
Malam itu suasana terasa lebih sunyi dari biasanya, Ratih prameswari baru saja selesai menyusui anak laki laki nya saat jam dinding menunjukkan pukul dua dini hari.
Ratih prameswari kembali mencoba memejamkan mata, setelah memastikan kedua buah hatinya tertidur dengan lelap.
Dalam mimpinya Ratih prameswari bertemu dengan sang mendiang suami, kak Putra pratama yang entah kenapa muncul tiba tiba dalam balutan busana khas jawa,
Jarik dan lurik serta blangkon, kak Putra pratama tampak gagah, dalam adegan mimpi itu juga Ratih prameswari mengenakanan busana jawa yang serupa namun khusus yang dipakai kaum perempuan.
didalam mimpi itu tampak kak putra pratama mengajak Ratih prameswari untuk berjalan menuju sebuah altar, lebih tepatnya seperti altar yang biasanya digunakan orang orang kuno untuk menggelar pernikahan.
"Kak putra... kenapa membawaku kemari... " ucap Ratih prameswari, dalam hatinya merasa senang bertemu kak Putra sekaligus muncul sebuah kegelisahan..
"Ratih.. sudah ada yang menunggumu disana, aku hanya akan mengantarkan dirimu menuju takdir sejatimu.. " kak putra berucap tenang namun tegas.
Menggandeng Ratih prameswari berhati hati..
Suasana ruangan yang dijadikan seperti altar cukup indah, warna dominan putih dan pastel keemasan, hiasan tanaman bunga melati melilit setiap tiang, Aroma wangi khas nya semerbak..
Saat melewati sebuah kolam tampak terkejut Ratih prameswasri tidak memiliki bayangan tempat ini berada dimana..
Suara alat alat musik kuno bermain bertalu talu mengeluarkan suara suara khas yang mendayu dayu..
merinding..
itulah yang saat ini dirasakan Ratih prameswari, mendiang suaminya tampil terlalu gagah dan nyata, ingin rasanya menghambur kedalam pelukan namun tidak bisa..
Didepan altar sana sudah menunggu seseorang yang memunggunginya, Sosok yang tampak familiar namun tidak terlalu jelas dalam ingatan, siapa ??
"Kak Putra.. ada apa sebenarnya.. jangan lepaskan tanganku.. " kata Ratih prameswari mengeratkan pegangan tangannya pada putra Pratama.
"Ratih... takdirmu sudah menunggu mu, kembalilah pada mereka, jangan pernah lupakan aku yaa karena aku akan selalu mengawasimu dan anak anak kita.. "
__ADS_1
Kak Putra Pratama menahan kedua pundak Ratih prameswari, kedua netra mereka bertumpu, Perasaan Ratih prameswari tiba tiba sesak dan tidak enak,
Aku belum mau.. aku belum siap, aaaa...
Membuka kedua mata Ratih prameswari ngos ngosan, nafasnya tidak teratur, keringan membulir membasahi wajahnya.
Merasa belum cukup tenang Ratih prameswari memutuskan untuk membasuh muka, dia mencoba kembali menenangkan diri, jam di dinding masih menunjuk ke pukul tiga lewat setengah jam.
Usai membasuh muka Ratih menyalakan dupa lalu sembahyang menenangkan diri, melantunkan kekidungan sukma saat tiba tiba sosok itu kembali muncul,
sosok yang dahulu juga pernah mengunjungi lewat mimpu, dia duduk didekat Ratih prameswari, menyimak kekidungan dengan tenang.
Sedangkan aroma khas sosok tersebut menguar menari nari menggoda indera penciuman Ratih prameswari untuk menoleh ke arahnya.
Namun Ratih prameswari tetap melanjutkan apa yang dia lakukan tanpa sedikit pun membuka mataa,
Siapapun kamu... hatiku belum merasa tenang jadi, tunggulah atau pergi..
Hingga terdengar suara ayam berkokok Ratih prameswari baru menyudahi sesi sembahyamg nya,
menarik nafas dalam dalam lalu di henbuskan ke dada, kembali menarik nafas dalam dalam lalu meniup telapak tangan dan mengusap pucuk kepala hingga bagian belakang sampai tangan dan kaki.
Ratih prameswari masih tampak termenung di dalam ruangan yang digunakan untuk sembahyang tadi, pikirannya kembali berkelana ke belakang..
apakah ini sudah waktunya bagi aku untuk kembali terikat dengan Rakai pikatan ?? aaa kenapa begitu cepat rasanya baru kemarin aku menghindari mati matian bahkan sampai melakukan kesepakatan dengan para leluhur,
Jika mengingat tentang ikatan karma dirinya dengan Rakai pikatan, Ratih prameswari selalu merasa tidak siap, dalamn dirinya merasa tidak akan pernah siap menyatu dengan Rakai pikatan,
Entahlah seperti sebuah ketakutan yang mendarah daging, manis diluar tapi didalam nya nanti Ratih prameswari takut jika sewaktu waktu Fabiyan akan bersikap seperti Rakai Mamrati,
Ratih sudah menerima kehadiran Fabiyan tanpa syarat apapun, namun hatinya masih menjaga jarak, Fabiyan adalah pria yang terlalu baik, Ratih prameswari tidak ingin jika baiknya Fabiyan selama ini akan berubah saat berhasil mendapat kan dirinya,
__ADS_1
Pernikahan dengan orang yang dicintai pasti akan terasa indah, namun menikah karena ikatan takdir...
ada rasa takut, sangat tidak munafik ada begitu banyak gambaran gambaran masa lalu yang membuat Raga Ratih prameswari trauma, bahkan meskipun dia belum menajalani tapi bayang -bayang kegagalan sudah menari nari dipikirannya.
Bukankah Rakai pikatan sudah bertemu mbakyu Sanjivani.. mereka sudah saling memaafkan bukan ? bukankah itu artinya karma mereka berdua telah selesai ?? mereka sudah hidup bersama saat ini bukan ?? lalu kenapa masih mengikat aku ? apa harus memaksa aku untuk menikahi raga titisan Rakai pikatan ?? apa tidak bisa semua tetap berjalan seperti ini...
oekk... oekk.. oekk...
Suara tangis bayi laki laki membuyarkan lamunan Ratih prameswari , gegas Ratih membereskan semua lalu kembali ke kamarnya..
Menghembuskan nafas ringan, seolah mengumpulkan kekuatan untuk menghadap i hari..
Menjadi single parent tidaklah mudah, apalagi Rapih prameswari adalah tipe wanita mandiri yang introvert..
selalu menutup diri sekalipun terhadap bapak dan ibu nya..
Tidak ingin merepotkan... itulah yang selalu Ratih pegang teguh dalam dirinya.
Selama bisa melakukan sendiri maka pantang meminta bantuan orang lain..
...****************...
Bersambung..
Cerita ini tidak sepenuhnya nyata ,juga tidak halu semata..
Like, komen, hadiah ..
vote dan favoritkan untuk update selanjutnya
Sugeng Rahayu 🙏
__ADS_1