Diam Cupu, Ternyata Ratu

Diam Cupu, Ternyata Ratu
Bab 61 Candi Sudut


__ADS_3

Keduanya sesekali tertawa bercanda, hingga perjalanan jauh dari mess ke lokasi observasi terasa singkat,


bahkan sama sekali tidak terasa jika mereka telah mengayuh sepeda 2 jam lebih


***


Ratih Prameswari melakukan observasi pada relief candi terluar terlebih dahulu.


Candi sudut..


Candi sudut berjumlah empat yang terletak di setiap sudut halaman utama, candi sudut ini berfungsi sebagai penanda bahwasanya terdapat sebuah bangunan candi di lokasi candi sudut didirikan.


Ratih Prameswari mengamati dengan seksama setiap candi sudut ini, hingga tak terasa hari sudah menjelang siang.


Tidak banyak yang bisa diobservasi dari bangunan candi sudut ini selain fungsi nya yang hanya sebagai penanda.


Tidak ada yang menarik disini,


Memilih istirahat sebentar menikmati jam makan siang, karena kebetulan tidak membawa bekal dan hanya sarapan sedikit jadi Ratih memutuskan untuk beristirahat sebentar dengan tidur.


Memilih sebuah bangku yang terbuat dari bahan kayu yang terletak di dekat candi sudut, tepatnya dibawah pohon.


cocok sekali ini dibawah pohon rindang hehe..


Meletakkan perlengkapan observasi dibawah bangku kayu


kemudian memejamkan mata mencoba mengisi ulang energi untuk jam selanjutnya..


Semilir angin menerpa wajah Ratih Prameswari..


terasa hangat dan nyaman..


Semakin terbuai masuk menikmati alam mimpi sesaat.


***


Sementara itu dimana Seruni ?


"Hhoaammm..." nampak menguap tanda bangun dari tidur.


"Benar seperti kata Ratih, kebanyakan sarapan membuat aku jadi mengantuk.." gumam Seruni saat dirinya berjalan menuju kamar mandi.


Dia tidak jadi mendampingi Ratih Prameswari mengobservasi bangunan candi sudut, justru nikmat tertidur di pos penjagaan.


pos penjagaan yang dimaksud adalah sebuah bangunan kantor tempat para pegawai dari balai observasi dan cagar budaya melakukan aktivitas kerja mereka di lokasi objek wisata situs sejarah,


seperti di Candi Prambanan..


"Sudah hampir sore kemana anak baru itu ?" tanya Seruni pada salah satu rekannya.


jangan jangan dia nyasar lagi..


Seruni kemudian berinisiatif mencari lokasi Ratih Prameswari.


***


"Ealah.. ternyata tidur disini kamu dek dek..." ucap Seruni geleng geleng kepala namun tidak bermaksud membangunkan juga..


Kemudian Seruni mengkoreksi buku observasi yang ditulis Ratih Prameswari.


Semua ditulis dengan Rapih dan sesuai dengan data yang ada.

__ADS_1


"Lumayan..." kata Seruni setelah selesai membaca semua laporan di buku .


Karena tidak banyak pengunjung yang masuk ke lokasi wisata pelataran candi Prambanan, maka Seruni ikut menikmati suasana menjelang sore di bangku kayu yang satunya.


"Pantes aja dia bisa tidur nyenyak, lha wong angin e sepoi Sepoi gini, Hhoaammm..." kata Seruni yang menahan diri jangan sampai dia tertidur lagi.


***


Sore hari..


Ratih Prameswari dan Seruni kini sedang berada di pos penjagaan balai cagar budaya yang berada di dekat taman candi Prambanan.


"Kak Seruni, beneran untuk hari ini sudah cukup ? soalnya tadi aku ketiduran kan lama.banget.." tanya Ratih sopan.


"Yang kamu tulis itu sudah lebih dari cukup untuk mengisi data tentang candi sudut.."


"Emang kenapa to dek ? kamu udah kayak kecanduan sama situs candi Prambanan.." kata Seruni sambil mempacking barang bawaannya.


"Hehe... kak Seruni tahu saja, sebenarnya aku udah gak sabar pingin observasi ke bangunan candi utama" ujar Ratih lagi .


Kini mereka sudah siap pulang kembali ke mess / asrama


***


"Kalau untuk observasi harus ikut setiap tahapannya dulu ya dek, semua peneliti pasti pingin melakukan observasi di candi utama"


"Karena sumber segala pusat informasi relief ada pada gugusan candi candi utama, sabar aja hehehe.." kata Seruni menyiapkan sepeda nya.


"Kalau masuk sebagai wisatawan lokal bisa kak ?" tanya Ratih lagi


"Bisa, tapi sebagai wisatawan lokal gak boleh bawa printilan alat dari kantor" jawab seruni.


"Oke kak... siap !!" jawab Ratih semangat,


***


Setelah melakukan perjalanan menggunakan sepeda gowes selama hampir dua jam..


Tiba di mess..


Ratih dan Seruni berpisah di depan pintu kamar masing-masing.


Ratih segera meletakkan semua barang barangnya, kemudian membersihkan diri dan berganti dengan pakaian yang bersih dan longgar.


Kemudian Ratih Prameswari mengeluarkan sebua ponsel dari dalam laci kamar nya.


Ya Ratih sudah memiliki ponsel , fungsi utamanya untuk berkomunikasi dengan bapak dan ibunya di kampung.


Sebuah ponsel yang Ratih beli setelah mengumpulkan uang dari kerja sambilan yang dia lakukan semasa masih kuliah beberapa waktu yang lalu.



Menekan nomor telepon yang tersimpan dengan nama kontak "ibu"


Ratih Prameswari melakukan panggilan telepon dengan ibu, karena bapak sedang ada tamu jadi kali ini tidak memiliki kesempatan untuk bicara' Dengan nya.


"Bapak sedang ada tamu penting ya Buk ? udah setengah jam Ratih nelpon dan cuma bisa ngobrol sama ibuk saja ." Ratih Prameswari sedikit sedih,


"Iya nduk.. bapak sedang ada tamu penting, nanti ibuk sampaikan ya nduk, kalau anak kesayangannya baru saja nelpon.." ucap ibu melalui sambungan telepon.


"Ya sudah buk , tidak apa apa... suara ibuk udah cukup buat jadi obat rindu Ratih kok, Salam buat bapak ya buk.." ucap Ratih ketika mengakhiri panggilan telepon dengan ibunya.

__ADS_1


***


Karena merasa belum mengantuk, Ratih Prameswari memutuskan untuk berjalan jalan disekitar mess.


Duduk disebuah kursi yang berada ditaman depan mess, sambil menikmati semangkuk wedang ronde hangat.


Tiba tiba..


Kalung yang Ratih pakai bergetar halus..


Ada apa ini...


Ratih Prameswari memindai situasi disekitarnya, mungkin ada hal yang sedang terjadi dan butuh campur tangan nya..


Semua kelihatan normal saja kok ..


Mengalihkan lagi perhatian nya, kali ini Ratih fokus menyantap seporsi nasi goreng yang dia pesan tadi berbarengan dengan semangkuk wedang ronde sebagai menu pembuka.


Saat sedang menikmati kunyahan nasi goreng pedas favoritnya,


Kalung itu bergetar lagi...


Saat hendak menyentuh memastikan bahwa kalung itu benar benar bergetar,


tiba tiba ada seseorang yang ikut duduk di bangku yang sama dengan Ratih.


Kebetulan bangku taman memang panjang dan bisa muat diduduki dua orang dewasa.


"Maaf ya mbak.. bangku lain pada penuh" sapa seseorang yang ternyata adalah seorang pria.


"Ahh.. iya iya tidak apa apa kok.." ujar Ratih kepada seorang om om yang penampilannya seperti anak muda .


Ratih hanya melirik sekilas pada penampilan pria tersebut.


Secara keseluruhan tampilan fisik pria tersebut seperti Raymond, salah satu dosen pengganti dulu.


Lihat om ini auto keinget sama pak Raymond...


***


Seorang pria matang dengan bola mata berwarna coklat hazel , sorot matanya cukup meneduhkan,


garis wajah yang tegas , hidung mancung serta garis bibir penuh dan kelihatan seksi.


proporsi tubuhnya tegap, gagah, saat ini sebuah kacamata nangkring dengan epic membuat si pria benar benar kelihatan seperti seorang terpelajar dan juga, pintar..


Dan jidat paripurna itu sangat menunjang ketampanan, apalagi rambut yang disisir mulus kebelakang.


Usia sebenarnya mungkin sama seperti Raymond namun pria ini cara berpakaian nya masih sangat muda mudi sekali.


Memakai celana bahan warna khahi, kaos putih polos di balut kemeja flanel kotak kotak warna biru gelap, dan dia juga memakai sneaker.


fixed ini selera berpakaian yang sangat Ratih Prameswari banget..


...****************...


Bersambung..


Cerita ini tidak sepenuhnya nyata ,juga tidak sepenuhnya halu


Like, komen, hadiah ..

__ADS_1


vote dan favoritkan untuk update selanjutnya


Sugeng Rahayu 🙏


__ADS_2