
3 Tahun kemudian..
Tahun ini menjadi tahun yang istimewa bagi seorang Ratih Prameswari..
Tepat di usianya yang ke 22 dirinya telah berhasil menjadi seorang Sarjana dengan nilai kelulusan terbaik di jurusan nya.
Ratih Prameswari juga mendapatkan posisi 5 besar Mahasiswi berprestasi di kampus.
Membuat dirinya semakin terkenal dikalangan dosen dan mahasiswa.
Ini adalah pembalasan terbaik untuk orang yang sudah membully aku dulu, prestasiku jauh diatas mereka..
Tentu saja Ratih Prameswari pun merasa bangga akan pencapaian nya saat ini.
Kedua orang tua Ratih Prameswari juga ikut terharu saat menghadiri acara wisuda tempo hari.
Dan kedua orang tua Ratih juga semakin sering bertemu dengan Raymond.
Raymond semakin dekat dengan Bapak Yitno, jika bertemu pasti ada saja hal hal yang mereka bicarakan,
padahal kalau dilihat dari latar belakang mereka berdua sama sekali tidak nyambung.
Bapak Yitno yang hanya tetua adat di kampung, sedangkan Raymond tuan muda kaya dari kota.
Entahlah..
Apa yang membuat keduanya cocok saat ngobrol, Ratih Prameswari tidak pernah mau ambil pusing akan hal hal sederhana disekitar nya.
Anggap saja itu hanya hubungan Antara dua orang pria beda generasi yang bisa saling melengkapi tanda tanya didalam diri masing masing.
***
Ratih Prameswari mendapatkan banyak sekali tawaran pekerjaan, dari dinas kebudayaan kota menawarkan Ratih untuk bergabung sebagai staff mereka.
Sementara pihak kampus juga menginginkan Ratih Prameswari menjadi dosen di kampus saja, ilmu yang sangat mumpuni jangan sampai tersia siakan.
Ada juga dari pihak swasta penggiat seni dan sejarah tanah jawa mengajak Ratih untuk bergabung sebagai tim khusus dalam menggali berbagai informasi dari para leluhur nenek moyang tanah jawa.
Bahkan tidak ada orang yang mengetahui bahwasanya Ratih Prameswari sudah menguasai cerita sejarah dibalik sejarah yang tertulis.
Ratih Prameswari selalu bisa menyampaikan alasan atau menceritakan sebuah kisah yang berbeda dari catatan sejarah.
Penjelasan Ratih Prameswari tentang leluhur tanah jawa yang out of the box membuat dirinya semakin terlihat istimewa dikalangan para penggiat seni budaya sejarah tanah jawa.
***
Ratih Prameswari masih sering mengunjungi toko buku tempat dia bekerja dulu, kini Ratih sudah tidak bekerja disana. Tapi beberapa hari sekali pasti mengunjungi ibu Weni sang pemilik toko buku.
"Ibu bangga lo nduk kamu bisa jadi Sarjana yang sukses.." ucap bu Weni saat keduanya sedang minum wedang ronde didekat toko buku.
__ADS_1
Kebetulan hari ini Ratih datang berkunjung..
"Saya juga banyak berterima kasih buk.. sudah mengijinkan saya bekerja ditoko ibu, Bahkan membolehkan saya meminjam macam macam buku untuk tugas kampus hehe.."
kenang Ratih kala mengingat Betapa beruntungnya dia dipertemukan dengan orang orang yang saling memberi manfaat.
***
Seperti menemukan keluarga baru, keduanya tidak ingin hubungan mereka berakhir singkat semata karyawan dengan bos nya.
Ibu Weni menganggap Ratih Prameswari seperti anak sendiri, karena memang hingga saat ini bu Weni belum berkeluarga.
"Jadi, kamu sudah memutuskan mau kerja dimana Ratih ?" tanya bu Weni sambil menyeruput wedang ronde nya
"Ratih masih agak bingung buk hehe.. masih ada waktu beberapa Minggu untuk mengambil keputusan akhir.." jawab Ratih yang ikut menyeruput wedang ronde hangat miliknya.
"Enaknya jadi orang pintar itu ya gitu nduk, pekerjaan yang mencari kita.. kadang sampai kita sendiri dibikin bingung mau pilih yang mana.."
kata bu Weni sambil mengulurkan sebungkus kerupuk kulit ikan kepada Ratih.
***
"Takutnya kalau Saya salah ambil pilihan buk.. makanya semua tawaran kerja Ratih minta waktu buat kasih jawaban,"
"Karena Ratih juga tidak mau jika suatu saat pilihan yang Ratih ambil ternyata keliru.."
"Betul nduk, pikirkan betul betul mana yang membuat kamu nyaman menikmati pekerjaan yang kamu pilih nantinya.. "
"Jangan sampai hanya karena gaji yang besar terus kamu jadi melupakan jati diri mu dalam bekerja.."
"Ibuk paham betul, kamu punya karakter yang kuat nduk, jadi jangan sampai memilih pekerjaan yang nantinya justru membuat kamu hilang karakter kuatmu itu !"
bu Weni bicara santai namun terdengar cukup serius.
***
"Makasih lo buk , sudah selalu memberi masukan buat Ratih, ibuk sudah Ratih anggap seperti orang tua Ratih juga hehe.." ucap Ratih sembari menyendok mamahan kolang kaling dalam wedang ronde.
"Orang tua kamu di kampung pasti bangga sekali sama kamu nduk.. benar benar anak yang mengangkat derajat kedua orang tua.." kata bu Weni yang benar benar ikut merasakan bangga.
Mereka berdua melanjutkan obrolan yang ringan sembari menghabiskan wedang ronde masing masing,
kedai wedang ronde dan angkringan nasi kucing adalah salah satu saksi perjuangan Ratih Prameswari ketika hidup prihatin menjalani hari hari sebagai mahasiswi perantauan dengan kondisi ekonomi yang sangat dramatis hehe..
***
Kini dua mangkuk wedang ronde hangat telah habis, dan setelah membayar sejumlah uang kepada si penjual ,Ratih Prameswari dan Bu Weni berpisah lagi.
ibu Weni kembali kedalam toko sementara Ratih Prameswari hendak pulang kekostan.
__ADS_1
Berjalan malam sendirian menikmati suasana yang cukup teduh, bulan nampak bersinar terang dan bintang bintang bertaburan dikesunyian malam.
Angin yang berhembus kebetulan sangat memanjakan kulit Ratih Prameswari.
Memutuskan untuk duduk sebentar di dekat taman kampus yang memang berlokasi dekat dari tempat kost nya.
Hanya duduk, sambil mengenang kembali bagaimana perjuangan nya dari awal masuk ke kampus hingga kini berhasil menjadi seorang sarjana dengan rentetan tawaran pekerjaan.
Ratih Prameswari berangan angan, jika suatu saat dirinya ingin merenovasi rumah orang tuanya di kampung.
Apa artinya aku harus memilih pekerjaan dengan gaji besar ya..
Menjadi staf di kantor kebudayaan kota seperti nya pilihan yang tepat deh, namun sesaat kemudahan tampak berpikir lagi,
Jika pilih gaji besar tapi aku justru tertekan sama tanggung jawab pekerjaan gimana dong..
Karena jujur saya Ratih memiliki jiwa muda yang masih ingin bebas mengeksplorasi kemampuan dirinya.
Pekerjaan mana yang tidak membuat aku tertekan tapi sekaligus gajinya juga lumayan ?? hhmmm..
Menepuk nepuk telunjuk pada dagu..
Kalung ini akan sampai kapan tersemat ditubuhku..
Menyentuh kembali kalung dilehernya, yang akhir akhir ini jarang berinteraksi,
mbakyu Sanjivani yang juga semakin jarang mengajak Ratih Prameswari kemasa lalu.
Andai saja aku punya kemampuan untuk keluar masuk sesuai keinginanku di era manapun di masa lalu.. pasti seru banget hidupku !!
Sekali lagi bergumam sendiri dalam hati memikirkan bagaimana rasanya jika dirinya bisa menembus dimensi waktu ke dunia kuno tanpa menunggu ijin atau bantuan dari mbakyu Sanjivani,
untuk mencari tahu fakta kebenaran antara arsip catatan sejarah yang ada di masa sekarang dengan apa yang sebenarnya terjadi di masa lampau..
Lamunan semakin merenggut kesadaran Ratih Prameswari, semakin tenggelam memikirkan berbagai hal ini dan itu..
Malam semakin larut namun Ratih Prameswari masih enggan beranjak dari bangku taman yang sudah nampak sepi pengunjung..
...****************...
Bersambung
Cerita ini tidak sepenuhnya nyata ,juga tidak sepenuhnya halu
Like, komen, hadiah ..
vote dan favoritkan untuk update selanjutnya
Sugeng Rahayu 🙏
__ADS_1