Diam Cupu, Ternyata Ratu

Diam Cupu, Ternyata Ratu
Bab 91 Sudah Tertakdirkan


__ADS_3

Setelah membersihkan diri dan berganti baju serta mengunci lemari serta pintu kamarnya, Ratih prameswari ikut sarapan bersama yang lainnya.


Kali ini suasana sangat tenang, gerombolan orang yang semalam bikin gara gara dengannya juga tampak menghindari kontak mata saat Ratih memindai mereka.


huft... akhirnya bisa menikmati makanan tanpa gangguan..


Ratih menyelesaikan sarapan dengan cepat, sesuai kesepakatan dengan kak Putra, hari ini Ratih tidak ikut ke lokasi observasi lagi setelah mendapatkan ijin dari pihak penyelenggara.


Sebelum berjalan jalan disekitar penginapan, Ratih prameswari terlebih dahulu menyerahkan berkas laporan kepada Panitia.


"Maaf kalau saya mengumpulkan terlalu cepat.." kata Ratih saat menemui salah satu panitia dari pusat.


"Kerja cerdas kamu dek, keahlian dalam mengamati situs kuno sangat detail dan sesuai dengan kondisi yang sebenarnya " seorang pria yang terpukau setelah meneliti lembaran lembaran laporan.


Selesai sudah tugas Ratih di pulau Bali, bahkan masih ada sisa waktu untuk menikmati liburan seadanya..


***


Ratih berjalan jalan disekitar penginapan yang memang terletak di daerah agak perbukitan, memakai pakaian santai karena Ratih memang hanya ingin bersantai sejenak.


Duduk disebuah pohon beringin besar disebuah taman, menikmati semilir angin yang membuai surai rambut panjang Ratih prameswari.


sesederhana itulah keseharian Ratih prameswari,


Menjelang sore dirinya beranjak kembali ke penginapan, dia harus bersiap siap..


Ratih prameswari terkejut saat melihat sebuah paperbag dengan pita berwarna merah diatas kasurnya.


Membuka perlahan memastikan tidak ada hal berbahaya didalamnya..


Lagi lagi kak Putra...


meletakkan secarik memo setelah membaca isi dan nama pengirimnya. Putra memang memiliki akses ke seluruh tempat yang dia kelola.


Namun bukan Berarti dirinya sembarang masuk keluar kamar tamu tanpa alasan yang jelas. dan khusus Ratih prameswari dia hanya ingin memberikan perhatian lebih.


Selesai mandi dan berias diri secukupnya, Ratih menunggu kedatangan Putra di loby penginapan .


Banyak sorot mata tertuju pada sosok Ratih prameswari yang entah kenapa terlihat lebih cantik dibandingkan malam lalu.



Menunggu Ka Putra dengan sabar, meskipun hanya penampilan sederhana berupa kain jarit yang dililitkan seperti rok dipinggang ramping Ratih, dipadukan dengan atasan kemben berwarna hitam legam, dikombinasikan dengan blazer hitam tekstur beludru. Tidak lupa rambut yang ditata bentuk sanggul sederhana dan make up tipis yang menambah kesan cantik elegan khas jawa.


yang ditunggu akhirnya tiba,


"Udah lama nunggu? " tanya putra yang baru saja turun dari mobil dan menghampiri Ratih di loby.


"Hhmm lumayan sih, setengah jam.. " jawab Ratih setelah melihat jam dipergelangan tangannya.

__ADS_1


Mereka pergi menggunakan mobil berwarna hitam,


tiba di lokasi yang di maksud, Putra menuntun tangan Ratih prameswari supaya menggandeng lengan kanannya.


berjalan memasuki ruang acara seperti sepasang kekasih yang serasi,


Suasana sudah ramai dihadiri banyak tamu dari berbagai kota dan profesi.


"Malam ini kita adalah pasangan.. tidak masalah kan? " bisik putra


"Hhmm... santai aja sih kak " kata Ratih membalas bisikan.


Entah Ratih prameswari menyadari atau tidak namun kalungnya berpendar dan bergetar halus,


Artinya Fabiyan juga ada di acara ini..


"Kita duduk disebelah sana sambil menikmati hidangan.. " kata Putra menunjuk salah satu sudut ruangan.


satu meja berbentuk bundar bisa ditempati delapan orang. Dan Ratih prameswari tidak terlalu tahu menahu siapa saja yang akan duduk di meja yang sama dengannya selain kak Putra.


Lampu sorot menyorot kearah panggung, tepat nya seorang pembawa acara, setelah menyampaikan kata sambutan sang pembawa acara menyebutkan sebuah nama yang merupakan salah satu donatur utama perguruan tinggi swasta di kota D, pulau Bali.


"itu kan... " kata Ratih lirih terkejut melihat tuan muda dari keluarga atmaja sedang menyampaikan kalimat sambutan diatas podium.


"kamu ingat ? dia dulu dosen di kampus kita.. " kata kak Putra pelan


Tentu saja penampilan Raymond sudah banyak berubah, setelah lepas dari menjadi dosen pengganti Sementara, tersiar kabar jika Pak Raymond melanjutkan pendidikan diluar negeri.


kepingan kepingan puzle dikepala Ratih mulai tersusun ulang, bagaimana dulu pak Raymond selalu melindunginya, sekaligus bagaimana dulu pak Raymond mengatakan secara terang terangan jika dirinya tertarik dengan sosok mahasiswi cupu yang punya hutang nyawa yang sampai kapanpun tidak bakal bisa dibayar oleh mahasiswi tersebut, belum lagi rentetan hutang budi dan materi yang secara tidak langsung menjerat si mahasiswi cupu suoaya tetap ada disampingnya, seandainya saja waktu itu Pak Raymond tidak mengundurkan diri dari kampus, pasti Ratih prameswari tidak akan bisa lolos dari jeratnya.


Tiba tiba Ratih meraaa tidak nyaman, ada sebuah ketakutan tersendiri, Bagaimana kalau ada Kinan juga disini ?


lengkaplah sudah kekhawatiran yang Ratih takutkan. Saat ini seorang wanita berparas cantik spek bidadari sedang berjalan menghampiri mejanya, sangat yakin bukan untuk menyapa Ratih melainkan pria disampingnya.


Ratih seketika mengalihkan perhatian ke tempat lain, pura pura saja tidak melihat jika itu adalah Musuh abadinya dari keluarga Atmaja.


"Halo Putra.. senang bisa lihat kamu datang.. " sapa Kinan kepada Putra kemudian duduk dengan anggum dikursi sebelahnya.


"Kabarku selalu baik Kinan, makasih.. " jawab putra singkat.


Kinan melirik sekilas wanita yang duduk disamping Putra, tidak menyangka jika itu adalah Ratih si cupu yang dulu hampir mati di tangannya.


Seandainya om Raymond tidak datang pasti dia sudah mati, batin Kinan.


Putra yang menangkap sorot mata Kinan yang seperti api, menatap Ratih disamping nya yang cuek main ponsel.


Tiba tiba menggenggam tangan Ratih yang terasa dingin dibawah meja, Ratih yang memang hanya pengalihan saja bermain ponsel padahal tidak ada aplikasi sosial media yang dia punya, membalas genggam tangan Putra seolah berkata,


"Tidak apa apa... "

__ADS_1


"Eh Putra hhmm.. itu siapa ?" tanya Kinan memastikan


"Eghem.. ini.. "


belum selesai Putra berbicara tiba tiba muncul lagi satu sosok tuan muda Atmaja bernama Fabiyan,


"Ratih ?"


awalnya Fabiyan ingin mencari Kinan karena ada sesuatu hal. Namun hatinya gelisah bergetar seperti ada sosok garwo kinasih ditempat ini.


"Ratih.. kebetulan sekali kamu dengan siapa kesini? " tanya Fabiyan.


"Eh ehmmm Biyan.. ini aku sama.. " melirik Putra disebelahnya.


Putra sangat paham bagaimana sifat Ratih prameswari, saat ini wanita itu tidak nyaman, genggaman tangannya berkata seolah,


sebaiknya kita pergi darisini..


"Hai om Fabiyan.. " sapa Putra ramah.


tentu saja harus ramah karena keluarga Atmaja adalah tuan rumah acara amal malam ini.


"Ratih datang sama saya om.. Kinan.. " berucap tenang dengan tatapan teduh nya.


Fabiyan terkejut, Kinan juga tidak kalah terkejut..


"si cupu ? Kalian jadian ? bagaimana bisa ?" pertanyaan dadakan Kinan membuat mata Ratih hampir melompat keluar..


"Bu... bukan.. bukan seperti itu.. " menatap Fabiyan lalu Kinan bergantian


"Iya nih akhirnya aku sama Ratih bisa ketemu lagi, bukankah ini kebetulan yang memang sudah tertakdirkan ?" ucap Putra


Jawaban ambigu yang tidak menyanggah pun tidak mengiyakan..


"Doakan saja ya Kinan.. om.. semoga kami bisa ke jenjang yang lebih serius.. " kata Putra sembari mengangkat tautan tangan mereka keatas meja.


seolah olah meyakinkan jika dirinya dan Ratih memang ada hubungan..


Mampus.. kenapa kak Putra memperkeruh situasi?????


...****************...


bersambung..


Cerita ini tidak sepenuhnya nyata ,juga tidak sepenuhnya halu


Like, komen, hadiah ..


vote dan favoritkan untuk update selanjutnya Sugeng Rahayu 🙏

__ADS_1


__ADS_2