanan spiritual Ratih bersama Rakai pikatan.
Ini kali pertama Rakai pikatan mengajak Ratih prameswari berpetualang ke dimensi abad 9, semua dilihat dari sudut pandang Rakai pikatan.
Mereka berdua tidak menampakkan diri hanya melihat dari awang awang..
"Apa yang ingin kamu tunjukkan padaku.. " kata Ratih yang saat ini berada dalam pelukan Rakai pikatan.
"tetap berpegangan padaku Ratih, jangan sampai terjatuh.. " ucap Rakai pikatan saat mereka seperti terbang menyusuri keindahan bumishambara..
Bumishambara pada masa itu sangat megah, satu satunya bangunan megah pertama yang berdiri kokoh di java dwipa.
"Apa kamu tahu kenapa Maharaja Gusti Samaratungga menginginkan bumishambara ?" tanya Rakai pikatan
"Mana aku tahu.. sejauh yang aku tahu karena beliau ingin membangun pusat peribadatan yang berpusat langsung pada adhi budha (budha utama yang agung..) " jawab Ratih
"Mungkin kamu sedikit banyak sudah tahu tentang brankas gaib milik maharaja gusti Samaratungga ?" ucap Rakai pikatan tersenyum mengangkat satu alisnya.
sontak Ratih prameswari menatap tajam kedalam netra Rakai pikatan.
"apa yang sebenarnya ada didalam brankas gaib itu.. " tanya Ratih.
"panggil aku kangmas.. adinda.. " berucap lembut penuh rasa.
"Cih.. gak mau.. kamu adalah pria yang paling menyakiti sri pramodhawardani bahkan aku sendiri sampai trauma dengan kisah kalian.. "
__ADS_1
membuang muka kearah lain..
Brankas gaib milik dinasty Syailendra memang berada didalam bumi shambara, dalam desain yang diciptakan Rakai pikatan terdapat ide tidak terduga dari maharaja gusti samaratungga tentang tempat penyimpanan harta dinasty yang sangat banyak.
"Ayah mertuaku dulu meminta, sebelum aku menikahi pramodhwaradani supaya fokus menyelesaikan pembangunan candi.. "
"Beliay meminta diriku supaya membuat sebuah kunci yang kelak akan bisa digunakan untuk membuka brankas tersebut.. "
"Kalau kamu jeli Ratih.. kamu akan menemukan pahatan relief disalah satu sudut pada bangunan bumi shambara yang berebentuk cetakan dari mata kalung yang aku berikan padamu pada malam pertunangan kita dulu.. "
Ratih prameswari berusaha mencerna maksud dari kalimat yang diucapkan Rakai pikatan.
"Sebentar.. jadi waktu malam pertunangan itu kamu sungguh melihat diriku didalam tubuh mbakyu Sanjivani ehhmm maksudku pramodhawardani ??"
ekspresi terkejut yang gagal ditutupi..
"Aku melihatmu Ratih.. dan aku sengaja membuat kalung itu melekat pada dirimu supaya dikehidupan era kamu kita tetap bisa bertemu.. "
"Kalau begitu ambil balik kalung ini.. lepaskan aku dari belenggu ini.. " ucap Ratih sambil menarik narik kalung bermata merah delima pemberian Rakai pikatan pada malam pertunangan.
tidak mau terlepas.. makin ingim dilepas makin mncengkeram kuat
"tidak akan pernah terlepas Ratih.. kalung ini hanya akan melebur jika Ragamu menyatu dengan raga reinkarnasiku... "
Ucap Rakai pikatan lagi..
"Jadi Fabiyan punya batu pasangan kalung ini ?? tapi maaf aku sudah memutuskan untuk tidak memilih Fabiyam sebagai suami pertamaku, anggap saja itu hukuman untukmu karena sudah menyakiti pramodhawardani.. "
"Aku mau pulang.. bawa aku pulang ke jamanku !!" ucap Ratih.
"Hhmm... aku akan tunjukkan padamu dimana letak cetakan batu yang kamu pakai pada bangunan bumishambara.. "
Rakai pikatan membawa Ratih prameswari turun memijakkan kaki di bangunan candi yang masih belum selesai tahap pembangunan nya.
ya.. mereka berada pada jaman pembangunan bumishambara.. dimana Rakai pikatan kala itu belum bertemu dengan pramodhwaradani,
eh hanya sekali saat awal pengumuman sayembara..
Kondisi bumishambara kala itu sangat jauh berbeda dengan yang sekarang. Kemegahannya sangat terasa, berada di atas ketinggian, menjadikan bumishambara menjadi satu satunya mahakarya yang di jadikan pusat kiblat penganut agama budha diseluruh penjuru dunia.
sebuah lokasi terpilih yang jika ditarik garis lurus kearah barat maka akan bertemu dengan lokasi di sebuah tempat di negeri para wali, yang mana juga tetdapat sebuah bangunan suci dengan batu dari alam surga yang berwarna putih bersih.
"apa kamu pikir ini hanya bangunan peribadatan ?" rakai pikatan tersenyum.
__ADS_1
sementara Ratih prameswari masih berusaha percaya meskipun sangat melawan logikanya,
Maharaja gusti samaratungga memiliki hubungan baik dengan salah satu maharaja di tanah para wali. seorang maharaja agung yang memiliki kekayaan yang tersohor dipenjuru dunia, Raja agung yang memiliki kemampuan Berbicara dengan makhluk lain. Raja Agung yang memiliki pasukan gajah terbesar, Memiliki istana dengan lantai kaca sebening samudra dengan kehidupan ikan dibawahnya, satu satunya yang mampu membuat iri Maharatu paling mahsyur dari negeri para firaun..
Mereka menjalin kesepakatan, entah apa itu namun maharaja Agung dari negeri para wali menitipkan sebagain harta kekayaan nya kepada dinasty Syailendra.
Mungkin hanya secui dari keseluruhan harta yang dimiliki Raja Agung tersebut namun secuil itu akan mampu menjamin kekayaan tak akan habis tujuh turunan bahkan lebih.
"Lalu batu merah delima ini... " tanya Ratih yang masih tertegun melihat lokasi yang selama ini dicari oleh banyak pemburu harta gaib.
Batu itu adalah serpihan kecil dari batu berwarna putih yang berada di negeri para wali. Maharaja Agung memberikan itu kepada maharaja Gusti Samaratungga supaya menjadi simbol kesepakatan sekaligus kunci yang bisa membuka brankas.
Saat dibawa ke tanah jawa batu itu masih berwarna putih, masih suci belum tetnodai dosa umat manusia.
Namun batu itu hanya bisa digunakan setelah mendapatkan ijin dari eyang yang memangku tanah jawa.
Maka dari situlah Maharaja Gusti Samaratungga mempercayakan Rakai pikatan untuk membuat batu itu bisa digunakan oleh darah murni keturunan dinasty Syailendra.
Rakai pikatan membawa batu putih itu dalam sebuah pertapaan, butuh waktu berbulan bulan sampai mendapatkan jawaban,
Ratu penguasa segara kidul membantu Rakai Pikatan dan hingga akhirnya tetesan darah murni dari dinasty suci tanah jawa yaitu sanjaya dan syailendra satu tetes pada masing masing sisi batu, hingga akhirnya berubah menjadi warna merah delima.
"Satu sisi batu aku sematkan dalam kalung yang kini kamu pakai Ratih.. itu adalah mahar pertunangan kita dulu.. dan batu itu murni milik dinasty syailendra.. "
"Lalu dimana batu yang satunya.. " tanya Ratih prameswari.
"Ada padaku, waktu itu kita saling bertukar mahar bukan ?"
"Iya tapi setelah kalung ini tersemat aku kembali kejamanku jadi aku tidak tahu Selanjutnya apa.. "
"Kamu eghmm maksudku pramodhawardani yang memasangkan cincin itu pada jari tangan kiriku Ratih.. "
"Lalu dimana cincin itu sekarang.. "
...****************...
bersambung
Cerita ini tidak sepenuhnya nyata ,juga tidak sepenuhnya halu
Like, komen, hadiah ..
Vote dan favoritkan untuk update selanjutnya
__ADS_1
Sugeng Rahayu 🙏