
Minggu ini Ratih Prameswari berencana pulang ke kampung, sudah hampir setahun tidak menengok bapak dan ibu. Perjalanan hanya memakan waktu dua jam menggunakan transportasi bus. Ratih membawa sebuah tas ransel berisi beberapa makanan oleh oleh khas kota tempat kampus nya berada.
bandeng presto ,wingko babat, lunpia
Semoga bapak dan ibu suka. Meskipun orang tua tidak mengirim uang bulan ini,namun uang gaji yang dikumpulkan Ratih juga sudah lebih dari cukup untuk menyokong kebutuhan hidup sehari hari di perantauan.
***
flashback..
Ratih sudah mampir ke toko antik beberapa hari yang lalu, Liontin yang dia taksir masih ada disana. Ratih langsung mengambil dan membawa ke kasir, saat hendak membayar bapak tua penjaga kasir berkata,
"ambil aja nduk.. kalung itu memilih sendiri siapa yang akan memakai nya.." dengan halus menolak uang yang Ratih prameswari berikan.
Heran sebenarnya, tapi bapak tua itu nampak bersungguh sungguh jadi Ratih tidak berani menolak.
sungguh rejekiku tenan iki
Saat di kamar kost, Ratih hendak mencoba memakai Kalung dengan liontin merah delima dari toko antik tadi.
Ratih terkejut karena saat kalung itu dipakai, Liontin berwarna merah delima itu justru menyatu dengan kalung dari masa lalu yang tidak pernah bisa dilepas.
Sriiingg... suara ketika batu itu menyatu, sinar nya cukup menyilaukan.
setelah menyaatu, tali kalung yang baru dipakai lepas sendiri. Jadi Ratih saat ini hanya memakai satu kalung yaitu kalung milik kanjeng putri Dyah Pramodhawardani.
***
flashback off..
Perjalanan naik bus terasa sangat lama, apalagi saat bersamaan dengan kemacetan yang terjadi di depan salah satu pabrik garmen terbesar di kabupaten saat pergantian shift.
kenapa pabrik garmen terbesar di kabupaten harus berada dipinggir jalan raya begini ?!?!
Ratih bertanya dalam hati..
Bagaimana sambil nunggu macet kita traveling ke jaman dulu ...
sang putri menggoda Ratih,
Sebentar saja ya... aku masih takut kalau tidak bisa kembali di masa ini
Jika orang lain melihat Ratih maka hanya akan nampak seperti seorang perempuan yang tidur terlelap karena jenuh menunggu kemacetan..
***
__ADS_1
Ratih membuka mata..
Dia sedang berada ditepi danau dekat istana, kata sang calon suami dia bersedia memenuhi permintaan sang putri untuk membangun Candi super megah untuk membuktikan kesungguhan cinta kepada sang putri.
Maharaja menginginkan putrinya segera menikah, supaya dapat membantu menjalankan roda pemerintahan di negeri ini bersama sang suami.
Calon suami sang putri dikenal dengan nama Rakai Pikatan, namun itu bukanlah nama aslinya. Itu adalah nama yang diberikan Maharaja Gusti Samaratungga sebagai wujud anugerah serta sih tresna kepada calon menantu nya karena berasal dari wilayah Pikatan (Temanggung)
(jadi kita pakai nama Rakai Pikatan saja ya, nama aslinya sssttt ra ha si a... 😉)
Kanjeng gusti memberikan waktu paling lama satu putaran bumi (setahun) untuk calon menantu dan sang putri saling mengenal satu sama lain.
***
Angin semilir menggoda rambut sang putri yang terurai indah.. Rambut hitam pekat sehalus sutera , panjang selutut.. Sang putri sibuk menikmati suasana ditepi danau sembari memberi makan ikan.
Ikan di dalam danau semakin banyak , seperti nya mereka berkembang biak dengan sangat baik.
"Adinda..." suara seorang pria membuyarkan kegiatan sang putri
(jika di jaman sekarang sang putri yang nyawiji/ menyatu ditubuh Ratih prameswari , maka di jaman dahulu Ratih Prameswari yang nyawiji ke tubuh sang kanjeng putri Dyah Pramodhawardani..)
"Kangmas..." jawab sang putri
"menikmati angin semilir ditepi danau kangmas.." ucap sang putri.
Awalnya sang putri kikuk saat hendak memanggil calon suami dengan sebutan kangmas, karena usia calon suami 17 tahun lebih tua , bukankah lebih pantas dipanggil "paman" . Namun demi rakyat, dan sesepuh yang merestui hubungan mereka mau tidak mau mulai memanggil dengan sebutan kangmas Pikatan.
***
Setelah menemani sang putri memberi makan ikan, Rakai Pikatan mengajak sang putri melihat lokasi yang akan dibangun candi atau tempat pemujaan agama mereka.
Setelah menikah nanti sang putri akan mengikuti suaminya yang berasal dari dinasti Sanjaya dan beragama hindu. Jadi mulai sekarang sang putri mulai belajar memahami seluk beluk keyakinan sang calon suami.
Mereka berkeliling menggunakan kereta kencana yang dikendarai seorang pekatik (pengurus kuda) sekaligus kusir Rakai Pikatan.
"Kangmas... maaf aku mau tanya " ucap sang putri
"Katakan adinda, sebisa mungkin akan kujawab.." tungkas sang calon suami.
"Apakah di dalam keyakinan mu hanya ada tiga dewa ?" tanya sang putri
"Trimurti adinda, mereka adalah tiga dewa utama dari seluruh dewa.." jawab sang calon suami
"Mereka sungguh mempunyai pasangan ?" tanya sang putri lagi.
__ADS_1
"setiap dewa memiliki pasangan adinda.." terang Rakai Pikatan
"Siapa yang paling hebat dari ketiga dewa tersebut ?" tanya sang putri lagi
"setiap dewa memiliki tugas dan kelebihan masing masing adinda..." jawab Rakai Pikatan
"Aku... siapa yang sesuai dengan karakter ku kangmas ?" sang putri bertanya lagi
"Adinda adalah putri yang sangat cantik jelita, bagiku adinda adalah anugerah para dewa yang tidak ternilai harganya.." jawab Rakai Pikatan mencoba menjelaskan bahwa setiap diri manusia memiliki gabungan berbagai karakter para dewa dan dewi.
"Jika bangunan ini nanti mulai dikerjakan, aku akan membuat sebuah patung dewi yang paling dikagumi sepi umat hindu.."
"Sungguh kangmas ? sebegitu besarnya kah cintamu padaku ?" sang putri agak meragu.
"Dewi durga mehesasurawardhani.." Rakai Pikatan menyebut sebuah nama
"Dia adalah ibu dari semua dewi, pasangan dewa siwa yang paling Agung ,paling tinggi derajatnya.."
"Aku tersanjung kangmas, terima kasih..." ucap sang putri tersenyum manis.
***
Sementara itu Ratih Prameswari yang nyawiji ditubuh sang putri seperti mendapat pelajaran langsung tentang sejarah leluhur tanah jawa. Dia bahkan tidak berani bicara sedikit pun. Aura wibawa Rakai Pikatan sungguh mampu menembus hingga ke tulang.
***
Sang putri dan calon suami selesai berkeliling ketika hari sudah mulai malam, mereka memutuskan untuk pulang, karena dimalam hari adalah saat yang berbahaya bagi seorang putri mahkota seperti dyah Pramodhawardani.
Setelah memastikan sang calon suami benar benar pergi dari istana kaputren (bagian istana khusus untuk sang putri), sang putri mulai membersihkan diri dan bersiap untuk istirahat sebelum waktu makan malam tiba.
***
Ratih ikut memejamkan mata lalu seketika membuka mata dan dia kembali ke jaman sekarang, melihat jam dipergelangan tangan. Ratih Prameswari hanya tertidur Beberapa detik.
Karena perbedaan dimensi waktu , sehari di masa lampau sedetik dimasa kini.
*Syukurlah masih bisa kembali...
***
Like, komen, hadiah ..
vote dan favoritkan untuk update selanjutnya
Sugeng Rahayu 🙏*
__ADS_1