
"apa hari harimu sudah lebih baik Tih ?" tanya Fabiyan
mereka saat ini masih berada diteras depan, menunggu bapak Yitno yang belum juga keluar menemui tamunya.
"baik.. hariku baik.. " menjawab dengan senyum yang fake.
"aku tahu kamu adalah wanita introvert, dan saat ini kamu masih memendam semuanya sendiri.. tapi hei, kamu tidak sendirian didunia ini Ratih.. " kata Fabiyan dengan nada bicara menenangkan,
"aku tahu itu, aku hanya tidak mau merepotkan banyak orang.. " jawab Ratih prameswari tertunduk
"tapi itu justru menyiksa ragamu, lihatlah seperti saat ini bagaimana kamu masih mencoba tersenyum hanya untuk membuat orang lain merasa tenang.. "
Ratih menghela nafas pelan..
"kamu selalu lebih mengenalku Biyan, bahkan seperti nya tidak perlu aku berkata kata kamu sudah tahu bagaimana rasanya .."
"Sejujurnya masih ada beberapa hal yang membuat aku sulit untuk tersenyum lega, tapi aku gak bisa cerita kesiapa siapa karena pasti mereka akan khawatir, kamu tahukan aku tidak mau dikasihani apalagi sampai merepotkan.. " kata Ratih prameswari,
"Kita sudah semakin dewasa tentu saja harus semakin bijaksana pula Ratih, aku sendiri sampai detik ini masih berharap bisa bersama garwo kinasihku, tapi aku juga gak mau memaksa kamu untuk menerima aku.. "
"dalam hal ini, kamu lebih tahu alasan nya bukan ?? "
__ADS_1
Pembicaraan mulai menjurus ke hal hal sensitive yang belum siap Ratih prameswari bahas.
Memang benar jika saat ini Ratih prameswari sedang berada dalam fase jeda, Tidak menyangka jika kesepakatan bebas sementara antara Ratih prameswari dengan belenggu karma masa lalu akan secepat ini.
Bahkan kesepakatan itu selesai dengan cara yang tidak melegakan, kenapa harus ada kematian ?? apa iya jika Ratih prameswari tidak berhak menggapai kebahagiaan raganya sampai akhir dengan pilihan sendiri ??
apakah setiap keputusan yang Ratih pilih memang hanya akan selalu berakhir dengan kepiluan ??
kenapa kebahagiaan itu hanya sekejap mata ?? bahkan anak anak Ratih dan kak Putra Belum beranjak dewasa, tapi sudah tidak sosok ayah yang mendampingi tumbuh kembang mereka,
apa menurut sang pembuat takdir Ratih akan mampu melakukan semuanya sendiri ?? tidak !!
hidup tidak adil.. itulah yang saat ini Ratih prameswari rasakan.
mau tidak mau harus mencoba berdamai dengan keadaan.. harus terjebak lagi dengan situasi yang masih belum siap dia hadapi sendiri.
dan kenapa juga Fabiyan masih tetap mengharapkan dirinya ?? padahal usianya sudah tidak lagi muda, dia tampan dan mapan bukankah diluaran sana pasti ada banyak gadis yang mau jadi istrinya ?
ada terlalu banyak isi pikiran Ratih prameswari yang dia pendam sendiri.. terasa semakin penuh dan sesak, ingin menolak semuanya, tapi untaian alur takdir itu makin mencengkeram seperti bayangan yang mengikuti kemanapun arah pelarian Ratih prameswari.
kemanapun arah pelarian yang ditempuh pasti akan kembali lagi ke titik awal.
__ADS_1
Sebentar lagi adalah hari diadakannya ritual malam bulan purnama, yang entah kenapa bertepatan dengan 40 hari kak Putra pratama meninggal dunia.
Bapak Yitno dan Fabiyan melanjutkan obrolan dipendopo belakang, sementara Ratih prameswari dan ibuk astuti menemani dek gendhis tidur dikamar.
"Apa kamu sudah ada petunjuk, apa yang leluhur inginkan untuk acara besok ?" tanya pak Yitno.
tentu saja tetap dengan kebiasaannya yaitu menghisap cerutu ditangan kirinya..
asap tembakau mengepul membuat suasana pendopo belakang makin intens
"Ada sebuah petunjuk pak.. tapi saya belum berani menjawab oke pada leluhur tersebut karena saya merasa harus membicarakan terlebih dahulu dengan bapak.. "
Fabiyan menghela nafas pelan sebelum memulai menceritakan apa petunjuk yang dia dapatkan
...****************...
Bersambung..
Cerita ini tidak sepenuhnya nyata ,juga tidak halu semata..
Like, komen, hadiah ..
__ADS_1
vote dan favoritkan untuk update selanjutnya
Sugeng Rahayu 🙏