Diam Cupu, Ternyata Ratu

Diam Cupu, Ternyata Ratu
Bab 54 Kehancuran sebuah babak kehidupan


__ADS_3

Sifat serakah manusia selalu mendominasi suatu kepemimpinan.


Bahkan ketika putra pertama Rakai Mamrati dan Sri Pramodhawardhani , Dyah Seladu ingin merebut kembali Mamratipura justru dianggap sebagai pemberontak oleh trah keturunan mpu Tamer.


Lucu sekali bukan ? Tuan rumah yang notabene lebih berhak berkuasa justru tersingkir tersisihkan oleh permainan strategi kotor kelompok orang yang ingin berkuasa.


***


Sri Pramodhawardhani mendapatkan nama julukan Sanjivani atau nini buyut atau nini sanjivani setelah Melakukan pengasingan diri yang cukup lama..


Flashback sedikit..


Setelah perpecahan Wilayah kekuasaan karena prahara rumah tangga, Sri Pramodhawardhani menjadi sosok Ratu yang lebih tertutup dan tidak banyak bicara ,


Hari harinya di istana Medang lebih sering dihabiskan dengan melantunkan puji pujian untuk para roh leluhur.


Pemerintahan di serahkan sepenuhnya kepada sang putra pertama Dyah Saladu, dibawah kekuatan Dyah Saladu semua sistem pemerintahan berjalan dengan aman, tentram, seluruh rakyat sejahtera , hampir tidak terendus sedikit pun aroma pemberontak.


***


"Ibunda.. Apakah ibunda tidak ingin menemui ayahanda ? beliau sudah beberapa kali kemari namun ibunda tidak sekalipun menemui beliau" Tanya dyah Saladu ketika sedang menikmati teh pagi hari di pendopo taman bunga melati..


"Ucapan seorang Ratu adalah tidak bisa ditarik lagi anakku... Ibunda sudah memutuskan maka itulah yang akan ibunda lakukan sampai akhir." bicara lembut namun tegas.


"Ibunda tidak meminta apapun, hanya ingin menikmati sisa hidup dengan tenang,tentram dan bahagia bersama keluarga dan seluruh rakyat."


"Dari awal ibu tidak mengharapkan adanya selir , tapi ayahanda mu... tiba tiba saja ingin membawa selirnya ke Mamratipura, "


"Ayahanda mu sudah mengingkari janji, dan kesalahan ayahanda mu sangat fatal , Ibunda tidak bisa menerima penjelasan apapun anakku semua sudah terlihat.."


Nampak sorot mata kekecewaan pada Sri Pramodhawardhani , dan sang putra tidak berani menyinggung hal itu lagi.


Menjaga perasaan ibundanya adalah hal yang paling utama sebagai wujud bakti seorang anak.


***


Hari hari penuh kekecewaan, semakin Lama Sri Pramodhawardhani sudah belajar merelakan, butuh waktu tidak sebentar bahkan bertahun tahun lamanya,


Sedikit demi sedikit melepaskan urusan duniawi dan fokus pada keseimbangan spiritual jiwanya.


Kala itu tersiar kabar dari seorang mata mata khusus kepercayaan sri Pramodhawardani yang menyampaikan bahwa,


Rakai Mamrati telah membawa Selir yang tengah hamil besar ke Mamratipura, meskipun sang Selir tidak tinggal di istana Mamrati namun tetap saja Rakai Mamrati sudah berani sekali lagi melanggar janji.


Membawa selir kedalam ibu kota, yang artinya cepat atau lambat seluruh rakyat akan mengetahui hal tersebut..


***


"Sendiko dawuh kanjeng Sri Pramodhawardhani... hamba hanya membawa kabar buruk kali ini" ucap sang pengawal setia nampak sedih.


"Kamu sudah melakukan tugasmu dengan sangat baik Patih.." Meskipun ucapan Sri Pramodhawardhani tenang , namun sorot kesedihan memenuhi kedua netra beliau.


"Apa rencana kanjeng Ratu selanjutnya..." sang pengawal duduk bersila menunggu titah selanjutnya.


"Siapkan sebuah tempat pengasingan Patih, hanya kita berdua saja yang tahu !!" sang Ratu telah memberi titah.


"Artinya, kanjeng ratu akan meninggalkan segala urusan duniawi ?? apa kanjeng ratu sudah yakin betul ??" sekali lagi patih membujuk supaya Sri Pramodhawardhani tetap di Medang.


"Ucapan seorang Ratu adalah titah ! pantang bagi seorang Ratu menarik kembali ucapannya !!" ucap Sri Pramodhawardhani tegas.


"Baiklah kanjeng.. akan hamba persiapkan semuanya.." mengatupkan kedua tangan lalu melangkah mundur.


"Pastikan tempat itu sudah siap sebelum malam bulan purnama patih !" kata Sang Ratu sekali lagi.


sang Patih kembali mengangguk sebelum benar benar pergi dari pendopo Ratu.


***

__ADS_1


Singkat cerita, sang patih berhasil menemukan dan menyiapkan tempat seperti yang dikehendaki sang Ratu Sri Pramodhawardhani..


Terletak di sebuah gunung suci dekat istana Medang, Gunung suci yang konon katanya dijaga oleh dua sosok roh suci jelmaan dua Resi utama asli tanah jawa.


Dua Resi penjaga gunung yang memiliki kekuatan untuk menjaga keseimbangan sekaligus kehancuran jika dikehendaki.


Roh keduanya berada di pusat Gunung Suci , sangat jauh didalamnya, Konon dua Resi tersebut menjaga agar perapian tetap menyala. sebuah perapian besar abadi.


karena kelak suatu saat Jika sang hyang Tunggal berkehendak maka Gunung itu juga lah yang akan mensucikan tanah jawa dari kerusakan yang ditimbulkan oleh manusia.


***


Gunung suci ini berasal dari wilayah Segara kidul. Dahulu sekali Kanjeng Ratu segara kidul memberi sebuah hadiah kepada penguasa tanah jawa.


Jauuh sebelum masa kedatangan dinasty Sanjaya apalagi Syailendra..


Gunung suci yang akan menjadi penyeimbang di tanah jawa, di awasi langsung oleh mercusuar segara kidul , dan dijaga langsung oleh jelmaan roh suci dua orang Resi.


***


Singkat cerita, Sri Pramodhawardhani menjalani pertapaan pengasingan seorang diri, tidak satu pun mengetahui dimana lokasinya,


Sri Pramodhawardani hanya didampingi sang patih pengawal paling setia yang bernama, Patih Arya


Mungkin Samudro aji adalah jelmaan reinkarnasi dari sang Patih hehe..


Patih yang mengabdi sampai akhir hayat, tujuan hidup sang Patih adalah Junjungan satu satunya, Sri Pramodhawardhani.


Patih yang tetap mendampingi sang Ratu di pertapaan saat doa Sri Pramodhawardhani dikabulkan oleh sang hyang wenang.


Sebuah doa untuk mengakhiri kehidupan yang terikat dengan dirinya..


***


Kehancuran satu babak kehidupan yang dimaksud adalah, letusan gunung suci yang meluluh lantahkan kehidupan yang berkaitan dengan sri Pramodhawardhani,


termasuk kehancuran bangunan suci Bumishambara,


kekecewaan akan pengkhianat yang terlalu dalam , yang mematikan hati nurani seorang Sri Pramodhawardhani, pengkhianatan yang membuat putri satu satunya dinasty Syailendra menelan pil pahit kehidupan.


***


Seandainya... seandainya... seandainya...


itulah kata kata penyesalan yang terus diucapkan Sri Pramodhawardani dalam pertapaan.


Seandainya dahulu ayahandanya tidak mengadakan sayembara pembangunan bumishambara..


Seandainya Rakai Pikatan tidak hadir dalam hidupnya..


Seandainya tidak harus melakukan pernikahan dua dinasty..


Seandainya Sri Pramodhawardhani diberi kesempatan untuk memerintah wilayah marcapada tanpa harus didampingi sosok Raja..


Seandainya semua waktu dapat diulang kembali..


Keinginan terbesar Sri Pramodhawardani adalah menarik mundur seluruh kejadian yang dia alami..


Keinginan yang terpatri kokoh dalam sanubari..


Bahkan seluruh jagad beserta isinya pun ikut menangis atas kesedihan yang dialami seorang Putri tunggal dinasty Syailendra...


***


Ketika Gunung suci meletus menghancurkan...


Kala itu anak pertama Sri Pramodhawardani dan Rakai mamrati , Dyah Saladu beserta keluarganya terlebih dahulu pergi menjauh ke wilayah wetan.

__ADS_1


Tujuan utamanya adalah menemukan sang ibunda yang telah bertahun tahun menghilang dari istana Medang.


Sementara itu anak kedua , Dyah Lokpala beserta keluarganya juga terlebih dahulu menjalani kehidupan sebagai rakyat biasa di daerah wetan juga.


Dua Saudara yang sama sama tinggal di wilayah wetan namun tidak bisa saling menemukan satu sama lain.


Disisi lain, Rakai Mamrati yang melakukan pertapaan juga tidak mengetahui hal apapun yang terjadi, Hidupnya berisi penyesalan tanpa ujung.


Merasa sangat bersalah karena telah mengkhianati kesetiaan suci istri luhur Sri Pramodhawardhani,


yang sebelumnya Rakai mamrati kira akan bisa membujuk sang istri supaya mau kembali bersama, hidup berdampingan dengan selirnya,


namun usaha yang selalu gagal berujung penyesalan seumur hidup .


***


"Kanjeng... kita harus segera pergi darisini !!" kata Patih Arya berteriak


Tanah yang berguncang membuat seluruh penghuni hutan di gunung suci berlarian,


Gaduh, Panik...


"Apa yang akan aku dapatkan jika pergi darisini patih ?? hidupku sudah mati.." ucap Sri Pramodhawardhani tenang.


DHUARR !!!


DHUARRRR !!!


DHUUAARRR !!!!


tiga kali terdengar suara letupan dari dalam Gunung Suci, menandakan inilah saatnya sebuah babak kehidupan akan berakhir..


"pergilah patih !! selamatkan dirimu..." kata sri Pramodhawardhani tetap dalam posisi bertapa


"Hamba sudah bersumpah hanya akan setia pada kanjeng Ratu sampai akhir.." ikut duduk bersila dibelakang Ratunya.


"Terima kasih untuk kesetiaan mu Patih, semoga dikehidupan selanjutnya kita bisa bertemu lagi... Tetaplah menjadi pendamping yang selalu setia padaku apapun yang terjadi..." dua netra Sri Pramodhawardhani berkaca kaca


"Hamba akan meminta pada sang pencipta supaya dapat selalu berada disisi kanjeng Ratu.." ucap Patih Arya teduh.


keduanya tidak takut mengadapi kematian..


Bahkan saat lava panas dari gunung suci menerjang, mereka berdua tetap tidak sedikitpun merubah posisi .


***


Namun kenyataan berkata lain..


Sri Pramodhawardani terselamatkan oleh Ibu dewi Avalokitesvara, sementara raga patih Arya telah hancur ikut tersapu oleh muntahan lahar gunung suci.


Seluruh wilayah kenangan sri Pramodhawardhani telah rata dengan tanah, hancur tak bersisa,


semua bangunan terpendam sangat dalam jauh dibawah timbunan lahar panas gunung suci yang mengeras .


***


Sebuah peninggalan babak kehidupan abad 8 dan 9 yang akan menjadi penemuan dimasa mendatang,


sebuah kisah yang seharusnya berakhir namun ternyata justru melegenda sepanjang masa ..


...****************...


Bersambung


Cerita ini tidak sepenuhnya nyata ,juga tidak sepenuhnya halu


Like, komen, hadiah ..

__ADS_1


vote dan favoritkan untuk update selanjutnya


Sugeng Rahayu 🙏


__ADS_2