
Memakai celana bahan warna khahi, kaos putih polos di balut kemeja flanel kotak kotak warna biru gelap, dan dia juga memakai sneaker.
fixed ini selera berpakaian yang sangat Ratih Prameswari banget..
***
Seperti nya pria itu juga memesan makan malam yang sama seperti Ratih,
"Maaf, apakah kamu orang sini ?" Pria itu mengawali topik pembicaraan,
"Saya perantauan om.." jawab singkat Ratih
"Masih sekolah atau sudah kerja ?" pria itu bertanya lagi dengan ramah.
Mungkin hanya sekedar basa basi sembari menunggu pesanan nya siap.
"Kerja om, " jawab Ratih sambil makan dan sekali melirik ternyata pria itu menatap intens padanya.
Apa ? lihat apa ? ada yang salah sama gue ??
***
Mendengus agak kesal Ratih Prameswari memberanikan diri membalas tatapan pria itu.
"Maaf ya om, tapi jangan menatap saya seperti itu, risih !" kata Ratih Prameswari
"Ahh... maaf maaf aku hanya merasa kita pernah bertemu sebelumnya.." kata si pria yang mulai canggung.
"Didunia ini konon ada tujuh manusia yang menyerupai kita, jadi mungkin om salah orang !" jawab Ratih sopan tapi agak ketus.
"Seperti nya tidak salah sih, aku hanya lupa pernah lihat kamu dimana.." bersandar pada bangku dengan kedua tangan bersedekap.
"Kalau om sendiri ? orang mana ?" gantian Ratih memberi pertanyaan,
Nasi goreng miliknya sudah habis..
"Aku pendatang juga kok, disini karena sedang ada pekerjaan.." jawab pria tersebut.
***
"Oh sama sama perantauan kita om hehe..." ujar Ratih Prameswari mencairkan kecanggungan.
"Om kerja dimana ? soal nya gak mungkin dong buruh pabrik.." tangan Ratih bergerak dari atas kebawah memindai penampilan si pria,
jelas sekali penampilan si pria tidak seperti seorang buruh ,
"Aku pekerja pertukaran peneliti dari kota J, kebetulan sedang mengobservasi situs budaya di dekat sini.." jawab si pria yang tampak sangat tampan itu.
"Arkeolog ?" tanya Ratih to the point
"Semacam itulah " jawab si pria.
"Kalau begitu kita bekerja di bidang yang sama om.."
"Tapi aku masih beberapa Minggu bekerja di balai observasi cagar budaya, masih Junior hehe" kata Ratih Prameswari
__ADS_1
Pesanan si pria telah datang..
"Benarkah ? wah sebuah kebetulan sekali ya , aku sudah lama bekerja di balai observasi tapi bukan disini, tapi di kota J.. kalau di sini baru semingguan lah, " kata si pria tersebut nampak menikmati nasi goreng babat hangat nya.
Karena merasa mendapatkan satu topik pembicaraan yang sama yaitu sama sama pecinta situs sejarah dan budaya jawa,
Mereka berdua ngobrol hingga larut malam..
Bahkan Setelah selesai makan malam mereka masih jajan cemilan hangat Sambil ngobrol banyak hal.
***
Malam semakin larut namun para pedagang kuliner justru semakin ramai pengunjung,
kebanyakan adalah para pekerja yang baru pulang shift malam yang mampir untuk membeli makan malam atau sekedar membeli minuman dingin yang segar setelah bekerja.
sebagian besar pengunjung saat ini merupakan buruh pekerja di pabrik yang berada di sekitar lokasi taman alun alun mini ini..
"Jadi om sedang observasi di bangunan candi Wisnu ?" tanya Ratih tertarik
"Iya .. rencananya akan observasi tiga candi utama.." jawab si pria dengan sebatang rokok ditangan kirinya.
"Aku juga pingin banget observasi di candi utama om, tapi karena masih pegawai baru jadi aku masih observasi di candi yang ada di pelataran dulu.." kata Ratih Prameswari..
"Berarti benar jika aku pernah melihat kamu, kamu yang tadi siang tidur dibangku bawah pohon dekat situs candi sudut bukan ?" tanya si pria semangat..
"Hah ?? kok om tau aku ketiduran disana ? padahal itu lokasi nya sepi dan jarang ada pengunjung yang kesitu.." Garuk ceruk leher yang tidak gatal .
"Karena waktu itu sebenarnya aku juga lagi cari tempat buat istirahat, karena di sekitar bangunan candi utama tidak ada tempat buat menyelonjorkan kaki hehe..." si pria yang ramah membuat suasana obrolan semakin santai.
"Eh iya.. Ngomong ngomong kita sudah menghabiskan martabak telur satu porsi sama dua gelas teh melati hangat, tapi belum kenalan.." ucap si pria
saling menatap, sorot mata mereka Seolah ikut berbicara..
Keduanya tertawa terbahak bahak...
"Astaga... bagaimana bisa lupa kenalan sih hahaha.." kata Ratih Prameswari.
"Fabiyan.." si pria mengulurkan tangan kanan nya,
"Ratih.." membalas uluran tangan
"Kamu tinggal dimana ? " tanya Fabiyan.
"Di Mess.. tuh deket kok om.." jawab Ratih.
"Lho kok sama lagi ?" kata Fabiyan dengan mata berbinar
"Serius ??" Ratih Prameswari hampir melotot karena kebetulan sekali lagi.
Keduanya kembali tertawa...
Tiba tiba saja merasa seakan akan sudah lama saling mengenal dan merasa nyaman saat ngobrol satu sama lain.
***
__ADS_1
Kalung yang tersemat di leher Ratih Prameswari kembali bergetar halus...
kenapa dari tadi kalung ini terus bergetar, mau ngasih tau apa sih... mbakyu Sanjivani kamu dimana ??
"Kamu punya kalung yang unik Ratih.." kata Fabiyan tiba tiba
Hal itu tentu saja membuat Ratih Prameswari kaget setengah mati
karena kalung yang tersemat kuat dilehernya itu tidak bisa dilihat oleh sembarang orang..
Hanya orang orang tertentu saja yang bisa,
Dan selama kalung dari putri mahkota abad 8 bernama Dyah Pramodhawardhani ini bertengger tidak mau lepas dari tubuh Ratih Prameswari, hanya ada beberapa orang yang bisa melihatnya.
Yang pertama adalah Bapak Yitno, lalu Samudro Aji,
hanya dua orang itu yang bisa melihat kalung Ratih Prameswari..
Lalu kenapa tiba tiba seorang pria asing yang baru muncul pertama kali dalam hidup Ratih Prameswari bisa melihat kalung ini ??
"Om tahu ini kalung apa ?" tanya Ratih Prameswari tenang, meskipun telapak tangannya sudah berkeringat dingin.
berusaha mengendalikan situasi keterkejutan nya dengan berpura pura seolah ini adalah kalung biasa.
"Sebuah kalung yang cukup antik dan langka di jaman sekarang.." Fabiyan berucap tanpa sedikitpun mengalihkan perhatian dari kalung tersebut.
Merasa terlalu terintimidasi, Ratih segera merapihkan jaket yang dia pakai untuk menutupi kalung tersebut..
"Ini kalung warisan om, makanya unik dan antik hehe.." ucap Ratih Prameswari tenang..
"Pasti bukan warisan sekedar warisan ya Ratih, Kalung itu seperti bernyawa hehe.." kata Fabiyan yang sesekali melihat pendar berwarna merah delima pada kalung.
"Ah om Fabiyan ini bisa saja, mana ada kalung kok ada nyawanya ish hehe.." kembali menggaruk kepalanya yang tidak gatal,
"Om.. sudah jam sebelas lebih nih, aku balik ke mess duluan ya ?" Ratih Prameswari berencana segera pamit kabur dari situasi tidak terduga seperti ini
"Ah.. iya iya.. aku juga mau kembali ke mess, tapi habisin ini dulu.." Fabiyan tersenyum mengangkat tangan kiri dengan sebatang cigarete kretek yang masih menyala setengah.
"Kalau gitu aku duluan ya om, om Fabiyan yang bayarin kan hehe, bye.." Ratih balik kanan lalu berjalan kearah mess dengan sedikit terburu buru dan suasana hati tak menentu..
Apa hubungan om Fabiyan dengan kalung ini..
Sementara Fabiyan menatap punggung kepergian Ratih prameswari dengan pandangan yang sulit diartikan..
...****************...
bersambung..
Cerita ini tidak sepenuhnya nyata ,juga tidak sepenuhnya halu,
Like, komen, hadiah ..
vote dan favoritkan untuk update selanjutnya
Sugeng Rahayu 🙏
__ADS_1