
Adegan gaib berakhir saat terdengar suara ayam jantan berkokok..
Sang surya nampak perlahan namun pasti semakin terik, menghangatkan seluruh penduduk bumi,
mereka bertiga masih dipendopo, dek gendhis dan mbah utinya masih didalam rumah. mungkin sudah bangun tapi tidak terdengar suara rewel..
"jadi.. apa yang harus kita lakukan Sekarang ?" tanya Fabiyan.
"Melakukan kebiasan baru untuk pertama kali memang susah, apalagi itu akan selalu butuh biaya besar dan para tamu juga.. " sahut Ratih prameswari
"Kita lakukan seperti yang para leluhur inginkan, ngger.. nduk.. kita cukup menyediakan hidangan serta air ,kembang dan dupa, semua elemen warna kita pakai, karena kehadiran leluhur akan terwakilkan oleh warna warna yang disediakan.. "
imbuh pak Yitno..
"leluhur ada yang beraura putih, kuning, hijau, merah, hitam, tapi kita bisa tambahkan elemen warna lain sebagai pelengkap.. semakin banyak warna semakin bagus.. "
"warna ?? kita gunakan kain atau apa pak ?" tanya Fabiyan.
"Maksud nya kita bisa hadirkan elemen tersebut lewat makanan minuman serta buah, para leluhur menyukai aroma dari itu semua, kalau kain itu nanti hanya akan jadi hiasan aja sih. " Ratih prameswari menimpali.
"Disini sepertinya hanya saya yang masih kebingungan.. " Fabiyan menatap Ratih prameswari dan pak Yitno bergantian.
"Tapi kamu tokoh utamanya Biyan, suatu saat pasti kamu akan bisa menemukan sosok yang kamu cari didalam dirimu.. " Ratih prameswari melanjutkan.
Fabiyan merasa Ratih prameswari jauh lebih tahu segalanya, yang dirinya sangat sulit memahami tapi wanita itu seperti sudah paham semuanya.
"Ratih.. apa kamu sudah pernah mengalami itu semua ?? dari cara bicaramu aku perhatikan sepertinya kamu sudah sangat paham seluk beluk ritual malam bulan purnama, " Fabiyan Mengangkat satu alisnya penasaran.
"Hhmmm itu.. ngg.. nggak sih Biyan, aku bicara sesuai pemahamanku saja waktu adegan gaib, aku mana pernah tahu sebelumnya kalau para leluhur ada ritual macam itu hehe.. " menggaruk kepala yang tidak gatal, canggung..
...tentu saja Ratih prameswari pernah berada dalam adegan ritual malam bulan purnama saat nyawiji ditubuh dyah pramodhawardani dulu itu.. ...
__ADS_1
Setelah pembahasan tentang konsep ritual malam bulan purnama yang akan mereka gelar pertama kali, Fabiyan bertanya pada pak Yitno..
"Pak.. lalu kertas ini.." kertas putih kosong masih berada ditangan kanan Fabiyan.
"Kenapa wahyu wigati hanya berupa kertas putih polos seperti ini ??" tanya Fabiyan.
"karena.. supaya tidak seorangpun yang mencoba menterjemahkan bahasa para leluhur ngger, sebenarnya ada tulisan yang tak terlihat di kertas itu.. itu kertas bukan sembarang kertas.." kata pak Yitno
Tentu saja bukan seperti kertas dari jaman modern, melainkan selembar putih berbentuk seperti kertas modern namun terbuat dari bahan yang tidak ada didunia, kertas yang yang tidak bisa dihancurkan, tidak akan bisa rusak, tidak akan kotor..
Dalam kertas tersebut terdapat tulisan dalam bahasa leluhur kuno yang tidak kasat mata, yang jika bukan ingkang kawogan maka meskipun huruf huruf itu muncul tapi dia tidak akan bisa membacanya, semakin dilihat akan semakin terasa berat, jika tidak kuat tapi tetap memaksakan maka dia bisa ambruk energi tubuhnya akan terkuras.
...Suatu saat akan muncul seseorang yang bisa membaca dan menterjemahkan isi dari layang putih tersebut....
Seharian ini Fabiyan benar benar terjebak dirumah pak Yitno, bagaimana tidak ? tadi saat hendak berpamitan dek Gendhis yang sudah bangun mulai nempel seperti perangko.
sudah digendong diajak main, bahkan sarapanpun dek gendhis tetep hanya mau sama Fabiyan. Ratih prameswari merasa tidak enak hati, meskipun Fabiyan tidak keberatan tapi itu tidak boleh keterusan.
Agak sulit membujuk Dek Gendhis yang entah kenapa tidak mau lepas dari Fabiyan,
"Fabiyan... makasih banget ya dan maaf sekali lagi karena dek Gendhis.. "
"iya Ratih.. tidak apa kalau gitu aku langsung pulang ya, bye bye.."
dek gendhis yang saat ini teralihkan dengan berbagai jenis permainan dengan teman kecilnya tampak sangat senang.
"oo astaga lihat lah mereka berdua Tih, mirip kita dulu kan hahaha.. "
"hhmm.. iya Put.. asik banget main mandi bola.. "
"oh iya setelah ini kita makan siang sekalian aja disini, ada kedai yang jual makanan buat anak anak kok.. "
__ADS_1
"oke deh, habis makan siang kita pulang naik andong aja ya, aku yang bayarin deh. " kata Ratih
"ide bagus, pasti dek gendhis dan dek Reno suka naik andong.. "
"iya.. bisa jadi mereka justru bakal ketiduran karena naik andong kan bikin ngantuk hahaa.. "
Seharian puas mengajak anak mereka main, Ratih dan Putri pulang saat setelah makan siang, perjalanan kerumah naik andong memang lebih lama, tapi ada keseruan tersendiri saat menaikinya.
hampir satu jam akhirnya mereka tiba dirumah, setelah membayar sejumlah uang kepada pak kusir, Ratih dan Putri berpisah dengan anak mereka masing masing yang beneran tidur.
"sampai besok lagi ya Put.. besok jadikan kita ke kolam renang ?"
"lihat situasi dulu aja, kalau pas anak anak gak capek kita ke kolam renang sore gimana ?"
"iya siap, besok kabari aja kalau jadi.. "
"oke Put.. bye.. "
"bye.. "
...****************...
bersambung
Cerita ini tidak sepenuhnya nyata ,juga tidak sepenuhnya halu
Like, komen, hadiah ..
vote dan favoritkan untuk update selanjutnya
Sugeng Rahayu 🙏
__ADS_1