Diam Cupu, Ternyata Ratu

Diam Cupu, Ternyata Ratu
Bab 29 Restu dari alam Semesta


__ADS_3

Kedua mempelai bertemu di Aula istana..


Keduanya saling menatap kagum, sungguh beberapa hari tidak berjumpa keduanya semakin nampak bersinar,


"gagah dan tampan", Batin Dyah Pramodhawardani


"semakin cantik dan berwibawa ..", batin Rakai Pikatan


Keduanya saling melempar senyum simpul yang sangat mempesona.


***


Didepan altar sesembahan, kedua mempelai duduk berdampingan mendengarkan lantunan puji pujian dan untaian doa doa untuk para leluhur, dipimpin oleh seorang tetua pemuka adat Budha Mahayana.


Dalam prosesi ini, kedua mempelai akan mengitari altar sesembahan sebanyak tujuh putaran. Wali dari kedua mempelai duduk di satu ruangan yang sama.


Maharaja gusti Samaratungga merasa sangat bahagia hingga tanpa sadar air mata lolos begitu saja .


"Anak kita sudah besar adinda, dia siap mengemban tugas besar dua dinasty..." pandangan Maharaja Gusti Samaratungga menerawang jauh , seperti merasakan kehadiran Dewi Shana.


"terima kasih kangmas... sudah berjuang membesarkan anak kita.."


Sosok Dewi Shana yang menampakkan wujudnya dalam balutan busana bodhisatva, putih bersih bersinar dan nampak senyum bahagia menghiasi wajahnya...


"Adinda... tetap lah menunggu aku datang padamu, tunggu aku di gerbang kadewatan..." Ucap maharaja Gusti Samaratungga kepada Dewi Shana yang tentu saja dalam dunia spiritual.


"Anak mantu..." Kakek dinasty menepuk pundak Maharaja Gusti samaratungga supaya tetap tersadar jangan sampai menampakkan sisi lemahnya dihadapan para tamu yang hadir.

__ADS_1


"Maaf ayah mertua.. istriku disana..." Maharaja Gusti samaratungga menatap salah satu sudut altar, seolah-olah menunjukkan istrinya berada disitu.


"Aku tahu anak mantu.. aku melihat apa yang kamu lihat, dan aku juga merasakan apa yang kamu rasakan.." ucap Kakek Garung.


Sesaat kemudian kedua wali mempelai pria dan wanita nampak kembali khusuk mengikuti jalannya upacara sakral.


***


Setelah memutari altar sebanyak tujuh kali, Rakai Pikatan dan Dyah Pramodhawardani dituntun oleh tetua adat untuk bersimpuh kepada dua wali utama.


Yang pertama adalah Dyah Pramodhawardani bersimpuh pada kaki Ayahandanya, memohon restu serta mencium tangan kanan Maharaja Gusti samaratungga.


Begitu juga Rakai Pikatan yang bersimpuh pada kaki Rakai Garung, sembari memohon doa dan restu atas dirinya dan istrinya.


Tidak ada sedikit pun suara berisik ketika prosesi berlangsung, hanya suara lantunan doa doa dan pujian pujian yang dilakukan para biksu dan tetua adat.


keduanya khidmat melaksanakan apa yang diarahkan oleh tetua adat.


***


Rakai garung merasakan keharuan yang teramat sangat, tatkala cucu satu satunya bersimpuh meminta doa dan restu darinya, sungguh dalam hati ingin memeluk dan berkata,


"Aku kakekmu nduk cah ayu... "


Namun tentu saja hal itu harus ditahan, memandang refleksi Dewi Shana pada Dyah Pramodhawardani adalah suatu keberkahan tersendiri bagi Rakai Garung..


***

__ADS_1


Setelah kedua mempelai menyelesaikan tahap sungkem, selanjutnya mereka kembali mengikuti tahap akhir dalam upacara sakral yaitu, memohon restu dari para bodhisatva yang secara tidak kasat mata nampak hadir didalam aula utama istana.


Jika ada yang bisa melihat kehadiran para bodhisatva itu artinya mata batin mereka sangat sensitif dan bersih. Dan jumlah para bodhisatva yang hadir tentu saja melebihi jumlah manusia didalam Aula utama istana.


Para bodhisatva yang hadir berjumlah sangat banyak, tidak terhingga jika dihitung.. Para bodhisatva mendoakan lewat Rapalan mantra mantra welas asih, mantra kebijaksanaan, mantra asih asah asuh, dan mantra mantra lainnya..


Secara tidak kasat mata pula para bodhisatva memberikan restu kepada kedua mempelai, terutama keturunan dinasty Syailendra, Dyah Pramodhawardani.


Sementara Rakai Pikatan yang juga bisa melihat semua dengan sangat jelas, mengikuti prosesi dengan khidmat tidak sedikitpun merasa bahwa Bodhisatva tidak lebih baik dari hindu syiwa.


Karena pada kenyataannya, Rakai Pikatan juga merasakan kekuatan suci dari roh roh para leluhur dinasty Syailendra terutama yang berasal dari para bodhisatva yang hadir.



ilustrsi para dewa dan dewi dalam aliran suci dinasty Syailendra yang hadir dalam ritual sakral pernikahan putri mahkota Dyah Pramodhawardani. menghadiahi doa kebahagiaan dan kemakmuran.



ilustrasi para bodishatva yang lebih tinggi, termasuk didalam nya adhi Budha, Avalokitesvara, mereka hadir memberikan restu welas asih dari seluruh alam semesta..


***


Cerita ini tidak sepenuhnya nyata ,juga tidak sepenuhnya halu


Like, komen, hadiah ..


vote dan favoritkan untuk update selanjutnya

__ADS_1


Sugeng Rahayu 🙏


__ADS_2