Diam Cupu, Ternyata Ratu

Diam Cupu, Ternyata Ratu
Bab 73 Bermalas malasan dirumah


__ADS_3

Apa sebenarnya tujuan mereka ?? apa iya hanya sebagai tamu yang hanya butuh wejangan dari bapak Yitno ??


Kalau hanya sebatas tamu, lalu kenapa mereka bisa seakrab itu ??


***


Pagi harinya..


Sinar matahari sudah meninggi menelisik kedalam kamar Ratih Prameswari melewati celah jendela,


Suara burung bersahutan seolah mengajak makhluk lain untuk bergegas bergerak mencari makan hari ini,


Ayam jantan yang berkokok sedari tadi juga ikut menambah ramai nya suasana pagi di kampung.


Ibu dan bapak sudah pergi ke ladang sejak subuh tadi, hari ini mereka akan memanen hasil tanaman di ladang.


kecil sih tidak seluas tanah yang disewa untuk menanam padi, tapi ladang ini adalah milik keluarga sendiri, pak Yitno yang merupakan warga asli di kampung tersebut memiliki tanah warisan dari orang tuanya dulu.


turun temurun diolah oleh pewarisnya..


***


sementara itu Ratih Prameswari sengaja bangun lebih siang karena masih menikmati pagi yang dingin dibalik selimut nya..


entahlah sepertinya dia masih belum ingin beranjak dari ranjang favoritnya padahal jam dinding sudah menunjukkan pukul 08.00


Ini sudah terlalu siang bagi kebiasaan masyarakat di kampung yang sudah terbiasa beraktivitas sejak waktu subuh.


Eunnggghhhh....


Ratih menggeliat sekali lagi, mencoba mengadaptasi kan matanya terhadap cahaya yang terlalu silau dari celah jendela,


Nyaman banget sih bermalas malasan seperti ini...


Mode Zoning out aktif, seperti sebuah jeda setelah bangun tidur antara mengumpulkan kesadaran dan pikiran.


apa yang akan aku lakukan hari ini??


Kini Ratih Prameswari tengah duduk di kasur, masih berbalut selimut motif bulan bintang warna navy, selimut kesayangan saat tidur dirumahnya, karena ini adalah kado dari teman kuliah nya dulu


Kak putra .. apa kabar sekarang dia ya..


***


Ratih dan putra terakhir bertemu saat menjelang hari wisuda tepatnya di bulan kelahiran Ratih Prameswari.


waktu itu tiba tiba kak Putra muncul di tempat Ratih bekerja dan memberikan sebuah kotak,


itu adalah kotak kado pertama yang Ratih dapatkan selama kuliah di kampus ibu kota.


Masih ingat banget bagaimana raut wajah kak Putra yang nampak teduh sekaligus tampan ,


seluruh kampus bisa geger geden alias gaduh seandainya mereka melihat perlakuan Putra kepada Ratih


Dan gimana ekspresi masam seorang Kinan Atmaja saat melihat pria yang dia cintai sedang berbuat romantis dengan wanita yang paling dia benci ??


Huft... entah kapan kebencian seorang Kinan Atmaja luntur, atau justru seperti luka yang mendalam dan mencipta rasa trauma tak berkesudahan ?


Buktinya Ratih Prameswari masih memiliki trauma tersendiri dengan keluarga Atmaja,


menyebutkan nama keluarga tersebut saja sudah membuat Hati Ratih menciut..


Dan sekarang justru dua tuan muda dari keluarga Atmaja semakin sering muncul di keseharian Ratih Prameswari.


***


Dengan muka bantal nya Ratih bangun dan beranjak keluar dari kamar sekitar pukul 09.00


Karena tidak terbiasa bangun siang, jadi itu membuat tubuh Ratih seperti kaku, rasanya pegal

__ADS_1


gayanya aja sok sokan bangun siang, faktanya malah bikin badan pegel pegel..


Bergumam sendiri sembari membuat secangkir kopi di dapur..


Semalam pulang jam berapa ya om Raymond sama om Fabiyan...


Ratih Prameswari tiba tiba saja teringat hal yang tidak sengaja di dengar dari balik bilik kamarnya.


Ratih mendengar percakapan antara bapak dengan dua orang pria tersebut.


mereka berencana menyusuri jejak nenek moyang pada candi Borobudur,


om Raymond mempunyai hasil penelitian bahwa pada candi Borobudur terdapat sebuah spot relief yang merupakan gerbang gaib brankas kekayaan Maharaja gusti Samaratungga.


Sayangnya om Raymond tidak memiliki kunci yang untuk membuat gerbang gaib tersebut.


***


Apa mungkin kedua om om tersebut sengaja berkomplot untuk menemukan harta karun nenek moyang melalui bapak Yiitno ?


Apa mereka berdua mau memanfaatkan bapak yang memang titisan dari gusti maharaja Samaratungga..


Ratih merasa harus mencegah mereka berdua menjalankan rencana mereka.


apapun yang terjadi Ratih Prameswari harus melindungi bapaknya.


Jangan sampai kelebihan yang dimiliki Bapaknya dimanfaatkan oleh orang lain


apalagi jika itu tidak sesuai dengan jalan yang seharusnya..


Ratih Prameswari kembali termenung dalam duduk nya,


setelah menghabiskan secangkir kopi, Ratih Prameswari memutuskan akan menyelidiki bapaknya,


Bapak Yitno berhutang banyak penjelasan kepada Ratih.


***


Kini Bapak ,ibuk dan Ratih Prameswari tengah duduk diruang tengah,


Mereka menonton acara televisi lokal,


bapak duduk leyeh leyeh dikursi goyang nya, sementara ibuk tiduran di karpet depan tivi dekat kursi goyang bapak


Dan Ratih Prameswari ikut menyamankan diri disebelah ibuk


"Jadi bagaimana nduk pekerjaan kamu disana ?? lancar to ."


ibuk bertanya sambil mengusap pucuk kepala Ratih


"Lancar bu, semua baik baik saja dan Ratih betah kok.."


usel usel dipelukan ibu..


"Ingat nduk, jangan pernah lupa sembahyang.. "


bapak Yitno ikut menimpali,


dengan sebuah pipa ditangan kirinya, bapak Yitno menyesap racikan tembakau seperti kebiasaan nya sejak lama.


asap mengepul disekitar bapak Yitno..


"Bapak... kenapa gak dikurangi merokok nya ?? Ratih khawatir lo sama kesehatan bapak.."


masih tetap dalam pelukan ibuk nya..


"Wong lanang gak udut iku ora lanang nduk.."


Sahut pak Yitno santai sambil tetap menikmati setiap sesapan..

__ADS_1


Merokok adalah sebuah kebiasaan para pria di kampung, merokok juga adalah sebuah alat pemersatu kaum adam kala sedang berada di suatu acara.


entah itu ronda setiap malam di pos kamling, saat sedang ada hajatan warga, sampai setiap ada kegiatan kerja bakti di lingkungan warga.


para pria pasti otomatis berkumpul saling mengobrol dengan asap rokok yang memgepul diantara percakapan mereka.


Memang susah menghilang kebiasaan turun temurun..


***


Sore harinya Ratih sedang membersihkan halaman depan rumahnya,


menyapu dan menyiram tanaman adalah hal yang menyenangkan.


Suara air yang gemericik mengenai pucuk tanaman seperti suatu Alunan melodi yang menenangkan hati..


Aroma tanah yang basah terkena air juga adalah sangat segar.


Ratih Prameswari menghidup udara dalam dalam lewat hidung nya..


aagghhhhh segarnya...


Semakin berlama lama melakukan kegiatan menyiram tanaman, bahkan tidak hanya tanaman yang disiram namun seluruh tanah di halaman depan rumah ikut disiram dengan air yang memuncar lewat selang ditangan kanan Ratih.


Bapak yang lagi menikmati kopi dan pisang goreng hangat cuma bisa geleng geleng..


sedewasa apapun kamu diluar sana, seorang anak akan tetap menjadi seorang anak dirumah orang tua..


Ada rasa haru menyusup kedalam hati bapak Yitno,


hatinya menghangat..


***


memiliki seorang anak perempuan seistimewa Ratih Prameswari adalah sebuah anugerah sekaligus beban yang cukup berat.


Bapak Yitno tidak pernah longgar dalam menjaga anak gadis semata wayang lewat spiritual.


setidaknya bapak harus menjaga anaknya agar senantiasa diberi keselamatan dan perlindungan oleh para leluhur.


Sama halnya seperti gusti samaratungga dahulu menjaga putri dyah Pramodhawardhani..


menjaga keluarga mereka dengan sih tresna para roh roh suci Pelindung dinasty..


***


Ratih Prameswari seperti nya sudah merasa puas dan cukup bermain air di halaman depan rumahnya..


saat sedang membereskan selang kembali ketempat penyimpanan di samping rumah.


bapak Yitno memanggil Ratih Prameswari..


"Kemarilah nduk... ada hal penting yang ingin bapak sampaikan !"


sebuah kalimat terlontar dari mulut bapak Yitno yang pelan namun tegas.


tidak seorang pun akan berani berkata tidak jika sudah berhadapan dengan bapak Yitno..


...****************...


Bersambung..


Cerita ini tidak sepenuhnya nyata ,juga tidak sepenuhnya halu


Like, komen, hadiah ..


vote dan favoritkan untuk update selanjutnya


Sugeng Rahayu 🙏

__ADS_1


__ADS_2