
Bukankah masih ada puluhan penumpang didalam pesawat yang mengantri untuk turun..
Apalagi Fabiyan dan Ratih sama sama mengenakan masker jadi ..
saat pandangan mata keduanya bertemu seperti berkata..
..."Kamu lagi !!??"...
Ratih Prameswari mendengus kesal, lagi lagi bertemu Fabiyan. Meskipun waktu itu Ratih sudah menyanggupi untuk memulai semua dari awal, tapi kan waktu itu Ratih berpikir tidak akan bertemu Fabiyan lagi,
Lantaran Fabiyan sudah tidak bekerja di kota K, sedangkan masa cuti Ratih waktu itu sudah habis dan kalau dia sudah kembali bekerja otomatis tidak perlu khawatir.
Tapi eh ini... takdir sungguh benar benar mempermainkan keputusan Ratih Prameswari.
disaat dirinya ingin menghindari justru takdir mempertemukan lagi.
sedangkan Ratih Prameswari sudah bertekad tidak akan mau menikah dengan reinkarnasi rakai Pikatan.
sementara Fabiyan si reinkarnasi Rakai Pikatan justru sangat ingin memiliki titisan garwo Kinasihnya
***
"Eh Fabiyan.." sapa Ratih dengan ekspresi senyum datar dan biasa saja.
"Bukankah ini adalah takdir kita Ratih ?" sangat bahagia bisa bertemu pujaan hatinya lagi.
Fabiyan sangat senang karena ternyata pertanyaan batinnya terjawab .
"Takdir apaan sih, ah iya aku duluan ya Biyan, udah dijemput hehe, bye.." ucap Ratih Prameswari yang pergi begitu saja setelah mengantri mendapatkan koper nya.
Fabiyan menatap punggung kepergian Ratih Prameswari dengan tatapan yang sulit dimengerti.
Ada apa denganmu...
Fabiyan merasa tiba tiba sikap Ratih berubah seratus delapan puluh derajat, bukankah belum ada sebulan sejak pertemuan terakhir mereka, kini kenapa kembali seperti orang asing.
Fabiyan menghembuskan nafasnya lalu berjalan keluar menuju sebuah armada yang sudah siap mengantar ke tempat menginapnya.
Sepanjang perjalanan menuju hotel, pikiran Fabiyan semakin kalut, sebegitu besar efek seorang Ratih Prameswari, yang bahkan tidak berkata apapun tapi mampu mengobrak abrik hatiku.
Memejamkan mata sejenak ingin kembalikan fokus pada tujuan awalnya ke pulau Dewata.
***
Ratih Prameswari tiba di penginapan pada sore hari,
setelah melakukan cek in pada resepsionis Ratih Prameswari masuk kesebuah kamar nomor 88.
Sebuah kamar yang lebih mirip resort atau villa, dimana seluruh peserta observasi dari berbagai wilayah akan tinggal disini selama 7 hari 6 malam.
Ratih membuka jendela kamarnya dan ..
__ADS_1
hembusan angin semilir lembut menerpa wajahnya, rambut hitamnya yang terurai nampak melambai lambai Seperti ikut menikmati terpaan angin.
Matur nuwun Gusti, hidupku penuh berkah...
Sekali lagi Ratih Prameswari menghirup dalam dalam oksigen dari resort yang menghadap kearah selatan, artinya angin yang berhembus membelai ini berasal dari arah laut lepas.
Meskipun Laut tidak kelihatan tapi suasana resort penginapan yang terletak di wilayah perbukitan membuat udara terasa sejuk dan segar.
Puas menikmati semilir angin dari jendela kamar, Ratih Prameswari mulai membuka dan membereskan isi kopernya.
Ada sebuah lemari kayu disamping ranjang, disitulah Ratih Prameswari meletakkan semua pakaian yang dia bawa.
Lalu kamar mandi, sebuah kamar mandi dalam dengan bathup dan juga shower dengan pilihan air dingin dan air hangat.
Ratih meletakkan perlengkapan mandinya, kemudian Ratih membersihkan diri sebentar sebelum keluar untuk makan malam.
***
Acara pada hari pertama memang hanya cek in setiap peserta, pihak penyelenggara memberikan waktu semalam ini untuk acara bebas, biasanya para peserta akan berkumpul diruang pertemuan untuk lebih saling mengenal.
Ratih Prameswari berusaha membaur diantara puluhan peserta yang hadir. Mencoba memasang ekspresi ramah meskipun tidak pintar berinteraksi dengan orang lain tapi Ratih Prameswari juga bisa langsung nyambung saat diajak ngobrol tentang berbagai hal .
penampilan Ratih Prameswari malam ini sederhana saja, memakai rok hitam dibawah lutut dengan blouse berwarna putih tulang. Rambut sengaja di gerai dengan hiasan jepet mutiara disatu sisi.
Tidak masalah jika tidak seglamour yang lain, selama ini membuat Ratih nyaman ..
Kulit sawo matang Ratih Prameswari memang mengesankan sekali kalau dia orang jawa tulen,
Ratih hanya membalas dengan senyuman manis saat ada beberapa peserta yang "mungkin" seperti menertawakan penampilan nya.
cupu ? so what..
batin Ratih sudah menerima diri sendiri apa adanya, sudah Enjoy dengan apa yang dia miliki saat ini bahkan dirinya selalu bersyukur atas apa yang Gusti maha Agung berikan padanya.
Merasa tidak banyak yang ingin berteman dengannya Ratih Prameswari memilih menikmati hidangan makan malam yang disediakan secara prasmanan.
Mengambil sepiring porsi makan malam serta satu gelas air putih, Ratih Prameswari memilih meja yang kosong di pojok ruangan.
Saat sedang menikmati makan malamnya, seseorang nampak berjalan mendekat kearah meja tempat Ratih duduk.
Kemudian orang tersebut duduk tepat dibangku seberang Ratih Prameswari.
Ratih yang merasa ini adalah tempat umum dan siapa saja bebas duduk dimanapun, tetap fokus menikmati makanan nya.
melirik saja tidak hehe..
"Kamu masih sama seperti yang dulu.." kata seseorang itu,
Ratih sontak mendongakkan kepalanya dan agak terkejut dengan siapa dia bertemu,
"Hai.." kata seseorang itu tersenyum manis seperti dulu saat mereka masih kuliah
__ADS_1
"Hai juga.." jawab Ratih dengan membalikkan senyuman yang sama.
"Kamu masih lebih suka menyendiri dibandingkan bersosialisasi dengan yang lainnya.." satu tangan pria itu menyangga dagu
mengamati Raut wajah Ratih Prameswari yang semakin, cantik..
"Ahh hhmm.. Makan dulu.." Ratih menunjukkan sendok lalu melanjutkan sisa makanannya.
si pria nampak sabar menunggu Ratih sampai selesai makan, bahkan saat Ratih mengulur waktu dengan memakan berbagai cemilan dengan maksud menghindari orang tersebut..
Tapi sampai menit terakhir Seseorang itu tetap mengekor i ruang gerak Ratih Prameswari.
Orang orang banyak yang berbisik bisik,
Kenapa itu anak beruntung banget sih..
*Siapa wanita beruntung itu yang sedari tadi mencuri perhatian pria tampan pemilik tempat ini huhuhuu..
Siapa pria tampan itu, kenapa mengekor i wanita cupu itu sih*,
Dan banyak bisik bisik lainnya yang membuat Ratih Prameswari risih sebenarnya,
Dia tidak mau dengar tapi suara mereka terdengar , merasa tidak enak hati Ratih Prameswari memutuskan untuk keluar dari ruang makan malam.
Duduk disebuah bangku depan taman ruang pertemuan, Ratih bersandar menikmati Heningnya malam.
disini lebih nyaman daripada didalam sana...
Tanpa Ratih sadari pria itu mengikuti dan ikut duduk dibangku sebelahnya.
"Apa kamu sengaja menghindari aku Ratih ?" tanya pria itu
"Ahh enggak kok, Apa kabar kak ?" mulai basa basi ala Ratih Prameswari.
"Apakah ini suatu kebetulan atau memang Tuhan sedang ingin mempertemukan kita ya ?" Senyum tampannya selalu paripurna.
"Anggap saja kebetulan kak.." jawab Ratih
"Oh iya .. kok kak Putra bisa ada disini juga ?"
Ratih mencoba bersikap wajar, meskipun ada rasa tidak nyaman karena yang saat ini berada disampingnya adalah pria paling populer sekaligus pujaan hati seluruh penghuni kampus dulu..
...****************...
bersambung..
Cerita ini tidak sepenuhnya nyata ,juga tidak sepenuhnya halu
Like, komen, hadiah ..
Vote dan favoritkan untuk update selanjutnya
__ADS_1
Sugeng Rahayu 🙏