Diam Cupu, Ternyata Ratu

Diam Cupu, Ternyata Ratu
Bab 77 Jalur perpisahan


__ADS_3

Seorang wanita harus selalu mengangkat wajahnya, tidak boleh menunduk karena itu menunjukkan kelemahan.


setidaknya angkat wajahmu, tunjukkan sisi tegasmu , jangan mau terlihat lemah saat berada ditempat asing seperti antah berantah..


***


Nurul sangat sigap dan cepat saat menyiapkan api unggun kecil..


sementara Ratih Prameswari mengeluarkan berbagai macam perbekalan untuk konsumsi.


ada mie instan, kopi instan, minuman serbuk jahe instan, jagung pop juga, roti dan lain sebagainya.


Mereka akan memasak menggunakan alat masak khusus pendaki.



sementara Nurul menyiapkan tempat istirahat sekaligus alas untuk tempat makan mereka, Ratih Prameswari mulai sibuk mengolah bahan makanan yang dia bawa,


Menyalakan kompor kecil berbahan kabar parafin sekali pakai, Memasak nasi sekalian memasak mie instan ditumpukkan yang sama.


Hal ini sudah merupakan ilmu para pendaki saat menyiapkan menu makan praktis dadakan.


Pada nesting bagian bawah digunakan untuk memasak nasi, Kebetulan Ratih membawa takaran beras untuk sekali makan, setelah air mendidih beras yang dibungkus plastik khusus makanan tersebut dimasukkan kemudian ditutup dengan satu lagi nesting diatasnya untuk memasak mi instan.


40 menit kemudian kedua menu sudah siap tersaji.


Setelah Ratih mengangkat kedua menu , dia melanjutkan dengan masakan selanjutnya dengan nesting yang sudah di bersihkan sebelumnya,


memanaskan sarden kalengan sebagai lauk tambahan,


disisi lain, Nurul memasak Air menggunakan teko yang dia bawa, teko kecil seukuran dua gelas 500ml.


pas untuk menyeduh kopi atau minuman hangat lainnya.


seperti tim yang bekerja sama dengan kompak keduanya menyelesaikan menu makanan dengan telaten.


"kamu masak banyak Ratih nasi sama sardennya.." kata Nurul


"iya kak ini bisa buat sarapan kita besok, " jawab Ratih


mereka berdua duduk menghadap menu masakan yang sudah siap santap.


Menikmati hidangan mumpung masih panas, meskipun panas tapi tidak terasa panas saat dimakan di dalam cuaca dingin.


Namun baik Nurul maupun Ratih tetap menunggu makanan hangat baru di makan, mereka berdua Takut bibir akan pecah pecah esok hari karena efek makanan panas di udara yang sangat dingin.


"Besok pagi kita tinggal bikin lauk hangat lagi kak"


kata Ratih sembari meniup nasi yang dicampur mie dan sarden pedas.


"pagi giliran aku yang nyiapin lauk deh.." kata Nurul yang juga tengah asik menikmati makan sebelum tidur.


"Oh iya kak Nurul mau turun lewat jalur mana besok ?" tanya Ratih Prameswari..


ouugghhh sedap sekali makanan ini.. apa karena efek lapar dan suhu rendah ya


"Aku mau turun lewat jalur yang sama Tih, soal aku mau mampir membeli sesuatu di pasar dekat desa B hehe.."


jawab Nurul , yang nampaknya sudah memiliki rencana untuk esok hari

__ADS_1


"Kita bakal turun bareng kan ?" Nurul asik mengunyah sarden tuna hangat nya..


"Hhmm sorry kak Nurul, aku udah ada rencana lain.."


"Aku mau lanjut lewat jalur kearah Gedong songo kak, "


kata Ratih bersemangat.


"Gedongsongo itu apa Tih ?" tanya Nurul keheranan karena baru pertama kali mendengar nama tersebut.


"Gedongsongo itu nama tempat kak, disana selain ada jalur untuk pendaki juga terdapat objek wisata gugusan candi disebelah nya.."


Ratih menjelaskan tujuannya..


Tentu saja sekalian turun gunung sekalian mampir ke candi.. oughh kenapa aku suka sekali sama candi..


"Hhmm oke deh, kita akan berpisah besok jadi mari kita pesta !!!"


Maksud Nurul tentu saja mereka harus menghabiskan bahan makanan yang mereka bawa


supaya saat turun gunung nanti tas Cartier tidak terasa berat heheh..


Selesai makan nasi dicampur mie kuah dan sarden pedas, Nurul lanjut bikin jagung pop..


tentu saja buat camilan teman ngopi mereka.


dua cangkir kopi jahe menemani dua wanita tersebut yang sama sama jatuh cinta dengan alam..


Hhoaammm....


keduanya menguap bersamaan..


"Kayaknya udah waktunya kita istirahat di bivak masing masing deh" ucap Nurul


mengumpulkan sampah jadi satu dikantong plastik,


aturan pendaki pecinta alam sejati adalah,


...bawa sampahmu kembali turun bersamamu...


Setelah semua beres, api unggun yang semakin redup dibiarkan begitu saja.


Nurul dan Ratih mulai memasuki dunia pribadi Masing-masing yaitu alam mimpi..


***


Mereka berdua meskipun tidur saat pukul 03.00 dini hari namun tidak membuat mereka bangun kesiangan..


Menjelang matahari terbit mereka berdua sudah terbangun dan kini sedang berada diluar menikmati udara pagi yang segar.


"Mau jalan keatas gak lihat matahari terbit ??" tanya Nurul.


"kak Nurul aja sana, biar aku disini aja jagain tempat camping kita.."


ucap Ratih bersedekap tangan.


"Oke bentar aja , aku langsung balik kesini pas matahari udah terbit, aku penasaran soalnya sama view sunrise dari atas.."


Nurul pergi begitu saja membawa tas kecil berisi botol minum.

__ADS_1


Ratih kembali duduk menikmati suasana pagi yang berembun..


Dingin.. sejuk.. damai.. tenang... ahhh akhirnya aku bisa refresh pikiran...


Menghirup oksigen dalam dalam melalui hidung lalu dihembuskan pelan lewat mulut.


Matahari mulai meninggi Nurul belum kembali dari atas bukit,


jadilah Ratih Prameswari yang kembali menyiapkan makanan dan juga minuman hangat sebelum keduanya berpisah saat turun gunung nanti.


***


Selesai makan dan membereskan peralatan camping, sebungkus sampah plastik bungkus masakan tadi malam dibawa Nurul untuk dibuang di bawah, di pos pertama.


"Senang bisa menikmati alam bebas bersama kamu Ratih.."Nurul menjabat tangan kanan Ratih


"Kita memiliki pengalaman seru berdua disini.." lanjut nya..


"sama sama kak Nurul.. aku juga senang bisa dapat teman seperjalanan yang menyenangkan seperti kak Nurul"


ucap Ratih membalas jabatan tangan kanan Nurul.


mereka berdua berpelukan hangat sesaat sebelum benar benar berpisah pada jalur masing masing..


***


Ratih Prameswari melewati Jalur penurunan kearah gedongsongo seorang diri.


Hari sudah sangat terik namun itu tidak menyurutkan semangat Ratih.


Suasana gunung sukses membuat Ratih Prameswari menjadi pribadi yang lebih segar dan tegar tentunya,


perjalanan berjam jam membuat Ratih Prameswari harus berhenti untuk istirahat sebentar.



Sejenak melepas lelah dengan duduk dibawah pohon sambil menikmati beberapa tegukan air mineral dari botol yang dia bawa..


Menjelang sore suasana sudah mulai dingin, kompleks pendakian gedong songo sudah mulai terlihat, tentu saja itu membuat Ratih Prameswari semakin bersemangat


jalan turunan yang membutuhkan kekuatan kaki dalam melangkah, supaya jangan sampai terpeleset, meskipun tidak melewati tepian jurang tapi jalan bebatuan akan cukup membuat pantat nyeri jika terjatuh.


Suara hewan diarea camping gedong songo mulai ramai bersaut sautan, sekarang menunjukkan pukul 15.00 sore.


Ratih Prameswari memutuskan untuk menyewa sebuah kamar , biasanya warga sekitar menyediakan kamar untuk menginap para pendaki yang tidak membawa tenda atau bivak


dan lagi Ratih Prameswari sudah malas kalau disuruh menyiapkan bivak ditempat ini, karena area gedongsongo sudah masuk kawasan wisata yang memiliki Fasilitas yang terbilang cukup lengkap.


Ratih Prameswari istirahat sebentar didalam kamar yang dia sewa sebelum membersihkan tubuhnya.


Dia berencana untuk mandi di pemandian air panas yang terdapat disalah satu sumber belerang di area kawasan candi gedongsongo.


...****************...


bersambung..


Cerita ini tidak sepenuhnya nyata ,juga tidak sepenuhnya halu


Like, komen, hadiah ..

__ADS_1


vote dan favoritkan untuk update selanjutnya


Sugeng Rahayu 🙏


__ADS_2