Diam Cupu, Ternyata Ratu

Diam Cupu, Ternyata Ratu
Bab 83 Wes titi wancine


__ADS_3

Ratih Prameswari sudah siap kembali ke perantauan..


Dia benar benar akan naik bus antar kota,


"Bapak ibuk... Ratih pergi dulu ya.. "


sembari Salim kedua tangan orang tuanya..


Ratih Prameswari selalu merasa haru jika pamit meninggalkan orang tuanya,,


***


"Jangan lupa telpon ibuk kalau sudah sampai di mess ya nduk.."


kata Ibuk yang mengantar kepergian anaknya hingga jalan raya tempat mencegat bus antar kota.


"pasti buk.. nanti Ratih pasti akan langsung kabari begitu tiba di mess.."


ibu dan anak itu berpelukan dengan haru..


"ibu..."


Hampir ingin menangis..


"nduk... jangan nangis.. ayo semangat demi masa depanmu !!"


usap usap punggung anaknya..


***


Sementara itu bapak Yitno tidak ikut mengantar karena ada tamu ,


2 jam yang lalu..


"Lhoh buk.. kok ada mobil nak Fabiyan disini ?"


tanya Bapak yang baru saja selesai membantu dirumah tetangga yang punya hajat kepada istrinya..


"Tumben kesini gak ngabari dulu ya pak, ayo kita temui dulu kasihan kalau nunggu lama.."


Bapak dan ibu berjalan lebih cepat dan melihat Fabiyan sedang duduk sendirian diteras dengan satu kaki bertumpu pada kaki lainnya.


"Ngger... sudah lama disini ?" tanya Ibuk cepat.


"Mboten buk.. Ini .. saya... anu...hhhmmm..."


Bingung mau bilang apa, masa iya Fabiyan harus bilang kalau dirinya nungguin Ratih ,


Takut akan ada berondongan pertanyaan yang akan membuat tidak nyaman.


"Sudah dari tadi kok buk.. kebetulan anak ibuk yang bukain pintu hehe.."


garuk garuk kepala yang gak gatal.


"wes.. wes.. ayo masuk dulu.."


Bapak ikut menghampiri dibelakang ibuk ikut menyapa Fabiyan.


"sugeng sonten pak.."


Fabiyan meraih tangan kanan pak Yitno lalu salim


Setelah itu mereka masuk keruang tamu..


duduk seperti biasa' jika sedang bertamu.


Ratih Prameswari memang sengaja meminta Fabiyan nunggu diteras soanya Ratih mau membersihkan badan lalu bersiap siap .


***


"nduk Ratih !! kamu dikamar ?" kata Ibuk dari luar pintu kamar Ratih.


ceklek...

__ADS_1


suara pintu terbuka


"njih bu.. Ratih lagi siap siap ini kan besok udah masuk kerja.."


Mempersilahkan ibunya masuk ke kamar lalu fokus kembali membereskan barang barangnya..


"Jadi pulang sekarang ya nduk.." nada suara agak sedih terdengar dari mulut ibuk yang ikut duduk ditepi ranjang


"Rasanya baru kemarin kamu itu lahir, ibuk masih inget banget waktu kamu kecil, aleman, cengeng.. ehh sekarang sudah besar, sudah berani hidup sendiri di perantauan.."


tesss...


sebuah bulir air menetes tanpa permisi dari ujung mata ibuk..


"Lho... ibuk jangan nangis buk... "


Ratih menghadap ibunya lalu mengusap air yang membasahi pipinya..


"Ratih bisa seperti sekarang ini karena ada ibuk dan bapak yang selalu mendukung apapun keputusan Ratih.."


"Bapak dan Ibuk adalah kekuatan Ratih untuk bertahan dan berjuang.."


"jangan pernah menangisi anakmu ini buk... ganti dengan untaian doa saja buat Ratih.. Doakan supaya Ratih bisa jadi anak yang semakin membanggakan, bisa membahagiakan bapak sama ibuk sampai akhir.."


Ratih memeluk erat tubuh renta ibuknya...


rasa haru ikut menyusup kedalam relung hatinya..


Keduanya sejenak saling mentransfer energi kasih sayang sebelum melepas pelukan.


"Yaudah nduk... ibuk mau bikin minuman dulu buat tamu bapak.."


ibuk beranjak dari kamar Ratih,


***


"Katanya kamu tadi yang bukain pintu buat dia ya, dia itu laki laki yag sering bertamu kesini nduk,sudah bertahun tahun kenal sama bapakmu..'


ucap ibuk sambil berlalu menuju dapur.


"Owh iya ya bu, orang mana sih dia ?"


tanya Ratih tentu saja seperti tidak tahu apa apa


"Dia bukan orang daerah sini, katanya dia berasal dari kota xx , tiap kesini pasti sama sodaranya.."


"Namanya Biyan nduk.. dulu banget awal awal dia kesini karena lagi ada masalah, "


biasalah setiap orang pasti punya masalah,


"Biyan waktu itu dijodohkan sama keluarga nya, tapi dia menolak.."


"Lalu diajak kesini sama Rey, minta solusi sama bapakmu.."


"Bapakmu bilang kalau wanita yang dijodohkan dengannya itu bukanlah garwo kinasihnya, dan wanita itu juga pakai semacam ilmu ilmu pengasihan gitu supaya keluarga Biyan luluh.."


"entah bagaimana tapi ilmu pengasihan itu gak bisa mempengaruhi Biyan.."


"Lalu Biyan memutuskan untuk pergi dari keluarganya.. dia janji akan pulang suatu saat nanti setelah menemukan jodoh sejatinya, "


"orang kaya masalah nya ada ada aja ya nduk.."


ibuk bercerita panjang lebar sembari membuat segelas teh hangat untuk bapak dan kopi untuk Fabiyan.


"Kalau kita boro boro ya nduk, buat bertahan hidup aja udah susah.. apalagi waktu itu bapak sama ibuk fokus menyekolahkan kamu.."


lanjut ibu mencari sebuah nampan untuk wadah minuman.


"iya buk.. meskipun kita hidup susah tapi gak pernah punya masalah sampai harus pergi dari keluarga.."


...5 Tahun yang lalu Fabiyan sudah pernah hampir menikah karena perjodohan...


...sedangkan Ratih Prameswari 5 tahun yang lalu masih jadi seorang mahasiswi cupu yang sering dibully , masih semester pertengahan....

__ADS_1


"Bapak sama ibuk jangan terlalu dekat dengan Biyan dan Rey ya... "


Ratih menahan tangan ibuk yang hendak membawa nampan.


"Biar bagaimanapun mereka berdua itu orang asing bagi kita bu.. kita gak tahu bagaimana keluarga besar mereka.. Cukuplah kita bersyukur dengan yang kita miliki dikampung ini , Ratih gak mau ada pengaruh kekuasaan sebuah nama keluarga yang nantinya membuat bapak dan ibuk kesusahan.."


Kedua mata Ratih sedikit berembun saat mengucapkan kalimat itu.


"Kamu ini kenapa to nduk kok jadi mewek gitu "


"udah Udah sana kalau sudah selesai siap siapnya ibuk anterin sampai jalan raya.."


ibuk kemudian berlalu menuju ruang tamu..


"ya buk.."


***


Ratih segera menyelesaikan packingnya..


Meskipun dirinya sempat terjerat pesona Fabiyan Atmaja,


yaaa wajar karena mereka adalah satu jiwa dua raga..


garwo.. sigaraning jiwo..


Sebuah ikatan yang tidak bisa diubah karena itu sudah menjadi ikatan pati antara keduanya..


Hati nurani yang sempat goyah karena getaran getaran halus itu sangat membuai, kedua hati milik Ratih dan Fabiyan seperti ingin berloncatan menghampiri satu sama lain,


...seperti dua kutub magnet yang saling tarik menarik, apalagi jika didekatkan gaya tarik nya semakin kuat...


hati mereka yang ingin bersatu namun ego masih membatu


***


Ratih dan ibuk berpelukan penuh rasa haru dan sayang saat sudah menunjukkan waktu sebentar lagi bus akan tiba,


"5 menit lagi buk.."


"Ibuk dan bapak jaga kesehatan selalu ya... jangan bekerja terlalu capek !"


"Doakan rejeki anakmu ini supaya tiap bulan bisa transfer semakin banyak.."


sebuah ucapan yang diselingi tawa untuk mengurangi rasa sedihnya


***


Ratih menggenggam erat tangan ibuknya..


tubuh orang tuanya semakin renta..


sudah beberapa kali bapak dan ibu meminta Ratih untuk segera menikah,


sebuah keinginan orang tua yang belum siap Ratih kabulkan..


Bahkan keinginan orang tuanya itu adalah hal yang sama sekali tidak ingin dia lakukan..


Masih memilih melawan takdir..


Meskipun takdir itu sendiri lambat laun semakin mencengkram Ratih Prameswari..


wes titi wancine...


Sudah saatnya..


...****************...


bersambung..


Cerita ini tidak sepenuhnya nyata ,juga tidak sepenuhnya halu


Like, komen, hadiah ..

__ADS_1


vote dan favoritkan untuk update selanjutnya


Sugeng Rahayu 🙏


__ADS_2