
Memang gunung memiliki suasana manis romantis sejuk dan tenang..
bagi pecinta alam itu adalah suatu kenikmatan spiritual..
tapi bagi kaum pemuja cinta, suasana tersebut seringkali disalah gunakan...
***
Perjalanan menggunakan bus sekitar hampir satu jam..
Bus berhenti di halte khusus para pendaki, yang terletak sebelum pasar tradisional desa B
Ratih tiba di lokasi jalur khusus pos pendataan pendakian saat sudah menjelang senja,
Karena jam nya nanggung jadi Ratih memutuskan untuk sekalian istirahat sebentar buat makan malam.
warung angkringan adalah solusi terbaik untuk para backpacker yang akan melakukan pendakian,
Karena jalur yang akan dilewati Ratih adalah jalur resmi , jadi setiap pendaki harus antri dulu di pos untuk pendataan.
Suasana ramai para pendaki yang sedang beristirahat disebuah ruangan besar mirip aula, mereka asal duduk dan membaur dengan sesama pendaki.
"Hai.. boleh aku duduk disini ?" sapa seorang wanita seumuran Ratih.
"Hai juga.. hhmmm silakan.." Ratih Prameswari menggeser posisinya,
Tidak menyangka jika dia menemukan teman seperjalanan menuju pos terakhir sebelum puncak.
"Jadi nanti kamu mau sampai puncak atau nginep di pos terakhir aja ?" tanya wanita itu
"Aku ga ada niat buat sampai puncak sih, paling nanti aku bikin bivak di pos terakhir saja hehe.." ucap Ratih apa adanya.
wanita itu bernama Nurul, dia bukan warga lokal.
tampilan nya lebih seperti warga blesteran,
Cantik, tinggi sekitar 178cm, rambut coklat gelombang, kulit putih langsat, mata berwarna green hazel, bibir tipis dan hidung mancung tentunya.
"Well.. kayak nya kita bakal jadi teman seperjuangan deh malam ini.." ucap Nurul ramah.
"Kita minum wedang jahe anget dulu yuk.."
"katanya kalau minum ini sebelum jalan ,perut kita gak akan kembung.."
iya.. karena angin malam di gunung itu beneran meresap menembus kedalam kulit, bahkan bisa membuat tulang gemetar juga
Mencegah kembung saat pendakian bisa diatasi dengan cara mengkonsumsi minuman hangat seperti Wedang jahe, atau menempelkan jahe pada bagian pusar tubuh , seukuran ruas jati kelingking aja, lalu ditutup dengan plester
dijamin selama pendakian tidak akan merasakan kembung..
***
Ratih dan Nurul memulai perjalanan mendaki dari pos pendataan sekitar pukul 21.00
itu adalah waktu yang tepat untuk sampai di pos terakhir yang terletak diatas bukit perkebunan teh.
Mereka berdua berjalan dengan suasana hati yang senang,
sesekali menceritakan tentang diri masing masing,
"Aku bukan warga sini sih, aku lagi liburan aja kebetulan aku suka gunung.."
kata Nurul dengan logat yang masih rada kebule bulean..
__ADS_1
"sebelum ini kamu tinggal dimana ?"
tanya Ratih penasaran,
"Aku dari wilayah timur Indonesia, kamu tahu Sumba ?? nah itu tempat tinggal ku hehe"
"wah.. Sumba itu jauh banget loh kak, tapi lumayan eksotis sih pulaunya.."
Ratih hanya pernah melihat Sumba lewat majalah destinasi wisata Indonesia..
"kapan kapan kalau kamu ke Sumba cari aku, pasti aku akan menemani kamu backpackeran ke tempat tempat yang bagus, surga Indonesia timur.." kata Nurul membanggakan tempat tinggal nya..
"Hhmmm boleh.. semoga kita tidak hanya berteman malam ini tapi seterusnya ya.." ucap Ratih ramah.
Mereka melewati begitu saja pos pertama, karena di pos pertama mereka hanya menunjukkan kartu pendaki yang didapat dari pos pendataan tadi..
Lagipula ini bahkan belum seperempat perjalanan masa iya mau istirahat, malu dong sama pendaki lain hehe..
Semakin malam suasana gunung semakin dingin menusuk kulit.
meskipun Sudah memakai pakaian lengan panjang namun tidak mengurangi sensasi dingin yang meresap disela sela kulit.
***
Menjelang tengah malam mereka berdua hampir tiba di pos terakhir yang Ratih maksud.
melewati hamparan kebun teh yang hijau..
Peluh membasahi tubuh mereka itu sudah pasti, semakin berkeringat membuat suhu tubuh tetap hangat dan itu cukup mampu melawan hawa dingin pegunungan.
Angin mulai terasa menyentuh kulit dengan kencang, padahal ini malam hari..
suara hewan hewan kecil bersautan, suara jangkrik yang khas, lalu ada juga musang atau biawak kecil yang seenaknya menyebrang tiba tiba dari semak satu ke semak lain.
melewati jalan menanjak berkelok kelok, jalanan masih berupa bebatuan dengan kiri kanan hamparan perkebunan teh.
semua rasa lelah itu terbayar saat keduanya sampai disebuah tempat yang datar diatas bukit yang bersebelahan dengan perkebunan teh.
hosh..
hosh..
hosh...
"akhirnya sampai juga ya kak.."
nafas Ratih cukup terengah engah
"Waow.. ini sangat mengagumkan Ratih.. lihatlah !!"
Nurul menunjuk Ke arah atas..
Hamparan langit maha sempurna !!!
Ratih dan Nurul meletakkan tas cartier mereka, lalu rebahan sejenak diatas tanah lapang yang datar.
"Bintang bintang bertaburan diangkasa..." gumam Nurul
"Disana ada satu bintang yang paling bersinar.. itu pasti swargaloka milik ibu dewi.." gumam Ratih pelan hanya angin yang mendengar.
Sejenak pikiran Ratih melayang ke masa lalu saat dirinya melakukan perjalanan spiritual dari jaman dyah Pramodhawardhani yang hendak mencari restu adhi shakti..
__ADS_1
jika angkasa terlihat sebegitu megahnya, bagaimana wujud adhi shakti jika menampakkan wujudnya pada alam semesta..
sementara Adhi shakti adalah ibu alam semesta.
"Kerasa banget gak sih kalau kita ini cuma butiran debunya debu ..."
"Yang diatas sana adalah keindahan alam maha sempurna.."
"pernah gak kita membayangkan ada kehidupan lain diantara bintang bintang yang bersinar itu ??"
"mereka bisa melihat kita, tapi kita bahkan tidak bisa tahu kalau mereka ada.."
"Seandainya ada satu bintang yang teruntai turun menyapa kita.."
"bukankan hal itu akan sangat luar biasa' ??"
"sebuah bintang yang akan mewujudkan keinginan kita.. tanpa syarat apapun.."
Banyak sekali kalimat yang diucapkan Ratih Prameswari, cukup membuat Nurul tertegun dengan pemikiran Ratih..
"Kehidupan selain manusia ??" gumam Nurul
tentu saja Nurul tidak peka terhadap hal hal gaib yang memang nyata meskipun tidak nampak secara kasat.
"Pemikiran mu sangat konservatif ya Ratih seperti anak kecil yang mengkhayal sesuatu yang tidak ada hehe" ucap Nurul seraya bangkit dari posisi rebahan.
Udara dingin pegunungan semakin terasa dingin mereka harus segera menyiapkan bivak untuk kehangatan tidur mereka malam ini.
karena suhu udara digunung setelah lewat tengah malam hingga sebelum fajar bisa mencapai 10° celsius.
Dua bivak didirikan bersebelahan, cukup mudah menyiapkan bivak untuk tidur malam ini.
tidak sampai satu jam Ratih dan Nurul sudah kembali berkumpul didepan bivak mereka.
"Kita harus bikin api, buat ngusir serangga.." kata Nurul
"sekalian buat bikin mie enak tuh kak.." tentu saja harus mengisi perut sebelum tidur
"oke.. sama minuman hangat juga ya hahaha..."
mereka berdua menikmati malam dengan cara yang seru.
sesekali beberapa pendaki lain melewati lokasi bivak mereka,
namun karena Nurul dan Ratih sengaja memasang ekspresi jutek saat bertemu pendaki lain terutama pendaki pria,
jadi tidak ada satupun yang berani menggoda mereka..
Seorang wanita harus selalu mengangkat wajahnya, tidak boleh menunduk karena itu menunjukkan kelemahan.
setidaknya angkat wajahmu, tunjukkan sisi tegasmu , jangan mau terlihat lemah saat berada ditempat asing seperti antah berantah..
...****************...
Bersambung
Cerita ini tidak sepenuhnya nyata ,juga tidak sepenuhnya halu
Like, komen, hadiah ..
vote dan favoritkan untuk update selanjutnya
__ADS_1
Sugeng Rahayu 🙏