Diam Cupu, Ternyata Ratu

Diam Cupu, Ternyata Ratu
Bab 132 Melahirkan


__ADS_3

Rasa sakit itu semakin menyerang setiap kontraksi datang, Ratih prameswari memperhatikan jam dinding dan saat ini kontraksi datang semakin teratur setiap 5 menit sekali.


"ibuk tolong ambilkan tas lahiran yang aku taruh didalam kamar, seperti nya ini sudah saatnya.. " kata Ratih meringis menahan sakit.


"Bapak dan ibuk dirumah saja nungguin dek Gendhis, biar saya yang antar Ratih ke rumah sakit, saya bawa mobil.. " kata Fabiyan menimpali


"baik nduk.. ibuk ambilkan tas nya dulu.. " ibuk astuti gegas menuju kamar Ratih prameswari


sedangkan Bapak Yitno tampak mengatakan sesuatu pada Fabiyan, "ngger.. bapak titip Ratih ya.."


sudut mata bapak Yitno tampak berair, selalu ada rasa haru tersendiri jika melihat putri satu satunya hendak melahirkan, apalagi kali ini tanpa suami.


"serahkan semua sama saya pak.. saya pasti jaga baik baik "


Menjelang fajar mobil Fabiyan melaju menuju rumah sakit kota.


sesekali Fabiyan melihat Ratih prameswari yang duduk di sampingnya tampak meringis menahan sakit, dan bulir bulir peluh itu semakin membasahi keningnya.


"Sebentar lagi kita sampai, bertahan lah.. " ucap Fabiyan agak panik


"Fokuslah mengemudi Biyan, Aku bisa atasi ini, aku kuat kok hehe.. awh.. "


Masih mencoba tenang.. mengatur nafas..


perjalanan 15 menit terasa sangat lama..


Fabiyan bahkan ikut berkeringat dingin, ini pengalaman pertama dia mendampingi seorang wanita yang hendak melahirkan.


"kita sudah sampai.. " kata Fabiyan saat memasuki halaman parkir rumah sakit kota.


Fabiyan membantu Ratih prameswari turun dari mobil, Ratih prameswari tidak bisa melangkah normal karena saat ini sang calon bayi tampak semakin aktif mencari jalan keluarnya.


"sebaiknya kamu tunggu disini biar aku panggil tim medis.. " ucap Fabiyan saat hendak membawa Ratih kembali ke mobilnya.


Tapi Ratih prameswari menolak dengan halus, dia masih kuat dan mampu.. meskipun harus berhenti saat kontraksi menyerang.


Memasuki pintu khusus ruang Instalasi gawat darurat, beberapa tim medis dengan cekatan membantu Ratih prameswari ,


Fabiyan mengurus administrasi sementara beberapa suster mendorong Ratih prameswari di kursi roda menuju ruang tindakan.


Dengan hati hati dua orang suster tampak membantu Ratih berbaring di ranjang pasien, Menunggu dokter yang akan memeriksa kondisi akhir sembari menunggu pembukaan penuh.


"Tekanan darah sudah normal bu.. detak jantung juga stabil kondisi janin sudah memasuki posisi akhir.. seperti nya kita tinggal tunggu pembukaan penuh bu.. tetap semangat ya.. " kata seorang dokter wanita tersenyum ramah.


Saat ini masih pembukaan lima, Ratih masih bisa sesekali berjalan di sekitar ruangan, Tiduran justru membuat sesak dan semakin sakit.


Fabiyan tampak sabar menunggui setiap proses yang dialami Ratih, sesekali mengajak bercanda agar pikiran tetap positif.


"Apa kamu mau aku telpon Dek Gendhis ?? siapa tahu kamu ingin menyapa si kakak kecil.. " kata Fabiyan


"hhmmm boleh.. dia pasti saat ini lagi sama mbah utinya.. "


panggilan video berlangsung..

__ADS_1


"ibuukk... huhuhuuu... ibuk kesakitan ya... maafin gendhis yang gak jagain ibuk huhuuu hiks.. "


"enggak kok mbak.. ibuk baik baik saja.. ini sebentar lagi adeknya pingin keluar makanya ibuk ke rumah sakit, mbak Gendhis yang pintar ya dirumah.. "


"Gendhis akan berdoa supaya adek gak nakal pas mau keluar dari perut ibuk, pokoknya adek gak boleh bikin ibuk kesakitan.. hiks.. "


celoteh kekhawatiran gadis kecil itu cukup membuat suasana semakin haru.


Fabiyan mengalihkan kamera panggilan video kearahanya saat melihat Ratih prameswari mulai meringis kesakitan.


Setidaknya dek Gendhis tidak boleh melihat saa sang ibu merasakan kontraksi.


"Om pasti jagain ibu kamu mbak Gendhis.. sekarang kamu main dulu sama mbah yaa.. sarapan lalu mandi.. nanti bantu ibu lewat doa biar bisa cepat pulang oke.. ??" kata Fabiyan melambaikan tangan hendak menutup panggilan.


"iya om Fabiyan.. jagain terus ibuku bye.. bye.. "


panggilan benar benar berakhir, dan saat ini rasa sakit semakin menjalar seperti meremas tulang tulang nya..


"Biyan.. bantu aku ke kamar kecil.. " Ratih prameswari merasa ingin buang air kecil tapi tidak sanggup berjalan kekamar mandi yang jaraknya kurang dari 3 meter


Fabiyan membantu memapah tubuh Ratih prameswari, pelan pelan.. Menunggu diluar pintu dengan sabar..


selesai..


saat memapah tubuh Ratih prameswari hendak kembali menuju ranjang pasien tiba tiba..


"awh.. eunghhhh ahhh... huhh.. huhh.. huhh.. "


Ratih prameswari kembali merasakan kontraksi yang lebih kuat, bahkan sampai tidak mampu menopang bobot tubuhnya,


"Maafkan aku karena sudah berani menyentuh.. " kata Fabiyan


"eng.. enggak.. aku yang makasih.. aahhg.. " mengeratkan tangan di leher Fabiyan.


"Aku panggil dokter nya dulu oke.. " Fabiyan gegas keluar dari ruangan mencari dokter yang menangani.


Kurang dari lima menit dokter dan beberapa asisten medis memasuki ruangan Ratih prameswari.


melakukan cek pada jalan lahir yang ternyata sudah pembukaan penuh,


para medis segera membawa Ratih prameswari masuk keruang tindakan, Dan Fabiyan tampak selalu menemani disamping Ratih.


Sesekali menjerit kesakitan saat merasakan janin dalam perutnya mendorong kuat,


"oke ibu... ayo kita mulai ya.. fokus ke saya.. hanya lihat saya... " seorang dokter tampak memberi aba aba kapan harus mengambil nafas dan kapan harus mengejan


"Jika kontraksi berhenti ibu kembali ambil nafas ya, jangan dipaksa dorong, kita lakukan senormal mungkin... "


sebuah anggukan mengerti arahan sang dokter, Fabiyan bahkan tidak jijik melihat ceceran darah bercampur air ketuban


yang mulai membasahi sekitar.


"Dok.. kontraksi lagi aaghhh " Ratih prameswari kembali mengejan..

__ADS_1


huhh.. huhh.. huh... dada semakin terasa sesak dengan posisi berbaring. saat kontraksi berhenti..


"Ibu Ratih merasa nyaman atau tidak, atau mau mencari posisi mengejan yang nyaman, silakan.. seperti nya Bayi sudah mulai terlihat.."


"Tubuh saya sesak, saya butuh sandaran yang lebih tinggi.. "


Lalu secara inisiatif Fabiyan menopang tubuh Ratih prameswari dari belakang, menjadikan dirinya sandaran yang nyaman .


Sebuah kontraksi kuat terakhir dan Fabiyan memberanikan diri seperti memeluk Ratih prameswari seolah memberi kekuatan lebih untuk berjuang..


"Oke ibu.. kepala bayi sudah terlihat, sekarang ibu Harus mengejan sekuat mungkin tanpa jeda, ayo ibu fokus ke arah saya, genggam apapun untuk menambah kekuatan... "


Ratih menggenggam kuat tangan Fabiyan, sangat kuat sampai membekas saat mengejan sekuat tenaga rasanya seperti mau mati.


Nafas tersengal sengal meraup oksigen secepat mungkin lalu kembali mengejan sekuat tenaga...


Akhirnya..


"Oke ibu.. say bantu tarik ya.... " Saat kepala bayi sudah keluar, dokter tampak membantu menarik sisanya dan Ratih prameswari seketika legaa..


seperti bongkahan beban yang terlepas, huhh.. huhh... huhhh...


nafasnya naik turun dengan cepat, dan masih bersandar lemah di. pelukan Fabiyan..


Fabiyan membantu membenarkan posisi Ratih prameswari pada bantal, mengusap peluhnya.. ikut merasakan sakitnya


bahkan Tadi Fabiyan ikut menangis diam diam..


"Kamu hebat Ratih.. kamu ibu yang kuat.. selamat ya.. " tanpa sadar Fabiyan mengecup singkat kening Ratih prameswari.


Menunggu bayi yang sedang dibersihkan, tampak beberapa suster sedang membersihkan sisa sisa darah dan cairan,


membersihkan tubuh Ratih prameswari dengan lap hangat, mengganti pakaian yang basah karena darah dan keringat dengan baju khusus pasien.


Fabiyan menolehkan wajahnya saat para suster mengganti pakaian Ratih prameswari,


"Sebentar lagi kita inisiasi menyusui dini ya bu.. "


Seorang suster membawa Bayi yang sudah dipotong tali pusatnya dan dibersihkan saluran nafasnya, meletakkan dengan hati hati diatas dada sang ibu.


membiarkan sang bayi menemukan pu ting susunya.


"se.. sebaiknya aku keluar dulu.. " Fabiyan segera keluar ruangan saat sebelumnya Melihat pemandangan yang sangat indah dihadapannya..


bukan hanya sekedar payu dara dari wanita yang merupakan garwo kinasih yang tampak montok berisi , tapi juga makhluk kecil polos yang masih berwarna kemerahan, sangat kecil bergerak gerak mencari sumber makanannya..


...****************...


Bersambung..


Cerita ini tidak sepenuhnya nyata ,juga tidak halu semata..


Like, komen, hadiah ..

__ADS_1


vote dan favoritkan untuk update selanjutnya


Sugeng Rahayu 🙏


__ADS_2