
Dasar om om aneh, senyum senyum sendiri gak jelas banget..
Ratih Prameswari yang merasa heran dan aneh melihat benda kotak panjang ditangan Raymond.
Kala itu memang, ponsel adalah barang yang sangat mewah dan tidak sembarang orang bisa memiliki.
***
Selama sebulan semua berjalan dengan tenang,
Kinan sama sekali tidak mengganggu anak anak kampus ,
"Tumben Queen of bully gak cari mangsa.." kata Ana,
Geng beauty sedang nongkrong di kantin..
"Sebenarnya udah gatel banget gue pingin jahilin orang.. tapi gua takut sama om Raymond !" ucap Kinan dengan tatapan hampa .
memainkan sendok didalam mangkuk bakso kesukaannya.
"Om Raymond punya pengaruh besar di keluarga gue, mami papi gue juga pasti lebih percaya om Raymond dibandingkan anak semata wayangnya ini.." sekali lagi menghela nafas ,
bosan...
"Tapi setelah lewat sebulan kita bisa jahilin anak anak lagi dong ?" kata Ana yang ikut lemes karena tidak ada bahan bullyan.
"Udah pasti itu bestie, cuman kita puasa dulu sebulan." jawab Kinan,
si cupu pasti gede kepala karena om Raymond belain dia..
***
Sementara itu Ratih Prameswari menjalani hari hari ngampus seperti biasanya..
Dia sudah melupakan kejadian yang hampir saja merenggut nyawanya, Kinan atmaja sudah dimaafkan , sungguh naif sekali bukan si Cupu satu ini ??
Dia berpikiran, Jika Gusti maha kuasa saja menerima semua permintaan maaf umatnya untuk dosa kecil hingga besar yang mereka lakukan,
Lalu apa hak manusia yang hanya sebutir debu di hamparan alam semesta ?? Seberapa hebat kah manusia hingga tidak mau memaafkan kesalahan orang lain ?? Bahkan diri sendiri pun masih tidak luput dari dosa.
***
"Bapak ngerjain saya terus nih !!" protes Ratih Prameswari kala diminta sang dosen pengganti untuk menyusun buku buku diruangannya.
"Itu salah satu cara kamu menyicil hutang perawatan Rumah sakit tempo hari !! kan kamu sendiri yang bilang mau ganti semua uang yang saya keluarkan.." balas Raymond cuek sembari mengecek tugas para mahasiswa lewat komputer.
ini sih kayak babu, disuruh ini itu.. huft
Meskipun protes namun tetap menyelesaikan permintaan sang dosen.
Saat sedang Merapikan rak buku yang terletak paling ujung ruangan, Ratih menemukan sebuah buku yang dia tebak pasti sangat kuno.
Buku yang terbuat dari pelepah kulit pohon. entahlah seperti pohon jati teksturnya,
tipis sekali lembaran ini, bagaimana orang kuno dulu membuat nya ??
__ADS_1
Membolak balik setiap halaman, jujur saja Ratih belum terlalu pandai membaca tulisan huruf Sansekerta jawa didalam buku tersebut.
Namun setiap huruf yang Ratih Prameswari sentuh seperti bernyawa, seolah olah setiap ukiran huruf dalam buku kuno tersebut mampu menunjukkan situasi si penulis kala itu.
Merinding..
jantungku berdebar debar, apakah buku ini ada kaitannya dengan Sri Pramodhawardhani ??
Dan ketika Ratih Prameswari menyentuh rangkaian huruf paling atas ,yang dia duga adalah judul tulisan si penulis,
tiba tiba..
***
Ratih Prameswari seperti tersedot dalam buku yang dia pegang,
bukan abad 8 atau 9 melainkan abad 10, Ratih memindai situasi berdasarkan perbedaan kondisi lingkungan yang ada dihadapannya berbeda dengan situasi saat dia berada di abad 8.
Apa yang sudah terjadi selama ini..
***
Kehidupan yang Ratih Prameswari singgahi ternyata adalah abad 10 , dimana pada masa ini sudah tidak ada Rakai Pikatan / Rakai Mamrati maupun Sri Pramodhawardhani.
Rakai Mamrati sudah meninggal tatkala dirinya melakukan pertapaan pribadi setelah menyerahkan kekuasaan Mamratipura pada anak bungsu nya dyah Lokapala waktu itu.
dan kini hanya tersisa nisan makam yang terletak di daerah Santika, Ratih Prameswari memang tidak bisa membaca huruf Sansekerta tapi hanya dengan melihat ukiran nya sudah seperti bisa memahami apa maksud tulisan tersebut.
Jadi ini adalah lokasi makam Rakai Mamrati..
Sebuah makam yang terlalu sederhana untuk ukuran Maharaja dua dinasty yang notabene memiliki derajat tertinggi dalam kasta pemerintahan.
Belum puas Ratih terkejut tiba tiba..
***
seseorang memanggil dengan sebutan yang cukup asing..
"Nini buyut..." seru seseorang itu.
"Nini buyut mengapa kesini sendirian ? bukankah sudah disediakan pelayan untuk membantu Nini buyut kemanapun ?" ucap seorang pria kepada Ratih Prameswari.
Mbakyu sanjivani.. aku kebingungan disini, butuh bantuan !!!
Pria tersebut kemudian Salim Kepada Ratih, ketika sang pria menyentuh tangan kanan Ratih,
Sontak Ratih Prameswari terkejut karena kulit tangan nya seperti nenek nenek , keriput !!
Kemudian Ratih memindai sendiri penampilan nya, melihat bagian tubuh nya sendiri,
Astaga aku jadi nenek nenek ??
***
Ratih Prameswari ternyata nyawiji ditubuh Sri Pramodhawardhani yang sudah sangat sepuh..
__ADS_1
dan yang memanggilnya nini buyut tadi adalah salah satu keturunan nya,
Seorang Raja yang menguasai wilayah poh pitu (wilayah jawa timur) bernama Dyah Balitung.
Sebenarnya Raja ini adalah menantu dari keluarga sang istri, Karena jasa besar nya dalam membantu pemerintah setempat dalam mempertahankan wilayah dari para pemberontak,
akhirnya sang Raja menikahkan putrinya dengan dyah Balitung. Sebuah posisi termasyur dengan banyak sekali orang yang ingin merebut nya.
Dyah Balitung memiliki nama mahsyur Sri Maharaja Rakai Watukura Dyah Balitung Sri Dharmodaya Mahasambu
Seorang Raja yang sangat bijaksana, manah, andhap ashor, seluruh rakyat mengira dia hanyalah ksatria yang beruntung menjadi menantu raja, padahal darah murni dua dinasty besar sudah mengalir dalam tubuhnya sejak dulu.
***
Ada kisah panjang dibalik bertahtanya Dyah Balitung sebagai seorang Maharaja..
Dyah Balitung adalah cucu dari Dyah Lokapala, dia lahir saat keluarga nya sudah tidak memiliki kekuasaan dan menyingkir ke wilayah wetan, hidup sebagai rakyat biasa tanpa tahta .
Artinya Dyah Balitung adalah buyut nya Sri Pramodhawardhani, satu keturunan murni dari percampuran dinasty Sanjaya dan Syailendra.
***
Dyah Balitung adalah seorang penganut kuat Aliran Hindu, namun karakter nya menuruni karakter keluarga dinasty Syailendra,
Sangat bijaksana sebagai pemimpin, seperti membebaskan pajak bagi rakyat yang tidak mampu, membebaskan upeti bagi pedagang yang masih kesulitan, persis seperti bagaimana nini buyutnya memerintah dulu,
Dulu mungkin Dyah Balitung akan mendapatkan julukan yang sama seperti keluarga sang buyut yaitu Sri kaluhunan, namun di era abad 10 ini kekuasaan sudah terpecah dimana mana,
Raja atau Ratu yang memimpin suatu wilayah bukan lagi berasal dari darah murni dinasty Sanjaya maupun Syailendra. Namun keturunan darah campuran pun silih berganti menduduki tahta tertinggi.
***
Seperti mpu Tamer contohnya, seorang wanita berdarah lokal , sama sekali tidak memiliki darah murni alias berasal dari golongan rakyat biasa namun mampu mengendalikan kekuasaan di Mamratipura dibantu anaknya Dyah Teguh.
Inilah awal mula kehancuran silsilh dinasty yang suci. Pemerintahan yang semakin berkurang keluhuran nya karena lebih mengutamakan kekayaan pribadi dan kelompok dibandingkan rakyatnya.
Keluhuran pemimpin yang telah tercemar secara otomatis juga menyingkirkan roh roh suci penjaga dinasty.
Sifat serakah manusia selalu mendominasi suatu kepemimpinan.
Bahkan ketika putra pertama Rakai Mamrati dan Sri Pramodhawardhani , Dyah Seladu ingin merebut kembali Mamratipura justru dianggap sebagai pemberontak oleh trah keturunan mpu Tamer.
Lucu sekali bukan ? Tuan rumah yang notabene lebih berhak berkuasa justru tersingkir tersisihkan oleh permainan strategi kotor kelompok orang yang ingin berkuasa.
...****************...
Bersambung..
Cerita ini tidak sepenuhnya nyata ,juga tidak sepenuhnya halu
Like, komen, hadiah ..
vote dan favoritkan untuk update selanjutnya
Sugeng Rahayu 🙏
__ADS_1