
...Abad 9...
"Hamba sudah berhasil menemukan sebuah tempat yang gusti ratu inginkan.." kata seorang pria sambil mengatupkan kedua tangannya.
Tidak ada jawaban.
sang Ratu masih nampak melamun memikirkan sesuatu entah apa..
Hari ini adalah apa yang telah dia pertimbangkan selama beberapa tahun terakhir. Sebuah keputusan yang ingin dia ambil setelah drama konflik yang tidak mampu lagi dia tahan.
iyaa... wanita itu adalah Sri kaluhunan Pramodhawardani yang tengah bersiap siap untuk benar benar meninggalkan urusan duniawi.
Mahkota kebesaran Ratu dan perangkat perhiasan sudah tersimpan rapih didalam kotak peti pribadi yang ada di kamarnya,
kotak peti berukiran khas dinasty syailendra kuno berbahan kayu jati langka yang hanya dimiliki keluarga istana.
semua pakaian resmi kerajaan sang ratu juga sudah dikemas dan disimpan didalam kotak itu.
Sri pramodhawardani hanya mengenakan pakaian kain sederhana berwarna putih yang kala itu melambangkan kepasrahan atas segala urusan duniawi kepada sang hyang Pemelihara kehidupan alam semesta.
"Patih.. kita berangkat tengah malam nanti dan aku tidak mau ada seorangpun mengikuti kita, " Duduk disebuah gazebo kecil di taman depan kamarnya,
kamar yang dahulu merupakan tempat tidur bersama sang suami, Rakai Mamrati yang saat ini entah bagaimana kabarnya.
Mungkin sedang bebahagia bersama sang selir mpu Tamer..
Hati Sri pramodhawardani sudah membeku, sedingin es abadi, Sore tadi dirinya sudah berpamitan kepada putranya jika dia akan melakukan pertapaan.
Kereta kencana sederhana bergerak keluar dari pintu gerbang istana, Hanya ada Sri pramodhawardani duduk di belakang dan patih Arya yang mengendalikan kuda.
Tidak membawa harta apapun, mereka berdua pergi dari istana sebagai dua manusia biasa yang penuh kotoran dan ingin membersihkan diri, menemukan ketenangan batin yang sejati.
Perjalanan menuju tempat pelosok pegunungan suci memakan waktu berjam jam, namun patih Arya berhasil membawa Pramodhawardani tiba di lokasi sebelum matahari terbit.
"Kita sudah sampai Ratu.. " Patih arya mempersilakan sri pramodhawardani turun dari kereta.
"Mulai sekarang jangan panggil gelar patih, aku tidak mau persembunyian ini ketahuan hanya karena kamu memanggilku ratu.. "
ucap pramodhawardani tenang, raut wajahnya tidak nampak ekspresi apapun, hanya datar..
"Sugeng rawuh nyai.. " tiba tiba terdengar suara seorang pria menyapa dengan sopan dan cukup membuat pramodhawardani terkejut.
Hanya saling memandang..
"Nyai.. pria ini adalah pemilik tempat yang akan kita huni, perkenalkan dirimu.. " kata Patih Arya kepada si pria ramah nan sopan.
"Nyai.. perkenalkan nama saya Idhyang.. " Pria sederhana dengan wajah rupawan teduh,
__ADS_1
mengabdikan hidupnya sebagai pemelihara sebagian wilayah lereng gunung suci yang Agung.
"Idhyang yang akan membantu mencukupi kebutuhan kita nyai.. "
hanya dijawab anggukan oleh pramodhawardani,
Dirinya tinggal disebuah pondok sederhana milik Idhyang, Sebagai tempat berteduh dan istirahat sedangkan pramodhawardani akan lebih banyak menghabiskan waktunya di sebuah lokasi yang tidak jauh dari pondok idhyang.
Berhari hari pramodhawardani tidak kembali ke pondok, dirinya sudah berpesan kepada patih Arya supaya berjaga dalam jarak 20 meter dari tempat pertapaan nya.
Dalam masa perenungan pramodhawardani bertemu banyak roh leluhur dinasty Syailendra, para bodhisatva yang secara gaib ikut duduk menemani pramodhawardani.
khusyuk..
adalah satu kata yang tepat untuk menggambarkan situasi pramodhawardani. Bahkan patih Arya yang menemani duduk bersila dalam jarak 20eter merasa silau akan energi para leluhur yang datang.
idhyang sendiri bertanya tanya, siapakah gerangan Nyai yang sangat sederhana namun berwibawa itu ? hanya berani mengagumi diam diam. Idhyang merasa terpesona, jujur baru kali ini diseumur hidupnya bertemu seorang wanita yang jika dipandang akan menyalurkan energi ketenangan, ayem.. nyess...
Idhyang sendiri berusia sama dengan pramodhawardani, dirinya pun juga sedang tidak terikat pernikahan dengan siapapun.
Idhyang selalu mengawasi dari jauh bagaimana pramodhawardani dan Arya menghabiskan hari mereka. Patih Arya yang. bergerak seperti bayangan Pramodhawardani. Mengerti keinginan pramodhawardani tanpa harus diperintah.
Semakin lama berada ditempat yang sama selama bertahun tahun membuat Idhyang semakin tenggelam dalam pesona Pramodhawardani.
Hingga pada suatu hari ketika idhyang harus turun gunung untuk membeli perbekalan,
"Akan aku belikan yang paling besar dan manis nyai.. " jawab Idhyang saat kereta kudanya telah siap.
idhyang hanya pergi seorang diri, Namun beberapa saat setelah idhyang pergi dengan kereta nya, Pramodhawardani memerintahkan patih Arya untuk mengikuti idhyang.
"Ikuti setiap pergerakan pria itu patih..pastikan dia tidak sedikitpun membicarakan tentang diriku dan pastikan dia mendapatkan semua yang dibutuhkan !" titah pramodhawardani kepada sang patih.
sendiko dawuh kanjeng...
Patih Arya mengikuti idhyang secara diam diam, ya Patih Arya memiliki ilmu kanuragan yang bisa membuat dirinya bergerak secepat angin tanpa seorangpun menyadari keberadaan nya.
sedangkan pramodhawardani yang sebelum nya mendapatkan keberkahan dari para bodhisatva nampak membuat pagar gaib disekeliling tempat dia tinggal,
Sehingga tidak sembarang orang bisa menemukan lokasinya.
di alun alun ibu kota ..
Patih Arya menemui Idhyang yang sedang berjalan..
"Tuan idhyang. . aku ayo aku temani.. " idhyang yang tidak terkejut dengan kemunculan patih Arya pun mengangguk setuju.
kemudian..
__ADS_1
"tuan apa kita harus membeli dalam jumlah banyak seperti ini ?" tanya idhyang yang nampak berjalan disamping patih Arya.
"Hhmm.. tentu saja semakin jarang turun gunung semakin bagus." jawab patih Arya.
"Beruntung sekali warga disini mempunyai raja dan ratu yang sangat bijaksana, semua nampak rukun, dan tentram.. " Idhyang yang memang tinggal di lereng gunung dan jarang ke ibu kota nampak kagum dengan keteraturan sistem masyarakat medang.
"Iya.. idhyang.. para pemimpin sudah bekerja keras untuk semua rakyatnya.. "
Hari sudah lewat tengah hari, kereta idhyang sudah penuh barang belanjaan, mereka berdua memutuskan untuk segera kembali ke pondok.
Tiba di pondoo hari sudah hampir menjelang malam, pramodhawardani sudah menyalakan sentir (alat penerangan kuno yang terbuat dari sumbu serat sabut kelapa dan minyak lirang..)
sorot cahaya remang dari lampu sentir menyambut kedatangan dua pria itu. .
setelah menyimpan bahan makanan dilumbung belakang pondok, idhyang menyiapkan makan malam.
Pramodhawardani yang pendiam dan tertutup tidak banyak mengeluh, apapun yang disediakan dia akan menerima.
"Lain kali tidak perlu memasak berlebihan tuan, akan mubasir jika tidak habis.. " kalimat singkat pramodhawardani saat selesai makan.
aura ratu tidak bisa dihilangkan begitu saja, Idhyang dan patih Arya hanya mengangguk menyetujui. mereka tidak berani bicara lebih jika pramodhawardani sudah diam artinya jangan ada satu kata yang terucap.
"Arya.. aku akan kembali ke tempat itu lagi, mungkin selama beberapa hari atau sampai waktu yang dibutuhkan.. "
"cukup awasi aku dari kejauhan dan.. "
"pastikan semua aman.. "
Aman yang dimaksud pramodhawardani adalah aman dari para warga yang lewat disekitar areanya, meskipun sudah terlindung dengan pagar gaib namun berjaga jaga juga lebih baik.
Pramodhawardani pergi sendiri, semakin hari auranya semakin bersinar putih, dan idhyang merasakan hal itu, sepertinya pembersihan diri wanita itu berhasil.
diam diam idhyang selalu ikut mengawasi tempat pramodhawardani menyendiri, memastikan tidak ada hewan buas yang mendekat, hal ini diketahui oleh patih Arya namun dibiarkan.
patih Arya memilik feeling jika idhyang pria yang sangat baik dan Tulus..
...****************...
bersambung..
Cerita ini tidak sepenuhnya nyata ,juga tidak sepenuhnya halu
Like, komen, hadiah ..
Vote dan favoritkan untuk update selanjutnya
Sugeng Rahayu 🙏
__ADS_1