Diam Cupu, Ternyata Ratu

Diam Cupu, Ternyata Ratu
Bab 24 Flashback pertunangan


__ADS_3

Masih sedikit flashback tentang malam pertunangan Rakai Pikatan dengan Dyah Pramodhawardani..


(Aside pov yang berkaitan dengan bab berjudul "terikat masa lalu")


Kalau lupa lupa ingat silahkan dibaca ulang 🙏


Pertemuan pertama Dyah Pramodhawardani dengan Rakai Pikatan ketika ritual malam bulan purnama sekaligus peresmian pembangunan bumishambara adalah ketika sang putri berumur 16 tahun sedangkan rakai Pikatan 33 tahun.


Semenjak pertemuan pertama itu, mereka berdua tidak pernah bertemu lagi. Rakai Pikatan fokus pada pembangunan bumishambara sedangkan sang putri fokus belajar berbagai ilmu pengetahuan dan tata cara sebagai seorang putri mahkota calon Ratu dinasty. Karena biar bagaimanapun kelak sang putri lah yang akan menduduki singgasana utama dinasty Syailendra.


Meskipun kelak memiliki pasangan namun pemegang kekuasaan tertinggi tetaplah Dyah Pramodhawardani. Rakai Pikatan hanya akan memimpin roda pemerintahan dibawah sang istri.


***


5 tahun kemudian


Hari ini adalah hari pertunangan Putri mahkota Dyah Pramodhawardani dengan Rakai Pikatan. Maharaja samaratungga merasa tidak ada yang perlu ditunda lagi karena usia sang putri sudah dewasa .


Pembangunan bumishambara pun hampir rampung. Berita pertunangan dua dinasty pun menyebar luas dikalangan rakyat diberbagai penjuru wilayah marcapada dan tanah Jawa.


Paman Sang putri mahkota yang bernama balaputeradewa turut mendengar kabar tersebut, dia merasa tidak suka terhadap keputusan Maharaja Samaratungga , namun dia juga tidak berhak melawan keputusan maharaja yang adalah kakak nya.


Suatu saat kelak paman sang putri mahkota yaitu Balaputeradewa akan melakukan pemberontakan terhadap Raja Rakai Pikatan dan Ratu Dyah Pramodhawardani, sebagai bentuk ketidakterimaannya karena setelah Maharaja Samaratungga mangkat (wafat) , Anggota keluarga dinasty Syailendra yang tertua seharusnya yang lebih berhak menjabat sebagai pemimpin kerajaan adalah beliau,


sementara Dyah Pramodhawardani masih dinilai terlalu muda dan tidak memiliki pengalaman mengurus pemerintahan dinasty, apalagi suaminya berasal dari dinasty Sanjaya yang otomatis tidak akan mau menerapkan pengaruh Aliran peninggalan dinasty Syailendra.


Namun pemberontakan sang paman dapat dihalau dengan kekuatan Rakai Pikatan, dan dengan menempuh kesepakatan jalan damai, paman balaputeradewa akan mendapatkan wilayah kekuasaan penuh di daerah sebelah Utara timur laut dari Tanah Jawa yang kebetulan adalah wilayah asal dinasty Syailendra sebelum menguasai marcapada khususnya tanah Jawa .


***


Seperti kebiasaan yang sudah sudah, Maharaja samaratungga selalu mengadakan suatu upacara bertepatan dengan ritual malam bulan purnama.


Setelah segala persiapan telah rampung, Sang putri mahkota yang sebelumnya telah selesai melakukan ritual siraman dipendopo belakang istana nampak sangat cantik, anggun, mempesona,

__ADS_1


Aura kecantikan leluhur bersemayam dalam tubuh seorang gadis perawan junjungan dinasty Syailendra. Maharaja Samaratungga merasa sangat bangga bahwasanya putri semata wayangnya tumbuh menjelma menjadi gadis dewasa yang sangat bijaksana.


Setiap ucapan dan keputusan sang putri mahkota selalu berlandaskan pada kepentingan rakyat dinasty Syailendra, tidak sedikit pun mementingkan diri sendiri.


Ilmu pembelajaran dan pengetahuan yang bertahun tahun sang putri anyam sangat mempengaruhi bentuk kepribadian nya saat ini.


egois, adalah kata yang tidak ada di kamus seorang putri mahkota Dyah Pramodhawardani. Jika dia ingin bertindak egois maka harus mempertimbangkan dinastynya.


Usianya masih sangat muda namun hidupnya berada di bawah bayang bayang kekuatan besar dinasty Syailendra, tidak bisa sebebas orang lain seusianya.


Awalnya sang putri pun sangat kesulitan, diusia belasan tahun sudah digembleng menjadi sosok calon pewaris tunggal dinasty Syailendra. Beberapa kali ingin berontak, melarikan diri dari semua beban yang harus dia tanggung.


Sering menangis dimalam hari, saat hanya ada dirinya sendiri didalam kamar. Tertekan, jenuh, muak, sudah pernah sang putri rasakan.


Namun rasa sayang kepada Ayahanda dan dinasty memaksa dia harus bisa bertahan, harus mampu mengemban apa yang menjadi tugasnya.


***


Jika Rakai Pikatan memandang Dyah Pramodhawardani sebagai wanita cantik jelita tiada tara dan bijaksana dalam setiap ucapan dan tindakan.


itulah salah satu yang menjadi dasar keputusan sang putri mahkota untuk mencoba membuka hati dan menerima Rakai Pikatan sebagai calon suaminya.


Semata mata hanya ingin mengabdi pada orang tua dan juga para leluhurnya.


***


Malam hari setelah acara doa inti malam bulan purnama,


Pertunangan yang ditunggu tunggu seluruh warga dinasty, Dua sosok yang sama sama memiliki aura Raja dan Ratu meskipun berbeda usia belasan tahun.


Sebagai simbol pengikat, Rakai Pikatan memberi sebuah kalung emas bermata merah delima. Ketika hendak memasangkan kalung tersebut dileher sang putri mahkota, Rakai Pikatan berkata,


"Kamu akan terikat dengan ku selamanya adinda..."

__ADS_1


Dan itulah kalung yang melekat kuat di leher Ratih Prameswari yang kala itu secara tidak sengaja tertidur diatap salah satu gedung kampusnya setelah mendapat bullyan dari Kinan sang primadona kampus, niat Ratih hanya sekedar mengeringkan pakaian yang basah namun justru tersedot mundur ke jaman abad 8 tepatnya saat malam hari pertunangan Dyah Pramodhawardani dan Rakai Pikatan.



***


Jaman dulu dinasty Syailendra memiliki kekayaan terbesar di marcapada, perhiasan yang dipakai Anggota keluarga istana terbuat dari emas murni yang dibentuk sedemikian rupa oleh para pande pengrajin emas .


Mulai dari atribut resmi sampai perhiasan pelengkap lainnya. Perhiasan emas yang dibuat sebagai simbolik Aliran Budha mahayana dan juga leluhur Jawa.



Perhiasan Petinggi dinasty ketika melaksanakan upacara ritual . Sebagai pembeda antara Rakyat dan junjungannya tentu saja dapat dilihat dari jenis perhiasan yang dipakai.



Gambar mahkota Raja pada Abad 8, sangat kental akan pengaruh bodhisatva, berbentuk menyerupai semi kerucut dengan ukiran seperti rambut para bodhisatva (roh suci aliran Budha mahayana).



Mahkota Ratu pada abad 8 , Mirip dengan yang dipakai raja namun lebih kecil ukuran nya.


Raja, Ratu dan para keluarga dinasty Syailendra memiliki mahkota seperti tersebut diatas, dipakai terutama ketika acara ritual rutin setiap malam bulan purnama. Mahkota turun temurun dari leluhur sebelumnya yaitu antara abad 7 sampai abad 10.


Karena setelah abad 10 pengaruh Aliran Hindu Budha akan semakin Luntur digantikan dengan Aliran kerajaan baru yang lebih kompleks.


***


Cerita ini tidak sepenuhnya nyata ,juga tidak sepenuhnya halu..


Like, komen, hadiah ..


vote dan favoritkan untuk update selanjutnya

__ADS_1


Sugeng Rahayu 🙏


__ADS_2