
Hubungan kedekatan Raymond dan Tamara sudah berjalan hampir sebulan, waktu itu usai kepulangan bersama ke Indonesia, Raymond sempat menawarkan Tamara untuk mengajar di kampus swasta yang mana Raymond adalah pemilik sebagian saham.
Tamara mengajar sebagai dosen di fakultas sastra, sesuai bidang yang dia geluti. Sesekali Raymond dan Tamara bertemu saat waktu luang untuk sekedar makan siang, atau membicarakan hal hal ringan satu sama lain.
"Aku berhutang banyak sama kamu, entah gimana aku bisa membalas semuanya.. " tersenyum manis sembari menikmati jus jeruk lewat sedotan, sesekali memutar mutar sedotan untuk menambah rasa segar bercampur es batu.
"Tenang saja uangku banyak kok Tam, aku akan meminta balas jasa nanti setelah aku pikirkan dulu mau apa dari kamu hahaaa.. " reaksi terkesan bercanda membuat keduanya tertawa,
"katakan saja saat kamu sudah menentukan, sebisa mungkin aku pasti siap.. " Tamara semakin merasa terpesona akan pembawaan Raymond yang easy going.
ucapan Raymond memang terdengar seperti bercanda namun tidak begitu maksudnya,
Raymond punya rencana tersendiri untuk Tamara, sebelum memutuskan untuk mengeluarkan banyak uang membantu Tamara tentu saja Raymond sudah mempertimbangkan banyak hal.
kala itu saat dalam adegan pembicaraan dengan salah satu pendamping gaibnya, Raymond yang awalnya memang sudah memiliki ketertarikan tersendiri terhadap Tamara semakin di dukung dengan penuturan pendamping gaibnya jika Tamara memilik energi yang kuat.
Bukan sembarang energi melainkan Tamara memiliki energi daya pemikat yang mampu menarik simpati siapapun yang dikehendaki, selain itu Tamara yang tidak lain tidak bukan memiliki hubungan dengan kehidupan masa lalunya,
Apa yang kamu inginkan akan berhasil lebih cepat jika wanita itu menjadi pendamping ragamu..
Sebuah kalimat dari sang pendamping gaib yang selalu terngiang didalam pikiran Raymond.
Raymond yang awalnya sudah menaruh hati, ditambah mendapat dukungan dari pendamping gaibnya semakin yakin jika tidak salah seandainya harus menjadikan Tamara sebagai istri.
Namun Raymond tidak mau semua terkesan serba buru buru, Raymond akan mengulur sedikit waktu lagi supaya Tamara semakin jatuh hati padanya.
__ADS_1
Ada hati yang berbunga bunga, ada juga hati yang masih mencoba menahan rasa,
Saat ini Fabiyan sedang berada dirumah bapak Yitno usai mengantar Ratih prameswari kerumah sakit untuk imunisasi anaknya yang sebentar lagi hampir selapan.
selapan \= 35 hari menurut perhitungan orang jawa
jabang bayi berjenis kelamin laki laki tampak menggeliat dalam tidurnya usai diletakkan di ranjangnya.
"Bagaimana untuk persiapan acara selapanan sinang ? sudah semua atau ada yang belum ?" tanya bapak Yitno kepada Ratih prameswari.
"Ratih pinginnya malah acara selapanan sinang di barengin sama ritual malam purnama pak ,bukankah itu sama saja kan ? " ucap Ratih yang kini tampak duduk di sofa ruang tamu bersama bapak dan juga Fabiyan.
"Gak apa nduk, yang penting sinang sudah genap selapan jadi dibarengin sama malam ritual purnama itu tidak masalah, nanti biar ibuk yang bantu bikin masakan tambahan sama yang untuk di bagikan ke tetangga mau berbentuk apa nduk ?" sebuah kepulam asap mengiringi saat pak Yitno menyesap cerutunya.
"Kalau begitu biar aku yang pesankan roti nya deh, " tiba tiba Fabiyan menawarkan diri.
"Kamu sudah banyak banget bantuin aku Biyan, janganlah ya, biar aku pesan sendiri aja, ada kok kenalan aku yang biasa bikin roti untuk acara hajatan" penolakan halus seperti biasanya.
"Sama sekali gak merasa direpotkan kok Tih, sinang itu bayi yang spesial bagiku, rasanya aku sudah jatuh cinta pada bayi itu hehehee.. "
Bagaimana tidak cinta, jika sedari awal kehadiran sinang ke dunia Fabiyan memegang peranan yang sang penting mulai dari awal mengantar ke rumah sakit, menunggui sampai pembukaan penuh, bahkan mendampingi proses launcing sinang, ditambah lagi saat setiap malam sinang selalu antusias mendengarkan kekidungan sukma yang Fabiyan lantunkan.
"Sebaiknya atur saja bagaimana baiknya, urusan ritual malam purnama dan masakan tambahan untuk selapanan itu tanggung jawab bapak sama ibu, kalian putuskan saja mau pesan roti dimana, berapa jumlahnya, pastikan semua tetangga kampung mendapatkan yang sama.. "
titah bapak Yitno di angguki bersamaan Ratih dan Fabiyan.
__ADS_1
Beberapa hari kemudian..
saat ini Tamara mengunjungi Raymond yang sedang merasa tidak enak badan,
Tamara yang mendengar jika Raymond sakit menjadi gelisah ada rasa khawatir dan gegas menemuinya segera setelah jam mengajarnya hari itu usai.
"Tidak perlu repot begini Tam, aku cuma masuk angin biasa kok "ujar Raymond dengan nada suara lemas diatas ranjang.
"Kamu cuma tinggal sendirian, lalu siapa yang merawat ? harusnya kamu kerumah sakit Ray.. " Tamara mengkompres dengan telaten.
"Hhmm biasanya sehari dua hari juga sembuh sih, aku gak suka rumah sakit soalnya disana yang harusnya sakit meriang biasa malah jadi ribet diagnosis nya hehehee.. "
Tamara tersenyum merespon pria didepannya..
...****************...
Bersambung..
Cerita ini tidak sepenuhnya nyata ,juga tidak halu semata..
Like, komen, hadiah ..
Vote dan favoritkan untuk update selanjutnya
Sugeng Rahayu 🙏
__ADS_1