Diam Cupu, Ternyata Ratu

Diam Cupu, Ternyata Ratu
Bab 68 Apa yang harus kulakukan


__ADS_3

"A.. aku.. aku.." ucap Ratih yang masih merasa bingung saat keduanya kini duduk bersebelahan bersanding pada dinding candi.


***


"Ceritakan apa yang membuat kamu seperti ini Ratih.." kata Fabiyan.


Ratih Prameswari hanya melirik sekilas, dalam dirinya masih bergemuruh gemetar atas pengalaman bertemu Rakai Pikatan secara langsung barusan.


"Om Fabiyan percaya gak kalau kita bisa merubah takdir ?" tanya Ratih Prameswari dengan tatapan kosong.


memandang kedepan entah apa...


"Aku Percaya takdir itu pasti akan terjadi , meskipun kita menghindar lewat kelokan lain tapi pada akhirnya akan menemukan ujung yang sama.."


"seperti uraian benang yang kusut, setelah diuraikan maka kita akan menemukan hasil yang sama.."


jawab Fabiyan yang belum paham apa maksud pertanyaan Ratih Prameswari.


***


"Kamu sendiri gimana Tih ? percaya gak kalau Takdir pasti akan mengikat sampai akhir.."


tanya Fabiyan selanjutnya..


"Aku pingin memilih opsi tidak percaya om, aku gak mau menjalani takdir yang menyedihkan"


"bahkan aku ingin sekali memotong sambungan takdir itu, aku Mau bebas dari belenggu ikatan masa lalu.."


Kata Ratih sambil menatap Fabiyan,


mencoba mencari sesuatu lewat kedua netra Fabiyan,


Rakai Pikatan... apa benar dirimu bersemayam didalam raga pria ini ?


Seketika kalung bergetar,


artinya adalah iya ..


***


Ratih Prameswari tertunduk lesu..


entah apa yang akan dia lakukan selanjutnya..


Hari semkin larut bahkan sudah lewat pukul 20.00


"Ayo pulang.." kata Fabiyan hendak beranjak


"om pulang dulu aja, aku masih mau disini.." kata Ratih


"Mana mungkin aku ninggalin kamu sendirian Ratih.." kembali mendaratkan pantat disamping Ratih.


"Ratih.. apa yang sebenarnya kamu lakukan disini ?" akhirnya memberanikan diri bertanya,


"konon Candi utama memiliki magis yang kental pada malam hari.."


kata Fabiyan yang sebenarnya tidak tahu apakah mitos itu benar atau tidak.


"Aku mencari Jawaban om... "


"sebuah jawaban dari siempunya candi utama ini "


ucap Ratih Prameswari lirih,


"Kamu penasaran sama sosok penunggu candi utama ini ya ?" tanya Fabiyan menelisik sekitar


"begitu lah om.."


***


Mereka berdua berada di pelataran candi utama sampai larut malam


Ratih Prameswari memutuskan untuk pulang, fisik nya sudah sangat lelah


aku butuh istirahat, butuh tidur..


"Aku antar Tih.. jangan naik sepeda sendiri !" kata Fabiyan saat melihat Ratih nampak menghampiri sepeda gowesnya.


"Aku mau naik sepeda, om Fabiyan tidak perlu terlalu peduli !" dengan cueknya membawa sepeda menjauh dari lokasi parkir.

__ADS_1


"Gadis bandel !!" teriak Fabiyan


"Gak inget apa kalau dia tadi hampir kehilangan nyawa.." bergumam sendiri sambil menyalakan mesin motor nya.


***


Seandainya Fabiyan tidak datang tepat waktu saat Ratih berinteraksi dengan Rakai Pikatan bisa dipastikan ya saat ini Ratih Prameswari sudah tidak bernyawa.


masih ingat tadi bagaimana Fabiyan melihat Ratih di dam mematung dengan tatapan kosong di pelataran candi utama siwa graha.


Awalnya hanya ingin menghampirinya memastikan Ratih baik baik saja


namun situasi justru tak terduga,


Ratih Prameswari ambruk tergeletak dengan mata terpejam Namun bola mata bergerak.


Seperti seorang yang sedang tertidur, namun Ratih tadi hanya diam dan berkeringat dingin.


***


Fabiyan menggoyang goyangkan tubuh Ratih berharap dia akan segera bangun.


tapi bukannya membuka mata justru tubuh Ratih Prameswari semakin dingin .


Dan tiba tiba saja diam tak bernafas.


Fabiyan auto memberikan pertolongan pertama seperti yang dia pelajari di PMR dulu, memompa bagian dada berharap paru paru akan merespon.


namun gagal..


akhirnya Fabiyan memberikan pertolongan lanjutan dengan nafas buatan.


Hampir menangis saat Ratih Tidak kunjung merespon


namun harapan menyelamatkan nyawa seorang gadis yang dia sukai membuat Fabiyan tidak menyerah.


Hingga Fabian berhasil menyadarkan Ratih Prameswari..


***


Ratih Prameswari sedang dalam kondisi tidak peduli pada diri sendiri..


tetap kekeuh menggowes sepeda meskipun dia sendiri menyadari fisiknya sedang terlalu lemah.


Dalam diri ratih membatin menggugat sang aweh uriip...


Menggowes sepeda tanpa memperdulikan situasi kendaraan yang ramai berlalu lalang.


Tanpa Ratih prameswari sadari Fabiyan diam diam mengikuti dari belakang


menjaga jarak aman, karena Fabiyan tidak mau Ratih Prameswari semakin panik melihat dirinya.


Apa dia sangat membenciku ??


batin Fabiyan kala mengendarai motor nya dengan kecepatan sedang 20 meter dibelakang Ratih Prameswari.


Beberapa jam lalu dia hampir tak bernyawa,dan sekarang dia seperti ingin sengaja kehilangan nyawanya...


lebih khawatir melihat Ratih yang menggowes sepeda terlalu cepat, atau bahkan mungkin tidak menekan rem sama sekali.


***


Namun Ratih Prameswari tetap bisa pulang ke mess dengan aman dan selamat karena perlindungan penjaga gaib yang dia miliki.


Menjaga keamanan dalam radius sepuluh meter disekitar Ratih Prameswari...


"Kamu mau cari mati heh ??" kata Fabiyan saat tiba di mess bersamaan dengan Ratih Prameswari memarkirkan sepeda nya.


"Mati juga aku gak peduli, kenapa om Fabiyan yang peduli ??" ucap Ratih ketus.


Nafas capeknya terlihat sekali berusaha dia tutupi.


***


Berjalan tergesa tanpa memperdulikan Fabiyan yang masih mengikuti dibelakangnya..


"Om Fabiyan bisa stop ikutin aku kan !! " Ratih membalik badan


"Apa mau aku teriak sekarang juga ?? " melihat jam dipergelangan tangan yang sudah menunjukkan hampir tengah malam.

__ADS_1


"Aki cuma mau memastikan kamu sampai kamar dengan aman Ratih.." kata Fabiyan yang diam berdiri dihadapan Ratih.


"Stop oke... jangan ikuti aku !! biarkan aku sendiri ..." balik badan lagi


kemudian berlalu cepat meninggalkan Fabiyan yang berdiam mematung di ujung lorong.


***


Ratih Prameswari segera mengunci pintu setelah masuk kamar


Dia frustrasi..


Duduk bersandar pada pintu sambil bercengkeram kepalanya,


Gusti tidak adil !! aku benci semua takdir yang mengelilingi ku...


Aarrggghhh !!!!!


Berteriak tanpa suara, lalu menuju kamar mandi


berlama lama mandi dibawah guyuran shower...


tidak peduli tubuhnya sudah menggigil kedinginan, Ratih Prameswari nampak seperti seorang gadis yang menyiksa diri sendiri


Apa yang harus aku lakukan Gusti..


Ratih Prameswari menangis, air mata seperti enggan berhenti mengalir,


bersamaan guyuran shower yang semakin membuat Ratih Prameswari tenggelam dalam kefrustrasian.


*Aku hanya ingin menjadi wanita seperti umumnya, bisa merasakan cinta


Tapi kenapa justru setiap membicarakan cinta hatiku terasa sakit ?


Apakah aku memang harus menjalani takdir sebagai wanita menyedihkan dengan belenggu karma masa lalu ?


apa yang harus aku lakukan ?


bapak.. ibu... apa yang harus anakmu ini lakukan* ??


***


Tidak terasa lewat tengah malam..


Ratih Prameswari segera mengeringkan tubuhnya, memakai pakaian kering bersih lalu tidur memakai selimut.


Dia kedinginan karena terlalu lama dibawah shower, tapi dia juga tidak ingin melakukan apapun,


hanya ingin memejamkan mata, tidak mau memikirkan apapun ,


otaknya terasa panas, hatinya terasa sakit..


bertemu Rakai Pikatan bukan menentramkan tapi justru membuat risau.


***


Sementara itu Fabiyan juga termenung didalam kamarnya..


dia belum tidur, matanya masih merasa jauh keluar jendela.


*Aku harus bagaimana ? jika tujuan hidupku justru membenciku bahkan kami belum mencoba mengenal satu sama lain..


Apakah aku akan bisa menyelesaikan karma yang dibebankan padaku ?


kupikir akan menyenangkan saat bisa bertemu reuni Sri Pramodhawardhani


namun..


ternyata Ratih Prameswari menyimpan kesan yang menyedihkan atas aoa yang terjadi kala itu...


Rakai Pikatan, kamu pantas menderita* !!!


...****************...


bersambung..


Cerita ini tidak sepenuhnya nyata ,juga tidak sepenuhnya halu


Like, komen, hadiah ..

__ADS_1


vote dan favoritkan untuk update selanjutnya


Sugeng Rahayu 🙏


__ADS_2