Diam Cupu, Ternyata Ratu

Diam Cupu, Ternyata Ratu
144 Demam mendadak


__ADS_3

Ditempat lain..


Fabiyan saat ini sedang berada di rumah pak Yitno, mendengar kabar jika adeknya Gendhis sedang sakit, dirinya merasa khawatir.


"Kenapa tiba tiba bisa demam begini ?" tanya Fabiyan cemas.


"Gak tahu, semalam tidur masih baik baik saja, gak rewel , nyusu juga normal kayak biasanya.. tapi pas bangun pagi pagi tadi sinang Nangis terus, gak mau digendong, sama mbah uti mbah kakung nya juga gak mau... Aku pikir dia kolik tapi aku tepuk tepuk biasanya sendawa ini tadi enggak.. " kata Ratih prameswari yang panik hampir menangis.


Fabiyan menggendong bayi laki laki itu, meletakkan kepala sang bayi dipundaknya lalu menepuk nepuk punggung nya pelan, masih tetap menangis Fabiyan membawa sinang keluar rumah berharap udara segar membuatnya tenang.


Sudah setengah jam lebih sinang menangis, diam, lalu menangis lagi, begitu seterusnya.. Sampai karena tidak mau meyusu Ratih memberikan air putih hangat dicampur madu.


Saat menangis tubuh bayi kecil itu berkeringat membasahi tubuh, namun saat tangis mereda tubuhnya kembali panas.


"Ayo kita belikan obat penurun panas, suhu tubuhnya semakin terasa panas... " ucap Fabiyan yang diangguki Ratih prameswari.


Menggunakan mobil Fabiyan membelikan obat penurun panas untuk bayi, sebotol kecil berbentuk sirup dengan pipet drop sesuai dosis usia bayi, dibawah 3 bulan.


Kondisi Rumah memang sedang sepu lantaran bapak Yitno dan ibu Astutik masih menyelesaikan pekerjaan mereka di ladang, biasanya akan pulang saat menjelang tengah hari.


Mobil Fabiyan kembali memasuki pekarangan rumah , segera turun menyerahkan obat yang baru saja dia beli.


"Ini.. aku dapat obatnya, " kata Fabiyan menyerahkan plastik kecil berisi obat penurun panas.


Ratih prameswari, meskipun panik tapi tetap teliti dan hati hati, membaca kertas petunjuk dosis yang dianjurkan sebelum Akhir nya membuka botol obat lalu memasukkan pipet drop sesuai takaran,


segera meminumkan obat kepada putra kecil nya, sempat menangis mungkin terasa tidak enak dan aneh namun efek obat membuat sinang perlahan mulai tertidur,


Tertidur dalam posisi digendong sang ibu, sedikit pergerakan saja langsung rewel lagi...


"Ngalah dulu aja yang penting sinang lekas membaik, biar aku bantu disini sampai bapak dan ibu kembali.. "


"Benar benar minta maaf ya Biyan.. pagi pagi sudah mau repot bantuin aku, aku bisa stress kakai hadapi semua kekacauan ini sendiri... "

__ADS_1


Penampilan Ratih prameswari bahkan Belum ganti baju, masih mengenakan daster selutut yang sua pakai semalam, Wajahnya nampak lelah.. lelah yang ditahan seorang diri..


Kantung mata itu semakin menunjukkan jika Ratih prameswari sedang tidak baik baik saja, dia kurang istirahat ditambah anak bayinya yang sering rewel.


Fabiyan meminta Ratih prameswari ikut tidur saja bersama sinang ,


"Ikutlah istirahat saat sinang terlelap, kamu butuh istirahat Ratih, aku tahu kamu kuat tapi tolong jangan paksakan ragamu... " Fabiyan tersenyum sendu seakan ikut merasakan lelah yang Ratih prameswari rasakan.


Setelah Ratih prameswari dan putrany tertidur didalam kamar, Fabiyan bermain dengan mbaj Gendhis, Fabiyan bahkan menyuapi sarapan karena ibunya sama sekali tidak bisa meninggalkan adeknya.


"Om cuma bisa bikin kayak gini, maaf ya mbak Gendhis... " Menyuapi dengan telaten sambil menemani bermain di ruang tamu


"ini enak om, Gendhis suka... telur dadarnya sedikit gosong tapi enak hehe... " ucap bibir kecil mbak Gendhis memuji masakan Om Fabiyan.


"Mbak Gendhis pintar yaa makan seadanya tidak pilih pilih, kapan kapan om ajak mbak Gendhis beli burger gimana mau gak ?? ucap Fabiyan terdengar sangat menenangkan dan penuh rasa sayang..


"Mau om.. Gendhis mau burger yang dapat hadiah mainan ya om.. " celoteh Gendhis.


Sengaja membuat dua porsi yang di letakkan dalam dua mangkuk, Fabiyan juga lapar tentu saja dirinya juga belum sempat sarapan tadi saat Ratih prameswari menelpon dalam keadaan panik.


Fabiyan meminta tolong Gendhis untuk membangunkan ibunya , ”Bangunkan ibu kamu , bilang om Fabiyan sudah bikin sarapan hangat.. "


Gendhis tampak masuk kedalam kamar, lalu beberapa saat kemudian Ratih prameswari keluar dari kamar.


"Makan dulu mumpung sinang masih lelap.. " Fabiyan mendorong satu mangkuk kedahapan Ratih prameswari.


"Makasih.. " berterima kasih dengan lirih.


Bukannya segera menikmati sarapan ,Ratih prameswari justru menitikkan air mata . Tiba tiba diirnya merasa terharu mengingat Bagaimana dulu mendiang suami nya juga sering membuatkan mie kuah hangat dengan sayuran dan telur juga irisan cabai rawit.


hiks... hiks...


"Hei.. kenapa malah menangis Tih, ayolah jangan begini... " Fabiyan menyentuh pundak Ratih prameswari

__ADS_1


"Hiks. tiba tiba saja mie kuah ini mengingatkan aku sama kak Putra, hiks... Maaf... "


Kak Putra.. seharusnya kita menikmati beban merawat anak kita bersama.. seharusnya kita juga menikmati makanan ini berdua... hiks.. kangen...


"Ratih... jangan berlarut dalam kesedihan, cukup kenang mendiang suamimu dengan hal hal baik, jangan kembali larut dalam masa lalu... "


Fabiyan mencoba menghibur, cukup bisa membuat Rayih prameswari tersenyum lalu menghabiskan sarapan mie kuah hangat buatan Fabiyan.


"Sekarang sebaiknya kamu membersihkan diri, mandi.. ganti baju.. biar aku jagain sinang.. nanti kalau dia terbangun biar aku gendong dulu.. "


"Kamu sangat baik Biyan.. Baiklah kalau begitu aku mandi sebentar.. "


Sementara Ratih prameswari membersihkan diri di kamar mandi, Fabiyan menunggui didepan kamar dengan Gendhis yang mengajaknya bermain dakon.


"om.. Kenapa om Fabiyan gak jadi ayah kita aja, soalnya ibuk sering nangis , tapi ibuk pura pura senyum biar Gendhis gak ikut khawatir, kalau Gendhis dan adek punya ayah kayak om Fabiyan kan ibuk gak akan repot, bisa ngajak Gendhis main... "


Celoteh dari mulut kecil Gendhis, terdengar oleh Ratih prameswari yang baru saja keluar dari kamar mandi.


Tiba tiba merasa mellow lagi...


Gendhis... maafkan ibuk ya nak, belum mampu menjadi ibuk yang kuat.. masih sering nangis.. dan menikah untuk yang kedua tidak semudah itu, ibuk belum siap, maaf Gendhis.. Maaf Biyan... Maaf para Leluhur...


...****************...


Bersambung..


Cerita ini tidak sepenuhnya nyata ,juga tidak halu semata..


Like, komen, hadiah ..


vote dan favoritkan untuk update selanjutnya


Sugeng Rahayu 🙏

__ADS_1


__ADS_2