Diam Cupu, Ternyata Ratu

Diam Cupu, Ternyata Ratu
Bab 28 Hari H


__ADS_3

Prosesi pertama pernikahan akan dilakukan sesuai adat dinasty Syailendra..


Pagi ini sang putri mahkota Dyah Pramodhawardani mulai menjalankan prosesi sakral menjelang pernikahan, yaitu siraman.


Siraman yang dilakukan hampir mirip dengan siraman saat pertunangan dulu, namun kali ini Maharaja Gusti Samaratungga mentitahkan para tetua adat untuk menyiapkan sebuah gentong besar yang diisi dengan air dari tujuh sumber yang tersebar di wilayah tanah jawa.


Air tujuh sumber ini sudah dipersiapkan jauh jauh hari sebelumnya, karena tidak bisa jika dilakukan mendadak, mengingat lokasi satu dengan yang lainnya sangat jauh, apalagi prajurit berkuda mengawal para tetua yang sudah sepuh jadi harus mengutamakan keselamatan para tetua .


***


Sementara itu di pendopo utama istana..


Maharaja gusti Samaratungga kedatangan tamu yang sangat tidak terduga, tamu tersebut tidak lain dan tidak bukan adalah calon wali mempelai pria Rakai Pikatan.


"Anak mantuku..." Kata Rakai Garung saat melihat Maharaja gusti Samaratungga menghampiri dirinya.


"Ayah mertua..." Memeluk Rakai Garung tanpa permisi.


untuk beberapa saat keduanya tenggelam dalam perasaan masing masing, dan tanpa sadar sudut mata keduanya menitikkan air kerinduan.


"Sudah berpuluh tahun Ayah mertua menghilang.." kata maharaja gusti samaratungga ketika keduanya memilih duduk di gazebo dekat kolam ikan..


"Seperti saat pamit dulu anakku , aku melakukan pertapaan ditempat yang tidak mudah ditemukan.." ucap Rakai Garung.


"Namun tempo hari entah bagaimana prajurit mu berhasil menemukan tempat pertapaan ku.." lanjut Rakai Garung


"Jadi... wali yang dimaksud calon menantuku adalah Ayah mertua ??" Maharaja Gusti samaratungga terkejut.


"Benar anakku.. dan aku bersedia secara suka rela menjadi wali dalam pernikahan nya.." kata Rakai Garung


Keduanya saling menumpahkan kerinduan, meskipun pada awalnya Maharaja Gusti Samaratungga dan Kakek Rakai Garung adalah musuh dinasty, namun demi kepentingan seluruh rakyat mereka memilih jalan perdamaian.


***


"Aku ingin mengunjungi pusara anakku, Dewi Shana.." kata kakek Garung yang tidak bisa menahan air mata saat mendengar bagaimana putri semata wayangnya pergi mendahului dirinya.


Hati orang tua mana yang sanggup kehilangan anak semata wayang yang sangat disayangi melebihi nyawanya sendiri, seperti itu lah yang dirasakan Rakai Garung.


"Ayo kita mengunjungi pusara Maharatu Dewi Shana ..." Maharaja Gusti Samaratungga mengajak ayah mertuanya mengunjungi makam sang istri tercinta.


***


Sesampainya di makam Dewi Shana , keduanya melantunkan doa sesuai keyakinan masing masing, dengan harapan semoga Dewi Shana bisa melihat Ayahnya datang berkunjung.


"Aku mencari keberadaan Ayah mertua di seluruh pelosok negeri waktu itu.." Maharaja Gusti Samaratungga menerawang jauh ke masa lalu

__ADS_1


"Waktu itu aku hanya ingin membagi kesedihan ku padamu Ayah mertua, aku sangat terjatuh dan hampir tidak bisa bangkit lagi.." mengungkapkan kesedihan kala itu.


"Aku sama sekali tidak tahu menahu kehidupan duniawi kala itu anakku, Aku sedang benar benar membersihkan diriku sendiri didalam hutan yang terpencil.." ucap Rakai Garung.


"Kini nasi sudah menjadi bubur, aku akan sering mengunjungi putriku disini..." lanjutnya..


"Kembalilah keistana Ayah mertua, kita bisa hidup sebagai keluarga kan ?" bujuk Maharaja Gusti samaratungga .


"Tidak anakku, aku sudah bersumpah.. aku hanya menjalani sisa hidupku untuk bertemu dengan kematian dan keabadian." kata Rakai Garung sendu..


***


"Cucu mu sangat cantik Ayah mertua, Dyah Pramodhawardani memiliki mata cantik ibundanya.." Maharaja gusti Samaratungga kembali mengingat kecantikan Dewi Shana.


"Dan apa Ayah mertua tahu ?? Dia adalah seorang putri dinasty yang sangat cerdas dan bijaksana.."


"Tidak diragukan lagi..." jawab kakek Garung


Kakek Garung meminta Maharaja Gusti samaratungga supaya tidak memberitahu Dyah Pramodhawardani tentang dirinya.


Rakai Garung yang sekarang bukanlah seperti yang dahulu. Kini dia hanya seorang hamba yang akan mengabadikan dirinya untuk kehidupan, fokus melepaskan belenggu keduniawian supaya dapat hidup abadi di alam kelanggengan.



Ilustrasi Kakek dinasty Sanjaya, Rakai Garung..


***


Seorang dayang utama menyiapkan segala perlengkapan untuk kesiapan sang calon mempelai wanita.


"Apakah bunga 7 sudah disiapkan ??" tanya seorang dayang utama kepada salah seorang pelayan yang diminta khusus untuk membantu.


"Sampun mbok.." jawab sang pelayan yang nampak berusia sangat muda , mungkin seumuran dengan sang putri mahkota Dyah Pramodhawardani.


Bunga tujuh rupa yang dimaksud adalah, bunga mawar merah, bunga mawar putih, melati, kenanga, sedap malam, Cempaka, Lotus.


***


didalam bilik istana Rakai Pikatan..


Sang mempelai pria yang juga tengah menjalani ritual yang sama dengan Dyah Pramodhawardani.


Mandi siraman dengan air tujuh sumber dan tujuh bunga , Rakai Pikatan melakukan prosesi siraman dengan dibantu para tetua adat yang sudah sepuh dan sangat dihormati.


***

__ADS_1


Acara siraman kedua mempelai berlangsung bersamaan secara terpisah.


Setelah mengucapkan doa doa suci para tetua adat meminta kedua mempelai untuk kembali kedalam bilik kamar masing masing untuk selanjutnya berganti baju.


Baju yang digunakan selanjutnya lebih lengkap dengan banyak printilan wajib pakai. Rakai Pikatan memakai jarik berwarna coklat dengan perhiasan khusus pria , sedangkan Dyah Pramodhawardani memakai jarik model basahan coklat dengan selendang berwarna hijau dan kuning serta perhiasan wajib putri.


Rakai Pikatan memakai sebuah mahkota khusus milik dinasty Syailendra, karena memang sesi pertama akan dilakukan sesuai tata cara pernikahan dinasty Syailendra.


Mahkota untuk wanita lebih kecil , corak yang sama dengan mahkota tang dipakai Rakai Pikatan. Setelah ini keduanya akan pertama kali dipertemukan untuk melangsungkan prosesi sakral selanjutnya..


Aroma dupa Cendana disepanjang istana menyeruak, bunga bunga segar bertaburan disepanjang jalan menuju aula utama. Obor obor penerangan menyala siang dan malam.


Aula utama istana akan menjadi pusat berlangsung nya acara , Suasana yang teramat sangat sakral, para tetua adat dan juga para biksu yang berperan penting dalam setiap prosesi.


***


"Kenapa jantungku sangat berdebar debar ?"


"semangat mbakyu , kamu sangat keren sejauh ini "


Ratih Prameswari memberi dukungan kepada Dyah Pramodhawardani, bahwasanya keputusan nya adalah yang terbaik untuk semua.


"perhatikan setiap yang aku dan kangmas Pikatan lakukan Ratih, supaya dikehidupan mendatang kamu sudah tahu mana yang boleh dan tidak boleh kamu lakukan.."


"aku belajar semuanya mbakyu, aku akan berusaha semaksimal mungkin supaya bisa meminimalisir kesalahan berujung karma.."


Satu jam di jaman Ratih Prameswari sama dengan 60 tahun di jaman Dyah Pramodhawardani. Artinya Ratih Prameswari akan menjadi saksi perjalanan pasangan legenda itu sepanjang satu putaran hidup Dyah Pramodhawardani.


"Apakah ada kemungkinan bahwa, reinkarnasi Rakai Pikatan juga hadir di jaman ini mbakyu ??" tanya Ratih penasaran


"apa menurut mu itu bisa terjadi Ratih ??"


"Kalau aku bisa, dia juga bisa saja kan.."


"Kamu lucu Ratih, tapi silahkan berspekulasi terhadap segala kemungkinan itu.."


Apa jadinya jika dugaan Ratih Prameswari benar terjadi... Apakah seseorang dari masa depan juga sedang terjebak ditubuh Rakai Pikatan saat ini ?


***


Cerita ini tidak sepenuhnya nyata ,juga tidak sepenuhnya halu..


Like, komen, hadiah ..


vote dan favoritkan untuk update selanjutnya

__ADS_1


Sugeng Rahayu 🙏


__ADS_2