Diam Cupu, Ternyata Ratu

Diam Cupu, Ternyata Ratu
Bab 44 Awal perpisahan


__ADS_3

RAKAI WALAING PU KUMBHAYONI


"Apa katamu mbakyu ?" Ratih sangat terkejut mendengar sebuah nama yang terlontar dari mulut Sanjivani


Nama itu sangat melegenda bersama dengan masa kekuasaan Rakai Mamrati dan Ratu Dyah Pramodhawardani. Sebuah nama milik seseorang yang misterius hingga kini tidak ada fakta yang menjelaskan secara gamblang asal usul pria tersebut.


(Disini author hanya akan membuat kisah versi halu ya reader, tidak sepenuhnya berkaitan dengan sejarah asli yang kebenarannya telah terkubur dalam kehancuran prasasti, dimana prasasti adalah sebagai barang bukti otentik jejak suatu tokoh pada masanya 🙏)


***


Pu Kumbhayoni adalah seorang pria yang berasal dari daerah Walaing, suatu wilayah yang dekat daerah Pikatan , Tanah jawa.


pu Kumbhayoni adalah keturunan asli dinasty Sanjaya, sama seperti Rakai Pikatan dia juga memiliki keinginan untuk mengagungkan kembali aliran Hindu / Sanjaya di marcapada khususnya tanah jawa.


Kenapa harus tanah jawa ? apa yang membuat tanah jawa begitu istimewa dibandingkan wilayah lain di Marcapada ?


***


Karena Tanah jawa adalah tanah hadiah dari sang hyang tunggal untuk para dewa dan dewi di khayangan yaitu eyang ismaya dan bethari kanestren. Eyang ismaya dan istrinya betari kanestren pertama kali memijakkan kaki di tanah jawa, bubak alas membangun wilayah yang bisa dihuni para makhluk berdampingan.


Jauuuhhhh sekali sebelum masa peradaban seperti kisah pewayangan ramayana, dua bangsa sebelum manusia.


Dua bangsa sebelum manusia adalah jaman pembagian wilayah untuk golongan lelembut baik dan lelembut jahat, bangsa lelembut itu sendiri adalah keturunan dari para dewa (baik) dan Asura (jahat).


Harapan awal eyang ismaya dan bethari kanestren adalah supaya kedua bangsa dapat hidup rukun berdampingan selamanya, namun ternyata seiring berjalannya waktu dua bangsa juga sering berseteru memperebutkan wilayah kekuasaan,


***


sedikit flashback..


Pada saat Maharaja gusti Samaratungga membuka sayembara pembangunan bangunan suci , pu Kumbhayoni juga ikut serta dalam mengajukan ide sketsa, Bahkan dua desain yang dibawa sang Mahapatih Gupala adalah milik Rakai Pikatan dan Pu Kumbhayoni, namun Maharaja gusti Samaratungga lebih tertarik pada sketsa milik Rakai Pikatan.


Sejak saat itu diam diam pu Kumbhayoni mulai membangun kekuatan, dia melakukan negosiasi politik dari satu wilayah kewilayah lain selama belasan tahun. Menghimpun koloni kekuatan besar yang bertujuan untuk menggulingkan kekuasaan Rakai Mamrati (nama Rakai Pikatan yang diganti setelah menikahi Dyah Pramodhawardani dan tinggal di istana mereka daerah Mamratipura).


Berbagai usaha pu Kumbhayoni selalu gagal, karena pada masa kepemimpinan Maharaja gusti samaratungga semua keluarga dinasty selalu dalam perlindungan roh roh suci para leluhur bodhisatva.

__ADS_1


Hingga pada suatu ketika, pada saat Rakai Mamrati dan Dyah Pramodhawardhani memiliki dua orang anak yang akan menjadi penerus kekuasaan. Kala itu usia kedua putra mahkota masih berusia 10 dan 7 tahun.


***


Maharaja Gusti Samaratungga mangkat (wafat) dikarenakan suatu penyakit yang gagal disembuhkan oleh tabib, selain faktor usia tentunya.


Genap setelah seratus hari kepergian Maharaja Gusti Samaratungga, Rakai Mamrati dan sang istri Maharatu Dyah Pramodhawardhani resmi meneruskan sistem pemerintahan.


Keduanya sudah di kukuhkan secara langsung bahwasanya mereka akan menjadi penerus selanjutnya ketika Maharaja gusti samaratungga mangkat (wafat), hal itu dilakukan dulu tepat sehari setelah mereka resmi menjadi suami istri, disaksikan oleh seluruh rakyat dan para petinggi serta tetua dua dinasty.


***


11 tahun kemudian..


pu Kumbhayoni secara pelan namun pasti berhasil memiliki cukup pasukan untuk menyerang Mamratipura .


Namun sebelum penyerangan itu terjadi, sebuah konflik rumah tangga terlebih dahulu merusak ketentraman sang Ratu, dahulu sang Ratu telah meminta kepada adhi shakti bahwa hanya akan ada satu Ratu ditanah jawa yaitu dirinya. Sang Adhi Shati mengabulkan..


Lalu mengapa tiba tiba suaminya berkata bahwa dia telah memiliki seorang selir ???


"Adinda.. ini hanyalah pertukaran politik untuk memperluas wilayah kekuasaan kita !!" kata Rakai Mamrati


"wilayah kekuasaan yang ditinggalkan ayahanda sangat lebih dari cukup untuk kesejahteraan kita semua.. tidak perlu kita menyerang wilayah lain hanya untuk memperluas kekuasaan !!! " nafas sang Ratu memburu.


Sungguh ini adalah bukan seperti apa yang dia inginkan, selama pernikahan dia sangat menjaga kehormatan keluarga dan dinasty, dia hanya tidak ingin dimadu, apakah pengorbanan hidup masa mudanya akan berakhir sia sia setelah puluhan tahun hanya karena satu kesalahan yang sangat fatal ???


"Jangan sekali kali kangmas membawa selir ke istana ini !! sungguh sampai matipun aku tidak rela berbagi singgasana.." ucap sang Ratu.


"Adinda.. apakah sebegitu sulit nya untuk dirimu menerima kehadiran wanita lain yang bahkan tidak ada apa apanya dibandingkan dirimu yang sangat luhur ??" kata Rakai Mamrati membujuk.


"Demi kedua anakku kangmas... aku akan tetap bertahan ! mulai sekarang aku tidak peduli apa yang kangmas lakukan, selama itu tidak diwilayah mamratipura dan Medang, setidaknya kangmas harus menghormat i aku dan ayahanda ku !!!" sang Ratu pergi berlalu begitu saja.


Setiap malam Dyah Pramodhawardhani hanya menangis, menangisi kepergian ayahnya yang meninggalkan semakin banyak luka pada dirinya, demi apa dan siapa dia harus bertahan ?? Dyah Pramodhawardhani bukan seorang Ratu yang haus kekuasaan, dia hanyalah ibu dari dua orang anak yang harus dia jaga Sampai dewasa dan mampu mengemban wilayah peninggalan kakek Samaratungga dan dirinya kelak.


Rasa cinta ?? apa itu ?? bahkan selama puluhan tahun ternyata apa yang dia kira itu cinta sejati ternyata justru berkhianat.. Kini hati sang Ratu telah mati.. setiap sembahyang hanya meminta supaya sang hyang wenang senantiasa memberi keselamatan untuk dirinya dan dua anak keturunan nya.

__ADS_1


***


Singkat cerita..


Anak pertama Dyah Pramodhawardhani dan Rakai Pikatan yang bernama dyah Saladu memimpin wilayah peninggalan sang kakek yaitu Medang.


di Medang, dyah saladu mempertahankan cara kepemimpinan sang kakek yang beraliran budha mahayana, karena meskipun dia adalah keturunan Sanjaya, ketika kecil sangat menyukai ajaran dari sang Ayah namun ketika dewasa demi pengabdian terhadap para leluhur sepeninggal kakek Samaratungga, dyah Saladu meneruskan kepemimpinan dari kakek tercintanya.


***


Anak kedua Dyah Pramodhawardhani dan Rakai Mamrati yang bernama dyah Lokapala tetap bertahan di Mamratipura menemani sang Ayah Rakai Mamrati.


Maharatu Dyah Pramodhawardhani memutuskan akan tinggal di Medang bersama dyah Saladu , dia sama sekali tidak ingin menghirup udara ditempat yang sama dengan suami yang telah mengkhianati hatinya.


pangeran Dyah Lokapala menjadi panglima utama yang selalu mendampingi ayahandanya Rakai Mamrati. dyah Lokapala mewarisi semua ilmu strategi berperang dan politik kekuasaan sang ayah.


***


Keadaan berlangsung aman dan damai selama seribu hari sejak pembagian wilayah kekuasaan dua putra mahkota.


wilayah Medang senantiasa aman sentosa dibawah kepemimpinan Dyah saladu yang didampingi ibundanya. Sebagai seorang ratu yang mendapat julukan sri kaluhunan Dyah Pramodhawardhani sangat mirip dengan alm ayahandanya.


Mempertahankan apa yang sudah diwariskan dengan sepenuh hati supaya dapat menjangkau kesejahteraan seluruh rakyat tanpa harus ada perang ataupun pemberontakan.


Dimana pun Dyah Pramodhawardhani tinggal, disitulah penjagaan dari roh roh suci bodhisatva mengikuti..


...****************...


Cerita ini tidak sepenuhnya nyata ,juga tidak sepenuhnya halu


Like, komen, hadiah ..


vote dan favoritkan untuk update selanjutnya


Sugeng Rahayu 🙏

__ADS_1


__ADS_2