
Sebenarnya itu hanya alasan, karena alasan utamanya adalah..
Karena aku suka kamu, Ratih...
Gumam pelan Fabiyan dan hanya angin yang dengar..
***
Seharusnya Ratih Prameswari menolak dengan tegas saat Fabiyan ingin ikut menginap bersama..
Tapi kenyataannya kini mereka sedang berjalan berdua menyusuri jalanan setapak menuju bumi perkemahan gedongsongo,
"Katanya cuma 10 menit, ini udah lebih dari 15 menit Lo.."
ucap Fabiyan saat merasakan pegal kakinya
"10 menit itu kalau aku jalan sendiri Biyan, kamu lambat sih jadi lama.."
Kata Ratih Prameswari dengan nada mengejek tapi bercanda
Karena memang Candi Kamulaning jagad adalah kawasan hutan wisata, jadi sepanjang perjalanan dan sejauh mata memandang hanya ada pepohonan,
***
"Ratih tunggu.. kita cari makan dulu yuk ?"
tanya Fabiyan yang berusaha mengimbangi langkah kaki Ratih.
ni anak jalan cepet banget sih..
"Boleh.. tapi kamu yang traktir ya Biyan.."
menjawab tanpa memperlambat langkahnya
"Kamu pingin makan apa Ratih ?"
Stop dulu napa kalau diajak ngomong..
Tentu saja nafas Fabiyan sudah mulai berlomba meraup oksigen,
"Sate kelinci sama nasi anget ditambah minumnya wedang jahe, gimana ?? "
Ratih Prameswari menjawab sesekali menoleh kebelakang,
Alibi aja nanya ini itu padahal pegel kan tuh kaki, sengaja ngajak ngobrol biar bisa istirahat dia xixixi..
Setelah perjalanan melelahkan bagi Fabiyan karena harus mengimbangi langkah kaki Ratih yang lebar dan gesit
mereka sampai disalah satu warung makan yang berada di bawah bumi perkemahan,
ada banyak warung berjejer menjajakan aneka makanan
Tapi yang paling laris tentu saja sate kelinci..
***
Mereka berdua menyelesaikan makan saat hari sudah gelap,
kabut sudah mulai turun dan menutupi kawasan gedong songo.
"Yakin mau nginep sini ?" tanya Fabiyan.
saat keduanya menikmati wedang ronde sambil melihat kabut yang berarak semakin turun
"Kabut itu indah atau seram menurut kamu Biyan ?"
tanya Ratih tanpa menjawab pertanyaan Fabiyan dulu hehe..
"Ditanya malah balik nanya.."
"Kabut itu misterius.. "
jawab Fabiyan singkat.
"Kabut itu kalau buat aku adalah suatu kenyamanan, seperti selimut yang menutupi tubuh "
"Kabut itu Romantis.. dingin.. sejuk.. nyaman.."
kata Ratih Prameswari..
__ADS_1
Tentu saja karena Ratih adalah seorang wanita introvert yang sangat menyukai kesendirian ,kesunyian , ketenangan..
Tapi bagi Fabiyan apa yang dikatakan Ratih adalah seperti suatu pengalihan dari dunia, seperti sengaja menjauhi atau menghindari sesuatu yang sebenarnya mampu dia hadapi..
***
"Kamu sedang menyembunyikan sesuatu Ratih... Kamu bisa membuat alasan tapi gesture tubuh kamu tidak pintar berbohong "
ucap Fabiyan sembari menatap intens wanita pujaan hatinya
"Jangan sok tahu hehe.. dan jangan menatap aku seperti itu aku bukan wanita lemah !"
Membalas tatapan Fabiyan tidak kalah intens dan itu cukup membuat keduanya saling terpesona meski cuma sepersekian detik.
Jangan bilang Fabiyan tahu kalau aku sengaja menghindar dia..
Menggaruk kepala yang tidak gatal dengan jari telunjuk kanannya,
"Fabiyan.. udah dibayar belum ? aku mau balik ke atas nih, capek bener pingin istirahat !"
Ratih beranjak duluan meninggalkan Fabiyan yang sedang membayar di kasir..
***
Perjalanan dari warung makan ke area bumi perkembangan hanya 5 menit karena mereka berdua melewati jalur khusus pendaki ,
Fabiyan menyewa kamar yang bersebelahan dengan kamar Ratih Prameswari.
Jadi kamar yang disewakan oleh warga setempat itu berukuran 2x2 meter, memang sempit karena fungsinya adalah pengganti bivak atau tenda bagi para pendaki.
Hanya ada sebuah tempat tidur dan meja kecil, benar benar hanya cukup untuk satu orang atau satu kamar satu pendaki.
Dan dibagian Depan kamar tersebut ada seperti teras sederhana, karena biasanya para penyewa melakukan kegiatan memasak disitu.
tentu saja memasak dengan peralatan pendaki, seperti yang seharusnya Ratih Prameswari juga lakukan
Tapi saat ini dia benar benar sedang malas membongkar tas cartier nya,
***
Jam masih menunjuk pada pukul 20.00
Ratih Prameswari dan Fabiyan Atmaja sedang duduk membaur diantara para pendaki lainnya yang tengah sibuk dengan peralatan masak mereka.
"Semua pendaki harus bisa dong, itukan peralatan wajib "
"eh kok kamu nanya gitu sih ?? aaahhh ketahuan kalau kamu bukan anak pecinta alam hahaha.."
Ratih Prameswari menertawakan kebohongan Fabiyan yang terkuak karena pertanyaannya konyol barusan
"ish... ketawain terus sampai puas , gak masalah.."
respon Fabiyan sangat enteng,
Karena dalam hatinya dia justru berterima kasih pada ide kebohongan saat sebelum dirinya berada disatu tempat yang sama dengan pujaan hatinya.
Aku memang bukan seorang pecinta alam, tapi aku beneran cinta sama kamu Ratih..
Sepanjang waktu mereka ngobrol membaur dengan topik yang dibicarakan para pendaki,
Jujurly selama itu juga Hati Fabiyan terus bergetar halus..
Kalung milik Ratih juga bergetar halus
Jika hati mereka berdua bisa bicara dan punya kaki, pasti keduanya akan saling berteriak ,
"Aku merindukan kamu sayang !!"
sambil berlari menghampiri satu sama lain lalu berpelukan menyalurkan kerinduan yang selama ini tertahan,
Sayangnya kedua Raga pemilik hati yang bergenderang itu masih menutup diri dengan ego masing masing yang masih sulit diruntuhkan,
***
Pukul 22 .00
Ratih Prameswari sudah terbuai di alam tidurnya..
sementara Fabiyan yang tidak terbiasa dengan ruangan sempit sama sekali tidak bisa tidur.
klesak klesik..
__ADS_1
Membalik tubuh kesana kemari..
Apa Ratih Prameswari beneran bisa tidur di tempat macam ini ?? sempit, sumpek,
Fabiyan kembali keluar kamar, suasana diluar sudah sangat sunyi, senyap, gelap dan kabut yang tebal membuat suasana sungguh mencekam.
klek !!
kembali masuk kedalam kamar lalu mengunci pintu,
"Kenapa serem banget sih suasana nya" gumam lembut Fabiyan
Sebenarnya dia merasa khawatir dengan kondisi Ratih Prameswari saat ini
Cuaca sangat dingin diluar sana, Fabiyan gak bawa baju ganti,
Dan sialnya lagi, gak ada selimut di kamar..
Cuma ada kasur sama bantal, mana selimutnya..
Fabiyan jadi seperti orang kebingungan, dia butuh sesuatu untuk tubuhnya,
semakin malam semakin dingin dan meskipun berada didalam kamar tapi hawa dingin tetap menyusup ,
pemilik kamar sewaan memang sengaja tidak meletakkan selimut didalam setiap kamar, karena beberapa kejadian membuktikan setiap meletakkan selimut pasti keesokan harinya hilang.
Kebiasaan tangan tangan usil para pengunjung yang merugikan pengunjung lainnya..
***
tok.. tok.. tokk...
Fabiyan mengetuk dinding kayu yang bersebelahan dengan kamar tempat Ratih tidur saat ini
Pliss respon, aku mau pinjam jaket ...
tok.. tok.. tok...
"Ratih.. bangun bentar dong.." kata Fabiyan
satu detik..
dua detik..
tiga detik..
mengulang lagi mengetuk dinding kayu,
"Ratih pliss.. bangun.." Suara pelan namun tegas Fabiyan berhasil
Akhirnya Ratih Prameswari terbangun, melihat jam dipergelangan tangan nya,
"Apa sih ?!" kata Ratih sembari mengumpulkan kesadaran
"Kamu ada bawa jaket cadangan gak , aku kedinginan.." ucap Fabiyan sambil menempelkan diri pada dinding.
"Kamu kedinginan ya, benar benar sok gaya tadi harusnya kamu Langsung pulang aja.."
ledek Ratih dengan mata masih belum sadar sepenuhnya.
Kalau kayak gini sama saja artinya merepotkan !!!
Setelah sedikit perdebatan akhirnya Ratih meminjamkan jaket gunung serta kemeja lengan panjang nya untuk dipakai Fabiyan.
Ukuran all size membuat jaket dan kemeja Ratih nampak pas ditubuh Fabiyan.
terlalu ngepas sih tapi Lumayan lah bisa buat sedikit hangat saat tidur malam ini..
sedangkan Ratih Prameswari tetap bisa tidur dengan nyaman karena dia pakai sleeping bag,
Kantong tidur yang sangat hangat karena didesain khusus untuk para pendaki pecinta ketinggian gunung.
salah satu barang wajib seorang pendaki
...****************...
bersambung..
Cerita ini tidak sepenuhnya nyata ,juga tidak sepenuhnya halu
Like, komen, hadiah ..
__ADS_1
vote dan favoritkan untuk update selanjutnya
Sugeng Rahayu 🙏