Diam Cupu, Ternyata Ratu

Diam Cupu, Ternyata Ratu
Bab 41 Bertemu pria itu


__ADS_3

Ratih Prameswari pergi ke pasar malam bersama Dimas,


Mereka berjalan berdua melewati jalan setapak pada kampung yang masih berupa tanah dan bebatuan. Suara jangkrik terdengar nyaring dan merdu seperti nyanyian alam. Sesekali keduanya bercanda tentang bagaimana masa kecil mereka dulu yang sering menghabiskan waktu main di empang pak Salam.


"ingat gak Tih waktu dulu kita ketahuan pak Salam hendak mencuri ikan lele dikolam yang sedang dibersihkan ?" kata Dimas jenaka.


"inget banget dong, dan bukan ikan lele yang kita dapat tapi kaki kita yang sakit karena kena patil lele " jawab Ratih sambil tertawa geli karena kepolosan masa kecil mereka.


"Trus pak Salam ngejar kita sampai sampai kita kudu mumpet di bawah kolong jembatan.." kata Dimas lagi


"Mana bau lagi selokannya hahaa..." Ratih tertawa geli mengingat memory masa itu.


Ratih dan Dimas waktu kecil adalah dua sohib yang paling suka membuat kerusuhan di kampung, Sebenarnya Dimas biang keroknya namun Ratih selalu diseret dalam setiap ide ide nakal Dimas, dasar Ratih yang introvert sangat susah membaur dengan lingkungan sosial, tapi Dimas bisa membuat Ratih merasa bebas berekspresi.


***


Dua sohib yang menjadi gudang curhat satu sama lain. Saat Dimas dimarahi bapaknya, dia sering ngajak Ratih kabur ke bukit belakang kampung lalu mencurahkan segala uneg-uneg nya, dan karakter Ratih membuat Dimas terhibur karena kata kata Ratih saat menasehati sangat lembut namun tegas, jadi Dimas hanya menurut dengan ucapan dan saran masukan dari Ratih.


Ratih paling merasa nyaman saat berkumpul dengan teman teman sebaya masa kecilnya di kampung. Saat disekolah atau diluar kampung Ratih lebih sering merasa Minder (rendah diri) karena penampilan nya yang sangat cupu ditambah kepribadian introvert (tertutup) yang membuat kesan Ratih adalah seorang gadis kuper (kurang pergaulan),


Padahal Ratih termasuk up to date, diam diam Ratih mengikuti perkembangan musik masa kini, mengikuti perkembangan berita viral juga, hanya saja memang selera Ratih sangat konvensional alias itu itu saja. Berpakaian tidak harus mengikuti tren fashion tapi yang membuat nyaman .


***


Bahkan Ratih sangat paham apa yang teman teman kampusnya bahas saat sedang berkumpul atau nongkrong, namun Ratih memilih hanya mendengar saja tanpa merasa perlu nimbrung, karena jika Ratih nimbrung yang ada pasti hanya akan semakin di bully karena penampilan cupu yang tidak mendukung kecerdasan otaknya.


Hanya segelintir orang saja yang bisa melihat kecantikan Ratih yang sesungguhnya dibalik penampilan cupu saat dikampus dan itu membuat Ratih memiliki banyak pengagum rahasia. Meskipun Ratih sendiri tidak menyadari hal itu.


***


Tiba dipasar malam setelah berjalan selama 10 menit,


Ratih dan Dimas pertama tama membeli jagung bakar , kemudian berkeliling melihat lihat seisi pasar malam sambil menikmati hangatnya jagung yang dibakar dengan bumbu mentega dan diolesi saus pedas.


"Eh Ratih, kita beli gelang couple yuk !" Ajak Dimas saat dirinya melihat seorang penjual yang menjual berbagai macam aksesoris anak muda seperti cincin ukir nama, gelang pasangan, kalung pasangan dengan liontin yang bisa di bagi dua.


"Boleh.. tapi kamu yang bayar ya xixixi..." ucap Ratih .

__ADS_1


Lalu keduanya memutuskan membeli gelang pasangan berukirkan kata "Best friend".



Setelah membeli gelang dan mencoba berbagai wahana permainan, Ratih dan Dimas memutuskan untuk segera pulang karena sudah menunjukkan pukul 21.40 dan sesuai janji mereka saat pamit dengan bapak dan ibu bahwa keduanya akan pulang tepat waktu.


***


Saat dalam perjalanan pulang, Ratih baru sadar bahwa malam ini adalah malam bulan purnama, seketika pikiran melambung kembali ke jaman dulu saat melakukan upacara ritual bersama dinasty Syailendra..


"Dimas... kamu percaya gak kalau bulan itu gak pernah berubah sejak jaman dahulu hingga sekarang ?" tanya Ratih.


"Tentu saja bulan udah banyak berubah Tih, bulan yang sekarang itu sudah terlalu sering terbentur meteor jadi pasti beda dengan bulan pada masa lalu yang mungkin masih mulus hehehe .." jawab Dimas sesuai logikanya.


"Ish kamu tuh, maksudku Bulan selalu hadir dengan posisi yang sama disemua dimensi kehidupan, jadi bisa jadi saat kita melihat bulan saat ini nenek moyang kita juga sedang melihat hal yang sama.. Paham maksud aku kan ?" kata Ratih menoleh pada Dimas yang berjalan disebelah kanannya.


"Gak paham haha... " kata Dimas tertawa.


Namun yang diucapkan Ratih adalah benar, karena saat ini di dimensi jaman yang berbeda ada sepasang suami istri yang sedang melihat bulan dari tempat ritual malam bulan Purnama.


***


Setelah Dimas pulang, Ratih tidak langsung tidur melainkan rebahan di bangku panjang yang ada di halaman depan rumah. Entah kenapa suasana malam terasa sangat sejuk dan teduh.


Bulan yang terang serta taburan bintang yang menghiasi langit, sejenak menenggelamkan Ratih Prameswari pada berbagai pertanyaan tentang takdirnya.


"Darimana aku tahu kapan harus memulai memperbaiki takdir ?" gumamnya..


Klesak klesik sendiri dalam angannya, tanpa disadari ada tiga orang pria berdiri didekatnya..


"Permisi dek.. bapak ada ?" kata salah seorang pria mengagetkan Ratih.


Ratih memindai dengan cepat ketiga pria tersebut. Dua pria berpenampilan sama , tubuh gagah, tegap , atletis, dengan tampang serius yang seperti nya susah tersenyum (mirip kanebo kering...) memakai pakaian serba hitam mirip bodybguard.


Sedangkan satu pria yang berdiri ditengah, dia sangat berwibawa, tampan, gagah, rambut disugar kebelakang dengan sorot mata teduh berwarna cokelat tua, hidung mancung dan garis bibir yang tegas, sorot mata tajam seperti elang dengan alis maskulin. Seperti nya pria itu juga rajin mencukur kumisnya, Klimis maksimal ditambah tubuh nya yang pelukable berbalut kaos kerah dengan jaket jeans berwarna biru memakai celana bahan serta selop dari bahan kulit.


Dalam penilaian Ratih pria yang ditengah itu pasti bos besar.

__ADS_1


"Ada om... sebentar saya panggilkan bapak " ucap Ratih gegas masuk kedalam rumah.


***


Tatapan pria itu tidak lepas dari Ratih Prameswari, manik matanya mengikuti pergerakan Ratih Prameswari dari halaman hingga masuk kedalam rumah.


Pria itu hanya diam tanpa ekspresi, namun dalam hatinya merasakan sesuatu yang aneh.


"Seperti pernah melihatnya..." bergumam pelan.


"Apakah ada yang aneh ndoro ?" tanya salah satu pengawal.


"Ah tidak.. hanya dugaanku saja" senyum singkat saat menjawab pertanyaan pengawal.


***


Setelah ketiga pria tersebut duduk diruang tamu berhadapan dengan bapak Yitno, Ratih segera masuk kedalam kamarnya, dia segera membersihkan badan lalu mencoba untuk beristirahat..


Degup jantung Ratih Prameswari seperti menari nari menggelitik namun entahlah apa nama perasaan itu dan kenapa dia merasakan hal itu saat manik matanya terkunci sepersekian detik dengan pria asing tamu bapaknya.


Ratih tidak mau memikirkan hal hal yang belum pasti. Namun jujur saya sosok pria asing itu cukup mengganggu pikirannya..


"Dia seperti om om... pasti sudah berkeluarga jadi tidak boleh.." gumam Ratih Prameswari


"Lagian cuma sekali ini kan ? tidak mungkin aku akan bertemu pria itu lagi.." masih ngomong sendiri dalam lamunan nya


"Lebih baik aku fokus ke pendidikan saja supaya bisa menjadi sarjana dan wanita yang sukses berkarir.." Menentukan tekad nya saat mata mulai terpejam menghantarkan Ratih Prameswari ke alam mimpi.


***


Cerita ini tidak sepenuhnya nyata ,juga tidak sepenuhnya halu


Like, komen, hadiah ..


vote dan favoritkan untuk update selanjutnya


Sugeng Rahayu 🙏

__ADS_1


__ADS_2