
Ratih bersyukur memiliki kalung dengan kekuatan yang bisa mewujudkan keingintahuannya akan sejarah masa lalu
Tapi Ratih Prameswari masih sebal jika mengingat kalung itu adalah pemberian Rakai pikatan..
***
Selesai mengunjungi situs petilasan eyang prabu Brawijaya yang lebih sering terkenal dengan nama situs eyang kitorekso..
Ratih Prameswari berjalan pulang menuruni undakan pada bukit, sesekali sudut matanya merasakan daya tarik dari arah rawa ,
Karena penasaran maka Ratih Prameswari memutuskan untuk mampir sebentar ke sebuah lokasi wisata yang bersebelahan dengan rawa pening,
Sebuah objek wisata bernama Bukit Cinta, kenapa bisa disebut Bukit cinta ? Padahal ikon yang di tampilkan sendiri adalah patung naga baru klinting..
Setelah mengunakan jasa ojek warga setempat sekitar 10 menit Ratih Prameswari tiba di objek wisata tersebut,
terlebih dahulu membayar sejumlah uang untuk membeli tiket, Ratih Prameswari memasuki area seperti bukit kecil yang suasana nya sangat .. sangat sangat sejuk .. tenang dan damai..
***
Angin dari arah rawa tidak berhenti berhembus, membuai siapapun yang datang,
suasana yang membuat ingin berlama lama duduk menikmati ketenangan disana,
Pada salah satu spot, Ratih Prameswari melihat sebuah peninggalan budaya Hindu berupa Yoni,
Kenapa cuma Yoni ? Tanpa Lingga ?
Ratih Prameswari penasaran, kenapa hanya tersisa Yoni saja , seperti memancarkan sinar otomatis,
Kalung Ratih Prameswari berpendar seolah olah menyampaikan bahwa dia bisa menunjukkan bagaimana kisah dibalik rasa penasarannya..
Namun Ratih Prameswari menolak karena disana ada terlalu banyak orang / wisatawan yang juga sedang menikmati keasrian bukit cinta.
Selesai melihat situs Yoni yang masih terjaga dengan baik dan seperti nya juga banyak para penganut aliran kepercayaan tertentu yang masih melakukan pemujaan karena Yoni tersebut dianggap bertuah atau keramat,
Ratih Prameswari menyusuri jalan memutar disisi Rawa yang.berhubungan langsung dengan tepian bukit,
Bahkan ada beberapa warga lokal yang bersedia menyewakan perahu mereka untuk para pengunjung yang ingin mengelilingi rawa .
Para warga lokal yang menawarkan perahunya itu biasanya adalah mereka yang sudah selesai mencari enceng gondok
Enceng gondok menjadi suatu komoditas lokas khas kota tersebut, biasa' nya akan ada pengepul didesa yang akan memberikan sejumlah uang dihitung per ikat.
banyak sedikitnya upah yang diterima tergantung dari jumlah ikatan Enceng hondi yang disetorkan.
enceng gonsok yang kemudian akan diolah menjadi berbagai bentuk kerajinan seperti berupa anyaman tas , tudung saji dan lain sebagainya.
Hasil kerajinan ini biasanya akan dipajang disepanjang tepian jalan raya ,
"Pak saya mau naik perahu nya ya.." teriak Ratih Kepada salah seorang warga yang nampak menunggui perahu di tepi Bukit.
"boleh mbak monggo.." Dengan senyuman ramah warga tersebut mempersilahkan Ratih menaiki perahu.
__ADS_1
Tentu saja ini adalah salah satu rejeki tak terduga bagi sang warga yang kebetulan ingin beristirahat setelah menyetor beberapa ikat Enceng Gondok pada pengepul didekat balai desa sana.
***
Pria tersebut mendayung perahu semakin ketengah rawa.
Sesekali melontarkan Beberapa pertanyaan kepada Ratih Prameswari,
"Bukan orang sini ya mbak ?" Tanya warga
"bukan pak, kebetulan saja saya sedang lewat daerah sini jadi ingin mampir sebentar.." jawab Ratih Prameswari ramah.
"Sudah lama bekerja di Rawa pening pak ?" gantian Ratih Prameswari bertanya
"Ini sudah pekerjaan turun temurun mbak.. dulunya saya cuma anak kecil yang ikut orang tua bekerja mencari enceng di rawa."
"Keahlian dari orang tua menurun ke saya , sampai saya remaja menggantikan pekerjaan kedua orang tua karena mereka sudah sepuh.." jawab warga tersebut
Nampak tidak ada keraguan saat menceritakan tentang hidupnya kepada orang lain
Justru warga tersebut seperti merasa bangga , karena bisa bekerja di desa sendiri
Tidak perlu ikut ikutan warga lain yang menguji nasib di kota besar,
Penghasilan nya saat ini lebih dari cukup untuk membiayai hidup keluarganya sehari hari.
Ratih Prameswari mengelilingi rawa menggunakan perahu selama kurang lebih setengah jam.
Saat berada di tengah rawa, tidak sengaja Ratih bermain air yang nampak bergejolak lantaran gelombang yang dihasilkan dari perahu yang lewat
Air nya jernih dan terasa segar saat terkena kulit.
Apa kabar desa terkutuk itu dibawah sana..
Ratih Prameswari melamun sejenak saat kembali mengingat kisah dibalik terciptanya rawa pening.
***
Konon dibawah rawa sana terdapat sebuah gerbang pintu masuk,
Seperti jika kita ingin masuk kesebuah perkampungan warga
Gerbang gaib yang dijaga oleh pasukan gaib pula, konon setiap beberapa tahun sekali akan ada sayembara yang diselenggarakan oleh sang penguasa desa.
Meskipun desa gaib namun mereka juga memiliki sistem pemerintahan layaknya dunia nyata
Pernah pada suatu waktu, kepala desa membutuhkan pegawai baru untuk posisi penjaga di gudang lumbung pangan desa.
Karena semua warga sudah mendapatkan posisi dan pekerjaan maka prajurit gaib pun mencari manusia untuk diajak ke desa mereka.
Biasanya saat hal itu terjadi, akan ada saja kecelakaan yang terjadi di sekitar Rawa.
Namun anehnya yang menjadi korban bukan warga asli daerah itu tapi manusia pendatang.
***
Kala itu terjadi kecelakaan saat rombongan wisatawan lokal mengunjungi rawa pening,
__ADS_1
Mereka asik bermain air dan mandi di dalam rawa, saat sesuatu menarik begitu saja salah satu dari mereka.
Begitu salah satu pengunjung Tersebut tertarik kedalam air maka akan langsung terbawa ke gerbang gaib di bawah rawa.
Dan sisa pengunjung lainnya yang berusaha menyelamatkan hanya akan menemukan hal nihil.
***
setiap hari hari tertentu sebuah pasar di kota A akan sangat ramai pengunjung, para penjual bertransaksi dengan para pembeli.
berbagai barang yang dijual digelar disebuah area yang luasnya satu kilometer di sepanjang tepi jalan.
Tidak hanya manusia normal yang melakukan transaksi mencari barang kebutuhan mereka
melainkan warga dari desa terkutuk dibawah air Rawa pening juga ikut bertransaksi di pasar yang dimaksud.
tentu saja hanya orang tertentu yang bisa membedakannya mana warga nyata dan mana yang warga desa gaib.
Mereka akan membayar sejumlah uang saat bertransaksi namun ketika hari berganti, maka uang tersebut aka berubah menjadi setumpuk lembaran daun daun kering.
Hal itu sudah termasuk kejadian yang lumrah terjadi di kota A.
Apalagi wilayah kabupaten yang masih terbilang cukup kental akan kepercayaan magis yang apapun Kejadian akan dikaitkan dengan sejarah nenek moyang.
***
Seharian penuh Ratih Prameswari menikmati waktu libur di sekitar wilayah rawa pening,
hingga hari menjelang senja baru memutuskan untuk melanjutkan perjalanan nya pulang ke kampung halaman.
Tidak perlu mencegat bus antar kota lagi,
Ratih Prameswari cukup menaiki angkutan umum yang akan melewati alun alun kampung tempat tinggal nya
Ada rasa rindu yang tidak terkira saat angkutan yang dinaiki Ratih Prameswari berhenti tepat di alun alun kampungnya .
Bapak... ibuk...Ratih pulang !!!
setelah membayar sejumlah uang sesuai tarif, Ratih Prameswari berjalan jalan disekitar area alun alun.
Tentu saja wajib bagi Ratih Prameswari menikmati terlebih dahulu berbagai hidangan kuliner yang sangat lidahnya rindukan.
Kupat campur, es kacang ijo, nasi goreng pete mana dulu yang mau aku beli...
Menatap lapar pada setiap spot tenda penjual makanan yang disukai.
...****************...
bersambung..
Cerita ini tidak sepenuhnya nyata ,juga tidak sepenuhnya halu
Like, komen, hadiah ..
vote dan favoritkan untuk update selanjutnya
Sugeng Rahayu 🙏
__ADS_1