
Sebuah peninggalan babak kehidupan abad 8 dan 9 yang akan menjadi penemuan dimasa mendatang,
sebuah kisah yang seharusnya berakhir namun ternyata justru melegenda sepanjang masa
***
Ibu dewi Avalokitesvara membawa Sri Pramodhawardhani ke awang awang kadewatan..
Ketika membuka matanya, sri Pramodhawardhani berpikir dirinya sudah meninggal dan kini berada dialam kelanggengan,
"Dimana ini..." membuka mata dan nampak dirinya berada disebuah ruangan yang aneh.
Sebuah ruangan bernuansa putih bersih dengan banyak sekali terdapat dekorasi bunga lotus..
Aroma dupa Lotus menyeruak indera penciuman sri Pramodhawardhani..
"Anakku... kamu sudah bangun ?" tanya ibu dewi Avalokitesvara.
"Apakah hamba sudah mati ibu dewi ?" tanya Sri Pramodhawardhani bingung menatap sekitar nya.
Karena ingatan terakhir nya Sri Pramodhawardhani adalah ketika lahar panas menerpa tubuhnya dan pengawal setianya patih Arya..
***
Sri Pramodhawardhani yang tertidur diatas bunga lotus besar kini berdiri mendekati ibu dewi Avalokitesvara..
"Takdir macam apa yang sebenarnya terjadi padaku ibu Dewi !!" kata Sri Pramodhawardhani dipenuhi rasa heran bercampur amarah,
"Seluruh hidup aku abdikan untuk keberlangsungan dinasty Syailendra, tapi kenapa aku masih bernasib malang seperti ini ? hiks .." Sri Pramodhawardhani tidak bisa membendung perasaan nya saat ini.
"Hidupku hancur, hatiku mati, aku tidak bisa merasakan kebahagiaan, aku lebih sering menangis bahkan aku juga lupa bagaimana caranya tertawa bahagia...hiks.. hiks.." Sri Pramodhawardhani duduk bersimpuh dengan kepalanya menunduk dan air mengalir deras membasahi pipi,
"Anakku... tenangkan dirimu..." ucap ini dewi Avalokitesvara menenangkan. mengusap lembut pundak Sri Pramodhawardhani,
Sejenak ikut merasakan pilunya kehidupan hamba kesayangannya, sri Pramodhawardhani...
***
"Kini kamu mengerti bukan ? bahwa seindah indahnya rancangan para dewa n dewi, akan selalu ada saja yang mengacaukan, itulah manusia anakku.." ibu Dewi Avalokitesvara mengusap lembut pucuk kepala sri Pramodhawardhani.
Kini mereka sedang duduk ditepian hutan dengan sungai yang mengalir jernih seperti kaca dengan bunga bunga lotus mengambang di atas nya..
"Kalau memang manusia adalah gudangnya dosa dan kotoran duniawi, lantas kenapa kalian para dewa dan dewi tidak menyelesaikan sendiri rancangan kalian ??" Sri Pramodhawardhani berapi api.
Menatap pantulan dirinya di air lalu tersenyum getir ,
***
__ADS_1
"Dewa dan dewi dari dinasty Sanjaya maupun syailendra hanyalah wadak halus anak ku.. meskipun kami memiliki kemampuan jauh Di atas manusia, namun yang bisa menyempurnakan rancangan kami hanyalah manusia sebagai wadak kasar.." ibu Dewi Avalokitesvara menjelaskan dengan tenang ,
Bagaimana sistem kerja rancangan yang sudah diatur oleh sang hyang wenang pun masih tetap bisa dicurangi oleh sifat manusia di alam pepadang,
Mungkin manusia hanyalah alat yang bisa dipengaruhi sifat negatif dan juga positif, dan seperti yang sudah digariskan sejak awal mula terciptanya kehidupan dua bangsa sebelum manusia
Akan selalu ada baik dan jahat, dewa dan asura, malaikat dan iblis, negatif dan positif..
itulah yang membuat rancangan awal sang hyang tunggal menjadi berbeda pada proses perjalanan nya..
***
Ibu dewi Avalokitesvara berusaha menenangkan gejolak jiwa Sri Pramodhawardhani, menemani sepanjang hari di taman swargaloka miliknya ,mengajak sri Pramodhawardhani menikmati keindahan dan kedamaian alam keabadian.
Tidak sedetikpun meninggalkan Sri Pramodhawardhani yang masih diselimuti kebimbangan.
"Kini aku akan memberikan mu pilihan anakku..." ucap ibu dewi lagi saat mereka kembali kesebuah ruangan atau lebih tepatnya seperti aula atau pendopo milik ibu dewi Avalokitesvara,
"Apakah itu ibu dewi ?? " respon sri Pramodhawardani yang kini sedang bersandar dipangkuan ibu dewi..
***
Sungguh tentram sekali saat seperti ini, bersandar pada dewi welas asih seakan Sri Pramodhawardhani ingin hidup bersama beliau di alam swargaloka,
"Pertama... kamu akan kembali muncul sebagai Maharatu dua dinasty Sri Pramodhawardhani, kamu satukan kembali keluarga mu, bangkit dan bangun lagi tata pemerintahan seperti Ayahanda mu dulu.."
"kedua... aku akan mengembalikan dirimu ke bumi, ditempat berbeda, namun tugasmu adalah menjaga dan merawat makam suamimu Rakai Mamrati.."
***
"Rakai Mamrati telah wafat ibu dewi ? apakah ini lelucon ? " ucap sri Pramodhawardani tak percaya
Lalu bangkit dari posisinya sejurus kemudian berjalan mundur beberapa langkah.
"Rakai Mamrati meninggal dalam pertapaan anakku, dia sangat menyesali kesalahannya... dan hingga dia meninggal pun masih mengharapkan maaf darimu.." kata ibu dewi Avalokitesvara
"Aku pikir dia sudah hidup bahagia dengan selir nya..." sri Pramodhawardhani heran. Teringat betapa menyakitkan saat Rakai Mamrati berkali kali mendatang i istana Medang hanya untuk membujuk dirinya supaya berdamai dengan Selir suaminya,
Kemudian ibu dewi Avalokitesvara menceritakan secara keseluruhan, Tentang bagaimana Rakai Mamrati menghabiskan sisa hidupnya.
sebuah penyesalan akan menyebabkan penderitaan batin ..
***
Jadi mpu Tamer adalah komplotan dari walaing pu kumbhayoni, mereka berdua bersekongkol menjebak Rakai mamrati dalam pernikahan tidak resmi,
karena pu Kumbhayoni mengetahui bahwa Sri Pramodhawardani sangat tidak suka perselingkuhan.
Sengaja membuat satu kesalahan fatal untuk menghancurkan musuh dari dalam. Yaitu dengan kehamilan sang selir yang ternyata bukanlah benih dari Rakai Mamrati melainkan Walaing pu kumbhayoni.
__ADS_1
Yang terjadi kini telah terjadi, hukum sebab akibat telah berlaku di segala elemen kehidupan.
***
Singkat cerita ibu dewi Avalokitesvara mengantarkan Sri Pramodhawardhani ke suatu tempat yang cukup terpencil di sebuah wilayah tanah jawa bagian wetan.
sebelumnya Sri Pramodhawardhani mengambil opsi pilihan kedua, entahlah mungkin karena suara hati nuraninya yang berkehendak,
"Anakku... sekarang kamu bukanlah seorang Maharatu Sri Pramodhawardhani, bukan juga seorang putri dinasty, dan namamu sekarang bukan Dyah Pramodhawardhani Melainkan Sanjivani.." ucap ibu dewi saat mereka berdua tiba disebuah pelosok hutan.
"Sanjivani... nama yang unik ibu Dewi, apakah ada makna nya ?" tanya Sri Pramodhawardhani kala dirinya hampir saja menangis menatap sebuah batu nisan.
Hatiku bergetar menatap nisan itu, apakah...
***
"Sanjivani artinya adalah keabadian anakku..." kata ibu dewi Avalokitesvara tersenyum hangat.
"Keabadian.. apakah itu artinya diriku tidak mati ataupun hidup seperti manusia normal lainnya ?" tanya Sri Pramodhawardhani
"Era Sri Pramodhawardani dan Rakai Mamrati sudah berakhir anakku.. Tidak seorang pun mengenali dirimu yang sekarang, kamu istimewa anakku percayalah restu dan kasih sayang semesta alam akan selalu bersama mu.."
"Jika itu yang terbaik untukku ibu dewi... maka semoga aku bisa mengemban tugas ini dengan sebaik baiknya..." akhirnya Sri Pramodhawardhani menyerah dengan kesepakatan bahwa dia adalah legenda yang mungkin terlupakan namun masih hidup di era berbeda dan berganti nama sebagai seorang wanita asing bernama, Sanjivani.
Penampilan Sanjivani mirip seperti sesosok yang sangat bijaksana dengan menuruni segala kebaikan sih tresna ibu dewi Avalokitesvara dan juga para penjaga alam semesta, seperti sebuah bayangan dari ibu dewi welas asih..
***
Setelah kepergian ibu dewi Avalokitesvara, Sanjivani merawat makam suaminya seorang diri...
Sebuah tempat yang sangat terpencil, berteman dengan alam bebas yang penuh binatang liar .
Nisan suami yang tadinya hanya berupa seonggok kayu, Sanjivani ganti dengan nisan baru yang terbuat dari batu.
Batu yang telah diukir nama suami serta tahun kematiannya.
Sanjivani saat ini hidup di abad 10..
era inilah nanti beliau akan kembali dipertemukan dengan dyah Balitung, seorang keturunan murni dua dinasty besar yang akan memanggil dirinya dengan sebutan , nini buyut...
...****************...
Bersambung..
Cerita ini tidak sepenuhnya nyata ,juga tidak sepenuhnya halu
Like, komen, hadiah ..
__ADS_1
vote dan favoritkan untuk update selanjutnya
Sugeng Rahayu 🙏